<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370</id><updated>2012-02-16T05:24:21.893-08:00</updated><title type='text'>Teguh Indonesia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4995171856007579647</id><published>2012-02-12T18:23:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T18:23:15.951-08:00</updated><title type='text'>Reses  DPRD Bantul, Pemborosan!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Nyz5u0xZKJg/Tzhyk6dvDwI/AAAAAAAAAJ0/pyqvzdxrQrQ/s1600/113315.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="http://4.bp.blogspot.com/-Nyz5u0xZKJg/Tzhyk6dvDwI/AAAAAAAAAJ0/pyqvzdxrQrQ/s320/113315.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabar meresahkan muncul dari DPRD Bantul beberapa hari lalu. Para wakil rakyat itu meminta kenaikan dana reses lebih dari 100% sedari awalnya Rp.2,2 juta menjadi Rp.4,8 juta. Tentu saja tak sedikit masyarakat hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Setidaknya begitu drastisnya peningkatan dana temu konstituen tersebut yang menjadi sorotan. Padahal bila hendak menyerap aspirasi tidaklah &lt;i&gt;melulu &lt;/i&gt;harus dengan bagi-bagi ‘kue’ yang terlalu mahal. Bukankah lembaga legislatif pun telah mendapat tunjangan komunikasi ? Lagi pula upaya menjumpai konstituen seharusnya bisa dilakukan pada hari-hari biasa tanpa perlu rupiah khusus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai representasi rakyat, anggota dewan memang sepatutnya&amp;nbsp; menjaga tradisi &lt;i&gt;sowan &lt;/i&gt;kepada konstituennya. Mereka &lt;i&gt;kudu &lt;/i&gt;mendapat informasi langsung dari masyarakat yang dulu menyokongnya. Janji-janji yang sempat terucap saat kampanye, butuh realisasi riil. Sehingga adanya reses dirasa perlu sebagai jembatan komunikasi. Sayangnya &lt;i&gt;nguda roso&lt;/i&gt; bersama masyarakat yang diprogramkan DPRD Bantul kemarin menelan biaya yang cukup fantastis. Dan dana tersebut terserap dari kantong rakyat alias anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada pelbagai rasionalisasi yang diutarakan tatkala menaikkan angka anggaran reses tersebut. Salah satu pasalnya yakni melonjaknya kebutuhan reses anggota DPRD Bantul pada tahun lalu. Dan tentunya keluhan banyaknya dana&lt;i&gt; tombok&lt;/i&gt;pun dijadikan alasan penguat. Sehingga standarisasi kebutuhan untuk satu orang konstituen meningkat dari Rp.17.500 menjadi Rp.45.000. &lt;i&gt;Busyet&lt;/i&gt;, sepertinya mereka benar-benar menyediakan makanan &lt;i&gt;ningrat&lt;/i&gt;. Alasan lain yang acapkali terlontarkan terkait banyaknya masyarakat yang membutuhkan bantuan tunai. Bermacam-macam keluhan konstituen yang kadang harus diselesaikan dengan sekocek&amp;nbsp; rupiah. Sehingga beberapa anggota dewan menganggap dana reses seperti tahun lalu masih dirasa kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Analisis sederhana dengan melakukan komparasi terhadap beberapa kabupaten sebelah. Semisal di kota Yogyakarta yang cukup dengan patokan harga Rp.15.000 tiap orang. Dan beberapa dari anggota DPRD kota pun sengaja tidak mengambil dana reses tersebut. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, dengam wilayah kota Yogyakarta yang mungil memungkinkn untuk bisa berkomunikasi dengan mudah. Kondisi yang sedikit berbeda di DPRD Sleman dengan anggaran Rp.20.000 tiap konstituen. Bahkan mereka sudah &lt;i&gt;familiar &lt;/i&gt;dengan ‘tombok-menombok’ dari kantong sendiri. Dan itulah pahitnya jika betul-betu hendak memperjuangkan suara rakyat, rela tombok dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salah satu rahasia publik wakil rakyat yang kerap digunjingkan saat ini terkait politisasi anggaran. Kenapa dewan &lt;i&gt;ngotot &lt;/i&gt;meminta dana lebih? Salah satu alasannya lantaran wilayah dapil mereka belum tersentuh ‘kue’ pembangunan dari Pemkab. Bahkan, beberapa tudingan dari pihak eksekutif pun masih tebang pilih dalam membangun daerah. Maksudnya, hanya daerah-daerah basis pertai pendukungnya saja yang &lt;i&gt;diapik-apikke.&lt;/i&gt; Sehingga tidak salah bila di pelosok lain juga meminta perhatian. Dan kemana mereka harus mengadu? Jawabnya sudah pasti kepada anggota DPRD. Dan itulah musabab mereka membutuhkan &lt;i&gt;fee &lt;/i&gt;tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Politik anggaran ini kian menjadi-jadi saat melihat realitas &lt;i&gt;positioning &lt;/i&gt;anggota dewan. Mereka memperjuangkan dana APBD bukan untuk kepentingan masyarakat pemilihnya lagi. Selama ini kita mengetahui bahwa perilaku anggota DPR sangat ditentukan oleh kebijaksanaan fraksi, sementara kebijaksanaan fraksi ditentukan oleh kebijaksanaan partai. (Afan Gaffar, 2006). Bahkan dosen politik Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut coba membandingkan hal yang sama di Amerika Serikat. Di negeri paman sam bahkan, tidak jarang kelompok kepentingan menuangkan uangnya dengan leluasa agar agenda mereka menjadi agenda anggota Kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wakil Rakyat, Jangan Manjakan Rakyat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya polemik tak berkesudahan bertalian dengan pola pembangunan manusia. baik eksekutif maupun legislatif sampai saat ini acapkali memberikan uang tunai kepada masyarakat. padahal persoalan pokok bukan karena ketiadaan rupiah, namun karena mental manusianya. Beberapa waktu lalu dalam sebuah seminar di Fakultas Hukum UGM terdapat ucapan menarik dari pak Heri Zudiyanto. Dulu semasa menjadi walikota Yogyakarta, beliau kerap di ajak berdialog oleh&lt;i&gt; ngarso dalem&lt;/i&gt; Sultan HB X. Lebih kurang Gubernur DIY tersebut mempertanyakan kenapa masyarakat kita masih terlilit oleh kemiskinan. Padahal pemerintah sudah mengucurkan dana, fasilitas dan infrastruktur kepada masyarakat. Dan kesimpulannya karena mental &lt;i&gt;entrepreneurship&amp;nbsp; &lt;/i&gt;yang belum ada. Bahkan pak Heri Zudiyanto menambahkan sejatinya seorang &lt;i&gt;entrepreneur&amp;nbsp; &lt;/i&gt;itu tidaklah harus pebisnis. Tetapi siapapun yang memiliki jiwa ulet, kompetitif, disiplin dan inovatif itulah &lt;i&gt;entrepreneur&lt;/i&gt;. Maka penanaman jiwa inilah yang kudu dilakukan oleh para wakil rakyat. Sehingga pada masa reses ketika selalu memberikan bantuan tunai, maka perlu dikaji lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tradisi menebar ‘ikan’ –ketimbang kailnya- sudah populer sejak masa orde baru. Daya kritis, kemauan untuk maju dihambat dengan suapan bantuan langsung. Akibatnya rakyat kian manja selalu menengadah kepada pemerintah maupun legislatif. Beberapa waktu lalu penulis berdiskusi dengan pak Suwarto (anggota DPRD Kota) terkait perilaku ini. Bahwa warisan budaya orde baru tersebut cukup menyulitkan wakil rakyat. Berapapun banyak uang yang tersumbangkan kepada masyarakat pasti habis. Dalam kalimat lain, bantuan yang seharusnya sebagai modal usaha &lt;i&gt;malah &lt;/i&gt;dipakai untuk kebutuhan hidup. Begitupun jika bantuannya berupa barang infrastruktur usaha, maka barang tersebut akan dijual lagi. Sehingga betul-betul mental masyarakat yang &lt;i&gt;kudu &lt;/i&gt;diinjeksi dengan jiwa entrepreneur. Bahkan Jean Baptiste Say seorang ekonom klasik Perancis yang pertama kali memperkenalkan istilah &lt;i&gt;entrepreneur &lt;/i&gt;banyak memberikan wejangan dalam literaturnya. Dia menyebut perilaku &lt;i&gt;entrepreneur &lt;/i&gt;harus mau “mengambil risiko” dan harus sadar bahwa selalu ada “kemungkinan gagal” tetapi jika sukses, “kelompok produsen macam ini akan mengumpulkan kekayaan sangat banyak” (J-B.Say: 1971).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen memperjuangkan aspirasi rakyat tidak mesti diartikan dengan me’nina-bobok’an melalui program tanpa pendampingan. Setiap masa reses DPRD tiba, bejubel masyarakat antri menagih amplop. Bukan berarti kewajiban wakil rakyat usai begitu saja setelah membagi-bagikan uang aspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*Penulis adalah Pegiat Forum Kajian Malam Jum'at Kliwon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4995171856007579647?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4995171856007579647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/reses-dprd-bantul-pemborosan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4995171856007579647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4995171856007579647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/reses-dprd-bantul-pemborosan.html' title='Reses  DPRD Bantul, Pemborosan!'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Nyz5u0xZKJg/Tzhyk6dvDwI/AAAAAAAAAJ0/pyqvzdxrQrQ/s72-c/113315.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7639488530347084251</id><published>2012-02-06T23:58:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T05:31:08.055-08:00</updated><title type='text'>Menghakimi Kapitalisme Modern</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1u7vsHaDWuY/TzDYeR3BwEI/AAAAAAAAAJs/oF9m36MIsHI/s1600/EcoPillars.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://3.bp.blogspot.com/-1u7vsHaDWuY/TzDYeR3BwEI/AAAAAAAAAJs/oF9m36MIsHI/s320/EcoPillars.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diskursus terkait ekonomi global kian mengernyitkan dahi bagi banyak pihak. Pasalnya guncangan krisis di berbagai belahan dunia turut mempengaruhi laju resesi ekonomi, tidak terlepas Indonesia. Rentetan peristiwa mengejutkan sekaligus mampu ‘mengobrak-abrik’ ekonomi global. Semisal runtuhnya perusahaan raksasa Amerika Serikat, &lt;i&gt;Lehman’s Brothers&lt;/i&gt;, menyusul kemudian Krisis Uni Eropa akibat didera lilitan hutang, lalu terakhir ini konflik &lt;i&gt;middle-east&lt;/i&gt; antara Amerika dan Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada dasarnya, semua gejala yang tampak itu sekedar efek dari praktek kapitalisme. Sejenak mari bercerita tentang kedigdayaan masa lalu kapitalisme. Bagaimana kebijakan &lt;i&gt;Free Trade Area&lt;/i&gt; yang sempat ditentang awalnya justru malah dicap &lt;i&gt;lumrah&lt;/i&gt;. Bahkan di negara China sekalipun, yang dulunya penganut sistem ekonomi sosialis. Anehnya tidak sedikit negara-negara berkembang ‘terpaksa’ manut lantaran tak punya pilihan. Dengan kata lain, &lt;i&gt;Free Trade area &lt;/i&gt;hanyalah kedok dari penjajahan model baru bagi negara-negara berkembang. Contoh sederhana kini China bisa dengan leluasa memasarkan produknya di Asia Tenggara dengan kedok &lt;i&gt;ASEAN-China Free Trade Agreement&lt;/i&gt; (AC-FTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kapitalisme klasik mengajarkan agar patokan sebuah harga ditentukan langsung oleh mekanisme pasar. Di pasar bebas inilah yang memunculkan istilah &lt;i&gt;invisible hand&lt;/i&gt; (tangan tak terlihat). Maksudnya setiap pihak memiliki kepentingan sendiri-sendiri pada sebuah pasar yang akhirnya terjadi &lt;i&gt;supply and demand&lt;/i&gt;. Dengan kalimat lain, biarlah pasar yang menentukan harga tanpa turut campur tangan pemerintah. Berikut kutipan Adam Smith dalam buku &lt;i&gt;The Wealth of Nations&lt;/i&gt;. &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;“Setiap orang, diperbolehkan secara bebas mengejar kepentingannya sendiri dengan caranya sendiri. Dan diperbolehkan bersaing dengan orang lain di bidang usaha dan pengumpulan modal”&lt;/span&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau dahulu Smith sekedar menulis sebuah blue print. Tampaknya dari sinilah cikal bakal munculnya egoisme pelaku ekonomi modern saat ini. &lt;b&gt;Karena saat ini banyak pihak-pihak yang berlindung dibalik Smith-isme untuk melegalkan pasar bebas.&lt;/b&gt; Padahal maksud disebaliknya tidak lain hanyalah monopoli sebuah wilayah dagang. Dan perlu menjadi catatan bahwa Mark Skousen (2001)&amp;nbsp; membela Adam Smith jika dianggap sebagai biang Egotism. Ia membela bahwa Smith justru menolak kekuatan monopoli dan lebih menyukai “harga natural atau persaingan bebas”. Dan Skousen kerap mengingatkan terkait &lt;i&gt;background &lt;/i&gt;Smith sebagai guru Filsafat Moral di Skotland University. Maksudnya ia hendak mempertegas kemustahilan seorang pendidik moral jika mengajarkan keserakahan dalam ekonomi. Apalagi Smith dikenal sebagai sosok yang menentang praktek Merkantilisme yang merugikan banyak manusia dengan prinsip pengumpulan emas dan perak sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kritik Terhadap Kapitalisme&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada era berikutnya, kapitalisme tidak berhenti hanya pada cerita Adam Smith saja. Pasalnya di era modern ini ideologi ekonomi sekedar menjadi topeng kejahatan ekonomi. Semisal kaptalisme modern menjadikan teori pasar bebas sebagai pelindung praktik monopoli wilayah dagang. Lihat saja negara-negara yang ‘konon’ mengklaim kebebasan pasar, justru kini ramai-ramai melakukan embargo ekonomi terhadap Iran, Korea dan negara-negara yang berbeda kiblat politiknya. Bahkan kini praktek merkantilisme yang dilawan oleh Adam Smith justru dilakoni lagi oleh negara kapitalis. Kendati mereka bukan lagi berburu emas dan perak, akan tetapi berganti dengan &lt;i&gt;Oil Merchant &lt;/i&gt;(perdagangan minyak). Ketegangan di Selat Hormuz belakangan ini sejatinya hanya buntut dari konflik monopoli minyak dunia. &lt;b&gt;Amin Sudarsono (2010) mengungkapkan, Aplikasi ideologi Kapitalisme dalam kenyataan riil adalah imperialisme.&lt;/b&gt; Itulah wajah dari kapitalisme modern saat ini. Agresi ekonomi kian binal hanya untuk memenuhi hasrat penguasaan komoditi, semisal minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selanjutnya marilah kita menilik beberapa negara yang pernah jaya dengan ekonomi kapitalisnya. Di Amerika kini muncul gerakan &lt;i&gt;Occupy Wall Street&lt;/i&gt; yang menuntut untuk menutup Wall Street sebagai biang keladi kacaunya ekonomi global. Mereka juga menolak monopoli yang dilakukan oleh perselingkuhan perbankan dengan perusahaan multinasional. Begitupun dengan krisis di negara Yunani kemudian disusul oleh Irlandia, Inggris dan Spanyol yang rasio hutangnya hampir mendekati 100%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Adam Smith mengabaikan satu hal yakni tidak adanya antisipasi terhadap kebablasannya &lt;i&gt;self-interest&lt;/i&gt; (kepentingan pribadi) dalam sebuah pasar. Sehingga boleh jadi terdapat &lt;i&gt;power &lt;/i&gt;yang terlalu besar dan cenderung acuh pada persaingan sehat. &lt;b&gt;Dan inilah kesalahan fatal Smith yang secara total membuang peran negara di dalam ‘menjaga’ mekanisme pasar.&lt;/b&gt; Karena tugas negara dalam menjaga masyarakat juga teraplikasi dalam wujud menjaga pasar dari persaingan tidak sehat. Bukan sekedar itu pemerintah juga sebagai ‘partner’ dalam&amp;nbsp; memajukan komoditi yang menjadi keunggulan komparatif suatu negara. Semisal saat ini di India dan Thailand yang mengalami laju pesat daam industri otomotif sebagai komoditi unggulan dibanding negara lain di kawasan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kritik terhadap kapitalisme bukan berarti meniadakan mekanisme pasar. Apalagi&amp;nbsp; sampai meniadakan perdagangan dengan menjadikan negara sebagai penyuplai tunggal segala kebutuhan. Bahkan mekanisme pasar &lt;i&gt;by control &lt;/i&gt;justru mampu melahirkan etos positif. Dengan adanya mekanisme pasar akan mendorong orang untuk belajar, bekerja keras dan mendisiplinkan diri. Pelaku ekonomi akan enggan menipu dan mau bersikap jujur agar tidak kehilangan konsumennya. Kesemuanya dengan sebuah syarat tentunya, masih adanya kontrol pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&amp;nbsp;*Penulis adalah Pegiat Forum Malam Jumat Kliwon &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7639488530347084251?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7639488530347084251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/menghakimi-kapitalisme-modern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7639488530347084251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7639488530347084251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/menghakimi-kapitalisme-modern.html' title='Menghakimi Kapitalisme Modern'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1u7vsHaDWuY/TzDYeR3BwEI/AAAAAAAAAJs/oF9m36MIsHI/s72-c/EcoPillars.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-1523966395879533672</id><published>2012-02-06T23:38:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T07:37:38.749-08:00</updated><title type='text'>Petani dan ‘Hama Pemerintah’</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tb4dKHEaMhE/TzDT8qraDMI/AAAAAAAAAJk/uM0tS61j9gc/s1600/Kartun+Tani-pupuk.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="194" src="http://1.bp.blogspot.com/-tb4dKHEaMhE/TzDT8qraDMI/AAAAAAAAAJk/uM0tS61j9gc/s320/Kartun+Tani-pupuk.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Petani saat ini kian ‘galau’ meratapi nasib mereka. SK Menteri Pertanian nomor 87 akhir tahun kemarin menjadi musababnya. Disana tertera Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk urea naik 12,5% dari Rp.1.600 menjadi Rp.1.800 dimulai sejak 1 Januari 2012. &lt;i&gt;Mbelgedez&lt;/i&gt;, tentu saja saat ini para petani kudu merogoh kocek lebih dalam lagi. Terutama bagi mereka yang sedang memasuki musim tanam. Jangan-jangan kebijakan ini sekedar ‘latah’ ikut-ikutan naik karena kebutuhan pokok juga naik. Konsekuensinya pemerintah dituntut berani membeli gabah petani dengan harga tinggi. Pasalnya melambungnya harga pupuk bersubsidi ini turut mempengaruhi bertambahnya ongkos produksi tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Persoalan bertambah pelik saat distribusi pupuk bersubsidi itu macet tanpa kontrol. Termasuk pengawasan terhadap agen-agen pengecer yang kerap ‘usil’. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, kontrol HET pupuk yang mengalami penambahan harga saat di tangan pengecer. Mereka sengaja memanfaatkan masa-masa tanam untuk menaikkan harga pupuk yang telah lama ditimbun. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, keberadaan pupuk itu sendiri tidak sampai secara merata ke tangan petani. Setidaknya ada upaya pemerintah mengawasi distribusi ini. Segera tangkap instansi-instansi yang ‘nakal’ dan memanfaatkan situasi keruh. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, pembagian jumlah kuota pupuk bersubsidi di setiap daerah yang masih terasa kurang.&lt;b&gt; Sungguh tidak adil jika petani dituntut melakukan peningkatan produksi tetapi terus terbebani oleh kelangkaaan serta melambungnya harga pupuk bersubsidi. &lt;/b&gt;Padahal pupuk urea merupakan jenis yang paling banyak dibutuhkan petani untuk tanaman padi. Bayangkan saja jika dalam satu kali masa tanam dibutuhkan 3 sampai 4 kali pemupukan, maka berapa biaya yang harus dihabiskan? Sehingga tidak heran di beberapa daerah, para petani harus rela ‘mengalihkan’ anggaran rumah tangganya untuk pembelian pupuk. Padahal kebanyakan di Indonesia adalah petani &lt;i&gt;gurem&lt;/i&gt; serta buruh tani yang harus membayar lagi uang sewa kepada ‘juragan‘ lahan sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekarang petani berhadapan dengan hama paling berbahaya. Yakni, ‘hama pemerintah’ yang seenaknya sendiri menaikkan harga pupuk bersubsidi. Jikalau hama wereng ataupun hama ulat diberantas dengan racun, maka untuk ‘hama pemerintah’ begitu sulit dilawan. Apalagi kondisi petani yang memiliki posisi tawar lemah di hadapan &lt;i&gt;stakeholders&lt;/i&gt;. Lihat saja, bagaimana jerih payah petani lokal malah dijawab oleh pemerintah dengan kebijakan impor beras. Alasan klasik, impor tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. &lt;b&gt;Padahal pilihan impor beras karena hanya memakan biaya minim tinimbang memajukan petani lokal yang butuh perencanaan matang serta ongkos tinggi.&lt;/b&gt; Sehingga wajar saja jika pemerintah melaporkan kondisi nasional surplus beras, tentu karena banyak beras impornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Jalan Panjang Kedaulatan Pangan&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketahanan pangan saja tidaklah cukup, kita mebutuhkan kedaulatan pangan. Maksudnya jika sekedar bertahan maka hal tersebut bisa dicukupi meskipun dengan mengimpor. Akan tetapi yang dibutuhkan adalah ketahan pangan dengan perspektif kedaulatan pangan. petinggi &lt;i&gt;stakeholder &lt;/i&gt;harus kembali pada &lt;i&gt;track &lt;/i&gt;awal ketahanan pangan melalui produksi domestik. Bangsa ini harus optimis bisa memenuhi kebutuhan pangan di negerinya sendiri. Termasuk mau mengharagai serendah apapun kualitas pangan petani kita. &lt;b&gt;Itulah beras, jagung, sagu atau ketela yang ditanam di tanah air kita sendiri&lt;/b&gt;. Tentu saja kudu dibarengi dengan dukungan pemerintah meningkatkan produktifitas petani lokal. Dan salah satu jalannya adalah terjangkaunya harga pupuk menjadi harga mati. Pasalnya petani akan kian produktif jika mampu mereduksi biaya produksi per kuintal gabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada tiga jalan yang perlu ditempuh dalam rangka mengembalikan Indonesia menjadi ‘lumbung padi’ Asia Tenggara. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, percepatan pembenahan infrastruktur penunjang pertanian. Semisal perbaikan jalan raya, lampu jalan, pembangunan jembatan dan sebagainya. Termasuk juga di sini teknologi pertanian yang perlu terobosan baru. Semisal melakukan riset menemukan benih baru yang lebih unggul menghadapi perubahan iklim saat ini. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, memperhatikan kesejahteraan petani. Antara lain dengan membantu mengurangi ongkos produksi tanam. Termasuk juga berani membeli gabah dengan harga yang tinggi jika terjadi penyusutan gabah di masa panen. Begitupun para petani setidaknya memiliki tumpuan ekonomi lain selain bercocok-tanam di sawah. Dan itulah tugas pemerintah dengan program-program lapangannya. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, adanya lembaga advokasi bagi petani yang kerap ditindas. Melakukan pendampingan saat diperlakukan sulit oleh tengkulak, agen distributor pupuk maupun oleh pemerintah sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*Penulis adalah Pegiat Forum Malam Jumat Kliwon &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-1523966395879533672?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/1523966395879533672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/petani-dan-hama-pemerintah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1523966395879533672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1523966395879533672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/02/petani-dan-hama-pemerintah.html' title='Petani dan ‘Hama Pemerintah’'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tb4dKHEaMhE/TzDT8qraDMI/AAAAAAAAAJk/uM0tS61j9gc/s72-c/Kartun+Tani-pupuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-816419671744896524</id><published>2012-01-30T17:15:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T17:37:24.202-08:00</updated><title type='text'>Jeng Reni dan Ke-bhineka-an</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-B31FPys-w98/TydAa5EPXbI/AAAAAAAAAJc/tBVtBi2ofNo/s1600/Jeng+Reni.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-B31FPys-w98/TydAa5EPXbI/AAAAAAAAAJc/tBVtBi2ofNo/s1600/Jeng+Reni.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni atau sering dikenal Jeng Reni. Beberapa bulan lalu menggegerkan tanah air dengan &lt;i&gt;Royal wedding&lt;/i&gt;nya yang begitu ningrat. Putri bungsu Sultan Keraton Yogyakarta HB X itu resmi menikah dengan Achmad Ubaidillah, pemuda asal Lampung. Jeng Reni sendiri selain cantik, rendah hati juga sosok yang pandai bergaul. Konon sifat itulah yang membuat Ubaid (sapaan Achmad Ubaidillah) &lt;i&gt;kesengsem&lt;/i&gt;. Kendatipun ia seorang bangsawan, namun tetap terlihat style apa adanya. Bahkan finalis Miss Indonesia itu juga kerap menemani Ubaid main futsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebelumnya penulis &lt;i&gt;ngaturaken ngapunten&lt;/i&gt; kepada Jeng Reni yang seandainya membaca tulisan ini. Sebenarnya ada hal menarik yang bisa kita bahas terkait pernikahan beda etnis tersebut. Pertama sebuah keunikan tatkala keluarga Keraton Yogyakarta memutuskan menjalin tali keluarga dengan orang yang non Jawa. &lt;b&gt;Padahal tidak sedikit dari masyarakat Jawa yang masih kekeuh melarang menikahkan putera-puteri nya dengan etnis non Jawa.&lt;/b&gt; Akan tetapi justru keluarga Keraton memberi contoh yang berbeda. Hal ini menyiratkan tauladan sebuah&amp;nbsp; sikap jiwa besar terhadap perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini kembali mengelus dada akan ragam kerusuhan yang terpicu oleh ketidakdewasaan menghadapi perbedaan. Sebut saja yang masih anyar kerusuhan warga Sidomulyo, Lampung. Perseteruan antar etnis yang dikarenakan hal sepele, uang parkir. Akibatnya, 60 rumah warga hangus terbakar. Dan kekisruhan ini bukanlah kali pertama di Indonesia yang telah ditakdirkan ber-bhineka ini. Kesemuanya sama-sama bermula dari kejadian kecil yang dibesar-besarkan. Akar masalah dari itu semua lantaran miskinnya karakter jiwa besar dalam keberagaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat ini Yogyakarta sudah menjadi ‘besan’ dari warga Lampung. Umpama Jeng Reni ditanya apakah orang Lampung itu baik ? mungkin beliau malah menjawab &lt;i&gt;"..saya sangat sayang orang Lampung..."&lt;/i&gt; Maka, persoalannya bukan dari mana etnisnya, akan tetapi adakah rasa sayang di antara kita ? bahkan hal yang lebih sederhana, adakah tersirat sikap menghargai eksistensi etnis lain. Jika sudah hilang, maka persatuan Indonesia akan terus menjadi mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebenarnya rakyat di negeri ini tidaklah bisa selalu dikambinghitamkan. Setidaknya tauladan buruk yang dipertontonkan pejabat-pejabat memengaruhi sikap masyarakat. Seolah terdapat pembenaran bahwa kekisruhan hanyalah kebiasaan yang bisa dianggap lumrah. Lihat saja, saat sidang di senayan &lt;i&gt;live &lt;/i&gt;disaksikan warga se-Indonesia. Mereka seakan sengaja ‘berakting’ membuat kekisruhan dan saling pukul di persidangan. Bahkan di luar ruangan rapat&amp;nbsp; sekalipun, politisi kita sibuk saling hujat dan menjatuhkan. Padahal masyarakat menyaksikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tampaknya slogan Bhineka Tunggal Ika sudah tidak lagi menjadi ‘mantra’ yang ampuh. Padahal bentuk negara kesatuan sejatinya telah menjadi konsensus nasional. Bayangkan saja, di era teknologi komunikasi dan informasi yang nyaris tanpa batas ini. Seharusnya kian mampu menumbuhkembangkan rasa sadar-keberagaman di Indonesia. Setiap orang di satu daerah bisa bercengkrama dengan banyak teman lintas nusantara dengan fasilitas &lt;i&gt;Social Network&lt;/i&gt; di Internet. Intinya, menjadi insan yang siap melihat perbedaan ratusan etnis di bumi pertiwi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selanjutnya dalam menangani penyelesaian konflik yang tersebar dari sabang hingga merauke. Pertama, benar-benar pemerintah menyelesaikannya sampai ke akar persoalan. Berani untuk membuka pintu dialog, kendatipun terasa sulit dan berbeit-belit. Jika ada etnis tertentu&amp;nbsp; merasa ‘terzholimi’ oleh dominasi etnis lain, maka segera dijawab dengan rembug kekeluargaan. Kita harus yakin bahwa sekeras apapun hati manusia, pasti akan luluh juga. Di sanalah letak peran pemerintah yang harus mengayomi rakyat dengan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kedua, aparat keamanan butuh kerja lebih giat lagi. Di berbagai daerah &lt;i&gt;kudu &lt;/i&gt;bisa menjadi penengah yang betul-betul berorientasi pada keselamatan lan ketertiban. Jangan sampai justru aparat menjadi &lt;i&gt;backing&lt;/i&gt; kelompok tertentu. Atau bahkan mengambil kesempatan pencitraan dibalik kerusuhan. Penulis yakin masih banyak polisi-polisi yang memiliki jiwa besar dalam melihat keragaman di negeri kita. Dan akhirnya penulis justru berharap banyak dari segenap masyarakat untuk menanamkan sikap siap bertoleransi terhadap kebhineka-an Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*Penulis bergiat di forum Malam Jumat Kliwon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-816419671744896524?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/816419671744896524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/jeng-reni-dan-ke-bhineka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/816419671744896524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/816419671744896524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/jeng-reni-dan-ke-bhineka.html' title='Jeng Reni dan Ke-bhineka-an'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-B31FPys-w98/TydAa5EPXbI/AAAAAAAAAJc/tBVtBi2ofNo/s72-c/Jeng+Reni.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4879129657010351589</id><published>2012-01-30T17:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T17:40:22.063-08:00</updated><title type='text'>Negarawan Dari Daerah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2Ae8EimvSPo/Tyc9TQe1BJI/AAAAAAAAAJU/muoumbNriAI/s1600/raja01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="217" src="http://3.bp.blogspot.com/-2Ae8EimvSPo/Tyc9TQe1BJI/AAAAAAAAAJU/muoumbNriAI/s320/raja01.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Foto.detik.com &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sepertinya &lt;i&gt;chaos &lt;/i&gt;di berbagai penjuru tanah air kian marak dan meruncing. Mulai dari seteru PEMILUKADA, disintegrasi, sengketa lahan hingga konflik antar etnis. Tampaknya Indonesia tengah ‘diuji’ terkait kedewasaan hidup sebagai negara bangsa. Kian sedikit manusia yang siap &lt;i&gt;tepo seliro&lt;/i&gt; terhadap ratusan keragaman di nusantara. Seiring itu, begitu mudahnya api amarah tersulut di masyarakat akar rumput. Kalau dulu jelas perpecahan bangsa yang terjadi akibat ulah kompeni&amp;nbsp; dengan politik pecah-belah nya. Namun sekarang pertumpahan darah justru dilakoni oleh sesama bangsa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia kerap disebut sebagai negara besar atau setidaknya dulu pernah besar. Para &lt;i&gt;founding fathers &lt;/i&gt;bangsa ini pun sudah kadung menyepakati bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berdirinya republik ini bukanlah sebuah hadiah yang secara instan atau tiba-tiba. Kemerdekaan kita sejatinya karunia yang didapat melalui perjuangan, atau lebih tepatnya pengorbanan. Dan perlu diketahui pula, sebenarnya para pendahulu kita juga tersimpan konflik sesama mereka. Semisal Presiden Soekarno pernah bersitegang dengan Jenderal Soedirman, Muhammad Natsir bahkan Muhammad Hatta sekalipun. Tidak perlu ditutup-tutupi bagaimana panasnya seteru H.O.S Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara dalam berjuang membangun bangsa ini. Akan tetapi mereka semua memiliki jiwa besar untuk lebih mengutamakan kesatuan negara tinimbang kepentingan individu. &lt;b&gt;Hasrat berkorban demi kemerdekaan ternyata telah merasuk terlalu dalam ke jiwa mereka.&lt;/b&gt; Itulah sifat seorang negarawan yang kini kian menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negarawan sayangnya terlanjur diidentikkan dengan sikap patriot yang dimiiki para pucuk pimpinan negara saja. Itu tidaklah sepenuhnya salah, pasalnya sikap tersebut memang sangat &lt;i&gt;urgent &lt;/i&gt;dimiliki oleh pemerintah. Akan tetapi alangkah luar biasanya jika setiap lapisan masyarakat berlomba-lomba memberikan pengorbanan untuk negara. Karena sikap negarawan sejatinya puncak kepribadian yang harus menjelma dalam watak setiap warga negara. Seorang tukang parkir yang negarawan, bertanggung jawab di setiap jengkal ‘tanah air’ yang ia jaga. Atlet nasional yang negarawan, siap berjuang mati-matian serta berlatih siang dan malam demi kejayaan sang merah-putih. &lt;b&gt;Pak RT yang negarawan, rela menjadi ujung tombak sekaligus ujung &lt;i&gt;tombok &lt;/i&gt;dalam mengayomi warga kampungnya.&lt;/b&gt; Guru SD yang negarawan, kudu rela mendidik calon-calon pemimpin bangsa senakal apapun mereka. Sehingga kita memaknai betul akan semangat patriotik bagi seluruh kalangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebuntuan pemerintah pusat dalam menangani beberapa provinsi juga menjadi biang keladi gejolak di daerah. Semisal kurang meratanya kesejahteraan sosial antar daerah, baik di Indonesia barat ataupun timur. Ataupun adanya ancaman disintegrasi yang diatasi dengan destruktif-militeristik. Termasuk persoalan korupsi yang menjangkiti semua kalangan sampai ke&amp;nbsp; eselon pemerintahan terbawah sekalipun. &lt;b&gt;Kekhawtirannya jika problem di daerah kurang terawasi, maka bisa memunculkan sikap primordial yang kebablasan.&lt;/b&gt; Kita sangat membutuhkan sosok negarawan yang mampu menemukan akar masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini persespsi kita harus segera berubah mengenai siapa sosok negarawan. Tidaklah selamanya negarawan itu identik dengan presiden. Bukankah dahulu banyak para pahlawan yang justru muncul dari daerah-daerah. Mereka kadang ‘diembargo’ secara politik, sosial dan ekonomi oleh kaum londo. Akan tetapi dengan sikap kenegarawan-an, membuat mereka tidak akan menyerah sampai benar-benar kehilangan nyawa. Begitupun di era reformasi ini. Bukan tidak mustahil akan muncul para pahlawan baru yang justru berasal dari daerah-daerah terpencil. &lt;b&gt;Semisal seorang teknorat negarawan, bisa saja muncul dari SMK di pelosok desa tertinggal.&lt;/b&gt; Atau akan hadir sosok ekonom yang lahir dari pondok pesantren di kampung-kampung. Sudah saatnya praktek kenegaraan setiap masyarakat memberikan kontribusinya, meski harus berkorban harta dan waktu. Termasuk diantaranya menghargai jerih payah produksi anak negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*Penulis bergiat di Forum kepenulisan MalamJumat Kliwon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4879129657010351589?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4879129657010351589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/negarawan-dari-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4879129657010351589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4879129657010351589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/negarawan-dari-daerah.html' title='Negarawan Dari Daerah'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2Ae8EimvSPo/Tyc9TQe1BJI/AAAAAAAAAJU/muoumbNriAI/s72-c/raja01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-5648742287398720335</id><published>2012-01-27T16:39:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T00:09:59.948-08:00</updated><title type='text'>KPK Harus Usut Banggar</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JbKY2iWc-Zs/TyNDod8y7LI/AAAAAAAAAJM/NhU67d1C3lE/s1600/marzuki-Alie.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-JbKY2iWc-Zs/TyNDod8y7LI/AAAAAAAAAJM/NhU67d1C3lE/s320/marzuki-Alie.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: center; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: center; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;(Diterbitkan di SKH Kedaulatan Rakyat, 07 Februari 2012)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Marzuki Alie ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah melaporkan dugaan korupsi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tentu saja terkait dugaan korupsi proyek ruang rapat Badan Anggaran (Banggar). Nominal 20 Milyar dinilai sebagai angka yang cukup fantastis untuk biaya renovasi sebuah ruang rapat. Tentu saja memancing publik untuk menanyakan transparansinya. Jangan-jangan terdapat korupsi dengan melakukan &lt;i&gt;mark-up&lt;/i&gt; harga. Apalagi kasus ini sudah sampai ke meja kerja Abraham Samad, ‘sang penangkap koruptor’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejak pertama kali terlantik, Abraham Samad berjanji hendak membongkar kasus-kasus besar di republik ini. Saat ini sudah waktunya bagi pimpinan KPK tersebut menajamkan taringnya dengan membongkar kasus ruang rapat Banggar. Pasalnya Banggar menjadi salah satu jantungnya berbagai penyelewengan dana rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kondisi dilematis tengah dirasakan Marzuki Alie saat ini. Pasalnya salah satu politisi Partai Demokrat itu bertindak sebagai pelapor yang berpotensi juga terlibat di dalamnya. Perlu diketahui bahwasannya pimpinan lembaga legislatif itu juga merangkap jabatan sebagai pimpinan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI. Padahal semua proyek apapun tidak akan bisa berjalan jika tanpa persetujuan ketua BURT, termasuk proyek 20 Milyar tersebut. Anehnya ia berkelit dengan mengatakan tidak tahu-menahu. Dan akhir-akhir ini ia malah menyalahkan Setjend DPR yang tidak melaporkan secara utuh dalam rapat BURT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Analisis pertama, kenapa Marzuki Alie sampai tidak mengetahui adanya laporan dana sebesar itu. Mungkin alasan terkuat adalah posisinya sebagai pejabat penting dengan kesibukan merangkap banyak jabatan strategis. Termasuk sebagai pimpinan DPR RI sekaligus Ketua BURT. Apalagi kalau bukan karena tersumbatnya komunikasi dengan agenda-agenda rapat yang bertabrakan menjadi rasionalisasi. Sungguh aneh di zaman teknologi komunikasi yang sudah serba canggih masih punya alasan kurangnya komunikasi. Padahal anggaran tunjangan komunikasi telah selangit, ditambah tunjangan transportasi, bahkan sengaja dibelikan ‘kalender termahal se-Indonesia’. Kesemuanya tidak lain agar sebagai wakil rakyat bisa fokus dalam menjalankan tugasnya. Alangkah tidak masuk akal jika dalam rapat BURT terdapat kelalaian yang sangat fatal. Sampai-sampai sang pucuk pimpinan tidak tahu-menahu terhadap keluarnya uang 20 Milyar yang telah ia setujui. