Menu
Teguh Indonesia

Mimpi Kita



Mimpi Kita
oleh: Teguh Estro


Kutemukan Dirimu
Setelah Engkau Pergi
Kutatap Wajah Itu
yang Menatap Wajahku

*Manisnya Senyumanmu
Kembalikan Mimpiku
Mimpi Kita Berdua
Hanya Kita berdua

Reff:
Kau Buat Aku melayang, Tanpa Bimbang
Kau Paksa Aku melangkah, Selamanya
Kau Tetaplah Di sini, Di hatiku
Mengingatkanku, Ingatkan Salahku...

Mimpi Kita oleh: Teguh Estro Kutemukan Dirimu Setelah Engkau Pergi Kutatap Wajah Itu yang Menatap Wajahku *Manisnya Senyumanmu ...
Teguh Estro Kamis, 17 Oktober 2013
Teguh Indonesia

Ceulitra Dari Serambi Mekah


Masjid Baiturrahman
Oleh: Teguh Estro

Salah satu kota di nusantara ini yang memiliki tempat khusus di hati saya adalah Aceh. Salah satu alasannya karena di bumi kelahiran Tjoet Njak Dien ini diberlakukan otonomi khusus pelaksanaan peraturan daerah syari’at Islam. Tentu saja pemberlakuan perda syari’at itu bukanlah tanpa hambatan. Banyak pihak yang menyangsikan bahkan ‘mengolok-olok’ aturan tersebut. Akan tetapi secara pribadi saya mendukung perda syari’at tersebut. Kendatipun tidak berjalan secara maksimal. Tentu saja hal ini jauh lebih baik daripada tidak dilaksanakan sama sekali.

Provinsi yang dahulu bernama Nangroe Aceh Darussalam ini memang identik dengan Islam. Akan tetapi sebenarnya lebih kurang 500 tahun yang lalu sudah ada sosok yang mewacanakan ide syari’at Islam di bumi Nangroe ini. Beliau adalah Sultan Salahuddin Mansyur Syah ayahanda dari Sultan Ali Mughayat Syah sang pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada masa Sultan Salahuddin Mansyur Syah beliau memproklamirkan bahwasannya Aceh adalah Islam. Ia berjuang menyatukan kerajaan-kerajaan di sekitar Aceh dalam satu kekuasaan yang utuh. Pada masa itu terdapat pelbagai kesultanan yang sudah berdiri sendiri. Yakni kerajaan Perlak, kerajaan Pidie, Kerajaan Samodra Pasai (Lhokseumawe, Bireun dan Aceh Utara sekarang), Kerajaan Aru (Sumatera Utara) dan Kerajaan Malaka (Malaysia). Akan tetapi dikarenakan usia beliau yang kian senja, tugas menyatukan kerajaan-kerajaan itu beralih kepada anaknya. Dialah Sultan Ali Mughayat Syah yang berhasil menyatukan semuanya menjadi Kerajaan Aceh Darussalam. Dan tentu saja kerajaan itu memiliki satu agama resmi, satu budaya dan satu hukum pemerintahan yakni Islam. Selain itu terdapat empat kerajaan hindu yang juga akhirnya masuk Islam tanpa paksaan sedikitpun. Mereka tertarik karena melihat cara umat Islam yang berperang dengan sangat manusiawi. Umat Islam memperlakukan tawanan perang ibarat tamu terhormat.

Kemasyhuran Sultan Ali Mughayat Syah dikarenakan beliau memiliki kapasitas kepemimpinan yang sangat mengagumkan. Beliau memang ahli siasat yang ulung, salah satunya kemampuan beliau melakukan negosiasi terhadap kerajaan-kerajaan di ujung pulau Sumatera itu menjadi satu kepentingan. Bayangan saja kita kerap memuji-muji pemimpin di zaman sekarang yang berhasil mendamaikan satu bagian kecil Aceh yakni kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan sosok yang ‘katanya’ berhasil mendamaikan tersebut sudah mendapatkan penghargaan disana-sini baik itu Doctor Honoris Causa ataupun Nobel perdamaian. Mari kita bandingkan dengan hal menakjubkan yang dilakukan Sultan Ali Mughayat Syah. Beliau lebih dari sekedar mendamaikan, akan tetapi menyatukan dan melunakkan ‘ego’ kerajaan dari ujung Banda Aceh, Sebagian Sumatera Utara sampai kepada kerajaan Malaka di negeri jiran.