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya terkait tuduhan Marzuki alie terhadap Setjend yang teledor lantaran tidak menyampaikan laporan secara utuh. Maka pertanyaanya kenapa tidak jauh-jauh hari dikomunikasikan jika terdapat laporan yang tidak utuh. Kenapa setelah kasus ini terkuak barulah rame-rame melaporkan ke KPK ? Mungkinkah terdapat kesengajaan untuk menjebak Marzuki Alie agar tersandung kasus tersebut ? Lalu mengapa pula pada Jumat (20/01) lalu pimpinan DPR RI itu berani-beraninya melaporkan ke KPK. Padahal jika dilaporkan bisa saja ia juga terseret dengan tuduhan sebagai pihak yang menyetujui anggaran haram tersebut. Benar-benar pimpnan senayan tersebut tengah berspekulasi besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selanjutnya apa yang seharusnya dilakukan KPK ? &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, kasus ini menjadi langkah awal untuk kembali menunjukkan kewibawaan institusi penjagal koruptor tersebut. Apalagi Abraham Samad sudah mendeklarasikan dirinya yang tidak berafiliasi parpol. Dalam kalimat lain, ia akan bertugas tanpa tekanan para penguasa senayan. Mengusut Banggar tanpa ada perasaan berhutang budi kepada pihak manapun, termasuk Presiden SBY.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Analisis berikutnya terkait munculnya kasus-kasus di senayan akhir-akhir ini. &lt;i&gt;Wa bil khusus&lt;/i&gt; banyaknya perbincangan terkait mahalnya sarana-prasarana di gedung wakil rakyat tersebut. Akankah ini lagi-lagi sebagai usaha pengalihan terhadap isu yang lebih besar. Semisal skandal Nazarudin-Rosa-Anas Urbaningrum yang tersandera kasus wisma Atlit. Atau malah isu Bank Century yang telah lama terkubur dalam-dalam. Setidaknya masyarakat &lt;i&gt;kudu&lt;/i&gt; cermat memperhatikan tingkah para politisi negeri ini. Terutama KPK yang harus tetap fokus mengentaskan korupsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;*Penulis adalah pegiat Forum Malam Jumat Kliwon&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS',sans-serif;"&gt;Teguh Indonesia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-5648742287398720335?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/5648742287398720335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/kpk-harus-usut-banggar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5648742287398720335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5648742287398720335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/kpk-harus-usut-banggar.html' title='KPK Harus Usut Banggar'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JbKY2iWc-Zs/TyNDod8y7LI/AAAAAAAAAJM/NhU67d1C3lE/s72-c/marzuki-Alie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6680163808064264692</id><published>2012-01-24T07:00:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T07:00:38.107-08:00</updated><title type='text'>Berharap Aceh Damai (Amin)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-esnWEw1lllw/Tx7Ha970TNI/AAAAAAAAAI8/5jwzU4WQeIk/s1600/masjid-raya-aceh.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="219" src="http://3.bp.blogspot.com/-esnWEw1lllw/Tx7Ha970TNI/AAAAAAAAAI8/5jwzU4WQeIk/s320/masjid-raya-aceh.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemilihan Kepala Daerah di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam saat ini cukup memprihatinkan. kisruh di kalangan elit politik lokal mengakibatkan waktu pelaksanaan pesta rakyat itu terpaksa diundur lagi. Kondisi politik nan kian memanas akhirnya merambat luas menjadi aksi teror bahkan kekerasan fisik. Semisal salah satu calon yang mendaftar sebagai calon pemimpin daerah mengalami teror penembakan di rumahnya sendiri. Untungnya pihak yang bersangkutan tidak sedang di kediamannya. Analisisnya bisa dikarenakan kepentingan politik antara incumbent dan pesaing-pesaingnya. Ataukah masih ada serangkaian infiltrasi dari para separatis di negeri serambi mekah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara historis provinsi Nangroe Aceh Darussalam memang memiliki tempat istimewa dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah daerah yang pernah melahirkan pahlawan kharismatik sekelas Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Dan provinsi Indonesia paling barat ini pernah mendukung gerakan R.M. Kartosuwiryo dalam mendirikan Negara Islam Indonesia. Pada saat itu basis wilayah Aceh di bawah sosok tokoh sentral Daud Beureuh. Hingga akhirnya Presiden Soekarno berdialog dengan menjanjikan kepada ‘sang Teungku’ bahwa Aceh akan menjadi daerah yang diterapkan syari’at Islam. Masyarakat Aceh memang terkenal ‘ganas’ saat melawan para penjajah. Dan sebaliknya mereka justru santun dan mau berdialog terhadap sesama bangsa seperti yang ditunjukkan oleh Daud Beureuh. &lt;i&gt;Asyiddaa-u ‘Alal-Kuffar wa-ruhamaa-u baynahum.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kembali kita menilik sebuah polemik PEMILUKADA di provinsi beribu kota Banda Aceh tersebut. Penembakan, kekerasan juga teror yang terjadi beberapa waktu lalu bisa dianalisis kembali. Salah satunya dengan tersumbatnya pintu dialog antara pemerintah dengan tokoh lokal Nangroe Aceh Darussalam. Sehingga terjadi deviasi dalam penyelesaian konflik dengan cara destruktif. Keberanian membuka dialog adalah sebuah opsi penyelesaian yang memiliki efek jangka panjang. Jika saat ini kisruh PEMILUKADA telah ditengahi oleh Mahkamah Konstitusi, hal tersebut hanyalah solusi jangka pendek. Toh, dengan ikut sertanya Partai Rakyat Aceh dengan mengusung pasangan Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf bukan berarti masalah otomatis selesai. Bayangkan saja Calon Incumbent –Irwandi Yusuf- yang pernah berjuang bersama-sama dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), masih belum bisa diterima oleh Partai Rakyat Aceh sebagai partai yang dibentuk mantan anggota GAM juga. Dengan kalimat lain seolah ada beberapa kepentingan yang belum tuntas untuk dirembuk kembali oleh para elit politik lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebebasan berekspresi di negeri ini memang dibenarkan. Hanya saja, bila kebebasan bisa mengakibatkan ketidaknyamanan rakyat Aceh tentu menjadi salah juga. Alih-alih hendak melaksanakan pesta demokrasi, malah menginjak-injak nilai demokrasi akhirnya. Begitu juga menjadi harga mati PEMILUKADA pada April 2012 nanti harus berjalan damai. Bahkan bisa saja prosesi demokrasi saat ini menjadi batu loncatan dalam sejarah perdamaian di Indonesia.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Selanjutnya dalam hal menyikapi seteru elit politik antara pimpinan parpol lokal, Mendagri dan juga Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan ditundanya waktu pencontrengan. Salah satu jalannya adalah dengan memberikan kepercayaan kepada Komisi Independen Pemilu (KIP) Aceh. Pasalnya setelah MK memutuskan agar PEMILUKADA diundur sampai April 2012, tentunya ada sedikit pihak yang keberatan. Jangan sampai hal tersebut mengakibatkan kekecewaan yang kembali berujung konflik. Sehingga betul-betul semua pihak harus mendukung dan percaya terhadap KIP sebagai penyelenggara pesta rakyat. Dan akhirnya mereka bisa bekerja tanpa ada tekanan atau rasa ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Peristiwa konflik Aceh saat ini bukanlah kali pertama dialami rakyat Nangroe. Sehingga sudah saatnya penanganan segala sesuatunya bermind-set untuk jangka panjang. Semisal mengusut tuntas penembakan terhadap warga akhir-akhir ini. Tentu saja tidak berhenti sampai batas menemukan pelakunya, tetapi mampu mengurai akar masalahnya. Boleh jadi hal tersebut buntut dari kekecewaan warga lokal terhadap kebijakan yang mengabaikan grassroot. Atau jika memang akar masalahnya terdapat friksi antar kelompok, maka keberanian membuka pintu dialog kudu dijalankan. Dalam diaog itu semua pihak harus bisa terbuka untuk membangun Aceh. Pasalnya tidak bisa dipungkiri konflik GAM belumlah seluruhnya tuntas. Butuh pikiran dingin serta keterbukaan dalam mengurai benang kusut masa depan rakyat serambi mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pegiat forum kepenulisan Malam jumat kliwon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6680163808064264692?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6680163808064264692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/berharap-aceh-damai-amin.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6680163808064264692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6680163808064264692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/berharap-aceh-damai-amin.html' title='Berharap Aceh Damai (Amin)'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-esnWEw1lllw/Tx7Ha970TNI/AAAAAAAAAI8/5jwzU4WQeIk/s72-c/masjid-raya-aceh.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7646669374391184115</id><published>2012-01-17T05:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T05:14:28.901-08:00</updated><title type='text'>Logistik Sepi, Indonesia Timur bisa ‘Mati’</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-aRNd15h6ALI/TxV0KOk89jI/AAAAAAAAAI0/4iVe-0-_9h8/s1600/indonesia-timur.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/-aRNd15h6ALI/TxV0KOk89jI/AAAAAAAAAI0/4iVe-0-_9h8/s320/indonesia-timur.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro* &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Begitu berharganya potensi yang dimiliki Kawasan Timur Indonesia  (KTI). Lebih dari separuh wilayah NKRI adalah wilayah timur Indonesia.  Begitupun sumber daya alam yang menyumbangkan lebih dari 80% pasokan  nasional. Bahkan tidak sedikit atlet-atlet nasional yang berprestasi  lahir dari Kawasan Timur Indonesia juga. Sebut saja Papua, Sulawesi,  Maluku dan Nusa Tenggara meskipun seolah merasakan sebagai penduduk  ‘kelas dua’ di negeri ini. Bahkan tahun 2011 lalu KTI mendapat tidak  lebih dari 30% dari anggaran pembangunan. Pasalnya selama ini pembagian  kue kesejahteraan hanya didasarkan pada pemerataan jumlah penduduk.  Kalau seperti itu tentu selamanya hanya Indonesia bagian barat saja yang  memperoleh jatah dominan. &lt;strong&gt;Dan sampai kiamat sekalipun, wilayah timur Indonesia tidak akan pernah maju.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;  &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Sampai sekarang terdapat beberapa permasalahan krusial yang  mencekik kemajuan KTI. Infrastruktur yang menjadi urat nadi perekonomian  ternyata tak kunjung diprioritaskan juga. Kebijakan yang muncul  hanyalah sebatas perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur. Padahal para  pegiat ekonomi membutuhkan terbukanya jalur logistik antar daerah. &lt;strong&gt;Terutama jalur logistik menuju dermaga-dermaga vital. Antara lain jalan raya, listrik dan pembangunan dermaga berkelas. &lt;/strong&gt;Bayangkan  jika jalan antar daerah masih banyak masalah. Semisal mulai dari  kerusakan jalan sampai pungutan liar (pungli) yang berlapis-lapis. Maka  pembebanan biaya transportasi akan bertambah. Sehingga wajar jika harga  barang yang hanya Rp.10.000,- di Yogyakarta bisa bernilai Rp.50.000,-  jika telah sampai ke Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pembangunan  jalur-jalur logistik akan mempermudah konektivitas antar daerah yang  selama ini menjadi kendala di kawasan timur Indonesia. Padahal almarhum  ‘Gus Dur’ pernah mengatakan konsepsi yang unik terkait wawasan  nusantara. &lt;strong&gt;Bahwasannya selat dan laut bukanlah pemisah antar pulau di Indonesia, akan tetapi justru penghubung diantaranya.&lt;/strong&gt;  Konsep tersebut memang menarik saat diucapkan. Akan tetapi menjadi  gagal ketika direalisasikan di wilayah yang miskin infrastruktur. Apakah  mungkin penduduk manggarai yang berada di Nusa Tenggara mudah  berjejaring dengan masyarakat &lt;em&gt;Celebes &lt;/em&gt;(Sulawesi) jika jalan  menuju dermaga rusak, apalagi jika dermaga yang ada tidak memiliki  sirkulasi kapal yang baik. Jangankan mereka yang ‘TERPISAH’ antar pulau,  lihatlah antara penduduk kota Sorong dan Kota Nabire saja masih  terkendala jalur logistik darat karena persoalan jalan raya padahal  masih satu pulau, Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rencana pada tahun 2012  ini pemerintah akan fokus pada pembangunan infrastruktur di wilayah yang  lebih dulu tersinari matahari ini. Entahlah, janji tinggal janji. Kita  akan melihat bagaimana Kementrian Pekerjaan Umum (PU) merealisasikannya.  &lt;strong&gt;Sudah saatnya kini pembangunan nasional harus berbasis potensi alam, bukan sekedar berdasarkan pada estimasi penduduk saja.&lt;/strong&gt;  Lihatlah potensi perikanan di kepulauan Maluku Sulawesi dan Nusa  tenggara yang kurang terolah. Begitupun potensi pertambangan di Papua  yang justru disikat oleh asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biasanya wilayah  KTI memiliki kawasan yang luas dengan berpenduduk sedikit. Tentu saja  tidak bisa disamakan model pembangunannya dengan pulau Jawa yang  mengalami permasalah keterbatasan lahan sekaligus ledakan kepadatan  penduduk. Dimulai dari Maluku&amp;nbsp; tentu saja di ‘negeri para raja’ tersebut  jangan dipaksakan harus menanam padi seperti di Jawa Tengah. Seharusnya  disana diperbanyak pelabuhan yang bisa menampung kapal-kapal besar.  Baik kapal penumpang maupun kapal penangkap ikan yang modern. &lt;strong&gt;Bahkan  bisa saja jalur pelayaran ikan dari Jepang menuju Aussie tidak perlu  lagi transit ke pelabuhan Singapura, akan tetapi langsung memotong  melalui Indonesia timur.&lt;/strong&gt; Tentu saja dengan pelabuhan yang bertaraf Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Selanjutnya peran pemerintah melalui tangan Kementerian PU yang sudah  mengawali proyek kawasan Indonesia Timur harus tetap komitmen. Sama  komitmennya seperti membangun pulau Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya  cita-cita nasional bangsa ini akan segera terwujud jika paradigma  pembangunan nasional tidak parsial. Semua potensi negeri ini teruntuk  bagi keseluruhan NKRI, bukan hanya kawasan barat Indonesia saja.  Sebagaimana tercantum dalam &lt;em&gt;preambule&lt;/em&gt; : “…membentuk suatu Pamerintahan Negara Indonesia yang melindungi &lt;strong&gt;segenap bangsa Indanesia dan seluruh tumpah darah Indonesia &lt;/strong&gt;dan  untuk memajukan kesejahteraaan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan  ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,  perdamaian abadi dan keadilan sosial…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7646669374391184115?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7646669374391184115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/logistik-sepi-indonesia-timur-bisa-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7646669374391184115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7646669374391184115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/logistik-sepi-indonesia-timur-bisa-mati.html' title='Logistik Sepi, Indonesia Timur bisa ‘Mati’'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-aRNd15h6ALI/TxV0KOk89jI/AAAAAAAAAI0/4iVe-0-_9h8/s72-c/indonesia-timur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6795092090819635922</id><published>2012-01-17T05:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T05:12:18.184-08:00</updated><title type='text'>Premanisme Sebagai 'Aset' Peradaban</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hg2R8on6ZRo/TxVzpTNJKvI/AAAAAAAAAIs/HWoHIg3NzIc/s1600/pakistani-protesters.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-Hg2R8on6ZRo/TxVzpTNJKvI/AAAAAAAAAIs/HWoHIg3NzIc/s320/pakistani-protesters.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(Kenapa Harus alBaqarah:30)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Sejak awal terciptanya manusia, malaikat telah menaruh mosi tidak  percaya. terlebih saat mahluk berakal tersebut hendak dinobatkan oleh  Allah Swt sebagai &lt;i&gt;khalifatu fi al-Ardh&lt;/i&gt;,&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Adam &lt;i&gt;alaihissalam &lt;/i&gt;dan keturunannya dicurigai sebagai “…&lt;i&gt;man yufsidu fiihaa wa yasfiku al-dimaa’a&lt;/i&gt;…” Malaikatpunn mencoba sedikit &lt;i&gt;show-up&lt;/i&gt;  mempertanyakan sebuah alasan. Logikanya kenapa tidak malaikat saja yang  selalu bertasbih ditunjuk sebagai ‘wakil tuhan’ di muka bumi. Akan  tetapi Allah Swt mengingatkan dengan menjawab “…&lt;i&gt;inni a’lamu ma laa ta’lamuun…”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sejenak  kita renungkan, mungkin malaikat serombongan ada benarnya juga. Manusia  memang memiliki potensi sebagai dalangnya pengrusakan alam dan  pertumpahan darah. Bukankah sejarah peradaban manusia tidak pernah  terlepas dari budaya premanisme para penguasa. Sebutlah Fir’aun dengan  kebijakannya membunuh setiap bayi laki-laki, Hitler membantai setiap  penduduk berkebangsaan Yahudi. Ariel Sharon meluncurkan Agresi kepada  umat musim di jalur Gaza. Begitu juga Soeharto, Narsisco Ramos, Husni  Mubarok dan George Bush sang tiran. Bukankah kekhawatiran malaikat  tidaklah terlalu mengada-ada?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Indonesia raya merupakan &lt;i&gt;nation-state&lt;/i&gt;  yang juga berpenduduk manusia. dengan kata lain, bumi nusantara ini  juga dihuni oleh para perusak alam dan penumpah darah antar sesama.  Munculnya tragedi Tanjung Priok, Papua, Mesuji sampai penembakan  mahasiswa di Bima sejatinya sudah skenario langit. Penulis hanya  berasumsi ‘jangan-jangan’ tipikal dasar manusia adalah seorang &lt;i&gt;fighter.&lt;/i&gt; Dan kenapa Sang Pencipta justru menunjuk &lt;i&gt;khalifatu fi al-Ardh&lt;/i&gt; dari golongan ‘brutal’ ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Premanisme Versus Leadership&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Terciptanya  manusia bukanlah produk gagal. Bahkan munculnya pembantaian sesama  manusia akhir-akhir ini bukan juga kesalahan skenario dari Allah Swt.  Inilah yang menjadi argumen Allah Swt kepada malaikat &lt;i&gt;“…Aku lebih tahu atas apa saja yang kamu tidak ketahui..”&lt;/i&gt;  Budaya premanisme benar-benar diciptakan dengan maksud yang jelas.  Yakni untuk melahirkan para pemimpin yang kokoh. Bukankah Musa A.s  muncul kepemimpinannya lantaran dihadapkan pada Fir’aun sang diktator.  Rasulullah Muhammad Saw pun hadir ditengah manusia-manusia yang haus  darah. Sang patih Gadjah mada juga seorang &lt;i&gt;leader &lt;/i&gt;yang dibesarkan  oleh misi-misi penuntasan kaum pemberontak dan penaklukan  kerajaan-kerajaan Nusantara. Raden Fatah raja Demak Bintoro juga berjaya  setelah bersaing dengan Adipati Terung –adiknya sendiri- dalam  ‘menjinakkan’ Prabu Brawijaya. Bung Karno menjadi legenda bangsa ini  karena ide besar anti kolonialismenya. Kesimpulannya pemimpin besar itu  muncul karena &lt;i&gt;fighting&lt;/i&gt; terhadap premanisme. Itulah alasan kenapa dipilih manusia, bukan Malaikat!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Bangsa manapun pasti akan mengalami konflik, termasuk Indonesia.  Akhir-akhir ini tragedi warga Bima versus aparat dalam demonstrasi  pembebasan pelabuhan dan berujung kematian. Sebelumnya warga Mesuji,  Lampung berhadapan dengan timah panas brimob dalam perebutan lahan  dengan PT BSMI. Bukan hanya aparat yang bertindak brutal, bahkan warga  pun menjadi liar tak terkendali. Dalam kondisi semacam ini, sangat  dibutuhkan kepemimpinan yang kokoh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Strenght Leadership&lt;/i&gt;  bukan sekedar pemimpin yang memiliki militer kejam. Akan tetapi  pemimpin yang mampu bertahan dalam kondisi terburuk. Memiliki kecerdasan  dalam menyelesaikan masalah. Terutama menyelesaikan konflik dengan  bahasa masyarakat. Apa yang diinginkan warga Mesuji adalah pembebasan  lahan yang diklaim pihak PT. BSMI. Menghadapi situasi yang sudah  memanas, pemerintah memang harus tegas. Akan tetapi tegas yang dimaksud  bukan membunuh warga. Yakni tegas menolak pemilik modal yang merugikan  rakyat. sekali lagi pemerintah &lt;i&gt;kudu&lt;/i&gt; tegas. Kalau cuma &lt;i&gt;melempem&lt;/i&gt; jangan jadi manusia, jadi malaikat sajalah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6795092090819635922?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6795092090819635922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/premanisme-sebagai-aset-peradaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6795092090819635922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6795092090819635922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2012/01/premanisme-sebagai-aset-peradaban.html' title='Premanisme Sebagai &apos;Aset&apos; Peradaban'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Hg2R8on6ZRo/TxVzpTNJKvI/AAAAAAAAAIs/HWoHIg3NzIc/s72-c/pakistani-protesters.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2223009972396282527</id><published>2011-12-13T01:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T01:20:01.652-08:00</updated><title type='text'>Mumpung Punya Bibir, Tersenyumlah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JUmrIhBNeR4/TucYcNPEwhI/AAAAAAAAAIk/GzZaJSuqel4/s1600/poster_senyum___ayo_ngguyu___by_yuvenz-d32ms27.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-JUmrIhBNeR4/TucYcNPEwhI/AAAAAAAAAIk/GzZaJSuqel4/s320/poster_senyum___ayo_ngguyu___by_yuvenz-d32ms27.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Wajah merupakan bagian tubuh yang paling mudah diingat oleh orang lain. Seringkali kita terasa sulit mengenali foto yang tidak tampak wajahnya. Ketika seorang teman berdiri membelakangi kita, terkadang ada perasaan ragu untuk menegur. Lagi-lagi karena untuk mengenali seseorang secara pasti memang harus lewat wajahnya. Karenanya penampilan wajah yang menarik, tentu menjadi poin plus dalam dunia pergaulan. Maka dari itu, seharusnya di depan cermin rumah kita tertulis &lt;b&gt;“Sudah Betulkah Muka Anda”.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan wajah yang menarik bukan persoalan mulus ataupun tidak, mancung atau pesek bahkan tidak mesti juga persoalan putih dan gelap kulitnya. Namun yang terpenting sebetulnya hanya perkara sepele. Yakni “Wajah Yang Bersahabat”. Alangkah senangnya ketika tubuh lelah sehabis pulang kerja, disambut oleh istri dengan wajah tersenyum lebar penuh ketulusan. &lt;b&gt;Karena Sifat dasar manusia adalah ingin merasa nyaman. &lt;/b&gt;Mereka tentu akan menghindari apapun yang mengancam dirinya. Termasuk dalam hal ini adalah wajah-wajah yang mengancam. Si cantik dan si tampan sekalipun tidak akan memberikan kenyamanan jika selalu menampakkan muka cemberut, ketus dan sorot mata yang sinis. Oleh karenanya seorang ‘Ngobrolers’ yang handal tentu lihai dalam memamerkan senyum yang paling menarik. Apalagi jika anda bukanlah orang yang berhidung mancung, kulit kasar dan gelap. &lt;b&gt;Maka mau tidak mau bertobatlah, dan berikan senyum yang menarik pada lawan bicara anda.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya jika dalam sehari, kita menyempatkan latihan senyum di depan kaca rumah. Tariklah ujung bibir selebar mungkin dan simetris hingga terlihat sedikit gigi bagian depan. Sekali lagi perlu ditekankan kata-kata ‘harus simetris’. Hal ini karena jika panjang ujung bibir yang ditarik bagian kanan atau kiri berbeda sedikit saja, maka akan memunculkan kesan yang buruk. Kesannya melecehkan, merendahkan orang lain, tidak menghargai dan lainnya. Maka dari itu pengertian tehnis senyum nan tulus adalah senyum yang lebar dan simetris. Dan satu lagi ditambah dengan tatapan mata yang rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa senyum yang tulus harus dilatih? Karena membiasakan wajah untuk bisa tersenyum dengan tulus tidaklah mudah. Apalagi dalam kondisi yang begitu menghimpit. Baik menghimpit emosi maupun menghimpit isi dompet. Semisal seorang karyawan toko yang tengah putus cinta. Padahal ia dituntut untuk selalu keep smile dengan pelanggannya. Dan akan terlihat perbedaan antara bibir yang terbiasa dengan yang terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2223009972396282527?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2223009972396282527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/mumpung-punya-bibir-tersenyumlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2223009972396282527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2223009972396282527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/mumpung-punya-bibir-tersenyumlah.html' title='Mumpung Punya Bibir, Tersenyumlah'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JUmrIhBNeR4/TucYcNPEwhI/AAAAAAAAAIk/GzZaJSuqel4/s72-c/poster_senyum___ayo_ngguyu___by_yuvenz-d32ms27.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-393865253020187181</id><published>2011-12-13T01:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T01:11:19.355-08:00</updated><title type='text'>Sumpah…! Akulah Pemuda</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1gVDa0sAU6U/TucWQyuIKOI/AAAAAAAAAIc/Fjy2aaPsYOw/s1600/sumpah-pemuda-memudarnya-semangat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-1gVDa0sAU6U/TucWQyuIKOI/AAAAAAAAAIc/Fjy2aaPsYOw/s320/sumpah-pemuda-memudarnya-semangat.jpg" width="229" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hari sumpah pemuda, 28 Oktober merupakan hari raya bagi segenap generasi muda&amp;nbsp; di Indonesia. 82 Tahun yang lalu terkumpul sekelompok pemuda dari berbagai pelosok nusantara untuk mem’baiat’ dirinya sebagai Pemuda Indonesia. Perjuangan mengusir penjajah memang tidak terlepas dari peran serta pemuda. &lt;b&gt;Terusirnya ‘kompeni’ dari Nusantara adalah harga mati.&lt;/b&gt; Dan pemuda di masa lalu telah mengawali tekad bersejarah itu. Belanda memang terlampau licik dalam melancarkan politik adu dombanya. Namun kaum muda tak kehabisan akal dengan itu semua. Mereka bersumpah bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Sumpah tersebut menginspirasi para pejuang di daerah-daerah untuk menyatukan kekuatan dalam mengusir penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini harus berterima kasih kepada ibu-ibu yang rajin melahirkan. Pasalnya merekalah yang ‘menyuplai’ stok pemuda setiap tahunnya. Konon dahulu bung Karno begitu bangga dengan adanya pemuda di republik ini. Hingga terkenal ucapan beliau “ Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Bahkan juga dalam sejarahnya Umar ibn Khatab justru sering bertanya kepada pemuda jika tengah menghadapi polemik dalam pemerintahan. Contoh lain yang begitu membekas di Indonesia ketika sekumpulan pemuda dari kampus berduyun-duyun menggulingkan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara fisik, masa muda adalah waktu kemuncak untuk semua kemampuan. Saat mudalah seseorang memiliki fisik dalam kondisi yang terbaik. Coba kita melirik perlombaan olahraga. Sangatlah jarang ada atlet olahraga berusia diatas 40 tahun. Lionel Messi bersinar di Barcelona saat ia berusia 22 tahun. Chris John mengalami karier emasnya sebagai petinju dunia di usia muda. Taufik hidayat pun menjadi juara Indonesia terbuka dunia saat ia berusia 18 tahun. Sungguh fantastik, geliat anak manusia di usia muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda biasanya memiliki sifat alamiah yang hanya dimiliki pada masa muda saja. &lt;b&gt;Pertama adalah adanya naluri ‘tidak mau mengalah’ yang menjadikannya berani memulai perjuangan hidup.&lt;/b&gt; Ia selalu ingin terlihat lebih hebat, lebih pintar, lebih gagah dan lebih bergaya daripada yang lainnya. Karenanya efek buruknya sering terlihat anak muda ‘bermain’ balap liar di jalanan. Hal tersebut tidak lain karena ia ingin mempertontonkan kehebatannya pada publik. Termasuk dengan banyaknya tawuran-tawuran, nyaris didominasi oleh anak-anak muda. Tentu saja akibat salah kaprah dalam menyalurkan sifat alamiah mereka yang ingin terlihat lebih kuat di mata orang lain. Alangkah bangganya negeri ini jika watak ‘tidak mau mengalah’ tersebut disalurkan untuk mengibarkan sang merah putih di setiap kejuaraan olahraga antar negara. Alangkah hebatnya jika Bambang Pamungkas dkk dalam Timnas sepakbola menjadi tim yang tidak mau mengalah pada tim negara manapun. Walaupun pada kenyataannya kini tim sepakbola Indonesia adalah tim yang paling sering ‘mengalah’ pada negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat khasnya yang kedua adalah &lt;b&gt;suka untuk mencoba hal-hal yang baru.&lt;/b&gt; Karena masa muda adalah peralihan dari kanak-kanak yang seringkali dibatasi oleh keluarga menuju dunia kebebasan memilih. Jika di masa kanak-kanak ia mengenal dan mempelajari sesuatu berdasarkan informasi dari orang tuanya. Namun kini para pemuda bisa mengenal sesuatu yang baru dengan sendirinya, tanpa harus diketahui orang tuanya. Mereka bebas berkenalan dengan apapun dengan usaha mereka sendiri bukan lagi bimbingan ayah dan ibunya. Karena bagi mereka, sesuatu yang baru adalah &lt;i&gt;prestise &lt;/i&gt;dan tantangan yang harus ditaklukan. Walaupun dampak negatifnya, karena karakter itulah mereka bisa berkenalan dengan dunia Narkoba dan pergaulan bebas. Bukankah kini penikmat Narkoba dan pelaku seks bebas tidak sedikit dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Padahal sifat alami pemuda ini akan berdampak positif jika diarahkan dengan benar. Jika kaum muda memang gemar mencoba hal-hal yang baru, maka lakukanlah hal tersebut di laboratorium penelitian. Temukan penemuan-penemuan baru yang berguna bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman modern ini bangsa Indonesia masih sangat membutuhkan peran pemuda. Negara yang tengah terpuruk ini sangatlah membutuhkan sosok yang tidak mau mengalah pada persoalan yang melilit tiada akhir. Begitu juga kehadiran manusia yang terobsesi pada tantangan baru sungguh ditunggu-tunggu kemunculannya oleh bangsa ini. Pemberantasan korupsi adalah tantangan baru maka cobalah wahai pemuda. Menuntaskan persoalan kemiskinan adalah tantangan baru maka tuntaskan segera wahai darah muda. Mengatasi lemahnya pendidikan negeri ini juga tantangan baru, maka atasilah wahai anak muda. Hanya pemuda saja….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-393865253020187181?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/393865253020187181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/sumpah-akulah-pemuda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/393865253020187181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/393865253020187181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/sumpah-akulah-pemuda.html' title='Sumpah…! Akulah Pemuda'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1gVDa0sAU6U/TucWQyuIKOI/AAAAAAAAAIc/Fjy2aaPsYOw/s72-c/sumpah-pemuda-memudarnya-semangat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-8702812026886336706</id><published>2011-12-12T20:50:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T20:50:32.681-08:00</updated><title type='text'>Episode DEMOKRASI Dalam Islam</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qsmIntZR6qE/TubZe54cZOI/AAAAAAAAAIU/pCYMwHa8BHI/s1600/democracy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-qsmIntZR6qE/TubZe54cZOI/AAAAAAAAAIU/pCYMwHa8BHI/s1600/democracy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wajarlah, sekiranya terdapat polemik dalam menyikapi demokrasi. Pasalnya umat Islam memiliki tradisi ‘hati-hati’ dalam beramal. Sebagaimana sebuah kaidah dalam &lt;em&gt;fiqh awlwiyat&lt;/em&gt; (kaidah fiqh prioritas) menyebutkan. “…&lt;em&gt;Al-akhdzu bits-tsiqoti wal-‘amlu bil-ihtiyaathi fii baabil-‘ibaadati awla&lt;/em&gt;…” (Mengambil pendapat yang terpercaya dan beramal dengan kehati-hatian dalam bab Ibadah, itulah yang diutamakan). Bahkan Ulama-ulama di zaman &lt;em&gt;baheula&lt;/em&gt; sekalipun tetap mendahulukan kehati-hatian dalam berucap, bersikap dan beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi, bahwasannya &lt;em&gt;ikhtilafiyah&lt;/em&gt; didalamnya hanyalah perdebatan yang terwariskan dari pemikir-pemikir lawas. Tidak ada sesuatu yang baru dalam polemik ini. &lt;strong&gt;Dan seringkali justru ‘menjebakkan’ diri untuk membenturkan antara demokrasi dan Islam.&lt;/strong&gt; Akan tetapi sebagai upaya berhati-hati dalam bersikap, maka tradisi penyerta yang harus dilakukan yakni dengan berupaya membetulkan pemahaman tentang demokrasi.&lt;br /&gt;‘Secara formalitas’ sistem demokrasi memang terlahir dari barat. Sehingga wajar jika sibghah Islam agak ‘terlambat’ menyusup ke dalam sejarah demokrasi. Dan terkesan Islamlah sebagai pihak yang mengadopsi sistem ini. Dan tentu saja beberapa pihak yang ‘masih’ berhati-hati sangat berkeberatan jikalau Islam disejajarkan dengan produk barat itu. Sampai pada titik yang extream merekapun menolak demokrasi mentah-mentah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, definisi demokrasi yang terlalu netral membuat siapa saja boleh  menafsirkannya. Sehingga literatur yang bertalian dengan sistem kenegaraan ini tidaklah sulit untuk dicari. Namun sayangnya, ilmuwan barat telah terlebih dulu menjadi &lt;em&gt;muassis&lt;/em&gt; yang memunculkan teori-teori demokrasi. Begitupun ide-ide liberal mereka kerap kali melekat dalam teori-teori tersebut. Dan parahnya negara-negara barat justru menyalahgunakan demokrasi tesebut untuk memojokkan, menjajah dan merusak umat Islam. Sehingga sebagian umat Islam kian ‘alergi’ saja terhadap demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi prosedural, tak mengapa ia diklaim sebagai &lt;em&gt;made in Western.&lt;/em&gt; Akan tetapi jika yang dimaksud adalah demokrasi substansial, maka Islam tentu memiliki sejarah tersendiri. Beberapa substan dari demokrasi yakni konsep musyawarah, kontrak sosial negara-rakyat, konsep keadilan sosial dll. Dan jika ditilik dari sejarahnya, maka Rosullullah Saw dan khalifah-khalifahnya sejatinya telah mengamalkan demokrasi substansial. Semisal konsep musyawarah yang terwujud dalam piagam madinah. Dan komponen masyarakat Madinah yang majemuk berhasil disatukan Rasulullah melalui sebuah piagam yang fenomenal, yaitu Piagam Madinah. Dalam Piagam itu diatur mekanisme hubungan yang setara dan adl antara pemeluk Islam, Nasrani, Yahudi dan berbagai suku yang ada di Madinah kala itu” (Amin Sudarsono : 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca runtuhnya &lt;em&gt;Ottoman Kingdom&lt;/em&gt;, umat Islam sungguh merasa terpukul mengaduh-aduh. Pasalnya di satu sisi sistem kekhalifahan tidaklah mudah didirikan dalam sekejap kilat, dan disisi lain umat Islam belum siap untuk menjajal sistem kenegaraan di ‘luar’ pakem. Sehingga tercerai-berainya umat Islam pada saat itu tentu saja tidak asal berpecah-belah. Akan tetapi masing-masing berupaya keras menyatukan kembali umat Islam dengan aneka macam ijtihad. Dan memunculkan firqah-firqah yang  saling ‘berdialektika’ hingga akhir-akhir ini. Namun sisi positif dari runtuhnya Turki Utsmani adalah umat Muhammad Saw ini mulai melirik urgensi seorang Muslim menjadi negarawan. Sehingga &lt;em&gt;firqah-firqah&lt;/em&gt; yang –dipaksa sejarah- terlahir untuk berlomba-lomba menata umat. Mulai dari Al-Ikhwan Al-Muslimin, Al-Hizb-atTahrir, Pan-Islamica, Salafiyah, Ahmadiyah, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyyah, Jama’ah Tabligh dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampailah kita pada pembahasan mengenai &lt;em&gt;ikhtilafiyyah&lt;/em&gt; demokrasi pada internal umat Islam sendiri. Salah satu perselisihan fundamental dalam diskursus ini adalah terkait posisi Islam dalam dasar negara.