Selain Sultan Ali Mughayat Syah, terdapat sosok pemimpin lainnya yang tak kalah menakjubkan. Beliaulah Sultan Iskandar Muda yang dinobatkan menjadi raja dalam usia yang cukup muda, yakni 14 tahun. Akan tetapi di usia yang sangat belia itu, ia sanggup memenuhi 28 syarat menjadi seorang raja.

Dalam Qanun Syarah al’Ashi yang dibuat oleh pemerintahan kerajaan Aceh dijelaskan bahwa syarat menjadi raja di kerajaan Aceh Darussalam harus menguasai perbandingan Fiqh 40 Mazhab. Saya ulangi 40 Mazhab fiqh, bukan 4 Mazhab ya. Itu syarat utama dan diikuti syarat-syarat lainnya. Salah satu syarat lainnya yang saya ingat adalah seorang raja harus bisa menjinakkan harimau dan buaya. Sehingga tidak heran bila pada masa beliau, Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya. Bahkan beliau sudah menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Turki Utsmani dan hubungan dagang dengan Kerajaan Britania Raya.



Akan tetapi berabad-abad kemudian kita menyambangi tempat yang sama sudah dalam kondisi yang berbeda. Dahulu terdapat sosok-sosok yang sangat ksatria seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien dan Daud Ber’euh. Sepeninggal mereka, Aceh seperti kehilangan induk dalam membenahi dirinya. Perpecahan antar rakyat Aceh kian tersohor seantero nusantara. Bahkan kontroversi adanya Wali Nangroe menjadi perdebatan banyak pihak. Sosok yang diharapkan menjadi tetua adat Aceh masih belum mampu menjadi penyatu umat. Bahkan dalam satu bulan Ramadhan lalu, tak satu kalipun Wali Nangroe muncul di Masjid Raya Baiturrahman atau masjid besar lainnya. Setidaknya memberikan petuah kepada rakyat Aceh.

Akhir kata, tiada kata selain doa agar bumi Aceh bisa kembali bangkit dari kondisi akhir-akhir ini. Semoga Allah memberkahi semua rakyat Aceh dimanapun kalian berada.

Masjid Baiturrahman Oleh: Teguh Estro Salah satu kota di nusantara ini yang memiliki tempat khusus di hati saya adalah Aceh. Salah s...
Teguh Estro Minggu, 29 September 2013
Teguh Indonesia

Do’a Kemerdekaan RI


Sumber Foto: http://kfk.kompas.com


Ya Allah…

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (Amin)

dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan (Amin)


Ya Allah…

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia (Amin)

dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Amin)


Ya Rabb…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, (Amin)


maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. (Amin)


Ya Allah…

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (Amin)


dan untuk memajukan kesejahteraan umum, (Amin)


mencerdaskan kehidupan bangsa, (Amin)


dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, (Amin)


maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat  (Amin)


dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, (Amin)


kemanusiaan yang adil dan beradab, (Amin)


persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (Amin)


serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Amin)


Sumber Foto: http://kfk.kompas.com Ya Allah… Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (Amin) dan ole...
Teguh Estro Sabtu, 17 Agustus 2013
Teguh Indonesia

Perjuangan Karier Sang ‘Santan’



http://yoogho.com/yoogho/media/170302.jpg

Oleh: Teguh Estro


            Bagi pembaca yang menjadi penggemar Stand Up Comedy Indonesia pasti mengenali sosok Fico. Pria tambun dengan kelucuan diatas rata-rata. Salah satu ciri khas nya dalam menyampaikan materi comedy dengan cara observasi hal-hal yang bersifat Absurd. Semisal ia pernah membuat geli pendengar saat menceritakan tentang robot. Selanjutnya ia juga memaparkan tentang botol kecap yang membuat penonton kembali terpingkal-pingkal. Sampai-sampai Raditya Dika menuduh Fico menggunakan ilmu hitam dalam melawak. Mungkin sih…


            Adakalanya sesuatu hal yang Absurd justru bisa dengan mudah dicerna oleh kita. Ada ragam pelajaran bernilai dari kejadian-kejadian Absurd di alam raya ini. Salah satunya adalah mengenai Santan. Cairan putih seperti susu yang berasal dari saripati kelapa. Coba kita renungkan ada filosofi luar biasa dari ‘perjalanan karier’ sesosok santan. Sebelum menjadi suskses menjadi sesosok santan, dahulunya ia hanyalah sebuah partikel yang berasal dari kampung ‘antah barantah’. Maklum, biasanya pohon kelapa adanya di kampung-kampung pinggir pantai.