&lt;br /&gt;Ada yang benar-benar ‘tidak rela’ jika ada sistem lain yang dijadikan patokan dalam berhukum. Mereka bersikeras untuk berhukum hanya dengan hukum Allah Swt bukan sistem lain. Sehingga golongan tersebut memilih untuk membelakangi demokrasi lantaran dianggap bukan sebuah sistem yang bersumber dari Allah –dengan kata lain tidak menjadikan al-Quran dan Hadits sebagai pijakan berhukum. Sebut saja di Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, bukan al-Quran dan Hadits. Ada beberapa pihak yang jelas menolak Pancasila sebagai ideologi tunggal di tanah air. Dan terkadang penolakan yang dilakukan justru dengan melakukan peberontakan destruktif (missal: DI/TII) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat bagaimana &lt;em&gt;kekeuh&lt;/em&gt;nya Moehammad Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar negara Indonesia. Respek positif terhadap beliau adalah karena lebih memilih memperjuangkan Islam dari arah dalam. Dengan kata lain masuk ke dalam Konstituante dan berdebat hebat di dalamnya. Walaupun akhirnya beliau mulai ‘melunak’ dengan menuangkan tulisan di majalah mingguan Hikmah terbitan 9 Mei 1954. Artikel tersebut berjudul: &lt;strong&gt;“Bertentangankah Pancasila Dengan al-Qur’an?”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;Dia bertanya mana mungkin al-Quran yang memancarkan tauhid bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa? Mana mungkin al-Qur’an yang ajarannya penuh dengan kewajiban enegakkan ‘adalah ijtima’iyah dapat apriori bertentangan dengan sila Keadila Sosial? Mana mungkin al-Quran yang justru memberantas sistem feodalisme dan pemerintahan istibdad (diktator) sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintah, dapat bertentangan dengan apa yang dinamakan Kedaulatan Rakyat ? mana mungkin al-Quran yang menegakkan islah bainannas (damai antara manusia) dapat apriori bertentengan dengan yang disebut Peri Kemanusiaan? Mana mungkin al-Quran yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan, dapat apriori bertentangan dengan Kebangsaan.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain M.Natsir masih banyak sejumlah yang meperjuangkan Islam sebagai Ideologi dan Dasar Negara. Merekaterdiri dari 15 orang berjuang di dalam BPUPKI. Di antara 15 orang golongan Nasionalis Islam tersebut adalah &lt;strong&gt;KH.Ahmad Sanusi (PUI), Ki Bagus Hadikusumo, KH.Mas Mansur, KH.Kahar Muzakkir (Ketiganya dari unsur Muhammadiyyah), KH. Masykur dan KH.A.Wachid Hasyim (Keduanya dari NU), Sukiman Wiryosandjoyo (PII), Abikusno Tjokrosujoso (PSII), Agus Salim (Partai Penyadar) dan KH.Abdul Halim (PUI).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-8702812026886336706?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/8702812026886336706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/episode-demokrasi-dalam-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8702812026886336706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8702812026886336706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/episode-demokrasi-dalam-islam.html' title='Episode DEMOKRASI Dalam Islam'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qsmIntZR6qE/TubZe54cZOI/AAAAAAAAAIU/pCYMwHa8BHI/s72-c/democracy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7570680685909313644</id><published>2011-12-12T20:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T20:39:13.076-08:00</updated><title type='text'>Paradigma Definisi Negara Islam yang Ideal.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PB7hRNUh8x0/TubWm6HyqXI/AAAAAAAAAIM/6tjvOn20Kes/s1600/negara-islam-indonesia-no.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="170" src="http://1.bp.blogspot.com/-PB7hRNUh8x0/TubWm6HyqXI/AAAAAAAAAIM/6tjvOn20Kes/s320/negara-islam-indonesia-no.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Agama Allah di muka bumi bukanlah ajaran yang asing bagi dunia pemerintahan. Sejak Adam a.s tercipta, ia telah mengalami ‘ujian’ kepemimpinan sebagai &lt;em&gt;khalifatu fil ardl&lt;/em&gt;. Dan Nabiyullah Adam a.s yang cerdas itu pun bisa mengakhiri polemik mengenai posisi khalifah-Tuhan-manusia. Kendati salah satu konsekuensinya adalah tergelincirnya manusia pertama itu dari surge ke bumi. Kisah &lt;em&gt;al-anbiya&lt;/em&gt; yang paling popular terkait kepemerintahan yakni nabiyullah Yusuf a.s, Sulaiman a.s dan Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai model kepemerintahan telah di’model’kan oleh para nabi hingga sahabat bahkan umat Islam di abad pertengahan. Akan tetapi tidak ada sebuah daliil yang menyatakan bahwa suatu model pemerintahan tertentu diaggap ideal. Kenegarawanan yang dicontohkan Nabi Yusuf  a.s memang ‘ideal’ di masanya. Begitupun model kerajaan Nabi Sulaiman a.s menjadi legenda pada zamannya. Nabi Muhammad Saw sebagai &lt;em&gt;qudwah&lt;/em&gt; umat akhir zaman juga men-contohkan model pemerintahan ideal di zamannya saat menetap di Yatsrib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola yang berbeda juga dilakukan oleh para sahabat semisal Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang meniru kerajaan ala Romawi dan Persia. ‘tradisi’ Mu’awiyyah ini bertahan dan berjaya hingga era Umar bin Abdul Aziz r.a. Sehingga penulis berpendapat, model pemerintahan ideal itu tidaklah &lt;em&gt;sak-klek&lt;/em&gt; mengadopsi satu model saja. &lt;strong&gt;Akan tetapi model ‘negara Islam’ ideal itu dinamis sedangkan tujuannya untuk menegakkan maqashidu asy-syari’ah itulah yang baku.&lt;/strong&gt; Sehingga paradigma mengenai ‘negara Islam’ yang ideal harus benar diposisikan sebelum kita mendefinisikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;…Dari sekian banyak bentuk pemerintahan, Ibnu Abi Rabi’ memilih Monarki atau kerajaan dibawah pimpinan seorang raja serta penguasa tunggal sebagai bentuk yang terbaik………………………… keyakinannya bahwa dengan banyak kepala, maka politik negara akan terus kacau dan sukar membina persatuan…&lt;/em&gt;” (rujukan : al-Ahkam ash-Shulthaniyyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang sama Imam al-Mawardi menyampaikan :&lt;br /&gt;“… &lt;em&gt;Mulai tampak pula bahwa tidak mungkin lagi imperium Islam yang demikian luas wilayahnya harus tunduk kepada seorang kepala negara tunggal&lt;/em&gt;…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Taimiyah menyampaikan yang dikutip oleh H.Munawir Sjazali, M.A :&lt;br /&gt;“…&lt;em&gt;Ibnu Taimiyah mendambakan ditegakkannya keadilan sedemikian kuat, sehingga dia cenderung untuk beranggapan bahwa kepala negara yang adil meskipun kafir adalah lebih baik daripada kepala negara yang tidak adil meskipun Islam, dengan menyetujui ungkapan bahwa Allah mendukung negara yang adil meskipun kafir, dan bahwa Allah tidak mendukung negara yang tidak adil sekalipun Islam…&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pendapat ulama diatas, &lt;strong&gt;penulis kian menguatkan bahwasannya konsep ‘negara Islam’ nan ideal adalah dinamis. Hanya saja tujuannya untuk menegakkan maqhasidu asy-syari’ah adalah harga mati.&lt;/strong&gt; Sehingga apapun model pemerintahannya jika ia bisa memberikan peluang lebih besar dalam menegakkan syari’at maka itulah kondisi ideal. Maka dengan kata lain, &lt;strong&gt;Negara Islam Ideal adalah negara yang memiliki model pemerintahan yang memungkinkan diimplementasikannya syaria’at Islam.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengulang uraian yang diatas. Bahwa pada masanya, model kerajaan yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman sudah ideal. Karena pada masa itu beliau adalah Ulama’ sekaligus Umara’ sehingga lebih memiliki power dalam mengatur rakyat sesuai syariat allah Swt. Rasulullah Saw tidaklah jauh berbeda, meskipun secara simbolis beliau tidaklah disebut sebagai seorang raja. Model pemerintahan Rasul saw saat hidup di &lt;em&gt;Madinatu al-Munawarah&lt;/em&gt;, merupakan salah satu model yang ideal di masanya. Lantas di zaman umat Islam saat ini, model pemerintahan semacam apa yang terasa lebih ideal untuk digunakan…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7570680685909313644?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7570680685909313644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/paradigma-definisi-negara-islam-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7570680685909313644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7570680685909313644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/paradigma-definisi-negara-islam-yang.html' title='Paradigma Definisi Negara Islam yang Ideal.'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PB7hRNUh8x0/TubWm6HyqXI/AAAAAAAAAIM/6tjvOn20Kes/s72-c/negara-islam-indonesia-no.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-5563974907023832645</id><published>2011-12-12T20:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T20:29:47.679-08:00</updated><title type='text'>Menimbang-nimbang NKRI Sebagai ‘Negara Islam’</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GM5OIR5BP5E/TubUsJRxiNI/AAAAAAAAAIE/iykD0aFzXAI/s1600/NKRI-Sudah-Final1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-GM5OIR5BP5E/TubUsJRxiNI/AAAAAAAAAIE/iykD0aFzXAI/s320/NKRI-Sudah-Final1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengucap kata NKRI, tentu gambaran luasnya wilayah Indonesia dan banyaknya budaya adat-istiadat. Wajar saja, pasalnya sejarah yang tersebar mengenai gambaran Indonesia memanglah menceritakan demikian. Akan tetapi selama ini, rakyat Indonesia tidaklah diceritakan mengenai campur tangan Islam dalam membangun NKRI. Andaikan lembaran kisah mengenai Manifesto muslim diceritakan secara jujur, maka kita akan tahu begitu islami-nya proses perjuangan hingga pembentukan NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur sajalah, siapa yang memperjuangkan negeri ini dari penjajahan yang berkepanjangan. Maka umat Islamlah jawabannya. Kurang gagah berani apalagi &lt;strong&gt;Cut Nyak Dhien &lt;/strong&gt;dalam melawan ‘kompeni’ di ujung Pulau Sumatera. Begitupun, bagaimana sikap &lt;strong&gt;Sunan Gunung Djati&lt;/strong&gt; yang ‘tidak mau mengalah’ dalam mempertahankan kesultanan Banten, Jayakarta dan Cirebon dari ancaman VOC. Belum selesai sampai disitu, mungkin kita masih ingat bagaimana &lt;strong&gt;Jenderal Soedirman&lt;/strong&gt; yang awalnya hanyalah seorang ‘guru ngaji’ di &lt;strong&gt;persjarikatan Muchammadijah.&lt;/strong&gt; Beliau menjelma menjadi seorang jenderal besar mengerikan yang membawa konsep perang gerilya. Sehingga dengan bangga penulis beranggapan bahwa saham terbesar dalam tubuh bangsa ini adalah hasil jerih payah umat Islam di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dalam perumusan pancasila dan lambang negara lainnya. Mereka para perumus konsep negara Indonesia adalah para ulama. Setelah menerima kritukan dari &lt;strong&gt;M.Natsir, Agus Salim dan A.Hassan&lt;/strong&gt; terkait konsep Nasionalisme, sang proklamator ini menyampaikan maksud nasionalisme yang benar. Ia mengatakan bahwa nasionalisme yang digagas bukanlah bentuk &lt;em&gt;Chauvinism&lt;/em&gt; atau bentuk tiruan dari nasionalisme versi barat, melainkan sebuah bentuk nasionalisme yang menjadikan orang-orang Indoensia menjadi hamba Tuhan yang hidup dalam roh tau jiwa agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, model pemerintahan Indonesia belum pernah keluar dari pakem demokrasi. Entah itu demokrasi terpimpin, demokrasi liberal, demokrasi pancasila dan lain-lain.  Sehingga sungguh tepat jika kita ajukan pertanyaan, bagaimana posisi syariat Islam dalam model demokrasi di Indonesia selama ini. Jika dalam kelahirannya, NKRI telah sah sesuai &lt;em&gt;khittah&lt;/em&gt; keIslaman. Akan tetapi perjalanan pasca lahirnya Negara berpenduduk muslim terbesar ini memang ‘agaknya’ sedikit mereduksi nilai-nilai Islam. Sehingga akhir-akhir ini tidak jarang sebagian kecil gerakan ‘ekstrim’ yang menuduh NKRI sebagai Negara &lt;em&gt;kuffar&lt;/em&gt; bahkan menganggap sebagai &lt;em&gt;daru al-harb&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Diagnosa Beberapa ‘Kekeliruan’ NKRI Yang Sudah Ideal&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau hendak mengkoreksi sebuah sistem terlihat baik atau kurang baik, maka yang menjadi pertanyaan adalah siapa korektornya. Pun Indonesia yang berdaulat ini jika ditilik dari sudut pandang demokrasi barat-liberal-sekular, boleh jadi malah menjadi contoh bagi bangsa lain. Akan tetapi mestinya, Indonesia memiliki tanggung jawab terhadap Islam sebagai agama &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; di nusantara. Maka bagaimana sistem demokrasi ala Indonesia ini apabila dikoreksi dengan menggunakan pisau analisis Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri khas Islam dalam bernegara, yakni menjadikan hukum/&lt;em&gt;syara&lt;/em&gt;’ menjadi panglima dalam menegakkan keadilan. Sebab salah satu fungsi negara adalah menjadi ‘pengadilan’ yang seadil-adilnya terhadap rakyatnya. Dan penegakkan keadilan, merupakan tradisi agama ini di setiap model pemerintahan Islam yang telah tegak di muka bumi. Semangat menegakkan keadilan selalu dinomor-satukan, Entah itu tatkala Umar bin abdul aziz r.a berjaya di masa Bani Umayyah ataupun saat kesultanan Turki Utsmani yang mengalami pesakitan karena ‘dibekukan’ oleh sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, saat ini telah melampaui era kejumudannya. Penandanya terlihat saat reformasi yang bergulir 13 tahun lalu. Sehingga kian hari, negara yang dikepalai oleh presiden SBY ini selalu menuju perbaikan. Dan salah satunya bagaimana keadilan di negeri ini sering tersorot media publik, kendati jarang diselesaikan secara hukum. Kalau dulu penindasan TKW, KDRT, Penipuan dana di BANK bukanlah tidak ada akan tetapi tidak ter-ekspos ‘borok’nya. Dan pada masa keterbukaan informasi saat ini segala ‘borok’ di negeri ini dipertontonkan, meski sedikit ‘lebay’ dalam mempublishkannya. Salah satu catatan hitam Indonesia adalah kurangnya komitmen para penegak hukum dalam mengurus keadilan. Dan parahnya penyakit ini munculnya secara laten dan mengakar hingga mentradisi. Sehingga penyelesaian yang paling efektif untuk memotong malpraktik keadilan di Inonesia yakni melalui pemimpinnya, yakni PRESIDENnya, yakni SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tugas negara sebagai pengayom &lt;em&gt;haqqul adami&lt;/em&gt; para rakyat memang terlihat tidak ‘islami’ di Indonesia ini. Bukan berarti para pemimpin harus berpeci dan sarungan, akan tetapi pendistribusian lumbung-lumbung kesejahteraan kepada rakyat justru macet…! Mungkinkah karena luasnya negara ini, hingga sulit mendistribusikan kesejahteraan hingga akhirnya tidak di distribusikan. Penulis kira, tidaklah demikian. Penyebab macetnya pemerataan kesejahteraan adalah pola kepemimpinan feodal-pragmatis masih menjangkit. Dan parahnya pasca otonomi daerah, penyakit warisan ORBA tersebut kian terimplementasi di daerah-daerah. Tradisi menyunat dana, uang rokok, ‘biaya ongkos’ yang tentu saja kesemuanya berstereotip negatif telah mendarah daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai pelopor jargon &lt;em&gt;rahmatan lil ‘alamin&lt;/em&gt;, telah banyak memberikan kisah inspiratif dalam mendahulukan rakyat tinimbang khalifah. Umar ibn Khattab r.a telah memikul gandum, Abu Bakar ash-shidiq telah menyumbangkan seluruh hartanya, Umar ibn Abdul Aziz telah menjadikan zakat menjadi sulit diedarkan (maksudnya, sebab rakyatnya telah merata kemakmurannya). Dan kuncinya adalah pada kepemimpinannya yang harus TEGAS dalam mengutamakan umat &lt;em&gt;mustadh’afiin&lt;/em&gt;. KALAU PIDATO SAJA CURHAT KARENA TIDAK PENAH NAIK GAJI, bagaimana bisa tegas terhadap polemik kesejahteraan ini.&lt;br /&gt;Sehingga penulis berkesimpulan, setidaknya KEADILAN dan KESEJAHTERAAN yang kurang diperhatikan di Indonesia membuatn NKRI ini kurang ‘islami’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-5563974907023832645?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/5563974907023832645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/menimbang-nimbang-nkri-sebagai-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5563974907023832645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5563974907023832645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/menimbang-nimbang-nkri-sebagai-negara.html' title='Menimbang-nimbang NKRI Sebagai ‘Negara Islam’'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GM5OIR5BP5E/TubUsJRxiNI/AAAAAAAAAIE/iykD0aFzXAI/s72-c/NKRI-Sudah-Final1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-8625913027258837800</id><published>2011-12-12T20:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-12T20:20:03.191-08:00</updated><title type='text'>Menggagas Kepemimpinan Khas Jogjakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JNdnxDjOL3U/TubSIRNvszI/AAAAAAAAAH8/lTsTH0c-Pj4/s1600/4be9fb1914jogja.jpg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-JNdnxDjOL3U/TubSIRNvszI/AAAAAAAAAH8/lTsTH0c-Pj4/s1600/4be9fb1914jogja.jpg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota &lt;em&gt;Ngayogyakarta&lt;/em&gt; lahir dari peristiwa sejarah. Perjanjian Gianti pada tahun 1755 memaksa Kesultanan Mataram rela membagi kekuasaannya menjadi dua bagian. Sebagian masih dikuasai kesultanan Surakarta dan sebagian lagi menjadi milik kekuasaan pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa diberi nama kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Adapun daerah kekuasaannya adalah kota Ngayogyakarta sebagai ibu kota dan beberapa daerah mancanegara mataram lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap membincangkan sejarah kota Yogyakarta, tentu tidak terlepas dari sejarah kepemimpinan tanah jawa. Dan pastinya memiliki ke-khas-an tersendiri tinimbang daerah lainnya di Indonesia. Salah satu yang paling kental yakni adanya peranan falsafah adat budaya yang mempengaruhi model kepemimpinan di kota Yogyakarta ini. Dalam falsafah jawa kuno, seorang pemimpin bukanlah sekedar pengatur saja. Akan tetapi dia adalah Titisan Saking Sang Hyang widhi di tanah jawa. Atau setelah berasimilasi dengan dunia Islam, sebutan itu berganti dengan &lt;em&gt;Khalifatullah ing tanah jawi&lt;/em&gt;. Sehingga tidak jarang apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin tentu akan benar-benar menjadi bakti oleh rakyatnya. Tradisi falsafah tersebut terus diyakini sesuai dengan perkembangan zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca kemerdekaan Republik Indonesia kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi bagian NKRI dengan nama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan tentu saja sebagai ibu kota dari kerajaaan, Kota Ngayogyakarta turut menjadi bagian dari NKRI dengan nama Kotamadya Yogyakarta. Dan kini model kepemimpinan di kota Yogyakarta juga mengikut  konstitusi NKRI dengan Walikota sebagai pimpinannya. Begitupun lembaga lainnya semisal adanya DPRD, lembaga peradilan dsb. Tentu saja perubahan wajah itu ikut mempengaruhi kian tenggelamnya model khas kepemimpinan dan pemerintahan ala pribumi. Sehingga perlu digali kembali bagaimana model kepemimpinan khas ala Yogyakarta. Sebagaimana sejarah bumi Mataram yang tidak terlepas dari pengaruh Islam dalam pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-8625913027258837800?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/8625913027258837800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/menggagas-kepemimpinan-khas-jogjakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8625913027258837800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8625913027258837800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/menggagas-kepemimpinan-khas-jogjakarta.html' title='Menggagas Kepemimpinan Khas Jogjakarta'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JNdnxDjOL3U/TubSIRNvszI/AAAAAAAAAH8/lTsTH0c-Pj4/s72-c/4be9fb1914jogja.jpg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-3268714939046648095</id><published>2011-12-09T23:11:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T23:18:53.210-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Karakter 'Under Cover'</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vohIaEbLsDQ/TuMF13krFsI/AAAAAAAAAH0/3gtOCvnnHpY/s1600/pendidikan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-vohIaEbLsDQ/TuMF13krFsI/AAAAAAAAAH0/3gtOCvnnHpY/s320/pendidikan.jpg" width="216" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Potret buruk dari kelakuan manusia Indonesia belakangan ini kerap dijadikan senjata untuk menyerang lumpuhnya sektor pendidikan. Sebut saja korupsi, lagi – lagi korupsi dan terus korupsi. Apakah sebuah kebetulan, jika banyak kaum elite yang hobi mengambil uang haram. Bahkan saat ini ‘pencuriannya’ bukan lagi berbentuk uang cash saja. &lt;b&gt;Korupsi asset bangsa, pejabat berbagi proyek sampai jual beli dalam legalisasi undang-undang. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sejenak kita bakal terheran-heran. Sosok yang tampilan luarnya necis, pakai kopiah dan kemana-mana selalu assalamu’alaikum. Tapi ternyata justru dialah yang menjadi&amp;nbsp; ‘preman proyek’ di gedung DPR. Sekali lagi, apakah kebobrokan ini sebuah kebetulan saja…? &lt;b&gt;Seorang bupati terpaksa digiring ke sel dengan perkara tindak asusila. Apakah ini terjadi kebetulan…?&lt;/b&gt; Dan masih banyak lagi cuplikan yang sebenarnya membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemuanya justru akan terlihat wajar, jika hendak melirik ulang darimana mereka berasal, ya bangku sekolah. Masih ingat bu Siami dan anaknya si Alif. Mereka terpaksa terkucilkan karena tersandung kasus pencemaran nama sekolah. Pasalnya mereka terlalu ‘vokal’ menceritakan contekan masal di sekolahnya. Dan kacaunya, Fenomena bu Siami dan Alif hanyalah riak-riak kecil dari gunung es kasus serupa di Indonesia. Maka kesimpulan sementara, kemunculan mahluk bernama koruptor itu bukanlah hal yang kebetulan. &lt;b&gt;Karena karakter penipu ulung sudah ‘dikader’ sejak mereka berusia 10 tahun di bangku sekolah.&lt;/b&gt; Ya, karakter negatif yang terbina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Asal Muasal Pendidikan Karakter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur kebenaran sebuah nilai dalam perspektif filsafat adalah aksiologi. Perbedaan pandangan tentang aksiologi akan membedakan baik-buruknya sesuatu. Artinya jika pendidikan sebagai wujud transfer of value (proses transfer nilai), maka indikator keberhasilannya terletak pada aspek aksiologis juga. Secara lebih sederhana semisal pada mata pelajaran PPKN. Tentu saja bukan sekedar penilaian dengan angka-angka, akan tetapi bagaimana nilai yang diajarkan tersebut mampu dipraktekkan oleh para siswa. Dan kata ‘karakter’ agaknya bisa lebih representatif untuk mewakili itu. &lt;b&gt;Sehingga tidak ada pembelaan terhadap siswa yang gemar tawuran, meski ujian mata pelajaran PPKN berangka sempurna.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jama’ diketahui akan dekadensi moral bangsa ini. Kian lama terus mengakar menjadi sebuah tradisi berbahaya. Seks bebas semakin dimaklumi, NARKOBA menjadi jajanan mahasiswa dan korupsi yang kini mewabah. Jelas sekali butuh perombakan building character terhadap anak-anak bangsa ini. Hanya saja, &lt;b&gt;apakah Pendidikan berbasis karakter yang dicanangkan pemerintah adalah jawabannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan berbasis karakter telah digaungkan oleh Kemendikbud (dulu Kemendiknas) sejak awal tahun 2010 lalu. Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Antara lain sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Religius&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Jujur&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Toleransi&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Disiplin&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kerja keras&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kreatif&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mandiri&lt;br /&gt;8.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Demokratis&lt;br /&gt;9.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Rasa ingin tahu&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;10.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Semangat kebangsaan&lt;br /&gt;11.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Cinta tanah air&lt;br /&gt;12.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menghargai prestasi&lt;br /&gt;13.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bersahabat&lt;br /&gt;14.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Cinta damai&lt;br /&gt;15.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Gemar membaca&lt;br /&gt;16.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Peduli lingkungan&lt;br /&gt;17.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Peduli Sosial&lt;br /&gt;18.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tanggung Jawab&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;Sebenarnya Pendidikan Karakter bukanlah sesuatu yang baru jika ditilik dari tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional no 20 tahun 2003. Yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tujuan pendidikan nasional, sudah tersebut karakter bangsa yang dijadikan target. Yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dan lebih komprehensif lagi setelah disusun oleh Kemendiknas menjadi 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan mendesak dibutuhkannya pendidikan karakter bangsa yakni disebabkan karena bangsa kita telah lama memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang kondusif untuk membangun bangsa yang unggul. Sedikitnya terdapat 55 kebiasaan kecil yang menghancurkan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kebiasaan memperlakukan diri sendiri&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meremehkan Waktu&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bangun Kesiangan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Terlambat Masuk Kantor&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak Disiplin&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;5&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Suka Menunda Pekerjaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;6&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Melanggar Janji&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;7&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menyontek&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;8&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Ngrasani&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;9&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kebiasaan Meminta&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;10&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Stress&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;11&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Mengangga Berat Setiap Masalah&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;12&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pesimis Terhadap Diri Sendiri&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;13&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Terbiasa Mengeluh&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;14&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Merasa Paling Hebat&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;15&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Meremehkan Orang Lain&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;16&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak Sarapan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;17&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak Biasa Antri&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;18&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Banyak Tidur&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;19&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Takut Berubah&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;20&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Banyak Nonton TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;b. Kebiasaan buruk memperlakukan lingkungan&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Merokok di sembarang tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Membuang sampah di sembarang tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Corat coret di jalanan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kendaraan kita mengotori udara&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;5&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Jalan bertabur iklan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;6&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Konsumsi plastik berlebihan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;7&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak biasa mengindahkan aturan pakai&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;8&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menebangi pohon di hutan berlebihan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;9&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menganggap remeh daur ulang&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;C. &amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebiasaan yang merugikan ekonomi&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;1&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; konsumtif&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;pamer&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;silau dengan kepemilikan orang lain &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;boros listrik&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;5&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;nyandu nge-game&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;6&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;tidak menyusun rencana-rencana kehidupan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;7&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;tidak biasa berpikir kreatif&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;8&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Shopaholic&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;9&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;mengabaikan peluang&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;d.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kebiasaan buruk dalam bersosial&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;1&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak mau membaca&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;2&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Jarang mendengar pendapat orang lain&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Nepotisme&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;4&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Suap menyuap&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;5&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Politik balik modal&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;6&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Canggung dengan perbedaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;7&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Beragama secara sempit&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;8&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Lupa sejarah&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;9&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Demo upah/gaji&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;10&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tawuran&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;11&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak belajar dari pengalaman&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;12&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Birokratif&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;13&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Meniru&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;14&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Provokatif dan mudah diprovokasi&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;15&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Tidak berani berkata “tidak”&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;16&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Berambisi menguasai&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;17&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;mengesampingkan tradisi adat&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pendidikan berbasis karakter muncul untuk menjawab keresahan moral yang sangat mengakar di bangsa ini. Sehingga harapannya dengan adanya kurikulum berbasis karakter, RPP dan impementasi KBM berbasis karakter bisa mewujudkan lulusan yang berkarakter kuat. Karakter jujur menjadi jawaban wabah korupsi, karakter cinta damai menjadi solusi untuk kerusuhan dan tawuran selama ini dan karakter tanggung jawab sebagai modal pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Implementasi Pendidikan Karakter dan Evaluasinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Prakteknya :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Guru dituntut menemukan sendiri metode yang tepat untuk menggali karakter tersebut. Dan dituangkan dalam bentuk Kurikulum, RPP selanjutnya KBM. Evaluasinya untuk saat ini setiap guru kesulitan untuk menggali karakter tersebut. Apalagi kualitas guru yang beum mencukupi.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Guru diharuskan mengawasi tingkah laku para siswa. Evauasinya, ketidakseriusan para guru dalam mengawasi jika siswanya dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Guru dituntut memberikan tauladan terlebih dahuu mengenai karakter tersebut. Evauasinya masih banyak justru institusi sekolah yang me’legal’kan guru-guru nakal.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Satuan sekolah dituntut untuk bertindak aktif kepada semua elemen. Antara lain para orang tua siswa yang menjadi variabel pengawasan anak di rumah. Masyarakat sekitar agar memberikan lingkungan yang kondusif dalam menumbuhkan karakter yang akan dibentuk. Evaluasinya Hubungan Guru dan Orang tua wali masih bersifat formalitas, apalagi elemen masyarakat sekitar sekolah yang kadang malah bersitegang terhadap kenakalan para siswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-3268714939046648095?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/3268714939046648095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/pendidikan-karakter-bangsa-bukan-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3268714939046648095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3268714939046648095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/12/pendidikan-karakter-bangsa-bukan-untuk.html' title='Pendidikan Karakter &apos;Under Cover&apos;'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vohIaEbLsDQ/TuMF13krFsI/AAAAAAAAAH0/3gtOCvnnHpY/s72-c/pendidikan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2671008954765987434</id><published>2011-11-21T04:01:00.000-08:00</published><updated>2011-11-21T04:03:35.653-08:00</updated><title type='text'>Jalan Jogja Ambles, Pertanda?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-d6aTl8Iyzaw/Tso9IKKdFvI/AAAAAAAAAG8/DGaDd_Y7QNQ/s1600/antarafoto-1320652219-.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-d6aTl8Iyzaw/Tso9IKKdFvI/AAAAAAAAAG8/DGaDd_Y7QNQ/s320/antarafoto-1320652219-.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dasar manusia, dulu bertanya-tanya kenapa tak pernah turun hujan. Sekarang hujan sudah turun malah marah-marah. Intinya anak-cucu Adam ini memang perlu introspeksi agar terus bersyukur. Dan saat ini kota Yogyakarta pun tengah disiram hujan seperti yang mereka minta sebelum-sebelumnya. Akan tetapi intensitas curah hujan di kota pelajar ini mulai disorot oleh warga. Pasalnya di beberapa lokasi sudah banyak jalan yang ambles setelah diguyur hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Banyak yang beralasan kerusakan jalan yang terjadi sebab tingginya curah hujan sejak 2 November lalu. &lt;b&gt;Setidaknya sudah Sembilan jalan di kota gudeg ini yang ambles, termasuk beberapa jalan protokol. Salah satunya adalah Jalan Kusumanegara dan Jalan Adisucipto&amp;nbsp; yang termasuk jalur vital di Yogyakarta.&lt;/b&gt; Bahkan Jalan Kenari yang terletak persis di depan kantor walikota Yogyakarta juga terlihat parah. Gerusan air hujan yang deras sudah tidak bisa lagi ditahan oleh drainase jalan yang sudah tua. Apalagi dalam sepuluh tahun terakhir, rusaknya jalan tahun ini adalah yang terparah. &lt;b&gt;Diprediksikan kerusakan bakal terus bertambah, mengingat musim hujan belum sampai pada kemuncaknya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Rusaknya drainase jalan, Meluapnya air sungai dan sederet peristiwa lain sejatinya hanyalah fenomena. Dan tampaknya melalui fenomena tersebut menjadi pertanda kota Yogyakarta ini hendak menyampaikan pesan kepada warganya. Bahwa ‘dia’ kepingin diperhatikan, bukan melului dikomersialkan. Sudahlah diakui saja, kota ini sudah tua dalam usianya yang ke 255 tahun. &lt;b&gt;Kenapa gorong-gorong&amp;nbsp; yang sudah berumur, barulah diperhatikan ketika ia sudah rusak.&lt;/b&gt; Begitupun kali Code, Gajah Wong, Winongo dan lain-lainnya mereka kepingin ‘diasuh’ dengan kasih-sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Perhatian serius warga Yogyakarta terhadap lingkugan kudu digalakkan lagi. Termasuk pemerintah walikota yang memiliki perangkat untuk memoles beberapa kerusakan akhir-akhir ini. Salah satunya Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (KIMPRASWIL) sebagai Leading Sectornya. &lt;b&gt;Bukankah pak Walikota Herry Zudianto sudah menetapkan kejadian belakangan ini dalam status tanggap darurat.&lt;/b&gt; Maksudnya kondisi yang harus dituntaskan segera lantaran sifatnya mendesak.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Salah satu hal yang urgen adalah antisipasi kemungkinan adanya jalan yang ambles di jalur lainnya. Sehingga perlu dilakukan pemetaan usia jalan raya berdasarkan data-data lapangan. Termasuk drainase-drainase di semua kota kudu&amp;nbsp; dipetakan juga berdasarkan usianya. Terutama daerah-daerah yang bertalian dengan sektor pariwisata, pendidikan dan keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Yogyakarta sebagian besar kehidupannya sudah bergantung pada jalan raya. Semisal sektor pariwisata yang tentu sangat bergantung pada mulusnya arus transportasi. &lt;b&gt;Jangan sampai kejadian terulang seperti bus pariwisata yang terjeblos di jalan ambles seperti di Kota Gede kemarin.&lt;/b&gt; Sehingga bumi mataram ini bukan sekedar orang-orangnya saja yang dianggap&amp;nbsp; berhati nyaman, akan tetapi sarana dan prasarananya pun harus dibuat nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor pendidikan juga demikian, tidak sedikit sekolah-sekolah atau kampus yang melewati jalan raya. Setidaknya lalu-lalang pelajar dan mahasiswa memang sudah kesehariannya berjumpa dengan jalur transportasi darat ini. Daerah yang tidak kalah pentingnya yakni di pusat-pusat keramaian. Semisal di sekitar pasar, pusat industri kerajinan dan lain-lain. Adapun terkait dana pembenahan, KIMPRASWIL bisa menggunakan dana sisa anggaran kebencanaan sebesar satu milyar di pemerintahan. Kalaupun masih terasa kurang, bisa mengajukan dana ke Provinsi. Karena kenyamanan lalu lintas menjadi prioritas untuk diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perhatian warga dan pemerintah terhadap lingkungan menjadi harus menjadi ‘amalan’ nomor wahid di kota Yogyakarta ini. Selanjutnya bukan hanya jalan, akan tetapi sampah-sampah yang bertumpuk di saluran irigasi segera dibersihkan. &lt;b&gt;Jangan sampai menunggu bencana datang barulah warga sibuk bergotong-royong. &lt;/b&gt;Alangkah lebih baik jika jauh-jauh sebelum puncak musim hujan tiba, kita telah menyambutnya dengan saluran air yang baik. Sehingga kota Yogyakarta benar-benar layak disebut ‘Kota Berhati Nyaman’.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2671008954765987434?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2671008954765987434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/jalan-jogja-ambles-pertanda-oleh-teguh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2671008954765987434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2671008954765987434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/jalan-jogja-ambles-pertanda-oleh-teguh.html' title='Jalan Jogja Ambles, Pertanda?'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-d6aTl8Iyzaw/Tso9IKKdFvI/AAAAAAAAAG8/DGaDd_Y7QNQ/s72-c/antarafoto-1320652219-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-1135193538446850938</id><published>2011-11-05T03:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:34:35.428-07:00</updated><title type='text'>Orangutan Terancam Deforestasi</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ynq-wcxmK_g/TrURNdmArHI/AAAAAAAAAEM/JPMR7my-dkU/s1600/379848_1896784358215_1799814136_1306095_1408514447_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ynq-wcxmK_g/TrURNdmArHI/AAAAAAAAAEM/JPMR7my-dkU/s1600/379848_1896784358215_1799814136_1306095_1408514447_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Orangutan diambang kepunahan. Menurut  para ahli seperti dilansir dari BBC pada Jumat (28/10/2011), hewan ini  terancam punah pada tahun 2023. &lt;strong&gt;Populasi kera besar ini terus berkurang 3000-5000 spesies pertahunnya.&lt;/strong&gt;  Padahal saat ini hanya tersisa 25.000 orang utan di seluruh dunia.  selanjutnya hewan langka warisan hutan nusantara ini tinggal menghitung  masa kepunahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Habitat orangutan mulai terdesak oleh &lt;em&gt;deforestasi&lt;/em&gt;  yang dilakukan manusia. Kegiatan logging baik yang ilegal maupun legal,  perluasan wilayah perkebunan, kebakaran hutan dan perburuan liar  menjadi pasalnya. &lt;strong&gt;Bahkan beberapa waktu lalu begitu menyedihkan  setelah terungkap pembantaian sekitar 1.200 orangutan di Kotawaringin,  Kalimantan Timur.&lt;/strong&gt; Terduga &lt;em&gt;genocide&lt;/em&gt; ini terjadi  berkisar tahun 2009-2010 yang dilakukan oknum-oknum di areal perkebunan  kelapa sawit. Wajar saja karena pemerintah begitu mudah memberikan izin  perkebunan atau penambangan yang sudah mencapai ratusan per kabupaten di  pulau Borneo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fbUnderline"&gt;&lt;strong&gt;Dilematis Konservasi Orangutan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  &amp;nbsp;Penanganan pemeliharaan orangutan sungguh dilematis di sana-sini. Di  satu sisi jika mereka dipelihara oleh pihak konservator, tentu  terkendala biaya pemeliharaan. &lt;strong&gt;Bahkan di daerah ragunan, beberapa spesies ‘dikandang’ ditempat yang tidak ‘berprikehewanan’.&lt;/strong&gt;  Untuk makan saja, mereka bergantung pada makanan yang dilemparkan oleh  anak-anak saat berkunjung. Sehingga hewan yang sangat lambat  bereproduksi ini mengalami ‘depresi’ berat jika harus ‘dikandang’. Dan  memang selayaknya ia hidup bebas sebagai hewan sejati. &lt;strong&gt;Akan tetapi di sisi lain jika orangutan dilepas-liarkan maka akan berhadapan dengan predator berbahaya, Manusia…!&lt;/strong&gt;  bahkan saat ini hampir 70% dari satwa omnivora ini sudah hidup diluar  kawasan konservasi. Dan bahayanya mereka harus berjuang menghadapi para  pemburu yang tidak berbelaskasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Penuntasan problem  ini memang harus disupport oleh berbagai pihak. Dan tentu saja pihak  yang paling bertanggung jawab yakni mereka para perusak hutan. Selama 20  tahun terakhir, habitat orangutan telah berkurang 80%. Sehingga wajar  jika fauna langka ini masuk ke areal perkebunan dan penambangan. &lt;strong&gt;Karena ‘dulu’nya areal tersebut merupakan ‘tanah air’ mereka.&lt;/strong&gt;  Selanjutnya dari pihak pemerintah harus menindak tegas para pembantai  orangutan dengan hukuman yang berefek jera. Begitupun dengan izin  perkebunan dan penambangan harus segera dikurangi bahkan diawasi secara  ketat. &lt;strong&gt;Bagaimana mungkin di sebuah kabupaten terdapat 140 izin pertambangan yang diterbitkan pemerintah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bagi pihak pengasuh di taman hutan konservasi &lt;em&gt;kudu &lt;/em&gt;memperhatikan  kondisi kejiwaan orangutan. Konon, orangutan yang hidup bahagia lebih  lama hidup tinimbang yang hidup stress di dalam kandang tak diurus.  Begitu juga perhatian terhadap para ‘betina’. Pasalnya orangutan betina  cenderung lebih pasrah bila bertemu bahaya. Jika terjadi kebakaran,  pembantaian atau tertangkap predator, mereka hanya diam. Hal ini tidak  lain karena mereka labih memilih mengorbankan diri agar anak-anak bisa  berlari jauh dari predator. &lt;strong&gt;Padahal jika jumlah betina menurun maka kepunahan akan kian cepat terjadi.&lt;/strong&gt; Pasalnya mereka hanya mampu melahirkan maksimal 3 sampai 4 anak seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  &amp;nbsp;Menyedihkan, kelak anak-cucu bangsa ini hanya bisa mendengar kisah  orangutan sebagai satwa yang pernah ada di Indonesia. Mereka bercerita  tentang bagaimana ‘bapak-ibu’ nya yang menewaskan primata imut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis menghayati tulisannya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-1135193538446850938?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/1135193538446850938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/orangutan-terancam-deforestasi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1135193538446850938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1135193538446850938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/orangutan-terancam-deforestasi.html' title='Orangutan Terancam Deforestasi'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ynq-wcxmK_g/TrURNdmArHI/AAAAAAAAAEM/JPMR7my-dkU/s72-c/379848_1896784358215_1799814136_1306095_1408514447_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4351090360723516850</id><published>2011-11-05T03:33:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:33:19.093-07:00</updated><title type='text'>'Masih' Ekspor Bahan Mentah</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jj6lBXuwCwM/TrUQ6aKKvJI/AAAAAAAAAEE/fAKdkUoaOjA/s1600/374450_1882563602705_1799814136_1292832_1624120086_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-jj6lBXuwCwM/TrUQ6aKKvJI/AAAAAAAAAEE/fAKdkUoaOjA/s1600/374450_1882563602705_1799814136_1292832_1624120086_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nilai ekspor industri Indonesia  sempat jeblok pada tahun 2009 yang hanya berkisar US $ 62 miliar. Lalu  melonjak sampai US$ 82 miliar pada tahun 2010. Dan diprediksi di tahun  2011 ini akan terus meninggi hingga US$ 97 miliar. Meningkatnya nilai  ekspor ini menjadi angin segar di dunia perdagangan dalam negeri. Dan  harapannya para pegiat industri lokal terus menemukan kreatiftas baru. &lt;strong&gt;Terutama mengubah tradisi ekspor bahan mentah menuju ekspor bahan olahan bahkan berbentuk barang jadi.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Sejak masa kerajaan-kerajaan nusantara bahkan, tradisi ekspor bahan  mentah sudah terjadi. Sebut saja kerajaan Ternate dan Tidore yang  menjadi lumbung Cengkih. Bahkan awalnya nenek moyang kita tidak  mengetahui nilai mahal cengkih yang tumbuh liar di tanah surga ini. &lt;strong&gt;Barulah setelah bangsa Portugis datang, mereka terkejut ternyata cengkih menjadi dagangan mahal di Eropa.&lt;/strong&gt;  Begitupun kerajaan Sriwijaya yang sukses dengan komoditi Lada. Bahkan  puncaknya pada tahun 1670 telah memproduksi Lada hingga 8000 ton.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Di era sekarang ini, Indonesia ternyata masih mewarisi tradisi ekspor  bahan mentah. Komoditi andalan negeri ini adalah minyak dan gas (migas).  Selebihnya di dominasi oleh kelapa sawit, karet sampai komoditi dari  hutan baik kayu maupun non kayu. &lt;strong&gt;Hampir sebagian besar barang jualan bangsa ini berupa bahan mentah&lt;/strong&gt;. Dan tentu saja Indonesia menjadi incaran menggiurkan bagi negara-negara industri yang haus akan bahan baku.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Hutan khatulistiwa ini telah menghasilkan karet yang melimpah. Akan  tetapi ban mobil saja kita masih sering impor dengan harga  berlipat-lipat. Begitupun dengan persenjataan militer, yang harus  membeli dari luar negeri. Padahal jika mau, Indonesia bisa saja membuat  sendiri senjata berbahan emas sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wajah Buram Industri Lokal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;Kegemaran ekspor bahan mentah, setidaknya memiliki ragam alasan yang &lt;em&gt;kudu &lt;/em&gt;dikupas.  Mulai dari persoalan hulu hingga ke hilirnya pasti ada celah masalah.  Semisal matinya industri lokal karena minimnya mesin-mesin produksi  pengolah bahan mentah. Selanjutnya lemahnya pemahaman terkait promosi  produk kepada negara lain. Dan yang tidak kalah pentingnya yakni  terganjalnya komunikasi efektif antar eksportir dengan negara pemesan.  Harus ada posisi tawar yang kuat dari Indonesia kepada negara tujuan.  Semisal sempat terjadi penolakan barang mebel Dari Jawa Tengah ke  beberapa negara Eropa. Begitupun dengan tuduhan Indonesia melakukan &lt;em&gt;dumping&lt;/em&gt; terhadap ekspor produk kaca ke Australia.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Berkembangnya dunia ekspor Indonesia harus terus di dukung oleh semua  pihak. Dari pemerintah sendiri bisa bekerjasama dengan KADIN untuk  memuluskan industri-industri barang jadi. Begitupun dengan pengawalan  sampai menembus kebijakan dalam negeri di negara lain. Selanjutnya yang  perlu dipikirkan adalah negara tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika  yang tengah mengalami penurunan daya beli dikarenakan terpuruknya  ekonomi global. &lt;strong&gt;Sehingga harus terus melakukan penetrasi ke kawasan-kawasan alternatif.&lt;/strong&gt; Semisal Afrika, Timur Tengah, bahkan Amerika Selatan yang belum banyak terjamah eksportir-eksportir Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penulis Sedikit [-sedikit] menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4351090360723516850?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4351090360723516850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/masih-ekspor-bahan-mentah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4351090360723516850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4351090360723516850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/masih-ekspor-bahan-mentah.html' title='&apos;Masih&apos; Ekspor Bahan Mentah'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jj6lBXuwCwM/TrUQ6aKKvJI/AAAAAAAAAEE/fAKdkUoaOjA/s72-c/374450_1882563602705_1799814136_1292832_1624120086_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-1690493564965541259</id><published>2011-11-05T03:32:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:32:09.085-07:00</updated><title type='text'>PAPUA, Referendum Bukan Solusi</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vZsXt8eYgqw/TrUQo5d5MoI/AAAAAAAAAD8/QNyap_bNLBY/s1600/387980_1877704881240_1799814136_1287871_2079949369_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-vZsXt8eYgqw/TrUQo5d5MoI/AAAAAAAAAD8/QNyap_bNLBY/s1600/387980_1877704881240_1799814136_1287871_2079949369_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penentuan Pendapat Rakyat  (PEPERA) tahun 1969 telah berlalu dengan sekian kontroversinya. Bagi  rakyat papua pro-NKRI, hasil &lt;em&gt;plebisit&lt;/em&gt; itu sudah sah sebagai tindak lanjut dari &lt;em&gt;New York Agreement.&lt;/em&gt;  Bahkan telah ditandatangani oleh pihak Indonesia, Belanda dan PBB.  Sehingga hasil PEPERA yang memenangkan NKRI dianggap sudah final. Akan  tetapi hal lain juga berhembus. Bahwasannya referendum tersebut hanya  akal-akalan TNI saja yang sudah membungkam rakyat Papua dengan senjata. &lt;strong&gt;Sampai saat ini berbagai pihak masih saling mengklaim mengenai kebenaran sejarah PEPERA 1969.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal yang sangat disayangkan, yakni tidak dimaksimalkannya peran Dewan Papua dalam &lt;em&gt;New York Agreement&lt;/em&gt; tahun 1962 lalu. Sehingga pemaknaan kata &lt;em&gt;Act of Free Choice&lt;/em&gt; (Tindakan Pilihan Bebas) dalam &lt;em&gt;Agreement&lt;/em&gt;  tersebut dimaknai sepihak. Dan akhirnya sekarang kita mengenalnya  dengan istilah PEPERA. Celah-celah seperti inilah yang digunakan secara  politis oleh pihak-pihak separatis untuk memprovokasi rakyat papua. Para  separatis bersikukuh bahwa aneksasi yang dilakukan RI merupakan  penjajahan terhadap negeri cenderawasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Konflik di Indonesia paling timur ini cermin dari penanganan yang tak  pernah tuntas. Jika hendak diruntut pasca diserahkan Papua dari pihak  UNTEA ke NKRI selalu ditangani ‘setengah-setengah’. Dan tidak jarang  selalu menggunakan pendekatan militer. &lt;em&gt;malah &lt;/em&gt;kelihatannya pasukan keamanan justru tidak memunculkan rasa aman. &lt;strong&gt;Bahkan boleh jadi selama ini kelompok separatis sengaja memancing terjadinya baku tembak senjata.&lt;/strong&gt; Lantaran mereka akan menggunakannya sebagai isu pelanggaran HAM oleh TNI dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fbUnderline"&gt;&lt;strong&gt;Sila ke-5 Segera Diterapkan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Terkait ‘kue kesejahteraan’ di provinsi yang dulu bernama Irian Jaya  ini memang terabaikan. Masih ingat saat dua tahun sebelum PEPERA,  Indonesia telah tanda tangan kontrak karya pertama kalinya dengan  Amerika Serikat atas PT.Freeport. &lt;strong&gt;Sehingga wajar saja jika  banyak pihak yang menyangka proyek tambang tersebut merupakan ‘suap  pelicin’ dari Jakarta untuk Amerika agar memuluskan referendum.&lt;/strong&gt; Dan tentu saja, Freeport adalah hak kesejahteraan rakyat papua yang tidak mereka cicip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Pemerintah harus benar-benar melek agar tidak menjadikan Papua sebagai  sapi perah. Karena salah-satu ‘janji’ yang diobral oleh OPM terhadap  rakyat papua adalah diberikan rumah secara gratis bagi masyarakat.  Sehingga benar-benar faktor kesenjangan sosial &lt;em&gt;kudu &lt;/em&gt;diperhatikan. &lt;strong&gt;Dan &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt; syukur beberapa bulan yang lalu TNI sudah memulai itu dengan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).&lt;/strong&gt;  Di sana para tentara tanpa banyak janji membangun rumah untuk warga.  Dan sukses merebut hati rakyat di daerah-daerah basis pemberontak.  Sehingga tidak jarang TNI yang tewas tertembak, karena separatis tidak  menyukai program TMMD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kendatipun telah  diberlakukan otonomi khusus di Papua, tetap saja belum menuai hasil  memuaskan. Hal itu tidak lain lantaran tidak menyentuh kebutuhan yang  paling mendasar, yakni peningkatan kesejahteraan warga. Begitupun dengan  peran pihak intelijen yang belum maksimal mengawasi gerak-gerik para  separatis disana. Sehingga pemerintah tidak sempat mengantisipasi setiap  kejadian berikutnya yang bisa menimbulkan korban. Selanjutnya yang  tidak kalah penting adalah program pembangunan sumber daya manusia  melalui pendidikan. Dengan demikian terintegrasinya papua kedalam NKRI  bukan seperti Sapi perah yang dibeli tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis sedang membaca lalu menulis lagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-1690493564965541259?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/1690493564965541259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/papua-referendum-bukan-solusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1690493564965541259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1690493564965541259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/papua-referendum-bukan-solusi.html' title='PAPUA, Referendum Bukan Solusi'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vZsXt8eYgqw/TrUQo5d5MoI/AAAAAAAAAD8/QNyap_bNLBY/s72-c/387980_1877704881240_1799814136_1287871_2079949369_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-5701954815661187840</id><published>2011-11-05T03:30:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T03:30:44.574-07:00</updated><title type='text'>Redemarkasi, Menyoal Patokan dan Pasokan</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-42EQJ_DHsMo/TrUQT2yJxNI/AAAAAAAAAD0/8zJLnRVdVeA/s1600/296509_1870138492085_1799814136_1282849_1147380748_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-42EQJ_DHsMo/TrUQT2yJxNI/AAAAAAAAAD0/8zJLnRVdVeA/s1600/296509_1870138492085_1799814136_1282849_1147380748_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki 92 pulau yang  berbatasan dengan negara-negara jiran. Sehingga tidak heran bila  sengketa perbatasan kerap terjadi. Mulai dari persoalan nelayan sampai  tarik-menarik kepemilikan pulau. Dan beberapa waktu lalu kejadian tragis  di Pontianak, sampai-sampai warga perbatasan mengancam hendak angkat  tiang untuk bendera Malaysia. &lt;strong&gt;Tidak lain karena melihat rumput tetangga lebih menarik tinimbang lumpur di negeri sendiri.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  &amp;nbsp;Selama ini kita selalu bangga jika melihat luasnya wilayah Indonesia  yang memiliki sekitar 17.500 pulau. Karena memang secara deliniasi  seolah tidak ada keganjilan. Akan tetapi ketika ditilik secara real,  Demarkasi di banyak pulau begitu parah. Miris sekali melihat batas patok  negara tak ubahnya ‘makam leluhur’. Dan dengan mudah bisa digeser atau &lt;em&gt;malah&lt;/em&gt; bisa saja dibawa pulang oleh para pesinggah &lt;em&gt;alas&lt;/em&gt;. Bukan sekedar itu, kesenjangan kesejahteraan antara warga perbatasan dan negara tetangga masih terbilang &lt;em&gt;njomplang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian  nyata di Desa Mungguk Gelombang, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten  Sintang beberapa kilometer dari Pontianak. Mereka harus berbagi dan  berjuang ekstra untuk mencari pasokan kebutuhan pokok dari kabupaten.  Belum lagi jalan yang berupa kubangan lumpur dan tanpa penerangan  membuat anak-anak sekolah kesulitan untuk mengakses pendidikan di  kabupaten. &lt;strong&gt;Dan di malam hari mereka hanya menggunakan genset sekedarnya&lt;/strong&gt;. Dan bila bensin genset habis, maka kondisi akan bertambah romantis dengan lilin-lilin kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbengkalainya daerah perbatasan setidaknya menjadi cermin pembangunan yang hanya tersentral di wilayah-wilayah tertentu saja. &lt;strong&gt;Dan  sejak berlakunya otonomi daerah, seolah menjadi dalih pemerintah pusat  untuk melepas tanggung jawab kesejahteraan pada wilayah perbatasan.&lt;/strong&gt;  Padahal sejatinya setiap daerah yang selama ini tidak pernah tersorot  pemerintah merupakan aset-aset yang tertidur. Sehingga bukan sekedar  pembenahan patok negara, akan tetapi pasokan kebutuhan juga disuplai ke  sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fbUnderline"&gt;&lt;strong&gt;Membangun dengan Membangunkan Pulau Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi  pertiwi merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah  laut 7.900.000 km, empat kali lebih luas daripada daratannya. Namun  anehnya sampai saat ini pembangunan masih berkarakter darat. Sehingga  tidak sedikit yang menganggap laut-laut di Indonesia hanyalah pemisah  antar pulau. Padahal hakikatnya selat dan laut berperan sebagai  penghubung antar pulau. Selanjutnya terkait wawasan kelautan seolah  dipendam begitu saja. &lt;strong&gt;Bukankah sejarah kerajaan nusantara pada masa lalu adalah sejarah mengenai perdagangan laut dan armada laut.&lt;/strong&gt;  Kini Indonesia sudah tercerabut dari akar sejarahnya. Sehingga wajar  saja jika perhatian untuk melakukan pemberdayaan pulau dan perairan  masih asal-asalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal pelabuhan di Indonesia yang  terbengkalai dan tidak memenuhi standar internasional. Padahal banyak  pantai di Indonesia yang memiiki pelabuhan dengan penghasilan ikan dalam  partai besar. Akan tetapi karena pelabuhannya belum memnuhi standar  internasional, mereka belum diperbolehkan melakukan ekspor langsung ke  luar negeri. &lt;strong&gt;Sehingga tidak jarang para eksportir ikan dibuat &lt;em&gt;jengkel&lt;/em&gt; lantaran biaya ekspor harus ditambah dana transit di pelabuhan Singapura.&lt;/strong&gt;  Dan dalam setahun saja, banyak ekspor laut Indonesia menghabiskan uang  triliun rupiah hanya untuk membayar upah transit di pelabuhan negara  lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang mengenai negara kepulauan, maka tidak  pernah lepas dari persoalan pulau itu sendiri. Seperti dikatakan  sebelumnya, sejatinya pulau-pulau di Indonesia ialah aset yang tertidur.  Dari sekitar 17.500 pulau, tidak sampai 2000 pulau yang telah memiliki  nama. Dan yang berpenghuni hanya beberapa ratus saja. Jika hendak  memandang jauh ke depan, maka peluang besar ada pada pulau-pulau yang  tidak tergarap itu. Sehingga penting dengan adanya pemetaan potensi  pulau-pulau di Indonesia. Ada beberapa pulau yang memiliki potensi  wisata, potensi perikanan bahkan sampai potensi energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis harus menulis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-5701954815661187840?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/5701954815661187840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/redemarkasi-menyoal-patokan-dan-pasokan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5701954815661187840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5701954815661187840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/redemarkasi-menyoal-patokan-dan-pasokan.html' title='Redemarkasi, Menyoal Patokan dan Pasokan'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-42EQJ_DHsMo/TrUQT2yJxNI/AAAAAAAAAD0/8zJLnRVdVeA/s72-c/296509_1870138492085_1799814136_1282849_1147380748_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-1544049428224457306</id><published>2011-11-05T03:29:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:29:30.938-07:00</updated><title type='text'>Tewaskan Khadafi, AMerika Tambah Musuh</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HzvD0jzyyGM/TrUQBF_HDSI/AAAAAAAAADs/CGpEyH5LMcY/s1600/297312_1867809393859_1799814136_1281396_2058452089_a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-HzvD0jzyyGM/TrUQBF_HDSI/AAAAAAAAADs/CGpEyH5LMcY/s1600/297312_1867809393859_1799814136_1281396_2058452089_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kolonel Khadafi tewas mengenaskan.  Setelah 42 tahun berkuasa, akhirnya penguasa tiran ini ‘keok’ juga di  kota kelahiranya. Bukan persoalan ia telah mati atau masih hidup. Tuhan  Maha Kuasa, bisa saja Khadafi dihidupkan lagi atas kehendakNya. Akan  tetapi kematian ‘Raja Afrika’ itu harus dibayar terlalu mahal oleh  sekutu. Ibarat perjudian, &lt;strong&gt;Amerika masih harus berspekulasi pasca pemerintahan transisi ini.&lt;/strong&gt;  Siapa yang benar-benar bisa dijadikan boneka ‘pinokio’ disana. Belum  lagi konsekuensi dari penyerangan itu yang membuat banyak pihak  mengecam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca diputuskannya operasi penangkapan Khadafi  oleh Dewan Keamanan PBB, tanpa berlama-lama NATO segera beraksi.  Walaupun kenyataannya tidak semua anggota organisasi militer sekutu ini  sepakat menyerang. Dari 28 negara anggota NATO hanya 7 negara saja yang  ambil bagian. Setidaknya telah sedari lama, konflik internal NATO kian  tampak pasca &lt;em&gt;ribut-ribut&lt;/em&gt; kepemilikan senjata nuklir beberapa tahun lalu. Akan tetapi keputusan &lt;em&gt;ngotot&lt;/em&gt;  Menhan Perancis Gerard Longuet untuk memimpin operasi membuat negara  lain tak bisa berkata banyak. kendati ada beberapa negara besar yang  menolak adanya campur tangan NATO pada urusan dalam negeri Libya. &lt;strong&gt;Tercatat semisal Rusia, Jerman, Iran dan China sampai detik ini tetap mengutuk serangan NATO tersebut.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh  sebelum penyerangan terhadap Moammar Khadafi, Amerika telah lama  melalui keputusan-keputusan dilematis. Ketakutan-ketakutan pemerintah  gedung putih bisa terlihat dengan mudah. Masih ingat, bagaimana Amerika  begitu bersuara keras terhadap negara yang pemilik senjata pemusnah  massal. Lalu &lt;em&gt;United States&lt;/em&gt; kembali terpojok dengan guncangan  ekonomi hingga ia harus bersitegang dengan negara China. Dan kini  gelombang penolakan dari pihak-pihak anti &lt;em&gt;wall street&lt;/em&gt; turut  membuat gugup Obama. Sejumlah demonstran di beberapa belahan dunia  menolak dominasi perbankan karena telah menjadi kepanjangan tangan para  kapitalis. Akan tetapi Amerika tetaplah Amerika. Negara yang dipimpin  oleh anak menteng itu selalu memiliki senjata terakhir jika terdesak.  Apalagi jika bukan atas nama demokrasi, kebebasan HAM dan ancaman  militernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita kembali kepada Libya yang kini  menghadapi transisi kepemimpinan. Meskipun NATO didesak untuk segera  keluar dari negerinya Omar Mochtar itu, tetap saja mereka kekeuh menetap  sampai kondisi benar-benar ‘aman’. Tentu saja maksudnya aman untuk  menanamkan pengaruh mereka pada pemimpin &lt;em&gt;anyar&lt;/em&gt; di sana.&lt;strong&gt; Hal ini karena negeri paman sam itu tidak akan pernah lupa pada tujuan utamanya, yakni minyak.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libya  negeri yang kaya akan minyak. Bahkan kualitas minyak di sana merupakan  kualitas unggul. Sehingga tidak heran hanya bermodalkan ‘emas hitam’  tersebut, Libya mampu memiliki pendapatan perkapita hingga 12.000 US.  Dollar. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma memiliki pendapatan  perkapita seperempatnya saja. Sehingga jelas sumber daya energi Libya  tersebut begitu menggiurkan bagi Obama yang sangat butuh cadangan bahan  bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerakusan Amerika inilah yang bisa menyebabkan banyak spekulasi. Jika &lt;em&gt;United States&lt;/em&gt;  bertindak gegabah, maka mereka akan menjadi musuh bersama rakyat Libya  dalam waktu yang tidak lama. Sehingga dengan adanya demokratisasi paska  transisi ini, akan menjadi upaya yang panjang dan melelahkan bagi  Amerika untuk menjalankan misi&lt;em&gt; oil powering.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*Penulis sedang menulis &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-1544049428224457306?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/1544049428224457306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/tewaskan-khadafi-amerika-tambah-musuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1544049428224457306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1544049428224457306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/tewaskan-khadafi-amerika-tambah-musuh.html' title='Tewaskan Khadafi, AMerika Tambah Musuh'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HzvD0jzyyGM/TrUQBF_HDSI/AAAAAAAAADs/CGpEyH5LMcY/s72-c/297312_1867809393859_1799814136_1281396_2058452089_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4524865930476686570</id><published>2011-11-05T03:27:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:27:17.867-07:00</updated><title type='text'>Dalih - Dalih Media</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-V6MvKr8O_As/TrUPgL2PSmI/AAAAAAAAADk/qehyaNRF878/s1600/television.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-V6MvKr8O_As/TrUPgL2PSmI/AAAAAAAAADk/qehyaNRF878/s320/television.jpg" width="263" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“…Dengan berdalih pada tugas media sebagai penyampai fakta, mereka  telah berani melampaui batas etika (mengadu domba umat beragama)…”&lt;br /&gt;Semisal ketika tragedi Monas berbuntut pada ‘cekcok’ antar dua ormas  Islam. (FPI dan AKKBB). Pemberitaan yang berlebihan, bahkan videonya pun  sengaja diputar berulang-ulang. Hal tersebutlah yang mengawali proses  pembentukan persepsi. Tujuannya agar adegan cekcok tersebut di desain  seolah meng-amin-i isu perpecahan Islam. Sebut saja tragedi Bom Bali  yang menjadi momen tepat bagi media  untuk menyudutkan umat Islam.  Hingga wajar saja jika&lt;span id="more-140"&gt;&lt;/span&gt; umat Islam di  Indonesia begitu alergi terhadap syariat Islam. Karena selalu terpampang  di layar televisi akan buruknya citra kaum muslimin. Namun mereka  (pihak media) tentu memiliki logika-logika –yang sebenarnya tidak masuk  logika- untuk menjadi alasan. Salah satunya alasannya untuk menyiarkan  fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.&lt;br /&gt;“… Dengan berdalih pada kebebasan berekspresi mereka telah mengumbar aurat di depan mata jutaan kaum Muslim…”&lt;br /&gt;Sudah tak terhitung jumlah kaum hawa yang numpang pamer aurat di  televisi, majalah dan surat kabar. Bahkan parahnya tidak sedikit para  remaja puteri yang ‘gandrung’ dalam kompetisi pamer-pameran aurat  tersebut. perhatikan saja program acara seperti ‘miss Indonesia’, ‘tiara  sunsilk’, ‘wanita rejoice, atau yang sejenisnya.  Lebih dari sekedar  eksplotasi, media (lagi-lagi) mencoba untuk mempengaruhi persepsi para  pemuda yang sedang ‘linglung’ mencari jatidiri. Pun ketika chanel  televisi menampilkan sinetron yang hedonis. Generasi muda Islam pasrah  disodorkan model pemuda ala barat berikut kulturnya yang cenderung  bebas.  Ciri konkretnya adalah tatkala aurat bisa dibeli seharga ‘pisang  goreng’ oleh media.&lt;br /&gt;“…Dengan berdalih pada indahnya seni, mereka sengaja mendendangkan genderang jahiliyah di banyak telinga generasi muda….”&lt;br /&gt;Sudah berapa banyak para pemuda lugu yang teracuni oleh indahnya  soundtrack, video klip atau tayangan musik lainnya. Seolah remaja yang  normal adalah remaja yang bertatto, punya pacar banyak, pakar bercinta,  rajin ikut konser di barisan depan dan selalu up-date tentang hits  teranyar. Hal tersebut perlahan tapi pasti membuat para generasi muda  melupakan kewajibannya terhadap agama dan bangsa. Mereka lebih senang  menghafal song lyric daripada sekedar juz ‘amma. Mereka lebih tahu  tentang kisah perjalanan puluhan kelompok band daripada sirah nabawiyyah  ataupun sejarah bangsa Indonesia. Mereka lebih sensitif ketika aliran  musik idolanya diejek meski pada saat yang bersamaan ada kabar  penghinaan kartun Nabi Saw.&lt;br /&gt;“…Dengan berdalih pada hiburan mereka telah mensosialisasikan budaya ghibah (gossip)….”&lt;br /&gt;Hal inilah yang nantinya kita sebut dengan rekayasa figure perception.  Hampir di setiap pagi dan petang -jam tayang khusus ibu-ibu dan remaja  puteri- tersuguhkan berbagai program entertaint. Gosip,…! tentu acara  ini bukanlah mahluk asing bagi ibu-ibu dan remaja puteri. Hal ini  sengaja dimanfaatkan untuk memberikan referensi gaya hidup bagi para  remaja puteri. Yaitu gaya hidup para selebritis. Media telah merekayasa  isu-siu yang terjadi pada para artis. Baik isu keretakan rumah tangga,  punya pacar baru, mau menikah, perceraian dan lainnya. Hal tersebut  supaya para penonton merekam dalam memorinya dan menganggap wajar  tingkah laku para artis jika ditiru.&lt;br /&gt;Awalnya Hanya Berdagang&lt;br /&gt;Sejarah tanah Banten tak akan  terlupa saat pertama kali VOC datang ke  kampung mereka dengan maksud berdagang. ‘Ternyata bukan hanya udang yang  ada di balik batu’.  Eksploitasi besar-besaran baik tenaga maupun  sumber daya alam pun dilakukan. Modus serupa dialami oleh serangan  pengaruh media barat di Indonesia. Tujuan untamanya hanyalah berdagang  (informasi). Namun tetap saja bukan hanya udang yang ada di balik batu.  Tapi perang pemikiran umat Islam di Indonesia menjadi incaran utama.  Bukanlah suatu hal yang salah jika  slogan ‘Bang Napi’ kita gunakan.  Waspadalah, waspadalah,  waspadalah….!.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4524865930476686570?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4524865930476686570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/dalih-dalih-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4524865930476686570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4524865930476686570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/dalih-dalih-media.html' title='Dalih - Dalih Media'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-V6MvKr8O_As/TrUPgL2PSmI/AAAAAAAAADk/qehyaNRF878/s72-c/television.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-1373091083718651412</id><published>2011-11-05T03:25:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:25:16.325-07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa [K]Udu Bangsa Kera</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lBshk5FpgCE/TrUPBlWJffI/AAAAAAAAADc/jTxHBfZghww/s1600/images+7.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-lBshk5FpgCE/TrUPBlWJffI/AAAAAAAAADc/jTxHBfZghww/s1600/images+7.