            Seorang petani kelapa sejak pagi telah berniat membawa sebuah golok besar untuk memanjat pohon kelapa. Sesampainya di atas ia melihat gerombolan kelapa yang siap dijadikan mangsa. Mula-mula ia arahkan mata bilah golok tersebut memangkas dahan-dahan kelapa yang mengganggu. Barulah ia bisa menjamah dan mendekati buah kelapa dan memelintir dengan paksa agar buah tersebut putus dari tangkainya. Kelapa tersebut begitu tersiksa ia diputar-putar memusingkan kepala. Sampai akhirnya putus juga tangkai itu, akhirnya ia pasrah jatuh dari ketinggian yang membuat tulang-belulangnya remuk. Ternyata bukan hanya dia, tetapi rekan-rekan sepermainannya juga satu-per satu dijatuhkan dengan paksa.


            Penderitaan belum selesai sampai disitu. Ia dan beberapa temannya diseret oleh petani lainnya menuju tanah lapang untuk dijemur dari pagi hingga senja tiba. Penyiksaan ini membuat ia benar-benar keletihan tanpa tenaga. Barulah setelah lama, ia dibawa ke dalam dapur dan diletakkan begitu saja tanpa perasaan. Pada pagi harinya kelapa ini terbangunkan karena kembali ia diseret ke luar rumah. Dan mereka dibariskan berjejer. Ternyata ini adalah saat yang begitu tragis. Ia melihat teman-temannya dibelah dengan golok dan dikupas kulit-kulitnya juga serabutyang selama ini melindungi ditarik keluar hingga lepas dari lapisan batok kelapa. Hingga sampailah pada gilirannya sang kelapa hanya pasrah menitikkan air mata. Ia dikuliti dengan ganas lalu dilempar bertumpukkan dengan rekan-rekan lainnya. Namun penyiksaan belum usai.

   
         Satu demi satu golok yang menakutkan tersebut mengupas kulit batok kelapa yang keras itu hingga membuat daging-daging putih mereka keluar. Pembantaian ini sangat menyakitkan serasa hidup sudah tiada artinya. Kini mereka sudah tak berkulit lagi, hanya seonggok daging kelapa yang lemah dan tak bertenaga. Seolah belum puas dengan rentetan penyiksaan tersebut, para petani begitu tega membelah tubuh mereka menjadi kepingan-kepingan kecil. sampai akhirnya kepingan-kepingan daging tersebut dikumpulkan bagai benda tak berharga di dalam karung. Namun pesakitan belum berhenti begitu saja.

   
         Sore harinya kepingan-kepingan kelapa itu kembali disiksa secara mengenaskan. Mereka ditumpukkan dalam sebuah ember besar dan dihadapkan pada papan besi penuh dengan paku  tajam di salah satu penampangnya. Ternyata mereka satu per satu diparut hingga habislah daging kelapa itu menjadi serbuk-serbuk kecil. berjam-jam itu dilakukan dengan tak berperasaan. Petani-petani pembunuh itu sedikitpun tak mempedulikan keadaan sang kelapa. Menjadilah serbuk-serbuk putih tersebut dikumpulkan lalu dibagikan dalam beberapa ember-ember kecil. Mereka disiram dengan air panas membuat luka-luka menjadi perih terasa. Sangat pedih. Lama mereka direndam sampai air terasa dingin. 

      Ternyata penyiksaan berlanjut kembali. Serbuk kelapa yang telah bercampur air diperas dengan kedua tangan kekar. Sakit rasanya tercekik begitu kuat hingga pucat-pasi. Tidak begitu lama dari butiran serbuk tadi muncullah cairan putih yang dinamakan santan. Sang santan menggenang memenuhi seisi ember itu sudah dalam puncak keletihannya. Namun tak dinyangka setelah berwujud santan ini ia malah mendapat selembar senyum bahagia dari para petani. Sebuah pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


            Senyum petani itu begitu mencurigakan, membuat santan merasa tidak enak dibuatnya. Petani tersebut kemudian memasukkan sedikit demi sedikit santan ke dalam bungkus plastik yang terlihat eksotis dan eksklusif. Ternyata sang santan masih menaruh curiga, sampai akhirnya ternyata ia dibawa kepasar untuk diperjual-belikan. Apakah ini perdagangan illegal? Di dalam batin sang santan terus bertanya-tanya.