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Mereka bangga kalau kelompok geng nya adu jotos, menganiaya sampai  ‘membakar’ atribut kelompok lain. Na’udzubillahi min dzalik…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berasal dari bangsa kera ! Kesimpulan yang kejam itu tertuang  dalam pemikiran kaum Darwinisme ribuan tahun lalu. Mereka berpendapat  antara kera dan manusia sama-sama berasal dari jenis phrymata. Manusia  merupakan bagian dari proses Evolusi bangsa phrymatha. Hal tersebut  ditandai dengan perubahan volume otak, bentuk rahang, tinggi kerangka,  hingga perubahan pola hidup. Tentu saja hal tersebut menyulut amarah  banyak umat manusia. Siapa sih yang mau disamakan dengan mahluk berekor  panjang nan berbulu lebat tersebut. Lihat saja betapa ‘cakep’nya Karim  Benzema (bintang Real Madrid FC) tentu saja tidak akan mau  disamakan  dengan seekor kera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari sekian banyak kelebihan manusia dibandingkan kera adalah  kemampuan Nalar kritis manusia. Masih ingatkah bagaimana ‘cerewet’nya  Ibrahim a.s ketika masih kecil. ia bertanya kenapa harus menyembah  patung yang dibuat oleh bapaknya sendiri. Ia bertanya-tanya dimana  Tuhannya. Dan sampai saat ini belum ada kera semodern apapun yang pernah  mempertanyakan siapa Tuhannya. Atau setidaknya mempertanyakan kenapa  kera selalu  makan pisang. Kalaupun ada mungkin itu hanya ada di Film  ataupun Sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Filosof sering mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang  berpikir. Mungkin secara sederhana bisa saja seperti itu. Maksudnya  secara fisik manusia dan hewan memiliki beberapa kesamaan. Karena  manusia juga memiliki dimensi ke-binatang-an. Yakni hasrat untuk  bertahan hidup, mencari makan, sakit, reproduksi dll. Dan sekali lagi  hal mendasar yang membedakan antara manusia dan hewan adalah Nalar  kritis mereka, kemampuan berpikir brilian. Jadi kemungkinan yang disebut  oleh mas Darwin sebagai keturunan kera itu adalah mereka yang  kehilangan nalar kritisnya. Karena terkadang manusia justru terjebak  dalam rutinitas yang juga merupakan rutinitas yang dilakukan kera.  Semisal hidup hanya diisi dengan makan, tidur, berkembang biak dan  berkelahi cakar-cakaran. Kera tidak akan pernah mendapat gelar pemikir  apalagi cinta akan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa, nah sekarang kita membicarakan mahasiswa. Dalam tradisi  mahasiswa ada yang disebut dengan mimbar diskusi. Dimana mahasiswa  dipersilahkan untuk mengemukakan aspirasinya. Biasanya di dalam kelas  mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi ilmiah sebebas-bebasnya.  Walaupun masih ada juga beberapa dosen yang masih memaksakan pendapat  mereka, menjejali mahasiswa dengan hafalan-hafalan dan teori-teori yang  tidak implementatif. Sehingga wajar jika beberapa mahasiswa ada yang  ‘gelisah’ (baca: tidak puas) dengan apa yang mereka dapat di kelas.  Itulah mahasiswa, ia tidak pernah puas dengan ilmu pengetahuan, selalu  ingin tahu dan resah jika ada sesuatu yang mengganjal dari ilmu yang ia  pelajari. Inilah yang membedakan Mahasiswa dan kera. Beda banget…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah mahasiswa yang sekaligus ‘kera jadi-jadian’ ? maksudnya, adakah  Mahasiswa tetapi tetap saja melakukan rutinitas yang persis seperti  kera. Semisal hidup hanya diisi dengan makan-makan. Mereka hanya asyik  hunting jenis makanan dari satu warung ke warung yang lainnya. Atau ada  juga mahasiswa yang hobi tawuran keroyokan persis sekali seperti kera  kalau berkelahi cakar-cakaran. Mereka bangga kalau kelompok geng nya adu  jotos, menganiaya sampai ‘membakar’ atribut kelompok lain.  Na’udzubillahi min dzalik…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun diantara kita tidak ada satupun yang mau disamakan dengan kera.  Siapapun pembaca yang budiman pasti sangat bangga disebut sebagai insan  pecinta ilmu pengetahuan. Terutama di dunia kampus yang menjadi  gudangnya teori-teori keilmuan. Maka carilah, ikatlah dan ajarkanlah  ilmu yang ada. Maka berkoarlah sekencang mungkin di dalam kelas, maka  jadilah aktivis handal di Organisasi. Maka berdiskusialah tentang apa  saja, maka tanyakanlah tentang kenapa. Maka pintalah kepada Rabb agar  bisa menjadi mahasiswa ‘tulen’ yang gila akan ilmu pengetahuan bukan  menjadi kera jadi-jadian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-1373091083718651412?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/1373091083718651412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/mahasiswa-kudu-bangsa-kera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1373091083718651412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/1373091083718651412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/mahasiswa-kudu-bangsa-kera.html' title='Mahasiswa [K]Udu Bangsa Kera'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lBshk5FpgCE/TrUPBlWJffI/AAAAAAAAADc/jTxHBfZghww/s72-c/images+7.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6099917539967855063</id><published>2011-11-05T03:23:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:23:40.707-07:00</updated><title type='text'>PILKADA dan Pendidikan Politik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sNRD8LMO9_4/TrUOqJfFBBI/AAAAAAAAADU/pOyOysMtVoM/s1600/images+6.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-sNRD8LMO9_4/TrUOqJfFBBI/AAAAAAAAADU/pOyOysMtVoM/s1600/images+6.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Salah satu ciri simbolik dari negara demokrasi adalah adanya Pemilihan  Umum (PEMILU) dalam penentuan kepala pemerintahan. Begitupun Indonesia  yang memang rutin mengagendakan PEMILU sejak tahun 1955 untuk memilih  Presiden, baik secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun pesta  demokrasi ini masih harus banyak berbenah, setidaknya Indonesia telah belajar dalam banyak kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sejak  tahun 2004, negara dengan jumlah etnis terbanyak ini mulai mengenal  istilah Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). Beberapa bulan ke depan  PILKADA inilah yang akan menghiasi layar-layar publik. Hajatan demokrasi  ini juga kian menggeliat di berbagai kabupaten&amp;nbsp; provinsi D.I  Yogyakarta. Calon-calon pemimpin ada yang terang-terangan tampil, ada  juga yang ‘malu-malu kucing’ memproklamirkan dirinya. Baik itu melalui  baliho-baliho di jalan umum, via media cetak ataupun kampanye di  televisi. Mudah-mudahan visi kinerja mereka secantik dan seganteng  parasnya saat di iklan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pelajaran terpenting dari berbagai PILKADA di tanah air adalah maraknya berbagai anarkisme, kecurangan suara dan &lt;i&gt;money politic&lt;/i&gt;. Sebagai kota  pelajar, selayaknya bumi mataram ini ‘berpesta’ dengan cara terpelajar  juga. Jangan sampai PILKADA justru lebih mengerikan daripada  pertandingan sepakbola &lt;i&gt;derby&lt;/i&gt; jogja yang penuh kekerasan. Seharusnya ajang demokrasi ini menjadi pertarungan program kerja yang betul-betul &lt;i&gt;fair.&lt;/i&gt;  Sehingga singgungan antara simpatisan yang berujung premanisme tidak  terjadi lagi. Pun demikian dengan maraknya kecurangan suara. Calo-calo  suara seolah menjadi profesi musiman saat agenda pesta rakyat  berlangsung. Sungguh budaya tersebut tidak layak terjadi di kota budaya, Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Lima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; kabupaten di DIY tengah siap siaga menyambut pesta demokrasi. Terutama daerah &lt;i&gt;Mbantul &lt;/i&gt;dan  Kota Yogyakarta yang tampak poster-poster calon kuatnya. Sebenarnya  perkara menang atau kalah tidaklah begitu penting, hal yang perlu  diperhatikan adalah proses demokrasinya. Dengan berjalannya proses  PILKADA secara demokratis tentu saja bisa menjadikan masyarakat perlahan  &lt;i&gt;melek&lt;/i&gt; politik. Siapa calonnya, apa visi besarnya dan bagaimana &lt;i&gt;track record&lt;/i&gt;nya adalah perkara wajib untuk dikonsumsi warga Yogyakarta. Sehingga jargon-jargon ‘aneh’ tak lagi muncul, seperti “…&lt;i&gt;seng penting duite endi…&lt;/i&gt;” atau“….&lt;i&gt;nek arep dipiih, aku entuk piro….&lt;/i&gt;” Dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Komunikasi  politik harus sejak dini dilakukan calon-calon pemimpin daerah.  Pasalnya selama ini komunikasi politik seolah hanya milik kalangat elit  saja. Sedangkan masyarakat bawah sekedar melakukan komunikasi politik  pasif, itupun saat PEMILU tiba. Lancarnya pendidikan politik hanya  terjadi jika pemimpin dan elit politik mau ‘turun’ langsung dan membaur  bersama masyarakat bawah. Tentu saja, bukan hanya saat mendekati PILKADA  saja. Tetapi setiap rakyat memiliki masalah, sebenarnya di sanalah  peluang para elit politik untuk melakukan pendidikan politik. Bukan  sekedar manis di iklan saja, tapi ujung-ujungnya korupsi juga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kontinuitas  peran partai politik membersamai rakyat akan berdampak pada  meningkatnya kesadaran politik. Sehingga pemilih benar-benar melakukan  pemilihan, bukan sekedar dipaksa untuk memilih. Setidaknya&amp;nbsp; rakyat tahu  siapa yang dipilih, ibarat anak yang tahu persis siapa bapaknya.  Bukankah setelah terpilih nanti, para calon akan bertugas menjadi  pelayan bagi masyarakat. Bagaimana mungkin terjadi pelayanan jika  pemimpin tidak berbaur dengan rakyat, atau sebaliknya rakyat yang cuek  terhadap pemimpinnya. Padahal nantinya pemimpin daerah sangatlah  membutuhkan pasrtisipasi masyarakat dalam menyukseskan  program-programnya. Jika selama ini paradigma rakyat yang selalu butuh  uluran pemerintah, maka hal tersebut harus dibalik. Hubungan antara  rakyat dan pemerintah adalah partner dalam membangun daerah. Konsep  kesetaraan dalam relasi publik inilah yang mempercepat proses pemahaman  masyarakat. Dan tentu saja kian mendidik rakyat dalam rangka pembangunan  daerah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pendidikan politik bukan saja harus diajarkan kepada rakyat. Akan tetapi para aktivis partai politik pun &lt;i&gt;kudu&lt;/i&gt;  belajar bersama rakyat. Belajar dewasa menerima kekalahan, belajar  tertib administrasi, belajar kampanye damai dan belajar memenangkan  PILKADA dengan jujur. Haruskah kecurangan yang sama terjadi lagi dan  lagi? Akankah ‘cakar-mencakar’ antar partai politik terus dibudayakan?  Sebenarnya rakyat pun sudah bosan menonton tingkah elit politik di  panggung demokrasi yang acak-acakan. Contoh ringan saja keributan saat  konvoi kampanye, pembakarann bendera, penyobekan baliho bahkan &lt;i&gt;tawur&lt;/i&gt; antar simpatisan. Kebebasan dalam demokrasi bukan berarti bebas menindas kontestan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Yogyakarta bukanlah kota  yang baru mengenal demokrasi. Bahkan pakar-pakar demokrasi banyak lahir  di sini. Sehingga pemimpin yang akan maju ke pentas demokrasi pun  seharusnya para intelektual-intelektual bermoral jebolan kota  pelajar. Dan harapannya rakyat tidak begitu sulit menentukan pilihan  untuk mencari pemimpin daerah berkualitas. Apapun partainya dan siapapun  calonnya tentu harus mengutamakan &lt;i&gt;karepe&lt;/i&gt; rakyat. Pasalnya rakyat selalu menjadi korban ulah ‘nakal’ para penguasa. Sudah saatnya &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt; di Yogyakarta ini&amp;nbsp; merasakan kesejahteraan dari kepala daerah yang adil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Partisipasi  masyarakat tentu menjadi faktor yang paling penting. Saat ini pilihan  untuk masyarakat bukan lagi memilih atau tidak. Akan tetapi benar-benar  serius memilih antar Calon Pemimpin satu atau yang lainnya. Jika selama  ini masyarakat banyak mengeluh dengan kinerja pejabat atas, ya salahnya  sendiri. Kenapa pada saat ajang PILKADA tidak serius memilih  pemimpinyang paling bagus. Semisal dengan melakukan kontrak politik  ataupun &lt;i&gt;sharing &lt;/i&gt;program. Bahkan masih ada saja &lt;i&gt;person&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;person&lt;/i&gt;  yang justru mengkampanyekan anti PILKADA. Entah karena kekecewaan yang  berlebihan terhadap pemimpin yang lalu. Ataupun karena memang niatnya  yang busuk untuk menolak demokrasi hingga ke daerah-daerah. Warga  Yogyakarta sangat membutuhkan pemerintah yang demokratis. Salah satunya  adalah dengan menggalakkan tingkat pastisipasi masyarakat dalam  pemilihan kepala daerah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6099917539967855063?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6099917539967855063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/pilkada-dan-pendidikan-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6099917539967855063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6099917539967855063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/pilkada-dan-pendidikan-politik.html' title='PILKADA dan Pendidikan Politik'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-sNRD8LMO9_4/TrUOqJfFBBI/AAAAAAAAADU/pOyOysMtVoM/s72-c/images+6.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4492745315490496676</id><published>2011-11-05T03:20:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:20:43.347-07:00</updated><title type='text'>Kilas Balik Eksistensi Kaum Hedonis</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bI2fwn7Rzmg/TrUN9Re8HmI/AAAAAAAAADM/IZC9-jf-ISw/s1600/images+5.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-bI2fwn7Rzmg/TrUN9Re8HmI/AAAAAAAAADM/IZC9-jf-ISw/s1600/images+5.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita masih ingat kiprah Qarun berikut kekayaannya nan melimpah.  Harta yang dimilikinya justru menjadi bomerang bagi datangnya  kepongahan. Sungguh tidaklah berlebihan jika ia menjadi ikon bersejarah  kaum hedonis. Sosok yang hidup pada masa nabi Musa a.s ini berhasil  memperkenalkan eksistensi kaum hedonis di masanya.&lt;br /&gt;Hal serupa dilakukan kaum Munafiqin yang ikut perang uhud dalam barisan  kaum muslimin. Sebagian pasukan pemanah terpesona dengan kilauan  ghanimah (harta rampasan perang) sehingga meninggalkan pos-pos mereka di  atas bukit. Terlepas dari menang atau tidaknya perang uhud, yang pasti  perjuangan telah ternodai oleh ruh-ruh hedonisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era pertengahan gelombang hedonisme justru datang dari negeri  barat. Mulai dari gaya hidup, adat-istiadat, hingga pola pikir tidak  terlepas dari sudut pandang keduniaan. Tatanan perilaku barat tersebut  cepat atau lambat sampai juga ke dunia timur dan negeri kaum muslimin  khususnya. Dan Orang –gila- pertama yang menyebarkan virus hedonis ini  adalah para penjajah. Pasca perang dunia, umat Islam benar-benar habis  diobok-obok oleh imperium barat. Mulai dari penjajahan fisik, pengerukan  alam hingga pemaksaan budaya hedonis di daerah jajahan. Sebut saja di  Indonesia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebanggaan berlebihan terhadap ‘kompeni’ sebenarnya sudah ada seja masa  penjajahan. Bukan hanya meniru gaya hedonisnya, akan tetapi sampai rela  menjadi penghianat bangsa dan berpihak pada penjajah. Mereka itulah yang  rela menjadi mata-mata penjajah hanya karena imbalan satu atau dua  keping harta. Sungguh Hedonis….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa post-modern ini kaum hedonis mengalami masa keemasannya.  Dimana justru bibit pecinta dunia berkembang hebat di kalangan umat  Islam sendiri. Anehnya lagi antar satu muslim dengan lainnya kian asyik  menumpuk harta. Hingga kemuncaknya adalah keberadaan pengaruh hedonis  ini telah diangap wajar dan diterima dengan baik tak ubahnya seorang  raja di raja yang sakti mandraguna pengaruhnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4492745315490496676?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4492745315490496676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/kilas-balik-eksistensi-kaum-hedonis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4492745315490496676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4492745315490496676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/kilas-balik-eksistensi-kaum-hedonis.html' title='Kilas Balik Eksistensi Kaum Hedonis'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bI2fwn7Rzmg/TrUN9Re8HmI/AAAAAAAAADM/IZC9-jf-ISw/s72-c/images+5.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6569172931106974293</id><published>2011-11-05T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:18:06.728-07:00</updated><title type='text'>Revolusi Mesir, Revolusi Rakyat.</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LflUgmUTqYc/TrUNTDvI7cI/AAAAAAAAADE/BKLCdqeelhs/s1600/index.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-LflUgmUTqYc/TrUNTDvI7cI/AAAAAAAAADE/BKLCdqeelhs/s1600/index.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husni Mubarok harus turun sekarang juga. Itulah jeritan jutaan rakyat  Mesir agar sang diktator hengkang dari tampuk kepemimpinan. Lebih dari  30 tahun berkuasa, mantan jenderal angkatan udara itu hanya menjadi  tirani. Korupsi kian merajalela diiringi kemiskinan yang menjadi  pesakitan rakyat di bumi para nabi itu. Bahkan kekayaan Husni Mubarok  telah mencapai lebih dari 300 T rupiah. Belum lagi kekayaan anaknya  Gamal mubarok yang mencapai lebih dari 100 T rupiah. Sebuah angka yang  sangat menyakitkan hati jika dibandingkan dengan angka 40%  rakyat yang  berstatus miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapangan Tahrir di Kairo menjadi saksi kebrutalan militer terhadap  pejuang revolusi. Begitupun yang terjadi di Nasher City, Alexandria,  Suez dan kota-kota besar lainnya. Jutaan masa sejak 25 Januari lalu  telah berbulat tekad untuk memakzulkan Husni Mubarok. Masa demonstran  yang berasal dari berbagai kalangan berkumpul-riuh mengekspresikan  puncak kekesalannya. Berawal dari diblokirnya situs jejaring sosial  ‘Facebook’ dan ’Twitter’ oleh pemerintah. Kemarahan warga mulai  tersulut. Puncaknya hingga jaringan telekomunikasi dan layanan perbankan  juga terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis di Mesir saat ini sebenarnya hanyalah kemuncak dari kekecewaan  berbagai kalangan. Ada dua hal penyebab utama terjadinya pergolakan  revolusi Mesir saat ini. Sebab pertama adalah alasan permukaan, yakni  kemiskinan yang mencapai level terparah namun jajaran penguasa justru  asyik bertindak korup. Bagaikan rumput kering yang terkena percikan api,   rakyat Mesir mudah sekali terbakar nalurinya untuk memberontak. Karena  urusan perut tidak bisa menunggu lama. Hal serupa juga menjadi penyebab  utama pergolakan revolusi yang terjadi di Tunisia, Yaman dan Oman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kedua dari pergolakan revolusi Mesir adalah pemerintahan yang  tidak demokratis. Berapa banyak para tokoh yang bersuara lantang lalu  dipenjara hanya karena mengkritik pemerintah. Bahkan melalui  kekuasaannya Husni Mubarok memberangus lawan-lawan politiknya di  parlemen dengan menjadi kekuatan politik terbesar. Seolah mewarisi  pendahulunya, Presiden yang berkiblat ke barat ini juga melakukan  determinasi pada ormas-ormas Islam di sana. Sebut saja kekuatan oposisi  besar Ikhwanul Muslimin yang terus mengalami luka di sepanjang sejarah  oleh penguasa. Sejak masa ketokohan Hasan al-banna dan Sayyid Quthb,  anggota-anggota Ikhwanul Muslimin layaknya hewan buruan yang harus  dibunuh dan dipenjara. Begitupun dengan tokoh lainnya bahkan yang  bersebrangan ideologi sekalipun. Seperti tokoh-tokoh dari partai  sosialis yang sulit berbicara lantang mengkritik penguasa. Sehingga  revolusi mesir di awal tahun 2011 ini seolah mendai momentum bagi  oposisi pemerintahan untuk bersikap nyata. Apapun ideologinya, mereka  bersama turun ke jalan meneriakkan “Mubarok Turun”. Sampai saat ini  Husni Mubarok yang telah bertolak ke luar negeri tak kunjung berniat  lengser dari kekuasaannya. Bahkan ia baru akan mengundurkan diri pasca  PEMILU bulan September 2011. Kian sulit saja perjuangan Revolusi rakyat  Mesir. Apalagi Militer Angkatan Udara sangatlah setia pada sang Tiran  Mubarok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergolakan konstelasi politik di timur tengah ini kian memicu  kekhawatiran dunia. pasalnya selama ini Mesir di bawah kepemimpinan  Husni Mubarok begitu dekat dengan negara-negara barat. Bahkan biaya  militer di negeri seribu menara itu adalah bantuan dari Washington D.C.  Hal ini tentu karena adanya kepentingan negara adidaya tersebut dalam  perpolitikan Mesir. Apalah jadinya muka Israel, Amerika dan  sekutu-sekutunya jika semenanjung sungai Nil dikuasai oleh oposisi  pemerintah. Akankah pasca mubarok akan muncul pemimpin yang berkiblat  kepada Amerika ataukah justru menentang kebijakan militer gedung putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel sebagai salah satu sekutu Mesir betul-betul menjadi negara yang  sangat tertekan. Menteri luar negeri Israel mencoba meyakinkan  negara-negara Uni Eropa bahwa Mubarok harus tetap berkuasa. Pasalnya  selama ini Husni Mubaroklah yang menjadi pendukung kedaulatan Israel  saat berkonflik dengan Palestina. Sehingga boleh jadi Israel adalah  negara yang paling berkepentingan terhadap misteri masa depan  kepemimpinan Mesir. Ada beberapa nama yang muncul selain Gamal Mubarok  ‘The Son’ yang telah disiapkan oleh Husni Mubarok. Sebut saja Omar  Sulaiman yang selama ini menjadi tangan kanannya ataukah el-Baradai yang  menjadi pemimpin gerakan oposisi saat ini. Semua teka-teki ini akan  terjawab seiring perjuangan para demonstran yang telah mengeluarkan  ultimatum agar Mubarok turun sampai 4 Februari 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6569172931106974293?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6569172931106974293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/revolusi-mesir-revolusi-rakyat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6569172931106974293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6569172931106974293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/revolusi-mesir-revolusi-rakyat.html' title='Revolusi Mesir, Revolusi Rakyat.'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LflUgmUTqYc/TrUNTDvI7cI/AAAAAAAAADE/BKLCdqeelhs/s72-c/index.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6495503186863964715</id><published>2011-11-05T03:16:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:16:23.005-07:00</updated><title type='text'>Reformasi Gerakan Reformasi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9pUeUddM8QA/TrUM7M1kIFI/AAAAAAAAAC8/yYg8MVc5_2g/s1600/images+4.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-9pUeUddM8QA/TrUM7M1kIFI/AAAAAAAAAC8/yYg8MVc5_2g/s1600/images+4.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Menyoal Konflik Horizontal Antar Gerakan&lt;br /&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabiyullah Musa a.s salah satu sosok reformis yang menjadi aktor  sentral penggulingan fir’aun. Namun setelah Fir’aun tenggelam problem  justru muncul di tengah kaum (itu) sendiri, adalah konflik horizontal di  kalangan Bani Israil. Reformasi yang diharapkan terjadi pada bani  Israil sungguh jauh panggang daripada api. Ilustrasi ini seolah menjadi  de javu bagi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi (taghyir) sebagai salah satu ajaran Islam yang belum terpahami  secara kontekstual dalam upaya perbaikan umat. Sebelas tahun lalu  bangsa Indonesia mencoba reformasi total pemerintah otoriter Soeharto.  Namun hingga sang jenderal cendana itu  ‘berpulang’, perjuangan  reformasi tak kunjung menorehkan hasil. Tuntutan reformasi yang  diperjuangkan oleh rakyat ’98 kini sekedar menjadi catatan sejarah.  Persoalan supremasi hukum, pemberantasan KKN hingga reformasi di bidang  ekonomi dan politik. Semua tuntutan itu kian terlupakan seiring surutnya  ghiroh gerakan reformasi dalam satu dekade belakangan ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena aksi pemakzulan Soeharto itu telah menjadi fase sejarah yang  begitu penting dan strategis. Namun sayang proses bergulirnya sejarah  ‘98 itu tidak diiringi oleh cantiknya desain dalam mengisi kekosongan  pasca gerakan reformasi. Parahnya justru berbagai elemen yang tergabung  dalam barisan perjuangan sebelas tahun lalu terjebak dalam konflik  horizontal. Keretakan ini bukan hanya membuat koruptor bertepuk tangan,  namun lebih memberikan efek  pada kelesuan gerakan reformasi. Di tengah  vacuum moving gerakan –terutama- mahasiswa, beban berat bertambah  seiring merebaknya kultur barat dan hedonisme pada kalangan pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas problem ini menuntut mahasiswa untuk benar-benar teguh,  pintar dan kreatif dalam menjaga idealisme gerakannya. Salah satu  masalah terbesar bagi gerakan mahasiswa adalah ketika mereka kehilangan  sensitivitas atas penyakit-penyakit bangsa. Dimanakah kepekaan mahasiswa  ketika ada korupsi triliunan rupiah, namun di tempat lain warga  sidoharjo terus menagih uang ganti rugi atas rumah mereka yang terendam  lumpur. Anehnya justru gerakan mahasiswa masih terjebak dalam  ‘pertarungan’ antar ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jalan untuk mengembalikan darah juang reformasi adalah dengan  mereform gerakan reformasi. Mahasiswa harus menjadi transformator  spirit gerakan. Mengubah pola gerakan yang bukan hanya aksi jalanan  secara kuantitas, namun lebih pada proses pemanjaan nalar sensitif  mahasiswa. Mengubah alur reformasi dengan bermula dari arah transenden  menuju perbaikan bangsa. Mengubah kultur hedonisme menuju massifitas  ruang-ruang dialetika. Mengubah tindakan anarkis menjadi gerakan moderat  dan elegan. Inilah mahasiswa yang akan berjuang melakukan reformasi  mulai dari dirinya sendiri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6495503186863964715?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6495503186863964715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/reformasi-gerakan-reformasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6495503186863964715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6495503186863964715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/reformasi-gerakan-reformasi.html' title='Reformasi Gerakan Reformasi'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9pUeUddM8QA/TrUM7M1kIFI/AAAAAAAAAC8/yYg8MVc5_2g/s72-c/images+4.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-8873379416683056421</id><published>2011-11-05T03:14:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T03:14:53.429-07:00</updated><title type='text'>Arab Bergejolak, AMerika Siapkan Boneka</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;oleh: Teguh Estro* &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WtQUIKwLrGw/TrUMmHHJrII/AAAAAAAAAC0/C4darVIocX8/s1600/Kegagalan+Mossad+dalam+Revolusi+Mesir-ilustrasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-WtQUIKwLrGw/TrUMmHHJrII/AAAAAAAAAC0/C4darVIocX8/s1600/Kegagalan+Mossad+dalam+Revolusi+Mesir-ilustrasi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tunisia  telah mengawali, disusul rakyat Mesir berhasil gulingkan Husni Mubarok.  Berikutnya Yaman, Iran, Maroko, Libya dan Oman siap menuntut hal  serupa. &lt;b&gt;Kini rakyat arab tengah mengalami kemuncak Euforianya.&lt;/b&gt;  Tak ayal pemberitaan akan timur-tengah selalu diracik dalam bingkai  Revolusi. Namun analisis kita jangan sampai berhenti sampai selugu itu.  Bukankah selama ini yang begitu berkepentingan akan gejolak di  negeri-negeri kilang minyak adalah Amerika. &lt;b&gt;Mungkin sulit untuk membuktikan kalau Amerika menjadi dalang atas panasnya konstelasi politik di tanah arab.&lt;/b&gt; Namun boleh jadi kini Barrack Obama tengah menyiapkan negara boneka pasca termakzulkannya raja-raja arab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Media massa mencoba mengarahkan masyarakat dunia pada satu kesimpulan. &lt;/b&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Bahwasannya  semua kemelut penggulingan pemerintah di tanah arab sengaja dikesankan  murni sebagai gerakan rakyat seperti halnya Mesir, padahal tidak....!  Coba kita amati keganjilan pada kerusuhan yang terjadi di Iran dan  Libya. &lt;b&gt;Alangkah lucunya jika tudingan korupsi ditujukan pada Ahmadinejad.&lt;/b&gt; Pun demikian dengan Muammar Qaddafi di Libya aneh jika akan digulingkan lantaran menjadi antek-antek Amerika. &lt;b&gt;Boleh  jadi momentum kebangkitan rakyat di Arab tengah dimanfaatkan oleh  ‘oposisi bayaran’ untuk menggulingkan Ahmadinejad dan Qaddafi. &lt;/b&gt;Pasalnya dua negara tersebut adalah negara yang paling sulit untuk ‘disetir’ oleh pemerintahan gedung putih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Salajengipun,&lt;/i&gt; masih ada lagi keganjilan dalam skenario revolusi negara-negara Arab. &lt;b&gt;Pertanyaannya, kenapa di Saudi Arabia, Iraq dan Afghanistan &lt;i&gt;adem ayem&lt;/i&gt; saja. &lt;/b&gt;Jawabannya sederhana, lantaran mereka sudah menjadi negara boneka Amerika. Dan negeri paman sam itu tak mau &lt;i&gt;capek&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;capek &lt;/i&gt;membuat oposisi bayaran lagi. &lt;b&gt;Sekarang Barrack Obama tinggal menambah koleksi negara bonekanya di timur-tengah. &lt;/b&gt;Dan saat ini adalah momentum yang tepat untuk menggoyang pemimpin-pemimpin arab, terutama Iran dan Libya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-8873379416683056421?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/8873379416683056421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/arab-bergejolak-amerika-siapkan-boneka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8873379416683056421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/8873379416683056421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/arab-bergejolak-amerika-siapkan-boneka.html' title='Arab Bergejolak, AMerika Siapkan Boneka'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WtQUIKwLrGw/TrUMmHHJrII/AAAAAAAAAC0/C4darVIocX8/s72-c/Kegagalan+Mossad+dalam+Revolusi+Mesir-ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-5360136991020103339</id><published>2011-11-05T03:11:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T03:11:54.846-07:00</updated><title type='text'>Nurdin Halid Pancen Sakti</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;oleh: Teguh Estro* &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0NLpiufOAc4/TrUL5nsjsuI/AAAAAAAAACs/zahnx_v6mCc/s1600/Turunkan+nurdin+halid+lucu+pssi+.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-0NLpiufOAc4/TrUL5nsjsuI/AAAAAAAAACs/zahnx_v6mCc/s1600/Turunkan+nurdin+halid+lucu+pssi+.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya PSSI terbekukan juga oleh Menpora pada 28 Maret lalu. Pasalanya Andi Mallarangeng menilai kongres &lt;b&gt;PSSI di Pekan Baru kurang profesional berbuntut kericuhan.&lt;/b&gt; Politisi partai Demokrat ini pun mengancam &lt;b&gt;sanksi dengan memutus anggaran terhadap institusi sepak bola nasional itu.&lt;/b&gt; Dan posisi Nurdin Halid sebagai pucuk pimpinan PSSI kian terpojok saat ini. &lt;b&gt;Namun bukan Nurdin Halid namanya jika hanya diam saja.&lt;/b&gt;  Pria kelahiran Watampone itu mengatakan Andi mallarangeng tidak cakap  sebagai menteri sehingga layak untuk dicopot. Kali ini benar-benar N&lt;b&gt;urdin Halid tengah menjajal kesaktiannya Karena berani menantang Menpora.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Terseretnya Andi Mallarangeng ke dalam seteru PSSI menambah konflik  baru di tubuh PSSI. kali bukan lagi sekedar seteru antar tim sepak bola  saja, akan tetapi sudah membawa bendera partai politik. Mau tidak mau  posisi Nurdin Halid sebagai mantan politisi &lt;b&gt;Golkar akan berbenturan dengan massa ‘Biru’ &lt;/b&gt;yang  mendukung Andi Mallarangeng. Hal tersebut menjadi tidak sehat lantaran  sepak bola sebagai olahraga telah tersusupi kepentingan politik. Apalagi  jelas-jelas telah muncul &lt;b&gt;statemen saling ancam antara kedua belah pihak.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Kontroversial Nurdin Halid bukan hanya saat ini saja. Sudah banyak  pihak yang menginginkan mundurnya ketua PSSI sejak 2003 itu dari pucuk  pimpinan. Pasalnya sudah satu dekade terakhir timnas merah putih belum  juga memenangkan tropi juara. Sempat dielu-elukan bakal menjuarai piala  AFF&amp;nbsp; akhir tahun 2010 lalu, namun justru harus kandas di final oleh  Malaysia. Tentu saja masyarakat pecinta bola segera mengkambing-hitamkan  &lt;b&gt;Nurdin Halid sebagai biang keladi kekalahan.&lt;/b&gt; Namun pria berusia  52 tahun itu tetap tak mau juga turun dari jabatannya. Bahkan saat  demonstrasi dari berbagai penjuru nusantara ramai membakar foto dirinya.  &lt;b&gt;Tetap Nurdin Halid bersikukuh tak akan mundur dari pimpinan PSSI&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-5360136991020103339?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/5360136991020103339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/nurdin-halid-pancen-sakti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5360136991020103339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5360136991020103339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/nurdin-halid-pancen-sakti.html' title='Nurdin Halid Pancen Sakti'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0NLpiufOAc4/TrUL5nsjsuI/AAAAAAAAACs/zahnx_v6mCc/s72-c/Turunkan+nurdin+halid+lucu+pssi+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2039922471017925018</id><published>2011-11-05T03:10:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:10:09.692-07:00</updated><title type='text'>Ibnu KHaldun Angkat 'Wong Deso'</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0NVRytjqf2k/TrULe56ToQI/AAAAAAAAACk/sPfMHGiMRRM/s1600/Seko+Alas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-0NVRytjqf2k/TrULe56ToQI/AAAAAAAAACk/sPfMHGiMRRM/s1600/Seko+Alas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya &lt;i&gt;Muqaddimah&lt;/i&gt;, Ibn Khaldun mengungkapkan mengenai tradisi hidup &lt;i&gt;Wong Ndeso&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;Namun dalam redaksinya, bapak Sosiolog Islam ini menggunakan istilah ‘orang Badui’.&lt;/b&gt;  Yakni, mereka yang bermukim jauh dari kemewahan kota-kota besar. Mereka  yang hidup bergantung dan bergelut pada alam (di arab tentu saja hidup  di gurun). Ibnu Khaldun menganalisis bahwa penduduk desa adalah basis  dari penduduk kota. Artinya tradisi dan peradaban ala &lt;i&gt;Wong Ndeso&lt;/i&gt; telah lebih dulu ada tinimbang penduduk kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu catatan dalam buku Muqaddimah mengatakan bahwasannya &lt;i&gt;Wong Ndeso&lt;/i&gt;  lebih memiliki keberanian alami daripada orang kota. Mereka terbiasa  hidup di alam tanpa ada tembok tinggi mengelilingi ‘gubug’nya, tanpa ada  &lt;i&gt;body guard&lt;/i&gt; yang mengawalnya. Kebiasaan mempertahankan diri  dengan kekuatan dan persenjataan sendiri itulah yang memupuk jiwa  keberanian secara alami. &lt;b&gt;Sehingga wajar jika ada &lt;i&gt;Wong Ndeso&lt;/i&gt; yang terbiasa keluar masuk hutan di tengah malam hanya bermodalkan seonggok parang (pisau panjang) saja.&lt;/b&gt;  Karena memang sejak kecil, mereka dituntut untuk memenuhi kebutuhan  primer dari alam. Dan sebaliknya, Ibn Khaldun mewanti-wanti para  penduduk kota agar jangan terlena dengan kemewahan. Pasalanya hidup  serba instan yang dijalani masyarakat kota justru perlahan membunuh  keteguhan jiwa mereka. Bayangkan saja mulai dari urusan perut, mereka  telah menggunakan jasa &lt;i&gt;cathering, &lt;/i&gt;langsung santap. Selanjutnya sandang yang dipakai sehari-hari di kerjakan oleh jasa &lt;i&gt;laundry&lt;/i&gt;.  Hingga dalam urusan keamanan, masyarakat kota khususnya penghuni  komplek-komplek dan apartemen, menyerahkannya pada security bayaran  untuk menjaga 24 jam. &lt;i&gt;Pramilo&lt;/i&gt; &lt;b&gt;tidak heran jika insan perkotaan lebih ‘lembek’ jiwanya dalam menghadapi keganasan hidup.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun juga memaparkan mengenai tabiat alami wong Ndeso. &lt;b&gt;Mereka lebih mudah dalam menerima nasihat kebaikan.&lt;/b&gt;  Hal tersebut lantaran adanya tradisi ‘nggak neko-neko’ dalam melangkah.  Kalau memang masyarakat menganggap baik mengenai suatu urusan, ya sudah  jalankan saja. Namun hal yang berbeda jika kita lirik mengenai watak  masyarakat perkotaan. &lt;b&gt;Sejak kecil, penduduk kota telah mengenal banyak referensi penyimpangan-penyimpangan sosial.&lt;/b&gt;  Dan alam bawah sadar mereka cenderung memberikan ‘label kelaziman’ akan  banyaknya deviasi sosial. Sehingga mereka sudah tidak begitu  menghormati lagi adanya nasihat-nasihat agar berlaku sesuai norma.  Apalagi masyarakat kota pun tidak jarang &lt;i&gt;nyambi&lt;/i&gt; sebagai pelaku kejahatan. Sebut saja kaum miskin kota, mereka dipaksa memilih jalan hidup antara pengemis, pengamen &lt;i&gt;nyambi&lt;/i&gt;  sebagai pencopet jalanan. Pun sama halnya orang ‘terlanjur kaya’ di  perkotaan. Mereka lebih memiliki kesempatan dan lingkungan yang  mendukung untuk mencicipi dunia kejahatan. Lantaran fasilitas untuk  perjudian, korupsi hingga prostitusi mampu mereka jangkau dengan  pembayaran yang cukup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2039922471017925018?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2039922471017925018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/ibnu-khaldun-angkat-wong-deso.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2039922471017925018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2039922471017925018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/ibnu-khaldun-angkat-wong-deso.html' title='Ibnu KHaldun Angkat &apos;Wong Deso&apos;'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0NVRytjqf2k/TrULe56ToQI/AAAAAAAAACk/sPfMHGiMRRM/s72-c/Seko+Alas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4049051922333786092</id><published>2011-11-05T03:08:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:08:17.241-07:00</updated><title type='text'>Islam Dalam Persepsi Media Barat</title><content type='html'>&lt;span lang="EN-US"&gt;oleh: Teguh Estro* &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VNKC5XE6XOg/TrULDH-H5EI/AAAAAAAAACc/KCYJaA8lhbE/s1600/tv.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-VNKC5XE6XOg/TrULDH-H5EI/AAAAAAAAACc/KCYJaA8lhbE/s1600/tv.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Paska runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani (&lt;em&gt;ottoman kingdom&lt;/em&gt;),  seolah pasukan salib dan kaum yahudi tak bosan-bosannya bertepuk  tangan. Belum puas dengan itu semua, kini mereka mulai menjajah alam  pemikiran umat Islam (&lt;em&gt;ghazwul fikr)&lt;/em&gt;. Para penegak al-Quran  mulai dari tanah Maroko hingga ujung Merauke perlahan mulai  terkendalikan oleh barat. Bukan roket atau nuklir, tapi &lt;span id="more-130"&gt;&lt;/span&gt;media  (massa) telah menjadi senjata tunggangan terhebat mereka. Dengan media,  tentu saja mereka bisa begitu lihai mengotak-atik informasi dunia  Islam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sadar  atau tidak…! Sudah berapa banyak pesawat televisi di dunia yang  menjelek-jelekkan Islam. Dalam satu kali terbit, berapa surat kabar yang  telah melecehkan Nabi Saw. Dalam satu jam sudah berapa &lt;em&gt;content&lt;/em&gt; yang termasukkan (&lt;em&gt;upload) &lt;/em&gt;di  situs internet dengan berbagai penghinaan terhadap al-Quran. Hal  tersebut belum termasuk media-media lainnya dengan teknologi tercanggih  mereka. Apakah cukup sampai disini…? Ternyata tidak, mereka tidak akan  ridho hingga umat Islam mengikuti &lt;em&gt;millah&lt;/em&gt; mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Salah  satu target utama dari serbuan media barat adalah mencoba mengendalikan  persepsi umat Islam terhadap agamanya sendiri. Persepsi adalah cara  pandang seseorang terhadap objek berdasarkan informasi kognisi dan  sensori sehingga menghasilkan interpretasi. Berita adalah informasi  kognisinya, video dan gambar adalah info sensorinya sedangkan umat Islam  adalah objeknya. Dan mungkin teroris adalah salah satu tafsirannya  (baca: menurut Yahudi). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dengan  banyaknya pemberitaan buruk terhadap Islam harapan mereka (yahudi dan  nashrani) tentu adanya kebencian umat Islam terhadap agamanya sendiri.  Itulah yang disebut persepsi, namun sayangnya itu adalah persepsi yang  buruk atas Islam. Semisal mereka yang giat mempropaganda Islam sebagai  teroris paska tragedi 11 september. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Secara  umum mereka telah berhasil mempengaruhi alam bawah sadar kaum muslimin  bahwasannya Islam memang benar-benar teroris. Walaupun sebenarnya  merekalah yang berhak disebut nenek moyangnya terorisme. Pasalnya kaum  salibis ini tak segan-segan memusuhi umat Islam melalu bom, peperangan  (mis: Irak, Moro dan Afganistan), pembunuhan massal dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sejarah telah mengajarkan bahwasannya umat Islam tidak pernah diam atas pengrusakan identitas &lt;em&gt;ad-Dien&lt;/em&gt;.  Bagaimana hebatnya pertempuran badar, sengitnya lemparan tombak para  sahabat dalam perang Hunain. Memang secara normal sejarah tidak bisa  terulang, namun semangat mereka adalah hak waris terbesar bagi kita yang  hidup di akhir zaman. Saatnya kita menyusun agenda besar untuk  memperbaiki citra umat Islam. Salah satunya dengan memanfaatkan media  barat secara selektif untuk melakukan serangan balik (&lt;em&gt;counter attack)&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Mohon  maaf jika terasa kasar dan berlebihan. Namun paling tidak kita mampu  memahami bahwasannya perlawanan melalui pengelolaan media bukanlah  perjuangan yang lebih ringan dari pada perang &lt;em&gt;khondaq&lt;/em&gt;. Karena  dengan berani menggagas perang media melawan kaum salibis berarti kita  menantang nuklirnya barat untuk diadu dengan ketapelnya umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bayangkan saja saat NBC, CNN, CBS, &lt;em&gt;Washington Post, Time&lt;/em&gt; ataupun &lt;em&gt;Newyork Times &lt;/em&gt;hingga &lt;span&gt; &lt;/span&gt;pusat berita &lt;em&gt;Reuters &lt;/em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;bergerak  dengan fokus pada penghancuran mental kaum muslimin. Maka wajib bagi  kita untuk waspada. Apakah cukup dilawan dengan beberapa lembar makalah,  bulletin dan pamflet…? Jawabannya silahkan saja bagi umat Islam untuk  berjuang semampunya. Jika memang hanya bisa dimulai dengan makalah,  bulletin ataupun sekedar pamflet, maka pasti Allah akan membantu. Bila  perlu diadakan gerakan sadar media melalui 1000 tulisan Islami, video  Islami, ataupun &lt;em&gt;blog &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; website &lt;/em&gt;Islami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4049051922333786092?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4049051922333786092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/islam-dalam-persepsi-media-barat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4049051922333786092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4049051922333786092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/islam-dalam-persepsi-media-barat.html' title='Islam Dalam Persepsi Media Barat'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VNKC5XE6XOg/TrULDH-H5EI/AAAAAAAAACc/KCYJaA8lhbE/s72-c/tv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7707680692137412194</id><published>2011-11-05T03:06:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T03:06:47.292-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;Perjuangan Yang Terlupakan&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Cxj3FwFoz48/TrUKp7sHHlI/AAAAAAAAACU/DKNjABe3gT4/s1600/perjuangan.thumbnail.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Cxj3FwFoz48/TrUKp7sHHlI/AAAAAAAAACU/DKNjABe3gT4/s1600/perjuangan.thumbnail.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://abuqalam.files.wordpress.com/2008/04/perjuangan.jpg" title="perjuangan.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;Oleh: Teguh ‘Estro’&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sejak &lt;strong&gt;Adam&lt;/strong&gt;  menggenggam butiran pasir di bumi berarti sejak itu pula kata  perjuangan dikenal. Terpisahnya Adam dan Hawa telah membuat sejarah  romantis tersendiri. Kisah perjuangan yang lebih dari kisah Romeo dan  Juliet. Perjuangan lelaki menapaki bumi hanya untuk menemukan dimana  sang isteri maneteskan air matanya. Perjuangan hamba memohon ampunan  dosa kepada Tuhannya. Bahkan perjuangan dalam memahami bagaimana hidup  di bumi untuk pertama kalinya. Walau banyak orang yang menghiraukan tapi  inilah perjuangan besar. Meskipun sekarang manusia mengagung-agungkan  cinta syahwat, tapi Adam dan Hawa menunjukkan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perjuangan cinta sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Belajar dari &lt;strong&gt;Ibrahim&lt;/strong&gt;.  Berbeda dengan Adam berbeda pula dengan Ibrahim. Beliau mati-matian  memperjuangkan tauhid sebagai agama yang hanif. Sebuah perjuangan yang  saat ini dirasa sangat berat. Berjuang dari kecaman orang tua, dibakar  tubuhnya. Bergerilya menghancurkan kemusyrikan Raja Namruz. Bahkan penuh  kesabaran mencintai Isterinya, walau Siti Sarah belum&lt;span id="more-2"&gt;&lt;/span&gt; juga berketurunan. Lagi-lagi seorang tokoh menunjukkan perjuangan hakiki itu seperti apa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hai  manusia, masihkah engkau malu untuk berjuang. Kisah Adam dan Ibrahim  menunjukkan pelajaran berharga yang kini tidak dihargai. Begitupun  ketika Yusuf berjuang menjaga auratnya. Berjuang menghindari zina yang  tinggal di depan mata.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;perjuangan terberat bagi seorang  pemuda kapanpun hingga zaman sekarang. Yusuf rela dipenjara daripada  menjadi bahan fitnah. Mencintai Zulaikha bukan karena syahwat dan nafsu,  tapi lebih karena Allah. Karena Allah. Tidakkah kita mengambil  pelajaran dari keteguhan Yusuf menjauhi zina.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Akankah dengan meraba perjuangan Muhammad kita akan tersadarkan. Muhammad telah memberikan suri tauladan terbaik, &lt;em&gt;The best nomination awards for the best man. &lt;/em&gt;Setiap&amp;nbsp;&lt;a href="http://abuqalam.files.wordpress.com/2008/11/for_masteradnan_by_proama.jpg"&gt;&lt;/a&gt;kata,  ucapan dan perilakunya sudah cukup menularkan gema dan aura perjuangan.  Berjuang merintis Islam menjadi keyakinan yang benar-benar diyakini.  Berjuang menjadi seorang &lt;strong&gt;Rosul, pemimpin Negara, panglima perang, ayah dari anak-anaknya bahkan menjadi Suami dari Isteri(-isteri) nya. &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Perjuangan  itu muncul terlepas dari mereka seorang Nabi, tapi lebih karena mereka  juga manusia. Sama seperti kita, bahkan beruntungnya kita karena  mendapatkan ujian yang jaa….uh lebih ringan daripada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Mana perjuanganmu wahai orang yang hidup di &lt;strong&gt;Akhir Zaman…?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Berjuang  untuk mencari Ilmu dan mengamalkannya, berjuang memperbaiki kualitas  ibadah. Sholat di awal waktu, berjamaah di masjid. Bertahajud pada  sepertiga malam. Berjuang menjemput ma’isyah untuk berbagi walau itu  sedikit. Berjuang mengumpulkan bekal untuk pulang ke negeri akhirat.  Hidup di akhir zaman memang penuh perjuangan. Bisakah mata tidak  bermaksiat di sepanjang jalan umum. Bisakah hati berbaik sangka terhadap  manusia apapun bentuknya, mengingat banyak kemunkaran di akhir zaman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Mungkinkah  seperti manusia kebanyakan. Ketika kecil diasuh dalam kemanjaan dan  hiburan dunia dengan melupakan pendidikan agama. Begitupun dalam  menapaki keremajaan, bergelimang nikmatnya dunia dan hiburan-hiburan  syaithon. Hingga dewasa tetap saja mengagung-agungkan dunia yang  diraihnya, menumpuk-numpuk harta. Barulah saat usia mulai senja ingat  akan ibadah. Tulang keropos sungguh sulit diajak bersujud dan menapaki  jalan malam berjamaah maghrib dan Isya’.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Selagi ingat berjuanglah……..!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7707680692137412194?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7707680692137412194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/perjuangan-yang-terlupakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7707680692137412194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7707680692137412194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/perjuangan-yang-terlupakan.html' title='Perjuangan Yang Terlupakan'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Cxj3FwFoz48/TrUKp7sHHlI/AAAAAAAAACU/DKNjABe3gT4/s72-c/perjuangan.thumbnail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4242943885396328618</id><published>2011-11-05T03:05:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:05:22.263-07:00</updated><title type='text'>Ledakan atau ‘Ledekan’…?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-A7ttCtL6GT4/TrUKQ8V1avI/AAAAAAAAACM/UiTUMhcsjeg/s1600/marriot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-A7ttCtL6GT4/TrUKQ8V1avI/AAAAAAAAACM/UiTUMhcsjeg/s1600/marriot.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;(tulisan lama)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Belum  sembuh luka korban bom di kawasan Legian, Kuta Bali 2002 silam. Pun  belum kering air mata keluarga korban bom Marriott enam tahun lalu.  Begitu juga sejumlah ledakan di depan Kedubes Australia beberapa waktu  lalu. Juga ledakan-ledakan di Poso, Aceh, Jakarta dan di wilayah  Indonesia lainnya. Lebih dari 190 kasus teror peledakan Bom dari  berbagai penjuru tanah air telah terjadi. Pelaku teroris pun tak mau  ketinggalan zaman. Mereka kian professional saja membuat ‘kejutan’ yang  meresahkan warga. Walhasil, daar..! pukul 07.45 pagi terjadi ledakan  untuk kedua kalinya di depan hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton pada 17  Juli Jumat lalu. Tentu saja publik bertanya-tanya ada apa gerangan.?  Apakah hanya karena ‘mbah Fergusson’ Cs hendak menginap di Indonesia?  Ataukah disebabkan ketidakpuasan terhadap hasil PILPRES 2009…? Ataukah  ini ulah iseng para teroris yang terus menebar ancaman?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Para penggemar &lt;i&gt;Manchester United&lt;/i&gt; (MU) di tanah air tentu begitu geram. Mimpi ingin bertemu Ronney dkk secara langsung pupus sudah. &lt;i&gt;The Dream Team&lt;/i&gt;  yang telah disusun PSSI pun pulang kampung. Tiket Stadion Gelora Bung  Karno yang habis terjual terpaksa dikembalikan lagi. Kesemuanya ini  tentu saja erat kaitannya dengan ledakan bom di Mega Kuningan tersebut.  Mungkinkah kedatangan juara &lt;i&gt;Premier League &lt;/i&gt;itu cukup  berpengaruh bagi Indonesia sehingga harus dihadang dengan bom. Ya,  mungkin saja jika nalar yang digunakan adalah MU sebagai klub yang  berbau kapitalis. Kedatangan mereka yang dinilai sebagai simbol mulai  merapatnya Indonesia pada kepentingan kapitalis. Lantas kenapa sejak  dulu Freeport, Exxon, dan Simbol kapitalis lainnya masih aman-aman saja?  Padahal perusahaan-perusahaan multinasional tersebut jelas-jelas berbau  barat. Anehnya kenapa warga pribumi yang menjadi tumbalnya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Skenario  lain berpendapat bahwa bom mega kuningan ini sebuah ekspresi kekecewaan  terhadap hasil Pilpres. Pasalnya seluruh kontestan Pilpres yang masih  berbau militer itu bukanlah tokoh yang saling ‘bersahabat’. Dan tentunya  mereka bukanlah orang yang asing akan dunia rakit-merakit bom. Apalagi  PEMILU kali ini diikuti oleh para mantan jenderal. Lokasi bom yang ada  di ibukota pun mengindikasikan setidaknya ada unsur politik di dalamnya.  Hal ini mengingat bahwa Jakarta merupakan pusat pemerintahan NKRI  dimana segala sesuatunya diukur dengan kacamata politik. Akan tetapi  analisis ini dengan mudah dibantah oleh semua kontestan Pilpres. Bahkan  tidak ada saling tuduh antar mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Pendapat yang paling &lt;i&gt;masyhur&lt;/i&gt; atas tragedi ini adalah adanya pemain lama yang –lagi-lagi- &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dihubungkan  kepada kelompok Jama’ah Islamiyah (JI). Mereka adalah pelaku atas  sejumlah aksi teror di tanah air. Sebut saja Nurdin M Top kini kembali  populer di kalangan POLRI. Buronan nomor wahid itu tak bosan-bosannya  mengusik tidur banyak orang. Dengan berdalih jihad, M. Top berhasil  melakukan &lt;i&gt;“Brain Wash”&lt;/i&gt; terhadap kader-kader militan untuk  melakukan bom bunuh diri. Uniknya, para gembong teroris ini merasa benar  sekaligus bangga atas kelakuannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hal  yang menyakitkan adalah kian terpojoknya wajah Islam dengan tuduhan  sebagai produsen kekacauan umat. tragedi bom ini seolah menutupi  bagaimana umat Islam Indonesia baru saja menyelenggarakan hajatan PEMILU  damai. Ledakan bom ini sekaligus ledekan bagi bangsa Indonesia yang  dulu sempat tersohor sebagai bangsa yang ramah-tamah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Ceritera  yang menggelikan lagi ketika pemerintah Indonesia harus menuntaskan  terorisme ini sendirian. Lihat saja bagaimana Amerika Serikat sempat  kecolongan pada 11 Sepember 2001 silam. Negeri yang selalu pamer  kekuatan militer itu &lt;span&gt; &lt;/span&gt;harus bersusah payah  menyelesaikan kasus terorisme yang tak kunjung selesai. Apalagi  Indonesia yang punya reputasi buruk di bidang pertahanan dalam negeri.  Namun akankah bangsa Indonesia hanya pasrah menunggu bom-bom berikutnya.  Setidaknya harus ada upaya pencegahan yang serius dan berelanjutan dari  POLRI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Tahap pertama adalah pemulihan &lt;i&gt;Traumatic Shyndrome &lt;/i&gt;rakyat  Indonesia terhadap lokasi-lokasi keramaian yang selalu menjadi sasaran  ledakan. Hal tersebut harus diiringi dengan jaminan keamanan yang  betul-betul &lt;i&gt;safe.&lt;/i&gt; Tujuannya bukan sekedar terapi psikologi pasca  bom semata. Namun lebih pada adanya jaminan keamanan yang bisa menunjang  sektor lainnya. Sebut saja sektor pariwisata dan ekonomi yang langsung  terkena imbasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Tahap  kedua, mulai saat ini POLRI jangan sedikitpun merasa sungkan untuk  menggandeng masyarakat menuntaskan tragedi bom Marriot ini. Kini POLRI  dan rakyat memiliki musuh bersama. Adalah mereka para pelaku bom apapun  motifnya merupakan buronan polisi sekaligus buronan rakyat. Jika  masyarakat dan aparat telah satu &lt;i&gt;frame&lt;/i&gt; maka nyaris tak ada lubang  persembunyian bagi pelaku peledakan untuk melarikan diri. Mungkin masih  ingat bagaimana peristiwa G-30S/PKI yang &lt;span&gt; &lt;/span&gt;binasa oleh kekuatan TNI (ABRI pada saat itu) yang saling berjibaku bersama rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Tahap  ketiga, eksekusi operasi penuntasan kasus teroris secara total. Mulai  dari aspek kognitif, hukum dan keagamaan hingga pada aspek  praksis-militeris. Aspek kognitif dengan pembelajaran anti terorisme  dalam pelajaran tambahan bagi pelajar. Pun dengan digagasnya UU anti  terorisme secara baku. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memainkan  kembali peran agama sebagai sumber ajaran perdamaian. Tahap selanjutnya  adalah dengan penindaklanjutan secara kontinu terhadap tragedi bom di  Indonesia, terutama JW Marriott dan Ritz Carlton.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4242943885396328618?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4242943885396328618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/ledakan-atau-ledekan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4242943885396328618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4242943885396328618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/ledakan-atau-ledekan.html' title='Ledakan atau ‘Ledekan’…?'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-A7ttCtL6GT4/TrUKQ8V1avI/AAAAAAAAACM/UiTUMhcsjeg/s72-c/marriot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2273331180542536012</id><published>2011-11-05T03:03:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:03:22.613-07:00</updated><title type='text'>Transisi Kaum Cendekia</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 16pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Dunia Kampus tak Sekedar Peralihan Pendidikan”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Oleh: Teguh Estro*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-g5SPFmMkcVQ/TrUJ5eUMJ-I/AAAAAAAAACE/YbanC3qrLPM/s1600/images+3.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-g5SPFmMkcVQ/TrUJ5eUMJ-I/AAAAAAAAACE/YbanC3qrLPM/s1600/images+3.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Bergerak  adalah keniscayaan bagi dinamisnya keadaan. Pun bagaimana perjalanan  hidup manusia sebagai insan pendidikan yang selalu bergerak. Setidaknya  anak-cucu Adam ini harus terus melakukan &lt;i&gt;move-move&lt;/i&gt; untuk menjaga  dinamisasi dirinya. Pun naik jenjang menuju kampus tiada lain sebagai  pernyataan diri sebagai insan yang dinamis. Hal ini salah satu alasan  banyak pelajar yang tertarik&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;untuk mencicipi  status mahasiswa. Karena status itu bukan sekedar peralihan dari Sekolah  menengah/madrasah menuju pendidikan tinggi saja. Ada aura peralihan,  perubahan dan perbaikan yang dahsyat di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Sejarah  mencatat tidak sedikit perubahan besar dimulai dari peralihan-peralihan  keadaan. Sebut saja perjuangan Rasulullah Saw baru terasa ‘nendang’  ketika beliau beralih (baca: hijrah) dari Makkah menuju Madinah. Hal  yang luar biasa juga terjadi pada Albert Einstein ketika ia melakukan  peralihan dari tanah &lt;i&gt;Europe &lt;/i&gt;menuju &lt;i&gt;United&lt;/i&gt; &lt;i&gt;States of America&lt;/i&gt;,  ia menjadi ilmuwan yang tak akan pernah dihapus sejarah. Hal yang  mencengangkan juga terjadi pada Jenderal Ahmad Yani saat ia mengikuti  akademi militer angkatan darat di negeri Paman Sam. Ahmad Yani muda  berhasil menjadi sosok jenderal yang luar biasa setelah peralihan  pendidikan tersebut. Singkat kata, hampir tidak ada perubahan besar  tanpa didahului peralihan-peralihan yang menentukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Dunia  kampus, dunianya kaum pendidikan yang terus bergerak, dinamis dan  beralih. Peradaban dunia mulai mengalami keemasan tidak lain karena  faktor pendidikan menjadi penunjang. Semisal kampus &lt;i&gt;al&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;Azhar&lt;/i&gt; di Mesir, kampus &lt;i&gt;oxford&lt;/i&gt; di Eropa, kampus &lt;i&gt;Nizamiyah&lt;/i&gt;  di Baghdad dan lainnya merupakan kampus bersejarah yang menjadi penentu  jalannya peradaban dunia pada masanya. Sulit untuk dibantah bahwa  pasang surut kemajuan pendidikan berimbas dengan kualitas peradaban  manusia. Itulah pendidikan dan itulah kampus. Namun kita jangan sampai  melupakan siapa aktor terpenting di dalam sebuah universitas. Merekalah  para mahasiswa yang konsisten bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kepada  mahasiswa yang dinamis jangan terkejut jika suatu saat menjadi orang  besar dalam sejarah. Hal ini karena para mahasiswa telah memasuki zona  peralihan yang sangat menentukan bernama kampus. Hal ini pernah terjadi  pada guru bangsa kita yang mengalami perubahan besar saat berkenalan  dengan dunia kampus. Bukankah Soekarno pernah hijrah dari Surabaya  menuju kampus di Bandung, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Technische Hoge School &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(sekarang  ITB). Di sana beliau banyak berdialektika dalam dunia idealisme  kebangsaan bersama mahasiswa lainnya. Bung Hatta pun belajar hingga ke  negeri bule, kampus &lt;i&gt;Handels Hoge School&lt;/i&gt; di Rotterdam, Belanda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sukarno,  Hatta dan Sutan Syahrir adalah manusia biasa, nyaris tak ada beda  dengan kita. Dan penting untuk diingat, salah satu langkah hidup mereka  adalah berhijrah menuju kampus. Namun sayang mahasiswa kini seolah  melupakan proses transisi ini. Tidak sedikit pegiat akademik yang  melangkahkan kakinya menuju kampus hanya karena tuntutan &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt;. Padahal telah dimaklumi akan posisi mahasiswa sebagai &lt;i&gt;agent of change &lt;/i&gt;(Agen perubahan)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Sebuah sematan yang lebih daripada &lt;i&gt;prestise&lt;/i&gt;  semata. Agen perubahan adalah amanah mahasiswa terhadap bangsa ini.  Hingga tidak heran jika keberadaan mahasiswa sebagai aktor intelektual  senantiasa ditunggu-tunggu kontribusinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;B. Amr bin Luhay Berhijrah Untuk Kesesatan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pemimpin Bani Khuza’ah yang suka berbuat bajik, rajin bershadaqah, singkat kata dia adalah &lt;i&gt;kiayi &lt;/i&gt;nya  bangsa arab pada masanya (masa sebelum nabi). Ketika Amr bin Luhay  mengadakan perjalanan ke Syam, ia melihat penduduk Syam menyembah  berhala sebagai kebiasaan di negeri para Rasul itu. Kesimpulannya ia  memutuskan menyembah berhala adalah kebaikan. Parahnya kultur tersebut  ditransfer juga ke tanah Mekah. Hingga muncul berhala Hubal, Latta dan  Uzza di sekeliling Ka’bah. Masyarakat Mekah pun hanya ‘manut’ saja pada  sang &lt;i&gt;kiayi.&lt;/i&gt; Sungguh keluguan Amr bin Luhay saat melakukan perjalanan menjadi penyebab malapetaka di Mekkah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Amr  bin Luhay mungkin telah lama tiada, namun keluguannya masih terwarisis  di zaman sekarang. Tidak sedikit pelajar dari daerah yang datang ke  Yogyakarta membawa keluguannya. Pelajar lugu ini pun melihat hal baru  yang berbau modern (baca:pemikiran liberal) sebagai hal yang biasa.  Hingga akhirnya kultur tersebut mereka bawa ke kampungnya dan  menghipnotis masyarakat menjadi liberal. Tidak sedikit lulusan mahasiswa  yang berdebat usil dengan ustadz dan kiayi di kampung hanya karena  guru-gurunya tersebut dianggap kolot dan tidak modern. &lt;i&gt;Na’udzubillah…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="height: 28px; left: -1px; position: relative; top: 26px; width: 202px; z-index: 251658240;"&gt;&lt;img height="2" src="file:///C:/DOCUME%7E1/mynet18/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="202" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;*Penulis  adalah Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pemuda Rohis  asal SUMSEL ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Partai PAS wilayah  Fakultas Dakwah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2273331180542536012?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2273331180542536012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/transisi-kaum-cendekia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2273331180542536012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2273331180542536012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/transisi-kaum-cendekia.html' title='Transisi Kaum Cendekia'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-g5SPFmMkcVQ/TrUJ5eUMJ-I/AAAAAAAAACE/YbanC3qrLPM/s72-c/images+3.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-5441604940230344933</id><published>2011-11-05T03:01:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:01:05.440-07:00</updated><title type='text'>Menimbang-nimbang KPK</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-WFvIbN8VpvI/TrUJW2tjsnI/AAAAAAAAAB8/Gs2njV43yQ0/s1600/307730_1830605703790_1799814136_1252873_459436247_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-WFvIbN8VpvI/TrUJW2tjsnI/AAAAAAAAAB8/Gs2njV43yQ0/s1600/307730_1830605703790_1799814136_1252873_459436247_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Indonesia negeri sejuta mitos. Masyarakat nusantara sudah lama  terdoktrin dengan legenda-legenda manusia sakti. Seolah-olah problem di  dunia ini akan selesai dengan sendirinya seiring munculnya sang  pahlawan. Sebut saja legenda Arjuna, &lt;strong&gt;sang ‘ratu adil’&lt;/strong&gt;,  bahkan sampai kesaktian ‘si pitung’ yang kebal peluru. Masih banyak lagi  sosok ‘manusia langit’ yang dipercaya akan turun menuntaskan kegalauan  bangsa ini. Mau bagaimana lagi, inilah watak masyarakat kita. Mereka  begitu mudah mendewa-dewakan sosok yang dianggap penyelamat bangsa ini.  Dan celakanya hal demikian dilakukan secara membabi-buta dengan  ‘pemujaan’ seratus persen. seolah siapapun yang mampu menyelesaikan  polemik bangsa, maka ia layak dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salah satu  persoalan bangsa yang tak pernah berujung yakni korupsi. Wabah penyakit  korupsi kian mengakar di negeri ini. Tak perlu menyalahkan pemerintah,  praktek korup kecil-kecilan saja sudah menjadi habit di masyarakat &lt;em&gt;grashroot&lt;/em&gt;.  Sehingga jangan heran jika munculnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  membuat masyarakat heran. Seolah ada hal baru yang diluar kebiasaan  sehari-hari. Apalagi saat pimpinan KPK &lt;em&gt;dicekel&lt;/em&gt; oleh Antasari  Azhar, ia meringkus pejabat-pejabat besar tanpa takut. Kejadian tersebut  membuat masyarakat kian percaya bahwa institusi yang kini dipimpin pak  Busyro adalah harapan. Dan lagi-lagi dukungan yang berlebihan langsung  diarahkan pada KPK ‘sang penyelamat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah benar KPK adalah sang ratu adil seperti yang dikatakan mitos.&lt;/strong&gt; Atau jangan-jangan hanyalah institusi yang dirancang untuk menjatuhkan saingan politik para elit. Telah menjadi &lt;em&gt;jumhur&lt;/em&gt; aktivis, bahwa oknum yang mengisi tubuh KPK juga tak lain ‘penyamun’. Layakkah institusi ini dipercaya untuk &lt;em&gt;menggebuk&lt;/em&gt; maling-maling kelas kakap. Maka dari itu perlu kiranya menggunakan timbangan &lt;em&gt;maslahat&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Mafsadat&lt;/em&gt;. Bukanlah dengan pertimbangan manusia sakti atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam kaidah fiqh disebutkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;daf’ul mafasidu muqaddamu ‘ala jalbu almashalih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.  Artinya menolak mafsadat jauh lebih diutamakan tinimbang melakukan  maslahat. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan fungsi KPK sebagai  pemberantas korupsi. Maka ia bisa dikategorikan sebagai &lt;em&gt;daafi’ul mafasid&lt;/em&gt;.  Apalagi lembaga yang berusia Sembilan tahun ini berani mengungkapkan  kasus-kasus besar yang tidak pernah dilakukan oleh institusi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  di sisi lain, institusi kepolisian dan kejaksaan yang dianggap gagal  kian terkerdilkan. Sehingga sistem ketata-negaraan di negeri ini kian  tidak sehat jika kedua institusi tersebut lumpuh. Maka, dengan  pembubaran KPK juga memberikan maslahat pada sistem demokrasi bangsa  ini. Bukankah sistem demokrasi akan lebih sehat jika pemberantasan  korupsi diemban ‘lagi’ oleh institusi kepolisian dan kejaksaan. Apalagi  mereka memiliki cabang hingga ke kabupaten-kota. Tentu akan lebih  efektif dalam penuntasan korupsi hingga ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  dua hal yang harus dipilh dalam hal ini. Antara mendesaknya agenda  pemberantasan korupsi di negeri ini. Ataukah mengutamakan kesehatan  ketata-negaraan dengan pembubaran KPK. Tentu saja jika kita melihat dua  pilihan tersebut, ia sama-sama memiliki kemaslahatan. Sehingga kita bisa  melakukan &lt;em&gt;i&lt;strong&gt;khtiyar al-ashlah min al ashlah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Artinya kita mengambil yang lebih bermaslahat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis dalam hal ini lebih memilih mendukung KPK untuk terus memberantas korupsi.&lt;/strong&gt; Karena perannya yang urgen dalam menegakkan salah satu &lt;em&gt;maqashidu asy-Syari’ah&lt;/em&gt; yakni &lt;em&gt;hifzhul mal&lt;/em&gt;.  Saat ini memang lembaga pimpinan pak busyro ini tengah menjalani  hambatan yang rumit. Mulai dari masalah SDM hingga persoalan koordinasi  antar institusi penegak hukum yang pelik. Dalam hal ini terdapat kaidah  fiqh yang bisa kita ambil.&lt;em&gt;&lt;strong&gt; “Ma laa yudroku kulluhu laa yutroku kulluhu.” &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Artinya apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan  tetapi bukan berarti kepolisian dan kejaksaan dikerdilkan begitu saja.  KPK justru harus berbagi peran terhadap kasus-kasus yang ada. Semisal  kasus-kasus kecil diserahkan pada kejaksaan dan kepolisian sedangkan  kasus-kasus besar dituntaskan oleh KPK. Skandal Bank Century, wisma  atlet atau kasus MENAKERTRANS, tentu saja menjadi tugas utama KPK.  Sedangkan kasus-kasus di eselon rendah hingga ke daerah kabupaten-kota  diselesaikan oleh kepolisian dan kejaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPK,  Kepolisian dan Kejaksaan bukanlah saling hantam. Akan tetapi mereka  saling bersinergi. Bahkan ketiga lembaga ini kudu disupport oleh APBN.  Sebagaimana Umar bin Khatab mengatakan bahwa salah satu orang yang  berhak menerima harta adalah &lt;em&gt;ar-rajulu wa ghina’uhu&lt;/em&gt;. Yakni siapapun yang karena kegunaannya, ia berhak mendapatkan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis bukan penulis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-5441604940230344933?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/5441604940230344933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/menimbang-nimbang-kpk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5441604940230344933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/5441604940230344933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/menimbang-nimbang-kpk.html' title='Menimbang-nimbang KPK'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WFvIbN8VpvI/TrUJW2tjsnI/AAAAAAAAAB8/Gs2njV43yQ0/s72-c/307730_1830605703790_1799814136_1252873_459436247_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7289924826407697813</id><published>2011-11-05T02:48:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:48:35.184-07:00</updated><title type='text'>Lupakan Khadafi, Back to Indonesia</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GdfNsVF1ulI/TrUGZag7WYI/AAAAAAAAAB0/BH8Kno3ipwI/s1600/188770_1466809649116_1799814136_877493_7984731_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://1.bp.blogspot.com/-GdfNsVF1ulI/TrUGZag7WYI/AAAAAAAAAB0/BH8Kno3ipwI/s320/188770_1466809649116_1799814136_877493_7984731_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak panasnya krisis Libya, masyarakat dunia seolah asyik  menyaksikan seteru militer antara sekutu dan pasukan Khadafi. Pakar  militer hingga pengamat ekonomi mendadak didengar pendapatnya di  berbagai media massa. Bahkan obrolan-obrolan di &lt;em&gt;angkringan&lt;/em&gt; pun&lt;em&gt; &lt;/em&gt;tak jauh-jauh dari &lt;em&gt;ngomongin&lt;/em&gt; perang di Libya. Segala informasi mengenai prajurit jebolan &lt;strong&gt;Akademi Militer Benghazi&lt;/strong&gt;  itu pun ramai diperbincangkan. Mulai dari kekayaannya, isteri simpanan  hingga sopir pribadinya pun menarik perhatian publik. Hingga akhirnya  kini masyarakat Indonesia sudah berlagak lupa dengan kondisi baangsanya  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salah satu hal aneh di negeri ini  adalah kegemaran menghanyutkan diri pada isu-isu populis saja. Padahal  pembangunan nasional harus berbasis realitas di masyarakat. Bayangkan  saja, belakangan ini Indonesia telah mengimpor ikan asin dari Cina. &lt;em&gt;Gemblung, &lt;/em&gt;panganan  yang harusnya melimpah di perairan nusantara justru harus membeli dari  luar. Sungguh kasihan pedagang ikan asin lokal. Namun kini masyarakat  tidak akan mau tahu perkara ikan asin. Karena hal tersebut tidak ada  hubungannya dengan Libya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Masihkah bangsa ini  mau bercerita mengenai korban lumpur Lapindo? Pada tahun 2011 ini  perusahaan Lapindo Brantas Inc berencana akan melakukan pengeboran lagi  di 7 titik wilayah Sidoharjo. Bukankah biaya ganti rugi terhadap  perumahan warga yang terendam lumpur belumlah usai, eh sekarang mau  ngebor lagi. Wajar saja jika pennduduk lokal yang masih trauma menjadi  gerah. Khususnya warga Kalidawir kecamatan Tanggulangin menolak keras  pengeboran itu. Lantaran mereka trauma atas banjir lumpur yang kini  masih ierasa. namun apa boleh buat, lantaran masyarakat Sidoharjo  bukanlah siapa-siapa nya Khadafi, jadi tak akan ada yang peduli .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Pembantaian pemerintahan libya atas rakyatnya sendiri memang sungguh  biadab. Siapapun akan merinding mendengarnya. Begitupun ketegangan saat  terjadi perang antara pasukan Khadafi versus tentara sekutu. Yah,  seperti main &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; saja jika menontonnya. Namun simpati,  empati dan kepedulian itu tiba-tiba hilang saat diajak melihat korban  sekitar Gunung merapi. Khususnya daerah kecamatan Salam, Magelang yang  selalu dilewati banjir lahar dingin. Sejenak lupakan dulu Khadafi dan  melihat kondisi korban Merapi. Apakah &lt;em&gt;mergo&lt;/em&gt; Magelang bukanlah salah satu kota di Libya, maka tidak ada pentingnya….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7289924826407697813?