          
       Akhirnya dibalik senyum manis sang petani, barulah ia tahu kalau ia hendak dijual kepada manusia lainnya. Namun anehnya sang pembeli juga terlihat tersenyum melakukan tawar-menawar. Santan tetap seksama mengamati percakapan tersebut. Rupanya benar, ia akan segera dibawa oleh pemilik baru ke rumahnya. Di perjalanan ia hanya diam dan berpikir mau diapakan lagi setelah ini. Ia juga mengingat-ingat kembali penyiksaan demi penyiksaan yang ia alami beberapa hari terakhir dan sungguh perjalan yang melelahkan. *Cukup Ceritanya.


            Nah, pembaca tahukah betapa pentingya santan dalam racikan bumbu masakan. Kita sudah mengetahui betapa berat perjuangan santan. Bahkan perannya sangatlah vital dalam membuat masakan menjadi enak. Apa jadinya bila membuat rendang yang konon telah menjadi masakan terlezat sedunia bila tanpa disertai santan di dalamnya. Begitu pun masakan opor yang memanjakan lidah begitu enaknya, tdak lepas dari peran vital santan. Namun, apa yang terjadi setelah ia berjuang begitu keras seperti itu. Orang-orang sedikitpun tidak memperdulikan eksistensinya. Tidak ada satupun orang yang memuji enaknya makanan karena santan. Tapi untungnya santan yang sudah matang dalam mengarungi kesulitan hidup itu justru berjiwa besar. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang tidak mempedulikannya. Karena ia tidak mengejar popularitas. 


Biarlah daging, telur dan sayur mayor yang dikenal banyak orang. Ia cukup bekerja dan bekerja melakukan yang terbaik dalam hidupnya dan memberikan banyak manfaat. Santan akhirnya mulai belajar untuk ikhlas dalam bekerja. Ia harus terus berbuat semaksimal melalui penderitaan dan penyiksaan untuk berhasil, meskipun jauh dari popularitas.

http://yoogho.com/yoogho/media/170302.jpg Oleh: Teguh Estro             Bagi pembaca yang menjadi penggemar Stand Up...
Teguh Estro Kamis, 01 Agustus 2013
Teguh Indonesia

Begadang & Berpikir




http://4.bp.blogspot.com
Oleh: Teguh Estro

            Jujur nih, saya jarang banget begadang. Paling-paling alasan tugas saja yang memaksa tidur sampai malam. Hanya saja banyak begadang bisa membuat kita semakin egois. Pasalnya, sewktu sendiri di malam hari membuat sanubari berbicara sendiri pula. Hati kecil ini bakal mengajak bincang-tentang diri sendiri. Karena watak dasar manusia adalah memikirkan diri sendiri. Semakin sering meluangkan waktu yang tidak terduga untuk menyendiri, maka akan semakin memanjakan ego. 

Begadang itu tidak baik bila hanya sendiri dan waktunya tidak terduga. Saran saya, apabila hendak begadang, ajaklah teman-teman dan dibuat schedulenya. Toh, kalaupun mau tetap begadang sendirian, maka sempatkanlah untuk berpikir tentang hal-hal yang bersifat filosofis, kepentingan rakyat atau tentang sains makrokosmos. Intinya hindari banyak berpikir tentang ego dan kepentingan pribadi. Kalaupun masih ngotot mau memikirkan diri sendiri, maka pikirkanlah tentang asal penciptaan diri, kesalahan-kesalahan diri dan tujuan hidup di dunia.

Bagi pembaca yang sering begadang, saya yakin pasti memiliki kemampuan lain. Yakni, kemampuan berpandangan dari sisi lain. Manusia sebagian besar beraktivitas di siang hari. Dan pada siang hari itulah mereka menampakkan performance terbaiknya. Namun saat malam tiba, manusia akan menunjukkan sisi lain hidupnya. Bahkan boleh jadi itulah sisi hidup yang sebenarnya. Orang yang masih atau menyengaja beraktivitas pada malam hari tentu akan melihat sisi lain performance manusia.

Seorang Rektor gagah berani saat siang hari. Entah, pada saat gelap ia hanya memakai sarung dan ngopi bersama ayam jago kesayangannya. Seorang mahasiswa berdandan modis di siang hari, entah malam harinya mereka malah menjual diri di pasar remang-remang. Itulah keuntungan bagi siapapun yang masih membuka mata saat malam. mereka akan mendapatkan sisi lain kehidupan.

http://4.bp.blogspot.com Oleh: Teguh Estro             Jujur nih, saya jarang banget begadang. Paling-paling alasan tugas saja...
Teguh Estro Minggu, 28 Juli 2013