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7289924826407697813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/lupakan-khadafi-back-to-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7289924826407697813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7289924826407697813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/lupakan-khadafi-back-to-indonesia.html' title='Lupakan Khadafi, Back to Indonesia'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GdfNsVF1ulI/TrUGZag7WYI/AAAAAAAAAB0/BH8Kno3ipwI/s72-c/188770_1466809649116_1799814136_877493_7984731_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2684031620366803857</id><published>2011-11-05T02:46:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:46:50.658-07:00</updated><title type='text'>Nonton Berita TV, Sempitkan Pandangan</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RoAgYEPj-Ms/TrUF54W2GWI/AAAAAAAAABs/mtVGuleXsU0/s1600/183319_1429502596463_1799814136_825809_2043738_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-RoAgYEPj-Ms/TrUF54W2GWI/AAAAAAAAABs/mtVGuleXsU0/s320/183319_1429502596463_1799814136_825809_2043738_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Soekarno mungkin dulu sempat di sebut-sebut sebagai guru bangsa  paling berpengaruh di Indonesia. Ketika beliau orasi, semua pendengar  tertegun dan terkesima. Setiap ia berkata, maka mulai dari pejabat  hingga &lt;i&gt;wong cilik &lt;/i&gt;meng-iya-kan saja. &lt;b&gt;Namun, kini  Soekarno telah redup pengaruhnya sebagai guru bangsa. Pasalnya di era  informasi ini, justru televisilah yang menjadi guru bangsa terbesar dan  paling berpengaruh di Indonesia.&lt;/b&gt; Lihat saja, sejak jam 6 pagi  masyarakat Indonesia telah dicekoki dengan informasi-informasi dari  siaran berita. Mulai dari penculikan, kebakaran, kerusuhan, pemerkosaan  hingga sambutan-sambutan pejabat negara. &lt;b&gt;Dan lucunya sang penonton hanya &lt;i&gt;melongo&lt;/i&gt; saja sambil manggut-manggut mengiyakan isi beritanya.&lt;/b&gt; Begitupun pada siang harinya, sore, hingga malam hari, bangsa ini kembali disuguhi informasi-informasi dari &lt;i&gt;chanel&lt;/i&gt; TV yang cuma itu-itu saja.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suguhan informasi yang ditayangkan tanpa jeda akan membuat penonton kehilangan daya analisisnya. &lt;b&gt;Bayangkan saja belum sempat penonton menganalisis berita yang satu, telah muncul lagi berita lainnya. &lt;/b&gt;Padahal  tidak sedikit berita-berita yang disampaiakan adalah tayangan  kontroversial. Dan dikarenakan penayangannya terlalu cepat, maka  terpaksa penonton mengambil kesimpulan yang telah diarahkan oleh redaksi  berita. &lt;b&gt;Sehingga wajar jika otak manusia yang terbiasa menonton berita TV cenderung lambat dalam menganalisis informasi.&lt;/b&gt;  Tumpulnya sifat kritis ini menyebabkan para penggemar berita televisi  terjebak pada sempitnya pandangan. Ia cenderung hanya memiliki cara  pandangan persis seperti apa yang disampaikan sang pembawa berita. &lt;b&gt;Apalagi kita ketahui bersama bahwa hampir setiap siaran berita merupakan ‘berita titipan’ dari para pemilik industri televisi. &lt;/b&gt;Mereka&lt;b&gt; ‘nitip’ &lt;/b&gt;pemberitaan  yang menguntungkan partainya, ormasnya dan&amp;nbsp; kepentingannya. Dan  akhirnya lengkap sudah kejumudan orang-orang yang mengais informasi  hanya dari televisi saja.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tradisi menonton berita dari  televisi sebenarnya tidaklah sepenuhnya salah. Karena mau tidak mau di  era globalisasi ini manusia haus akan informasi. &lt;b&gt;Namun yang terpenting adalah jangan sampai kita mengambil kesimpulan akhir tepat satu detik setelah berita selesai.&lt;/b&gt; Apalagi jika menonton berita dari TV justru melupakan tradisi berdiskusi antar sesama. &lt;b&gt;Karena berdialog dan berdiskusi bisa menambah referensi cara pandang terhadap suatu masalah. &lt;/b&gt;Sehingga  masyarakat tidak jumud pada persoalan bangsa. Dan masyarakat tidak  gampang terprovokasi pada berita-berita kontroversial seperti belakangan  ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sudah saatnya masyarakat, apalagi mahasiswa bisa  memfungsikan berita TV bukan sebagai sumber utama, namun sebagai  referensi pembantu saja. Karena sangat berbeda dengan berita jika  tersampaikan melalui media cetak. &lt;b&gt;Pada media cetak, pembaca bisa berkesempatan menganalisis berita secara mendalam.&lt;/b&gt; Karena teks berita terpampang di hadapannya secara komplit dan bisa dibaca berulang-ulang sembari berdiskusi dengan teman. &lt;b&gt;Dan alangkah lebih baiknya jika para pecandu berita TV bisa memiliki forum-forum diskusi baik di angkringan maupun di &lt;i&gt;millis&lt;/i&gt; dunia maya.&lt;/b&gt; Harapannya agar penyakit ‘sempit pandangan’ masyarakat Indonesia bisa terobati perlahan-lahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2684031620366803857?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2684031620366803857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/nonton-berita-tv-sempitkan-pandangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2684031620366803857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2684031620366803857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/nonton-berita-tv-sempitkan-pandangan.html' title='Nonton Berita TV, Sempitkan Pandangan'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RoAgYEPj-Ms/TrUF54W2GWI/AAAAAAAAABs/mtVGuleXsU0/s72-c/183319_1429502596463_1799814136_825809_2043738_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-3159691373752161791</id><published>2011-11-05T02:44:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:44:15.697-07:00</updated><title type='text'>Televisi dan Pembodohan Massal</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PNIaH33Mre8/TrUFak1fIII/AAAAAAAAABk/IznOPox3rA4/s1600/183622_1425204889023_1799814136_819345_7181698_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-PNIaH33Mre8/TrUFak1fIII/AAAAAAAAABk/IznOPox3rA4/s1600/183622_1425204889023_1799814136_819345_7181698_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka kini televisi telah menjadi &lt;strong&gt;‘monster’ yang membahayakan.&lt;/strong&gt; Sajian tontonan yang tersaji kian menyesatkan alam bawah sadar pemirsa. Ada banyak efek negatif televisi yang bisa &lt;strong&gt;membuat penonton ‘lumpuh’ otaknya.&lt;/strong&gt; Mulai dari otak kanan, otak kiri hingga otak reptil manusia. Jika kelumpuhan tersebut telah akut maka bisa &lt;strong&gt;mempengaruhi perilaku yang menyimpang.&lt;/strong&gt;  Dan di sisi lain televisi juga telah menebar ancaman sebuah budaya baru  bagi peradaban manusia. Maka dari itu bisa dikatakan hadirnya &lt;strong&gt;televisi adalah kejahatan yang bersifat laten.&lt;/strong&gt; Hampir di semua program yang ada di televisi memiliki tehnik sendiri dalam &lt;strong&gt;mempengaruhi alam bawah sadar manusia.&lt;/strong&gt; Mulai dari pengaturan artis yang tampil, manajemen jam tayang hingga metode penyampaian pesan yang bersifat &lt;em&gt;brain destroy.&lt;/em&gt; Pertanyaanya adakah konspirasi di balik penyetingan agenda media ini…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Baiklah, coba kita mulai dari yang paling mendesak untuk dijelaskan.  Memang secara fisik televisi terlihat hanya menyajikan suara dan gambar  yang bergerak saja. Dan kesemuanya tampak normal-normal saja tanpa ada  sesuatu yang harus dicurigai. Namun hati-hatilah, ada satu hal yang  terlupakan yang menjadi datangnya marabahaya. Bahwasannya suara dan  gambar yang tersajikan tersebut tertangkap oleh indra manusia. antara  lain indera penglihatan dan indera pendengaran yang memiliki hubungan  kepada otak melalui jaringan saraf. Dan perlu diketahui bahwa &lt;strong&gt;otak manusia adalah perekam memori yang paling ‘lugu’.&lt;/strong&gt; Sehingga seberapapun informasi yang masuk, akan tertampung tanpa filter.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Jaringan saraf mampu menghantarkan pesan suara dan gambar dari televisi  menuju otak dengan begitu cepat dibawah hitungan detik. Sehingga hampir  mustahil otak manusia bisa memfilter pesan yang datang begitu cepat.  Masalahnya bagaimana jika pesan yang diterima berupa tayangan buruk. &lt;strong&gt;Dan jujur saja, saat ini &lt;em&gt;messages&lt;/em&gt; yang tertampilkan dari TV hampir kesemuanya dalam status ‘WASPADA’ lantaran berdampak negatif.&lt;/strong&gt; Bayangkan saja jika tayangan buruk di televisi muncul dalam waktu yang lama dan terus-menerus. &lt;strong&gt;Sehingga wajar jika alam bawah sadar manusia menganggap ‘Lazim’ norma yang menyimpang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;Begitu  banyak program televisi yang bisa kita amati. Semisal program sinetron  yang sangat memprihatinkan. Hampir semua sinema di Indonesia memiliki  alur cerita yang mirip-mirip dan sangat kacangan alias &lt;em&gt;ora&lt;/em&gt; &lt;em&gt;mutu&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;Dan tampaknya sengaja memang diulang-ulang sampai penonton hafal ceritanya.&lt;/strong&gt; Kesengajaan ini bukanlah tidak memiliki tujuan. &lt;strong&gt;Tidak lain kesemuanya bermaksud untuk penanaman nilai baru di kalangan masyarakat.&lt;/strong&gt;  Tidakkah kita sadar, kenapa sinetron-sinetron selalu menampilkan gadis  seksi nan glamour. Entah dia berperan sebagai antagonis maupun  protogonis. &lt;strong&gt;Begitu juga kenapa setting ceritanya kebanyakan di  rumah mewah. Dan dalam alur ceritanya seolah disetting agar sering  muncul percek-cokan mulut, perkataan kasar dalam keluarga. Bahkan  seorang anak kecil yang membentak orang tua seolah biasa dalam sinetron.&lt;/strong&gt;  Nah, hal itulah yang dimaksudkan dengan penanaman nilai baru di  masyarakat. Karena dilakukan secara perlahan dan terus-menerus, wajar  saja bila banyak pemirsa yang tak sadar telah termakan racun TV.  Seandainya gejala semacam ini hanya ada dalam satu sinetron saja maka  itu bisa masih bisa diatasi. &lt;strong&gt;Namun anehnya hampir di semua &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; Televisi menawarkan sinetron-sinetron ‘jahat’&lt;/strong&gt;.  Harapannya dengan&amp;nbsp; pengulangan sinetron-sinetron ‘jahat’ itu masyarkat  bisa mentolerir penyimpangan. Lihat saja saat ini para wanita muda  berpakaian minim bukan lagi hal yang tabu. Bahkan para orang tua zaman  sekarang sudah hilang kepekaannya terhadap perilaku tersebut. Atau  jangan-jangan para orang tua pun telah menjadi korban televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Sinetron-sinetron ‘jahat’ juga telah mengkampanyekan budaya syahwat  secara perlahan. Berawal sejak menentukan tokoh protagonis (tokoh/peran  sbg org baik). &lt;strong&gt;Tampaknya terdapat unsur kesengajaan dalam mengambil peran protogonis dari artis yang berlabel ‘artis panas’.&lt;/strong&gt; Sebut saja Dewi persik, Julia perez, Cinta laura ataupun Luna maya. Tujuannya adalah agar mereka menjadi idola&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&amp;nbsp;baru yang layak dijadikan panutan. &lt;strong&gt;Sehingga sejelek apapun perilaku sang idola di luar layar bisa dijadikan gaya hidup baru untuk diikuti.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bersambung……..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-3159691373752161791?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/3159691373752161791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/televisi-dan-pembodohan-massal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3159691373752161791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3159691373752161791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/televisi-dan-pembodohan-massal.html' title='Televisi dan Pembodohan Massal'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PNIaH33Mre8/TrUFak1fIII/AAAAAAAAABk/IznOPox3rA4/s72-c/183622_1425204889023_1799814136_819345_7181698_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-9172512799033050449</id><published>2011-11-05T02:42:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:44:41.508-07:00</updated><title type='text'>Pelajaran Sejarah Dihapus Saja</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CO64MCJmBJY/TrUE47eZxlI/AAAAAAAAABc/TPilR3w8NnQ/s1600/180786_1408463990511_1799814136_792008_3659340_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://4.bp.blogspot.com/-CO64MCJmBJY/TrUE47eZxlI/AAAAAAAAABc/TPilR3w8NnQ/s320/180786_1408463990511_1799814136_792008_3659340_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Betapa muaknya para siswa tatkala bel berbunyi dan memasuki pelajaran sejarah di kelas. Pasalnya mereka &lt;i&gt;kudu&lt;/i&gt;  mencatat dan menghapal kejadian di masa lalu yang tidak tahu apakah  dulu benar-benar pernah terjadi. Belum lagi harus mengingat semua  tanggal dan tahun setiap peristiwa yang membosankan tersebut. Bukan itu  saja catatan buku sejarah yang tebal itu setiap tahunnya pasti akan  bertambah jumlah peristiwanya. Dan lengkap sudah kejenuhan para siswa  saat bertemu dengan guru sejarah yang selalu ‘ceramah’ dan mebosankan. &lt;b&gt;Maka patutlah dipertanyakan untuk apa mata pelajaran sejarah tetap dipertahankan. Segera hapus saja,&lt;/b&gt; daripada menambah beban anak didik di dunia sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Bung Karno pernah berpesan “JAS MERAH”, jangan sekali-kali melupakan  sejarah. Pesan sang proklamator ini sangat layak untuk digali. Idealnya  dengan mempelajari sejarah, seorang manusia mampu mengambil pelajaran  yang melimpah dari kejayaan bangsa di masa lalu. Sekaligus bisa  mengambil pelajaran agar tidak tergelincir dua kali dalam kekeliruan  umat manusia di masa lalu. &lt;b&gt;Namun &lt;i&gt;jebule &lt;/i&gt;pelajaran sejarah hanya terjebak pada hafalan &lt;i&gt;ansich&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt;  Semisal dalam pembahasan sejarah perang kemerdekaan. Siswa dipaksa  menghafal nama-nama lokasi peperangan, tanggal, tahun, nama jenderal  belanda, jumlah prajurit sampai jumlah korban perang. Lantas untuk apa  menghafal itu semua? Contoh lain dalam pembahasan sejarah Perang Dunia.  Mau tidak mau, siswa terpaksa menghafal lagi nama-nama perjanjian,  lokasi peperangan, jumlah negara, hingga tokoh-tokoh peperangan beserta  gelar-gelarnya. Dan bisa dijamin setelah ujian selesai, maka hafalan  akan musnah begitu saja. &lt;b&gt;Maka yang patut dipertanyakan apa manfaat belajar sejarah bagi anak bangsa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Sejarah hidup manusia bukanlah sekedar kumpulan tulisan yang hanya  berguna menjelang ujian nasional saja. Jejak rekam seseorang, apalagi  dia tokoh besar tentu bisa menjadi inspirasi bagi insan lainnya.  Seumpama jenderal Sudirman yang menjadi inspirasi bagi banyak pahlawan  lainnya. &lt;b&gt;Maka yang harus dipelajari adalah motivasi dahsyat apa  yang ada di dada seorang ‘Sudirman’ hingga ia berjuang begitu gigih.  Seorang pemuda &lt;i&gt;cengkring&lt;/i&gt; namun punya keberanian dan kecerdasan  strategi perang yang hebat. walau hidup dalam pesakitan hingga akhir  hayatnya, namun jiwa pengorbanannya tetap menggelora.&lt;/b&gt; Dan tahap  selanjutnya mampukah pemuda di zaman sekarang meminjam semangat dari  seorang ‘Dirman Muda’ di masa lalu. Toh, secara fisik, kita dan beliau  tidaklah berbeda. Justru pemuda di zaman sekarang jauh lebih sehat dan  bugar dibandingkan Jenderal Sudirman. Sudahkah kita ‘menyumbangkan’  keringat dan darah pengorbanan bagi bangsa ini seperti beliau dulu?  Sudahkah kita berjuang untuk negara ini hingga tubuh kurus kering dan  sakit-sakitan? Idealnya dengan membaca lembaran sejarah hidup seorang  tokoh sehebat Sudirman mampu membakar semangat kebangsaan kita. Namun  realitanya para anak didik justru muntah dengan &lt;b&gt;bertumpuknya  hafalan-hafalan tentang Sudirman. Siapa bapaknya, ibunya dimana  lahirnya, siapa pacarnya, dan hafalan-hafalan konyol lainnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Haruskah tradisi pelajaran sejarah terus identik dengan pelajaran  membosankan. Jangan sampai generasi yang akan datang mengeluhkan hal  yang serupa. Sudah saatnya meletakkan sejarah pada tempatnya di dalam  dunia pendidikan. &lt;b&gt;Penulis sangat merindukan adanya ekstrakulikuler di sekolah-sekolah yang konsen membedah hikmah di balik sejarah umat manusia.&lt;/b&gt;  Bukan hanya itu hingga dilakukan penelitian tentang kebenaran teks-teks  tertulis yang telah berbentuk buku pelajaran sejarah saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seorang penngajar sejarah juga begitu &lt;i&gt;urgent&lt;/i&gt; untuk disoroti. Bagaimana mungkin seorang siswa bisa bersemangat belajar sejarah jika pengajarnya begitu konservatif. &lt;b&gt;Terkadang  tugas seorang guru sejarah hanyalah datang mengabsen kelas, lantas  memberikan catatan berlembar-lembar, lalu mengerjakan Lembar Kerja Siswa  (LKS) dan selesai pulang.&lt;/b&gt; para siswa tidak diberikan  kesempatan untuk berpikir “kenapa kami harus mempelajari ini..?” dan  tehnik yang disampaikanpun lagi-lagi hanya ‘parade ceramah’ di depan  siswa. Sudah saatnya seorang guru mampu menjelaskan kenapa harus  menengok sejarah sebagai mata pelajaran penting. Bagaimana seorang guru  mampu mentransformasikan semangat pelaku sejarah di masa lalu dan  ditularkan dalam konteks kekinian. &lt;b&gt;Pun berkaitan metode pengajaran, sudah saatnya digunakan metode selain ‘ceramah’ dan Hafalan.&lt;/b&gt;  Bisa dengan melakukan studi tokoh, study tour ke museum dan&amp;nbsp; masih  banyak lagi. Setidaknya menampilkan kesan bahwa di balik lembaran kertas  sejarah, terdapat pelajaran hidup yang beragam hikmahnya. Selamat  mengajar sejarah…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-9172512799033050449?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/9172512799033050449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-betapa-muaknya-para.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/9172512799033050449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/9172512799033050449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-betapa-muaknya-para.html' title='Pelajaran Sejarah Dihapus Saja'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CO64MCJmBJY/TrUE47eZxlI/AAAAAAAAABc/TPilR3w8NnQ/s72-c/180786_1408463990511_1799814136_792008_3659340_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7056164799549432578</id><published>2011-11-05T02:39:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T02:40:20.249-07:00</updated><title type='text'>Kembalikan Musik Pada 'Khittoh'nya</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KynI-uO3NXY/TrUEVYp2DEI/AAAAAAAAABU/XssZtlB00wY/s1600/165770_1404362047965_1799814136_785586_6101857_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-KynI-uO3NXY/TrUEVYp2DEI/AAAAAAAAABU/XssZtlB00wY/s320/165770_1404362047965_1799814136_785586_6101857_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari, jagad musik Indonesia terus bermunculan lagu-lagu baru. Bukan hanya itu band-band &lt;i&gt;anyar&lt;/i&gt;  pun kian ramai ‘nampang’ di televisi. Belum selesai menikmati lagu  cinta, muncul lagu rindu kemudian disusul lagi lagu-lagu patah hati. Ada  yang berteriak penuh semangat mengajak ‘bercinta’ lewat lagunya. Ada  juga yang sedih mengajak ‘bunuh diri’ lewat musiknya. Bahkan kini  popular &lt;i&gt;hits &lt;/i&gt;yang “&lt;b&gt;Baru Kenalan, Langsung Ngajak Tidur&lt;/b&gt;”. Begitu asyiknya sampai-sampai anak kecilpun dengan bangga melafadzkan istilah “&lt;b&gt;Cinta Satu Malam&lt;/b&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Dunia tarik suara memang menjanjikan ketersohoran yang menggiurkan.  Siapa saja asal cantik, seksi dan bisa mengeluarkan suara maka bisa saja  melejit menjadi penyanyi papan atas. Karena belakangan ini kualitas  suara bisa dikatakan telah ternomorduakan. Bagaimana tidak terkenal,  jika penyanyi sudah mulai berani tampil ‘buka-bukaan’ ditambah goyangan  pinggul nan &lt;i&gt;asoy&lt;/i&gt; dan suara sedikit mendesah-basah. Dan parahnya lagu yang dibawakan pun tidak jauh-jauh dari penampilannya. Terkadang lagu ‘&lt;b&gt;Belah Duren&lt;/b&gt;’, ‘&lt;b&gt;Keong Racun&lt;/b&gt;’ hingga ‘&lt;b&gt;Mahluk Tuhan Paling Seksi&lt;/b&gt;’. Dan para balita hingga tetua hanya asyik menikmati di layar kaca tanpa merasa berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Adakalanya saat bulan ramadhan datang, lagu-lagu religius &lt;i&gt;berjubel&lt;/i&gt;  di mana-mana. Dan stempel lagu religi begitu mudahnya didapatkan.  Asalkan sudah disisipi kata ‘Tuhan’, ‘Tobat’ atau ‘Doa’ maka dengan  gampangnya disejajarkan dengan sebutan musik religi. Entah penyanyinya  siapa, liriknya seperti apa dan videonya berbentuk apa, yang penting  religi dan laris di pasaran. Dan ketika bulan suci selesai, maka kembali  lagi pada tradisi lama. Ya, kalau tidak lagu cinta mungkin lagu rindu,  patah hati, sakit hati hingga sakit gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  fenomena ini berawal dari satu ideologi, yakni ideologi kapitalis para  musisi. Mereka hanya mencari untung semata, popularitas dan kesenangan.  Para pencipta lagu tak sedikitpun terbesit, bahwasannya lagu tersebut  ditujukan untuk membentuk karakter pribadi bangsa. Maka yang dijadikan  taruhannya adalah watak pribadi masyarakat Indonesia sendiri. Jika  seharian pelajar &amp;nbsp;dijejali dengan lagu-lagu ‘cengeng’ putus cinta, maka  rusaklah generasi bangsa. Belum lagi para balita yang kian mahir  menyanyi dan berjoget ala trio macan. Suram sudah harapan bangsa ini  karena para penyair sudah ikut meracuni anak negeri. Prinsipnya adalah  lagu bisa laris dan digemari banyak fans. Ujung-ujungnya biaya sponsor  untuk manggung meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kata berikutnya  adalah ideologi hedonisme yang ditularkan para musisi. Gaya hidup penuh  pernak-pernik mewah. Pun demikian dengan pergaulan yang bebas. Begitu  juga dengan dunia gemerlap sudah menjadi jajanan harian para penyanyi.  Sebuah grup band tentu akan menjadi panutan ratusan bahkan jutaan fans  nya. Gaya rambut baru, model pakaian, hingga gaya bicaranya pun diikuti  semua. Ternyata selain melantunkan syair nan indah, musisi juga  mengajarkan gaya hidup kepada bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Ideologi berikutnya yakni pesimisme yang disuntikkan melalui lagu-lagu  ‘cengeng’nya. Hampir semua lagu yang dibawakan membawa kisah yang sama.  Seorang yang jatuh cinta hingga tergila-gila setiap harinya. Adalagi  cerita seorang yang cemburu buta dengan kekasihnya yang kawin tiga.  Bahkan mengisahkan seorang yang hidupnya hancur lantaran patah hati  dikhianati bla bla bla. Walaupun dibungkus dengan lirik yang  berbeda-beda tetap saja isinya itu-itu juga.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dunia  musik idealnya bukanlah sekedar hiburan semata. Semisal lirik lagu yang  disampaikan olah bang haji Roma Irama. Hampir sebagian besar lirik  lagunya adalah karya hebat untuk membentuk pribadi yang baik. Sebut saja  lagu ‘&lt;b&gt;Judi&lt;/b&gt;’, ‘&lt;b&gt;MIRASANTIKA&lt;/b&gt;’ dan masih  banyak lagi. Panggung dangdut pun dijadikan lahan menebar kebaikan.  Dengan gayanya yang khas, sang raja dangdut ini pun tidak kalah soal  penampilannya yang sopan di layar kaca. Pun demikian dengan kritik  sosialnya Iwan Fals. Di setiap tembangnya, ia menyadarkan sang penguasa  untuk tidak bertindak semena-mena.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akhirnya, melalui  petikan gitar, lantunan piano, ‘betot’an bass dan merdunya vokal, kita  sebenarnya bisa membangun karakter bangsa. Sudah saatnya lagu-lagu  bernada ‘cengeng’ yang tengah merebak sekarang bisa segera berubah.  Semisal heroisme Nasionalisme yang kian menurun saat ini bisa digugah  kembali melalui musik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7056164799549432578?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7056164799549432578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-hampir-setiap-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7056164799549432578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7056164799549432578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-hampir-setiap-hari.html' title='Kembalikan Musik Pada &apos;Khittoh&apos;nya'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KynI-uO3NXY/TrUEVYp2DEI/AAAAAAAAABU/XssZtlB00wY/s72-c/165770_1404362047965_1799814136_785586_6101857_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-7723998372606234001</id><published>2011-11-05T02:37:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T02:38:20.704-07:00</updated><title type='text'>Ideologi Narsisme SBY</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-icYXL0MKeTY/TrUD6Yc9FzI/AAAAAAAAABM/kn-3YicztN8/s1600/165652_1403554347773_1799814136_784001_1720628_a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-icYXL0MKeTY/TrUD6Yc9FzI/AAAAAAAAABM/kn-3YicztN8/s1600/165652_1403554347773_1799814136_784001_1720628_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan Tegap, berwibawa dan sedikit ganteng membuat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi figur yang &lt;i&gt;perfect &lt;/i&gt;dipandang  mata. Sang Arjuna, ya SBY bisa dijuluki sang Arjuna tatkala ‘nampang’  di media. Anggukan kepala teriringi ayunan tangan yang khas menjadi  citra tersendiri bagi Presiden RI ini. Mungkin anak-anak muda suka  menggunakan istilah kata ‘lebay’ jika mengomentari &lt;i&gt;perform&lt;/i&gt; ketua dewan pembina partai Demokrat ini. Tutur bahasanya juga tersusun rapi dengan &lt;i&gt;grammer&lt;/i&gt; yang apik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model  pencitraan ala ‘pak BY’ ini mulai pamor di tengah-tengah menggeliatnya  era media.  Seorang kepala negara harus menjaga ketenarannya dengan  tampil sempurna di depan kamera. Pasalnya pasca bergulirnya era  kebebasan pers membuat pena para jurnalis bisa bebas menyiarkan apapun,  termasuk gerak-gerik presiden. Jika sedikit saja SBY berbuat ulah tentu  saja akan menjadi makanan empuk para redaktur dari berbagai institusi  pers. Lihat saja bagaimana sang pimpinan republik ini tatkala  menyampaikan pidato-pidatonya. Selalu mengutarakan berhasilnya kinerja  kabinet pemerintahan. Majunya program-program para menterinya. Pun dalam  beberapa kasus, sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak mengutarakan  keberpihakannya. Semisal dalam kasus Bibit-Chandra, Skandal Century  hingga ulah si Gayus. Entah disengaja atau tidak, ia kerap kali  menyampaikan “Biarlah hukum yang menyelesaikannya”. Padahal pada masa  itu ketegasan seorang pucuk pimpinan pemerintahan sangatlah dibutuhkan.  Namun SBY tak jua bertindak, hingga akhirnya rakyat muak dengan  sendirinya terhadap ‘Sinema’ kasus yang ada di media. Dan perkara  tersebut kian terbengkalai tak jelas &lt;i&gt;ending&lt;/i&gt;nya dalam hukum. Mengutip ucapan Bondan Prakoso “ Ya sudahlah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketampanan  Presiden ke enam RI ini sungguh mampu menghipnotis rakyatnya. Berhasil  atau tidaknya kinerja pemerintah selalu bisa dibungkus dengan manis oleh  tutur kata. Bahkan mantan petinggi TNI tersebut kerapkali mengungkapkan  posisinya sebagai pihak yang tertindas. Semisal pada masa presiden  Megawati, SBY ‘sengaja’ keluar dari kabinet gotong royong. Dan publik  dengan mudahnya mengasihani mantan Menkopolkam tersebut sebagai petinggi  yang tertindas oleh Megawati. Akhirnya dengan modal citra sebagai orang  yang tertindas, ia mampu meroket hingga menjadi pimpinan lembaga  eksekutif Republik Indonesia. Jurus yang serupa juga digunakannya  tatkala &lt;i&gt;booming&lt;/i&gt; kasus terorisme bom kuningan dan bom hotel Marriot. SBY kembali memasang mimik muka &lt;i&gt;melaske&lt;/i&gt;  sembari menunjukkan foto wajah tampannya. Terpampang dalam foto  tersebut wajahnya yang menjadi sasaran latih tembak para teroris. Dan  lagi-lagi masyarakat bersimpati kepada orang nomor wahid di negara  kesatuan ini. Karena  telah muncul &lt;i&gt;brand&lt;/i&gt; baru lagi, dirinya sebagai pihak yang harus dibela dan dilindungi dari para teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya  apakah pola komunikasi publik yang dipertontonkan oleh SBY tersebut  pantas dipertahankan. Semisal saat di daerah-daerah tengah bergiliran  mendapatkan bencana alam. Para petinggi Istana negara hanya mengucapkan “&lt;i&gt;Kami turut berduka cita&lt;/i&gt;”,  Setelah itu selesai. Bantuan bencana barulah datang setelah setelah  para korban mati kelaparan karena berhari-hari di tenda pengungsian  tanpa makanan. Sedangkan pejabat pusat sibuk dalam rapat kabinet  membahas berapa jumlah bantuan yang harus disumbangkan. Pun hal yang  menyedihkan saat terjadi kerusuhan, cekcok antar warga, perang antar  suku. Dengan santainya muncul kalimat “&lt;i&gt;Kami menghimbau warga untuk menjaga perdamaian bla bla bla&lt;/i&gt;”  setelah itu selesai. Seolah tugas duduk di kursi kepresidenan itu hanya  asyik memberikan himbauan agar rakyatnya baik-baik saja. Sedangkan  perselisihan antar suku, ras dan agama tetap memanas di daerah-daerah.  Dan masih segar di telinga rakyat saat SBY ‘curhat’ soal gajinya yang  tak kunjung naik selama tujuh tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal &lt;i&gt;sepele&lt;/i&gt;  yang kadang terlupakan adalah adanya instruksi yang tegas dari pemimpin  untuk menyelesaikan masalah. Berani mengambil resiko atas setiap  keputusan yang diambil. Termasuk berani untuk tidak tersohor dengan  mengutamakan hal-hal yang prioritas. Karena seringkali SBY lebih memilih  bersikap terhadap isu-isu yang populis dan strategis saja. Sedangkan  permasalahan rakyat yang butuh solusi cepat entah kemana. Ya itulah  politik citra, politik ‘narsisme’ yang harus dikoreksi ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  terlepas dari itu semua, SBY bukanlah sosok yang tanpa prestasi.  Keberaniannya memberantas korupsi di kalangan elit pemerintahan pantas  untuk diacungi jempol. Tentu saja di masa kabinet Indonesia bersatu  inilah ada para menteri yang berskandal lantaran korupsi. Apalagi  anggota dewan, tentu banyak yang terseret ke meja hijau. Dan akhirnya  putra daerah kelahiran Pacitan Jawa Timur ini tetap kita harapkan.  Semoga dalam kepemimpinannya di KIB jilid II ini bisa lebih baik. Salah  satunya dengan lebih memikirkan solusi cepat untuk masalah bangsa. Bukan  sekedar memikirkan citra pribadi di mata media.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-7723998372606234001?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/7723998372606234001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-penampilan-tegap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7723998372606234001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/7723998372606234001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-penampilan-tegap.html' title='Ideologi Narsisme SBY'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-icYXL0MKeTY/TrUD6Yc9FzI/AAAAAAAAABM/kn-3YicztN8/s72-c/165652_1403554347773_1799814136_784001_1720628_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-436844407053249187</id><published>2011-11-05T02:34:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T02:36:08.358-07:00</updated><title type='text'>Menanti Sekolah Murah</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;(diterbitkan di Harian Jogja selasa, 09 maret 2010)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lwIFY4q1_w4/TrUDa_NcXrI/AAAAAAAAABE/gQuiZJNDgK0/s1600/25557_1141387033754_1799814136_286300_5309879_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-lwIFY4q1_w4/TrUDa_NcXrI/AAAAAAAAABE/gQuiZJNDgK0/s1600/25557_1141387033754_1799814136_286300_5309879_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setiap  anak bangsa memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan  pengajaran. Tidak peduli anak kota maupun yang tinggal di pelosok desa.  Semua berhak menjadi orang hebat, cerdas dan berdaya guna.  Karena untuk  memuluskan pembangunan adalah dengan mewujudkan sumber daya manusia  yang bermutu. Sedangkan jalan yang paling logis adalah melalui  optimalisasi akses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penghambat akses  pendidikan adalah mahalnya ongkos bangku sekolah. Mengingat sebagian  besar negara Indonesia dihuni oleh warga miskin, baik di kota apalagi di  pedesaan. Jangankan mengurusi biaya sekolah, untuk memenuhi urusan  dapur saja harus berjuang siang dan malam. Alhasil, bocah-bocah  sekolahan banyak yang minder lantaran belum melunasi biaya gedung yang  selangit. Belum lagi beban uang SPP, duit ekstrakulikuler sampai  mahalnya dana kursus yang mencekik, memang kejam. Hidup menjadi anak  miskin sungguh mesakno jika harus dipaksa sekolah. Kisah si miskin ini  sebenarnya sudah ada sejak masa  londo dulu di nusantara. Hanya anak  priyayi, keturunan ningrat dan orang-orang belanda saja yang bisa  menikmati sentuhan pendidikan. Selebihnya, mereka ikut mencari nafkah  bersama orang tua untuk mencari sesuap sego jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat film  laskar pelangi, sebuah sekolah di pedalaman yang harus berjuang  mempertahankan sepuluh murid hebat dengan biaya semurah-murahnya.  Pasalnya, bu Mus percaya akan kemampuan hebat laskar pelangi kendatipun  mereka anak miskin. Lintang anak nelayan yang jauh dari berkecukupan  memiliki semangat belajar yang hebat. Setidaknya kisah tersebut  membuktikan bahwa, bocah-bocah miskin juga bernyali profesor. Sangatlah  disayangkan jika nafsu belajar mereka harus terbenturkan oleh persoalan  rupiah. Penulis begitu yakin tidak mungkin ada pihak yang dengan sengaja  menelantarkan anak bangsa di jalanan sebab tak mampu sekolah. Bukankah  amanah konstitusi republik ini menuturkan bahwa setiap warga negara  berhak atas pendidikan yang layak. Atau jangan-jangan undang-undang  tersebut sudah diamandemen ? Mungkin sekarang bunyinya sudah berubah  menjadi “…. Setiap warga negara yang kaya saja berhak mendapatkan  pendidikan yang layak….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan panjang menjadi manusia pintar di  negeri ini memang berliku-liku. Setelah berhenti sejenak menarik nafas  dari cekikan biaya sekolah, ternyata biaya kuliah sudah menunggu untuk  ganti mencekik. Kampus-kampus favorit sebenarnya terkenal bukan karena  hebatnya, tapi mahalnya. Anak seorang petani mungkinkah bisa berstatus  mahasiswa? Atau anak nelayan menjadi ketua BEM kampus, mimpi! Silahkan  menangis menanti sekolah yang tak kunjung murah. Sepertinya sudah bosan  menuntut kepada pemerintah. Sekarang yang ada hanya kepasarahan si fakir  menatap gerbang sekolah. Lagi-lagi mereka harus berpuasa dari nikmatya  ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang pernah hebat di  masa lalu. Sudah saatnya sejarah gemilang sejak kerajaan Majapahit  sampai heroiknya angkatan 45 menjadi semangat untuk bangkit. Salah  satunya membangkitkan dunia pendidikan yang selalu di ujung tanduk.  Kalau dulu nenek moyang nusantara berjuang mengusir penjajah, kini  anak-cucu mereka siap untuk berjuang menuntaskan persoalan sekolah  mahal. Perjuangan itu bukan sekedar melalui iklan-iklan sekolah gratis  di televisi yang tak tahu bagaimana implementasinya, namanya juga iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait  20 persen anggaran pendidikan sebenarnya sudah usang untuk menagihnya  kepada bapak-bapak pejabat. Langsung saja, sebenarnya anggaran untuk  pendidikan itu ada atau tidak sih? Pasalnya tidak sedikit sekolah atau  kampus yang ‘nakal’ mengomersilkan institusinya. Mungkin ini karena  kucuran dana dari pusat yang tak kunjung turun. Kalaupun ada, pasti  sudah disunat di sana-sini. Kolektifitas peran pemerintah dan para guru  sebenarnya sangat vital dalam menuntaskan problem ini. Semisal  pemerintah memberikan layanan infrastruktur pendidikan yang murah,  sedangkan guru harus berani membentuk anak didik layaknya manusia hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah  swasta menjamin tingginya kualitas sekaligus tingginya ongkos belajar.  Jika dana masuk sekolah saja menghabiskan rupiah sampai lima juta.  Bagaimana mungkin bisa menampung anak-anak miskin, secerdas apapun  mereka. Sepakat, bila biaya sekolah wajib untuk digratiskan. Dan tentu  saja apresiasi positif terhadap beberapa provinsi di Indonesia untuk  memasang tarif nol rupiah terhadap biaya sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-436844407053249187?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/436844407053249187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/menanti-sekolah-murah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/436844407053249187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/436844407053249187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/menanti-sekolah-murah.html' title='Menanti Sekolah Murah'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lwIFY4q1_w4/TrUDa_NcXrI/AAAAAAAAABE/gQuiZJNDgK0/s72-c/25557_1141387033754_1799814136_286300_5309879_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-3298349797062832844</id><published>2011-11-05T02:33:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T03:13:09.137-07:00</updated><title type='text'>Kanjeng Nabi 'Hadir' Lagi</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-clTgpjebXl8/TrUC2iyl19I/AAAAAAAAAA8/vcU36DS-E6A/s1600/25557_1140777418514_1799814136_285159_1387331_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://4.bp.blogspot.com/-clTgpjebXl8/TrUC2iyl19I/AAAAAAAAAA8/vcU36DS-E6A/s320/25557_1140777418514_1799814136_285159_1387331_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang luar biasa terjadi saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Menjelang  hadirnya beliau ke dunia ini, simbol-simbol kebatilan seolah  tertundukkan. Seperti padamnya api yang menjadi sesembahan orang-orang  Majusi. Padahal sebelumnya dikenal sebagai api abadi yang tak pernah  padam. Pun kejadian hebat terjadi pada pasukan gajah yang hendak  menggempur kakbah. Prajuri-parjurit Abrahah luluh lantak diserbu  gerombolan pasukan burung Ababil dari langit. Padahal dengan perencanaan  yang matang semestinya pasukan dari Yaman itu bisa dengan mudah  melindas kakbah. Namun Allah berkehendak lain, tentu saja hal ini untuk  menghormati kelahiran kekasihNya Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Rabiul awal pada masa  lalu setidaknya menjadi refleksi bagi umat Islam saat ini. Masa modern  ini kebatilan kian merajalela di kalangan umat Muhammad Saw. Sebut saja,  memuncaknya korupsi, bandar narkoba, sindikat pembunuhan, yang  kesemuanya ada di sekitar kita. Dengan peringatan-peringatan Maulid Nabi  di masyarakat saat ini, seharusnya membawa spirit anti kebatilan.  Karena saat kelahiran Nabi Saw seolah alam raya bersatu dalam spirit  yang sama untuk meluluhlantakkan simbol-simbol kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana  yang kita ketahui bahwa Rasul Saw memang terlahir istimewa. Namun bukan  itu saja, setiap jejak hidupnya adalah pelajaran bagi umat manusia.  Termasuk bagi bangsa Indonesia yang tengah membutuhkan sosok tauladan.  Bangsa yang dulu pernah hebat ini benar-benar tengah mencari model  kepribadian yang terbukti ketangguhannya. Model kepribadian yang  dicontohkan beliau sangatlah cocok diterapkan menjadi kurikulum hidup  masyarakat Indonesia. Sejak masa penjajahan sebenarnya nilai-nilai  perjuangan nabi Muhammad Saw telah mendarah daging dalam jiwa anak  bangsa. Kegigihan Rasulullah tercermin saat perjuangan pahlawan  Indonesia mengusir penjajah dengan mempertaruhkan nyawa. Spirit juang  Muhammad SAW muda seolah ‘hadir’ membersamai peperangan bocah-bocah  nusantara dalam merebut kemerdekaan. Ayunan pedang Rasul saw menjadi  inspirasi setiap bambu runcing yang menancap ke tubuh penjajah  nusantara. Maka bolehlah jika kita sebut perang 10 November sebagai  ‘perang badar’ bagi umat Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maju tak gentar  membela yang benar…” seringkali anak-anak SD menyanyikan lagu nasional  ini di setiap upacara bendera. Sebenarnya Nabi Saw telah mengajarkan ini  jauh 14 abad sebelumnya. Bagaimana keberaniannya beliau saat memimpin  perang Hunain. Muhammad agung maju ke barisan terdepan saat pasukan  muslim terpukul mundur. Dan hanya menyisakan beliau di depan pasukan  musuh bersama 6 orang sahabat lainnya. Tidak ada rasa gentar menghadapi  ribuan musuh dengan tombak, panah dan pedang yang siap menghujam  dirinya. Karena Muhammad Saw hanya takut pada Allah Swt. Seperti halnya  bangsa Indonesia ‘tempo dulu’ yang sudah terbiasa hidup dalam perjuangan  tangguh. Ingat, ketika Spanyol dan Portugis datang ke Nusantara. Mereka  kesulitan melunturkan kultur berjuang masyarakat Nusantara. Pun saat  Inggris dan Belanda  menjajah dari Sabang sampai Merauke, sontak bangsa  Indonesia melawan penuh semangat. Itulah spirit yang diajarkan kanjeng  Nabi Saw untuk selalu tegar dan berani membela kebenaran. Karena tidak  ada yang perlu ditakuti di dunia ini keculi gusti Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca  kemerdekaan ini setidaknya masyarakat Indonesia bisa belajar bahwa  sejak dulu memang bangsa Indonesia terbiasa mentauladani semangat juang  Muhammad Saw. Namun ketika penjajahan fisik berlalu, seolah spirit untuk  mengamalkan ajaran Nabi Saw kian surut. Banyaknya kasus korupsi  menghinggapi para pejabat sangatlah bertentangan dengan ‘motto’ hidup  Muhamad Saw. “ Sesungguhnya Kejujuran itu mendekatkan pada kebaikan. Dan  kebaikan itu mendekatkan pada Syurga”. Bukan sekadar omong kosong,  tetapi beliau betul-betul mengamalkan ucapannya itu. Bahkan beliau tak  segan-segan hendak memotong tangan Fatimah R.ah, jika anaknya tersebut  terbukti melakukan pencurian. Itulah Muhammad Saw yang tak pernah gentar  membela yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan dan keseriusan Nabi dalam melawan  ketidakjujuran seharusnya bisa mengilhami para penegak hukum Indonesia.  Perjuangan mengusut kasus korupsi adalah sunah nabi yang tentunya  bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Siapapun itu, DPR, KPK,  POLRI, Kejaksaan bahkan Presiden sekalipun harus berjibaku mengamalkan  sunnah nabi ini dengan menghadirkan kembali semangat beliau untuk  menegakkan nilai-nilai kejujuran. Wujud meneladani nabi Muhammad Saw  adalah dengan memperbaiki akhlaq diri. Karena diutusnya beliau tidak  lain adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia, termasuk manusia  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini tidak akan pernah kehabisan contoh jika  membincangkan degradasi moral. Hampir setiap hari peristiwa pembunuhan  dan perkosaan menghiasi layar televisi. Belum lagi narkoba yang kini  menjadi ‘jajanan’ sehari-hari pelajar Indonesia. Pun demikian dengan  kasus korupsi yang kian menjengkelkan masyarakat. Betul-betul bangsa ini  patut malu kepada junjungan Nabi saw, karena ngaku-ngaku sebagai  umatnya namun tetap berprilaku jahili. Setidaknya jika tidak bisa  memperbaiki akhlaq orang lain, maka mulailah dari diri sendiri untuk  bersikap mulia. Akhlaq seorang pemimpin adalah setia pada kebenaran dan  mengayomi rakyatnya. Dan Akhlaq seorang rakyat adalah menaati  pemimpinnya, selama tetap dalam kebenaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-3298349797062832844?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/3298349797062832844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-hal-yang-luar-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3298349797062832844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/3298349797062832844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-hal-yang-luar-biasa.html' title='Kanjeng Nabi &apos;Hadir&apos; Lagi'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-clTgpjebXl8/TrUC2iyl19I/AAAAAAAAAA8/vcU36DS-E6A/s72-c/25557_1140777418514_1799814136_285159_1387331_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-888218197728119945</id><published>2011-11-05T02:31:00.001-07:00</published><updated>2011-11-05T03:12:36.936-07:00</updated><title type='text'>Dukung Terus KPK</title><content type='html'>Oleh: Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6b94Q54svJ4/TrUCcW9RPLI/AAAAAAAAAA0/5EKp4PuZUrM/s1600/24856_1139209499317_1799814136_282184_7177026_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="269" src="http://2.bp.blogspot.com/-6b94Q54svJ4/TrUCcW9RPLI/AAAAAAAAAA0/5EKp4PuZUrM/s320/24856_1139209499317_1799814136_282184_7177026_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;PANSUS Century DPR RI telah menyatakan  sikapnya kepada publik. Rentetan nama yang disinyalir bertanggung jawab  atas kasus 6,7 Triliun bailout Bank Century pun telah disampaikan.  Setidaknya 7 Fraksi DPR RI selain PKB dan Demokrat bersikukuh untuk  melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Dalam hal ini tentu saja KPK,  Kepolisian dan kejaksaan yang mengambil peran tersebut. Dengan demikian,  Boediono dan Sri Mulyani kini berada di ujuk tanduk. Hal tersebut  lantaran, mantan pejabat KSSK itu sebagai pihak yang paling menentukan  dalam penentuan bailout Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kasus Bank yang  telah berubah nama menjadi Bank Mutiara ini terus mengambang.  Ketidakjelasan siapa aktor dibalik ini semua kian membuat resah  masyarakat. KPK sebagai salah satu institusi yang memiliki track record  dalam penuntasan kasus korupsi harus betul-betul responsif. Kasus Bank  Century ini tidak perlu berlama-lama dieksekusi secara politik oleh  Pansus. Saatnya lembaga yang dipimpin Tumpak Hatorangan ini beraksi  mengambil alih kasus tersebut secara hukum. Pasalnya, jika KPK terus  ‘membisu’, khawatirnya nuansa-nuansa politik akan muncul kembali.  Pihak-pihak yang merasa tersudutkan dalam kasus ini tentu akan gencar  ‘mendekati’ KPK, Kepolisian dan kejaksaan. Dan drama kasus Bank Century  tentunya akan bertambah panjang hingga beberapa episode lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelambanan KPK saat ini patut untuk dipertanyakan oleh publik. Pasalnya,  lembaga yang memiliki reputasi gemilang ini tiba-tiba seperti macan  ompong. Dimana keganasannya tatkala mengungkap kasus al-Amin Nasution,  Abdul Hadi Djamal dll. Apakah lantaran kasus ini menyeret nama-nama  pejabat istana, sehingga KPK terkesan malu-malu untuk mengungkapkannya.  Ataukah karena Tumpak  Hatorangan dkk trauma bertindak setelah kasus  cicak-buaya lalu. Padahal moment kasus century ini adalah momen yang  tepat bagi KPK untuk kembali mendapatkan kepercayaan rakyat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuakan rakyat terhadap ‘opera van parlemen’ yang terus ditayangkan  publik kian memuncak. Pasalnya masyarakat hanya disuguhkan  retorika-retorika yang penuh dengan bualan dan tanpa etika. Sebut saja  kepongahan ‘Poltak’ yang menjengkelkan. Itu semua hanya guyonan politik  saja yang membuat Pansus kian jauh dari harapan masyarakat. Oleh  karenanya, hentikan saja tugas pansus DPR agar kemudian diteruskan oleh  KPK ke ranah hukum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-888218197728119945?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/888218197728119945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-pansus-century-dpr-ri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/888218197728119945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/888218197728119945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/oleh-teguh-estro-pansus-century-dpr-ri.html' title='Dukung Terus KPK'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-6b94Q54svJ4/TrUCcW9RPLI/AAAAAAAAAA0/5EKp4PuZUrM/s72-c/24856_1139209499317_1799814136_282184_7177026_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4128348524875759984</id><published>2011-11-05T02:30:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:30:20.387-07:00</updated><title type='text'>Fabel Politik Indonesia</title><content type='html'>oleh: Teguh Estro* &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CifNuOw0Pdw/TrUCJ1OYYZI/AAAAAAAAAAs/cf-4OJfn9AI/s1600/20267_1127937897534_1799814136_258301_2699404_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-CifNuOw0Pdw/TrUCJ1OYYZI/AAAAAAAAAAs/cf-4OJfn9AI/s1600/20267_1127937897534_1799814136_258301_2699404_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam  mata pelajaran Bahasa Indonesia, fabel adalah karya sastra berupa  cerita dengan hewan sebagai tokohnya. Ada peran baik, jahat, licik,  cerdik dan ada juga peran menggemaskan di sana. Tampaknya gambaran itu  pula yang terjadi dalam opera perpolitikan Indonesia. Wajah media kini  dihiasi oleh binatang-binatang lucu sebagai simbol geliat politik  nasional. Sebut saja seteru cicak versus buaya pada waktu lalu. Cicak  melambangkan KPK sebagai institusi yang gemar mengintai kebusukan di  tubuh pejabat negara. Sedangkan buaya adalah simbol dari lembaga  kepolisian yang mengeksekusi kasus. Cicak dan buaya awalnya adalah tokoh  yang berteman baik. Setiap ada kejanggalan hukum di tubuh pemerintahan  mereka saling mengisi satu sama lain dalam penyelesaiannya. Namun di  tengah cerita, mereka seolah termakan badai fitnah yang datangnya dari  kakek tua ‘Aggodo Wijoyo’. Dan akhirnya terjadi aksi saling sikut di  lembaga peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan berlalu muncul jenis hewan  baru, kali ini gurita dari Cikeas. Isu gurita begitu memancing perhatian  istana negara. Pasalnya, RI-1 dituduh oleh George Aditjondro sebagai  ‘penikmat’ aliran dana Century. Karakter gurita adalah hewan yang  memiliki banyak tentakel untuk mempermudah geraknya. Wajar saja jika  presiden kebakaran jenggot jika dirinya dikabarkan memiliki jejaring  ‘kotor’ layaknya tentakel gurita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberlangsungan peran ‘hewan’  dalam kancah politik tak cukup hanya sampai disana. Kalau dulu koruptor  diidentikkan dengan tikus, kini peran tersebut mulai dimainkan oleh  aktor yang lebih beragam lagi. Ada kerbau ‘Si BuYa’ yang sempat popular  saat aksi massal 28 Januari lalu. Dengan tubuhnya yang khas, kerbau  ditafsirkan sebagai sosok yang gemuk, malas dan bodoh. Atau mungkin  maksudnya sebagai tokoh yang ramah dan suka menolong. Karena di negeri  agraris ini, kerbau adalah sahabat para petani dalam menyelesaikan  pekerjaannya. Parahnya saat ini muncul lagi peran kambing, monyet, ayam  dan hewan-hewan lainnya. Sungguh republik ini tak ubahnya dunia fabel di  suaka margasatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks komunikasi antar budaya,  Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki budaya simbol. Sejak  dulu nenek moyang bumi nusantara ini hobi bermain wayang sebagai  simbol-simbol kehidupan. Ada wayang kulit, wayang golek ataupun wayang  orang. Sehinga wajar sekiranya kultur tersebut kembali diperankan di  dunia politik saat ini. Mungkin bisa saja akan muncul tokoh kancil ‘si  pencuri timun’, gajah, kuda nil atau apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia simbol di  Indonesia memang unik. Karena selain dipublishkan dengan cara yang  ‘nyentrik’, simbolisasi ini juga merupakan akumulasi jeritan-jeritan  rakyat. Ternyata saat ini rakyat lebih percaya menyampaikan aspirasinya  melalui simbol-simbol ‘hewan’ tatkala aksi demonstrasi ketimbang lewat  anggota dewan. Sekiranya hal ini menjadi kritik bagi wakil rakyat yang  mulai kehilangan kredibilitas di mata rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbolisasi politik  di Indonesia semakin marak saja lantaran adanya media yang terus  ‘mengompori’. Bahkan berita yang termunculkan saat ini seolah asyik  menampilkan hal kontroversi dari hewan-hewan tersebut. Semisal konflik  Cicak versus buaya yang jelas-jelas ‘direkayasa’ media. Pun kehadiran  kerbau ‘Si BuYa’ yang dibuat pro-kontra dengan pernyataan presiden saat  di Cipanas. Kondisi semacam ini kian menguatkan Indonesia sebagai negeri  seribu simbol. Dan saat ini adalah musimnya simbol-simbol hewan naik  panggung politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Indonesia memiliki simbol yang  luhur, itulah burung garuda. Sebagai ‘penguasa cakrawala’, garuda  memiliki filosofi sosok yang berwawasan luas. Sorotan matanya yang awas  memiliki sudut pandang jauh ke depan terhadap apa yang dilihat.  Seharusnya filosofi garuda tersebut bisa menjadi jati diri masyarakat  Indonesia. Dalam pendekatan psikologi masyarakat, simbolisasi positif  tentu akan menanamkan kepribadian masyarakat yang baik. Demikian  simbolisasi yang buruk justru kian memanjakan degradasi kepribadian  bangsa Indonesia. Kini saatnya filosofi burung garuda tersebut  diimplementasikan olah kader-kader bangsa. Pun demikian dengan ribuan  simbol positif lainnya di tanah air agar menjadi aset berharga sebagai  simbol implementatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4128348524875759984?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4128348524875759984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/fabel-politik-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4128348524875759984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4128348524875759984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/fabel-politik-indonesia.html' title='Fabel Politik Indonesia'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-CifNuOw0Pdw/TrUCJ1OYYZI/AAAAAAAAAAs/cf-4OJfn9AI/s72-c/20267_1127937897534_1799814136_258301_2699404_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6759723096003538350</id><published>2011-11-05T02:29:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:29:01.170-07:00</updated><title type='text'>Anak Bangsa Di Jalanan</title><content type='html'>oleh : Teguh Estro*&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-P04BpZYzs9c/TrUB1yZV4DI/AAAAAAAAAAk/j1M3-pO4ndM/s1600/16867_1119251920390_1799814136_243340_2381294_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="269" src="http://1.bp.blogspot.com/-P04BpZYzs9c/TrUB1yZV4DI/AAAAAAAAAAk/j1M3-pO4ndM/s320/16867_1119251920390_1799814136_243340_2381294_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran anak jalanan beserta hiruk-pikuk masalahnya kian menyita  simpati publik. Fenomena ini merupakan penyakit kehidupan kota yang  memang terkenal akan keganasannya. Nasib anak jalanan seolah sudah  bergantung pada takdir. Karena mereka bukan sekedar miskin harta tapi  juga miskin ilmu dan mental. Sehingga tidak ada lagi hal yang bisa  mereka banggakan kecuali gitar mungil penambah pendapatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa “...anak-anak terlantar dipelihara  oleh negara...” Termasuk juga di dalamnya anak-anak yang berprofesi  sebagai pengemis ataupun musisi jalanan. Sudahkah negara memelihara  ‘anak-anaknya’ tanpa pandang bulu. Jika anak-anak yang belajar di  sekolah unggulan mendapat banyak beasiswa, maka perlakuan yang sama  seharusnya dirasakan juga oleh anak jalanan. Namun kenyataannya,  kehadiran si mungil nan kumuh di trotoar tampaknya hanya menjadi beban  bagi pemerintah. Alasannya sederhana, karena anak jalanan merusak  pemandangan, mengganggu ketertiban dan melanggar peraturan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus demi kasus kini mengintai hidup penghuni jalanan. Sebut saja  kasus pembunuhan, Penculikan, Pelecehan Seksual, hingga kasus mutilasi  belakangan ini. Penyiksaan tersebut mereka dapatkan tidak lain karena  ketidakberdayaan hidup di alam ‘liar’. Padahal mereka juga memiliki hak  untuk hidup terpelihara. Tentu saja amanah konstitusi kepada pemerintah  untuk memelihara anak-anak terlantar kini mulai dipertanyakan. Selama  ini justru yang terjadi bukanlah pemeliharaan, akan tetapi jelas-jelas  pembuangan. Sungguh, orang tua tak punya hati yang tega membuang  anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan bukan pada kalalaian negara saja. Namun persoalan anak  jalanan yang telah terjangkit ‘candu’ jalanan, tentu akan susah  tersembuhkan. Pembinaan terhadap mereka yang telah lama hidup di lampu  merah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan tidak jarang  mereka justru lebih memilih menjadi pengemis jalanan daripada diberi  bantuan modal untuk berwira usaha. Hal tersebut karena mental mereka  yang tidak bisa menjangkau mental untuk hidup layak. Kaum musisi jalanan  ini hanya tahu menyanyi lagu dari bis kota ke bis kota lainnya. Para  pengemis cilik mungkin hanya bisa menyodorkan mangkuk belas kasihan pada  tuan-tuan di trotoar. Selebihnya para ‘tuna-asa’ ini tak punya mental  keberanian untuk berkarya apalagi menjadi pengusaha. Parahnya lagi jika  anak jalanan sudah hobi berbuat kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.  Bahkan tidak jarang mereka yang direkrut oleh sindikat mafia untuk  berbuat kriminal. Dari segi kesehatan, mungkin kaum jalanan sudah tidak  mempedulikan lagi hidup higienis, makanan bergizi dan minum susu. Hidup  sehat layaknya anak pejabat hanya mimpi di siang bolong. Berjalan  diantara asap CO, CO2 dan timbal di mana-mana siap menggerogoti fisik  yang kian lemah. Dan lengkap sudah penderitaan mereka ketika setiap hari  harus kucing-kucingan bersama satpol-PP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak jalanan juga memiliki hak untuk hidup layak seperti anak  bangsa lainnya. Mereka tak kalah imut dengan ‘Baim’ sang artis cilik.  Namun tetap saja nasib penghuni jalanan penuh dengan kemalangan.  Kehadiran fenomena ini sudah layak untuk diselesaikan oleh negara.  Keseriusan pemerintah untuk memberikan penampungan sekaligus wadah  pelatihan mental harus segera direalisasikan. Karena persoalan utamanya  adalah permasalahan mental jalanan yang harus diubah. Mereka juga berhak  memiliki mental pengusaha, jiwa kepemimpinan dan semangat kepahlawanan.  Terlebih lagi pembinaan soft skill  mestinya dilakukan dengan intensif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab munculnya peri-peri kecil di jalanan adalah  karena mereka termarjinalkan dari dunia sekolah. Ketidakmampuan memenuhi  tuntutan SPP yang terlalu mahal menjadi penyebabnya. Sehingga sudah  saatnya diberlakukan pendidikan gratis yang sebenar-benarnya. Hentikan  semua pungli-pungli yang tak bertanggung jawab. Dengan biaya sekolah  gratis tentunya akan mengurangi rakyat miskin yang nekat kabur dari  sekolah menuju jalanan. Begitu juga keseriusan guru-guru di sekolah  untuk tidak pandang bulu mendidik anatar si kaya dan si miskin. Karena  sikap membeda-bedakan inilah yang membuat anak-anak miskin merasa  dinomor-duakan. Akhirnya muncul sifat minder, malu dan enggan  berprestasi. Ujung-ujungnya mereka justru lebih merasa nyaman untuk  hidup di jalanan saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6759723096003538350?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6759723096003538350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/anak-bangsa-di-jalanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6759723096003538350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6759723096003538350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/anak-bangsa-di-jalanan.html' title='Anak Bangsa Di Jalanan'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-P04BpZYzs9c/TrUB1yZV4DI/AAAAAAAAAAk/j1M3-pO4ndM/s72-c/16867_1119251920390_1799814136_243340_2381294_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-2508582857036608046</id><published>2011-11-05T02:25:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:25:25.858-07:00</updated><title type='text'>Jangan Nonton TV</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vPF1kXA89oM/TrUA7V609-I/AAAAAAAAAAc/eXjNA3r43Qg/s1600/20367_1110079611088_1799814136_226044_6605525_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://4.bp.blogspot.com/-vPF1kXA89oM/TrUA7V609-I/AAAAAAAAAAc/eXjNA3r43Qg/s320/20367_1110079611088_1799814136_226044_6605525_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat televisi bukanlah sekedar kotak berisi  gambar dan suara saja. Dunia layar kaca memiliki peran yang lebih dari  itu. Ia berperan besar sebagai sarana transformasi budaya bangsa.  Sehingga apapun yang ditayangkannya tentu akan mempengaruhi karakter  banyak orang. Karena masyarakat cenderung akan meniru hal-hal yang  menjadi lumrah di mata publik. Dan televisilah yang hingga saat ini  masih menjadi acuan mengenai ke’lumrah’an sesuatu bagi publik. Namun  sayang, televisi sebagai ’guru bangsa’ kini tak bisa banyak diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  era persaingan pasar kini, para pemilik modal tentu saja akan lebih  mengutamakan keuntungan. Alhasil, tayangan-tayangan yang kurang mendidik  kian gencar  menghiasi layar kaca. Alasanya sederhana, karena  rating-nya yang tinggi dan menghasilkan banyak rupiah. Hal tersebut  tentu berdampak buruk pada konsumsi tontonan anak bangsa. Bagaimana  mungkin mengharapkan generasi muda beretika, jika selalu dicekoki  sinetron kekerasan rumah tangga. Belum lagi tayangan lawak yang hanya  mengandalkan kosa kata ’saru’ untuk mengocok perut pemirsa. Pun geliat  infotainment yang gemar mengkampanyekan gaya hidup artis nan hedonis.  Lantas, dimanakah peran televisi sebagai sarana pendidikan....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik  masyarakat tidaklah selamanya dimaknai dengan menyampaikan  pelajaran-pelajaran di bangku sekolah. Namun dengan menampilkan contoh  hidup berkelakuan baik, itupun bisa disebut mendidik. Bahkan mendidik  yang disertai contoh langsung, justru dapat memberikan pengaruh lebih  bagi masyarakat. Bukankah pendidikan semacam itu justru seharusnya mampu  dilakukan oleh media televisi. Melalui racikan gambar dan suara,  pesawat mungil ini bisa menyihir jutaan pemirsa. Bayangkan saja jika  banyak anak-anak bangsa yang menjadi juara olimpiade Internasional  lantaran rutin mengkonsumsi tayangan-tayangn sains dan kuis-kuis yang  mencerdaskan. Sungguh metode pendidikan yang fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring  kian bobroknya moral anak bangsa, seharusnya dunia layar kaca mulai  berkaca. Saatnya mengembalikan peran media pada ’khittah’nya, yaitu  menjadi guru bangsa. Selama ini tayangan-tayangan yang dianggap religius  justru kemasannya kurang menarik, kaku dan tidak humanis. Sehingga  televisi harus berani membuat program edukasi yang bisa digemari. Jangan  sampai hanya menayangkan program yang penuh pembodohan.Termasuk  mengurangi sinetron yang mengajarkan kekerasan rumah tangga dan  menghapus berbagai reality show kacangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan televisi  harus lebih mengutamakan program-program yang bergizi. Mulai dari  memilih production house yang berkualitas. Selanjutnya memiliki tim  kreatif yang handal di setiap program acara. Sampai benar-benar  memfungsikan editor sebagaimana perannya, termasuk jangan ragu-ragu  memotong cuplikan yang tidak layak tayang. Selanjutnya pihak televisi  harus rutin meninjau perkembangan dampak baik dan buruk tayangan bagi  pemirsa. Sehingga kualitas siaran benar-benar teruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah  dalam hal ini memiliki peran sebagai pengawas content informasi. Sebut  saja Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya menjadi lembaga filter  terhadap segala penyiaran di Indonesia. Namun lembaga yang dibentuk  pemerintah itu kini kian ciut saja menghadapi desakan kaum elite media.  Tayangan-tayangan khusus dewasa banyak bermunculan di layar kaca saat  jam tayang prime time tanpa sensor. Padahal saat itu anak-anak kecil  tengah asyik terpaku persis di depan televisi. Sehingga setidaknya KPI  harus memperketat lagi sensor terutama pada saat jam tayang anak-anak.&lt;br /&gt;Masyarakat  Indonesia sebenarnya bukanlah objek yang sekedar menjadi penonton  industri pertelevisian. Peran pemirsa justru sangat vital sebagai  penilai obyektif terhadap content tayangan. Jika terdapat penyimpangan  sekecil apapun segera laporkan pada pihak KPI di daerah masing-masing.  Sehingga masyarakat mampu menjadi kontrol bagi media televisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-2508582857036608046?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/2508582857036608046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/jangan-nonton-tv.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2508582857036608046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/2508582857036608046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/jangan-nonton-tv.html' title='Jangan Nonton TV'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vPF1kXA89oM/TrUA7V609-I/AAAAAAAAAAc/eXjNA3r43Qg/s72-c/20367_1110079611088_1799814136_226044_6605525_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-6882335134197800711</id><published>2011-11-05T02:23:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:23:06.040-07:00</updated><title type='text'>Hanya KAPITALIS yang sepakat AC-FTA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-EFxxZluL4ro/TrUAaR1V_7I/AAAAAAAAAAU/fl_8_aoMPOo/s1600/ACFTA.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://3.bp.blogspot.com/-EFxxZluL4ro/TrUAaR1V_7I/AAAAAAAAAAU/fl_8_aoMPOo/s320/ACFTA.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Gong’ perang ekonomi Indonesia-Cina telah  dimulai. Tepatnya 1 Januari lalu perjanjian ASEAN-Chinese Free Trade  Agreement (AC-FTA) berlaku. Perjanjian yang dibuat 8 tahun lalu itu  berisi tentang kebijakan ekspor dan impor ASEAN-Cina. Kini, barang impor  dari negeri tirai bambu itu tidak lagi dikenakan bea masuk sedikitpun.  Padahal sebelum adanya tarif 0% saja, produk-produk Cina telah menjamur  di Nusantara. Sehingga jangan terkejut jika dalam waktu dekat ini,  merk-merk negara beribu kota beijing tersebut pasti meramaikan pasaran  Indonesia. Mulai dari produk elektronik, tekstil, furniture dan  lain-lain yang tentu menjadi lahan empuk bagi pemerintah Cina. Hal  tersebut karena output industri mereka jauh lebih murah. Pertanyaanya,  Bagaimana dengan nasib Industri domestik? Akankah pengusaha dalam negeri  ramai-ramai gulung tikar karena tidak kuat bersaing? Lalu akankah  jutaan buruh mampu terselamatkan dari gelombang PHK? Sungguh tepat jika  bang Haji Rhoma Irama berujar “Sungguh terlalu....!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perjanjian perdagangan bebas ini, Pemerintah sungguh melakukan kesalahan  fatal. Bukan persoalan kesepakatannya, akan tetapi tindak lanjut tim  ekonomi yang begitu lamban. Sejak tahun 2002 lalu, seharusnya pemerintah  benar-benar telah mempersiapkan sektor industri mana yang akan menjadi  produk unggulan Indonesia. Dengan mempercepat pembenahan infrastruktur  berupa perbaikan jalan dan irigasi. Pendampingan UMKM dan menindak  banyaknya pungli di sana-sini setidaknya telah menjadi agenda yang  digarap serius sejak 2002 lalu. Sehingga biaya produksi Industri hingga  sekarang bisa benar-benar ditekan. Namun anehnya ketika AC-FTA telah  berlaku, barulah MENKO Perekonomian sibuk bersuara untuk membentuk Tim  Penanggulangan Masalah Industri dan Perdagangan (TPMIP). Itulah solusi  reaktif pemerintah untuk mengatasi masalah rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia  memiliki Sumber daya manusia yang banyak nan murah. Ditambah lagi  melimpah ruahnya bahan baku dari sabang sampai merauke. Sebenarnya kedua  hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk mempersiapkan peningkatan  iklim industri domestik. Namun sayangnya tahun demi tahun untuk  persiapan itu telah lewat. Dan kini, ‘Gong’ kesepakatan AC-FTA sudah  berbunyi sedangkan industri lokal tidak siap menghadapinya. Jangankan  mau berbicara kemajuan tren ekspor ke luar negeri, menghadapi pesaing di  kandang sendiri saja sudah pasti kesulitan. Belum lagi efek domino dari  kelesuan industri lokal yang seolah telah mengancam di depan mata.  Sebut saja PHK kaum buruh yang tentunya menambah daftar pengangguran  struktural di indonesia. Lalu, kemiskinan meningkat drastis yang  konsekuensi logisnya akan menambah marak kriminalitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-6882335134197800711?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/6882335134197800711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/hanya-kapitalis-yang-sepakat-ac-fta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6882335134197800711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/6882335134197800711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/hanya-kapitalis-yang-sepakat-ac-fta.html' title='Hanya KAPITALIS yang sepakat AC-FTA'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EFxxZluL4ro/TrUAaR1V_7I/AAAAAAAAAAU/fl_8_aoMPOo/s72-c/ACFTA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762372489384578370.post-4940359386329622302</id><published>2011-11-05T02:10:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:10:44.464-07:00</updated><title type='text'>Syahadat Gerakan bagi Pendekar Tuhan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GD36mbyluv4/TrT9FU7-ZwI/AAAAAAAAAAM/u3k8dVJKe8k/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-GD36mbyluv4/TrT9FU7-ZwI/AAAAAAAAAAM/u3k8dVJKe8k/s1600/images.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Teguh Estro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat syahadat adalah proklamasi seorang muslim akan tujuan hebatnya.  Ia (baca: muslim) sejatinya telah memproklamirkan sumpah bersejarah  dalam kesempatan hidup yang hanya satu kali saja. Sehingga setiap  desahan nafasnya selalu ditujukan pada ambisi besar, yakni ridho Allah  Swt. Ungkapan syahadat kepada Allah tiada lain merupakan ‘Restu Tuhan’.  Hal inilah yang menjadi modal besar bagi umat akhir zaman untuk berani  melafadzkan kalimat ‘Allahu Ahad’. Keberanian bersejarah yang membuat  Bilal r.a tersohor akan keteguhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa  post-prophetarian, umat Islam selalu diuji akan keteguhan syahadatnya.  Puncaknya saat sejarah dunia tidak berpihak pada Islam, kejayaan  pengikut umat Muhammad Saw ini  terjun bebas pada titik nadir terendah.  Kekhalifahan Islam runtuh seiring hijrah besar-besaran fikrah umat  kepada Sekulerisme. Alhasil, ‘Ottoman Kingdom’ kini tinggal nama saja.  Namun benarkah para pejuang tauhid pupus begitu saja? Tidak….! Buktinya  tatkala kaum Sekuleris tengah asyik merayakan kemenangannya, mereka  terhentakkan oleh kabar besar dari kota Ismailiyah, Mesir. Kekuatan umat  Islam terpusatkan pada ikrar sekelompok pejuang Islam yang kekeuh pada  syahadat mereka. Pada tahun 1926 Ikhwanul Muslimin memproklamasikan  kesaksian pada Tuhan sebagai satu-satunya penguasa. Syahadat itu tertuju  kepada Allah Swt sekaligus bagi kaum penjajah. Mereka menyatakan sumpah  pembebasan bagi umat yang terjajah. Hingga perjuangan ‘Moslem  Brotherhood’ ini mampu membakar semangat pemuda Islam pada level  tertinggi, yakni syahid menjadi cita-cita hidupnya. Setiap detik  perjalanan dakwah yang dipimpin Imam Syahid Hasan al-Banna ini terus  menjadi referensi umat akhir zaman. Kesemuanya berawal dari satu hal  penting, yakni Syahadat gerakan. Syahadat yang menggetarkan hati para  pejuang seperti bergetarnya jiwa Umar al-Faruq saat mendengar kalimat  Allah untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari romantisme sejarah  yang penuh heroisme, tentunya pandangan umat Islam tetap menempatkan  perjuangan dengan perspektif ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’. Dunia modern  telah memposisikan perjuangan pada paradigma baru. Jangan sampai  Jundullah mengalami ‘amnesia’ konsep-juang. Mengenai siapa yang menjadi  pejuangnya? Bahkan siapa musuhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan anak manusia di  era modern ini menampilkan wajah baru kaum kolonial. Ia tidak lagi hadir  bersama meriam ataupun bedil pembunuh. Namun sang penjajah membawa  senyum indah dibalik pemurtadan, tutur sopan dibalik kapitalisme, dan  tangan lembut dibalik eksploitasi. Sungguh, umat Islam telah menemukan  tantangan spesies baru yang begitu hebat namun tak terlihat. Boleh jadi  akan banyak anak-anak keturunan muslim yang berkelakuan serba barat.  Bisa saja akan bertebaran pemuda Islam yang menghamba pada hedonisme.  Bahkan melalui penjajahan gaya baru ini akan banyak bermunculan umat  Islam yang tak pernah berpikir sedikitpun untuk memperjuangkan Islam,  Na’udzubillah...! Parahnya, kondisi ini ada di depan mata kita. Keadaan  ini adalah ‘panganan’ sehari-hari umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pernah  berpesan yang diperuntukkan bagi umatnya hingga akhir Zaman.  “Perbaharuilah Imanmu dengan Syahadat…”. Jika Iman adalah hal yang  diperjuangkan. maka Perjuangan itu harus direfresh dengan sesuatu yang  bias menggetarkan hati para ‘pendekar Tuhan‘. Itulah Syahadat Gerakan  yang akan memperbaharui goal setting para aktivis dakwah. Totalitas dan  militansi wajib ‘ain diperbaharui untuk menghadapi musuh baru di era  globalisasi. Karena modal untuk menghadapi penjajah abad ke-21 tak  sekedar butuh kekuatan otot. Namun  kita menggunakan kecerdasan,  kesabaran, keuletan dan mutlak membutuhkan pertolongan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis dakwah memiliki tujuan hidup yang sangat mulia. Bukan gubernur  atau Presiden, akan tetapi tujuan itu adalah Tuhan Yang menjadi Raja  Seluruh alam. Maka ucapkanlah syahadat atas nama Allah, berjanji untuk  syahid di jalanNya, bersumpah untuk memperjuangkan agamaNya.  “AsyhaduanLailahaillallah Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762372489384578370-4940359386329622302?l=teguh-estro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teguh-estro.blogspot.com/feeds/4940359386329622302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/syahadat-gerakan-bagi-pendekar-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4940359386329622302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762372489384578370/posts/default/4940359386329622302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teguh-estro.blogspot.com/2011/11/syahadat-gerakan-bagi-pendekar-tuhan.html' title='Syahadat Gerakan bagi Pendekar Tuhan'/><author><name>Teguh Estro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00600208999500246327</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='18' src='http://2.bp.blogspot.com/-e257xwNmkeA/TrUY-d7he7I/AAAAAAAAAEg/XLylqEeCGMs/s220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GD36mbyluv4/TrT9FU7-ZwI/AAAAAAAAAAM/u3k8dVJKe8k/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
