Menu
Teguh Indonesia


Oleh: Teguh Estro*

Husni Mubarok harus turun sekarang juga. Itulah jeritan jutaan rakyat Mesir agar sang diktator hengkang dari tampuk kepemimpinan. Lebih dari 30 tahun berkuasa, mantan jenderal angkatan udara itu hanya menjadi tirani. Korupsi kian merajalela diiringi kemiskinan yang menjadi pesakitan rakyat di bumi para nabi itu. Bahkan kekayaan Husni Mubarok telah mencapai lebih dari 300 T rupiah. Belum lagi kekayaan anaknya Gamal mubarok yang mencapai lebih dari 100 T rupiah. Sebuah angka yang sangat menyakitkan hati jika dibandingkan dengan angka 40% rakyat yang berstatus miskin.

Lapangan Tahrir di Kairo menjadi saksi kebrutalan militer terhadap pejuang revolusi. Begitupun yang terjadi di Nasher City, Alexandria, Suez dan kota-kota besar lainnya. Jutaan masa sejak 25 Januari lalu telah berbulat tekad untuk memakzulkan Husni Mubarok. Masa demonstran yang berasal dari berbagai kalangan berkumpul-riuh mengekspresikan puncak kekesalannya. Berawal dari diblokirnya situs jejaring sosial ‘Facebook’ dan ’Twitter’ oleh pemerintah. Kemarahan warga mulai tersulut. Puncaknya hingga jaringan telekomunikasi dan layanan perbankan juga terputus.

Krisis di Mesir saat ini sebenarnya hanyalah kemuncak dari kekecewaan berbagai kalangan. Ada dua hal penyebab utama terjadinya pergolakan revolusi Mesir saat ini. Sebab pertama adalah alasan permukaan, yakni kemiskinan yang mencapai level terparah namun jajaran penguasa justru asyik bertindak korup. Bagaikan rumput kering yang terkena percikan api, rakyat Mesir mudah sekali terbakar nalurinya untuk memberontak. Karena urusan perut tidak bisa menunggu lama. Hal serupa juga menjadi penyebab utama pergolakan revolusi yang terjadi di Tunisia, Yaman dan Oman.

Penyebab kedua dari pergolakan revolusi Mesir adalah pemerintahan yang tidak demokratis. Berapa banyak para tokoh yang bersuara lantang lalu dipenjara hanya karena mengkritik pemerintah. Bahkan melalui kekuasaannya Husni Mubarok memberangus lawan-lawan politiknya di parlemen dengan menjadi kekuatan politik terbesar. Seolah mewarisi pendahulunya, Presiden yang berkiblat ke barat ini juga melakukan determinasi pada ormas-ormas Islam di sana. Sebut saja kekuatan oposisi besar Ikhwanul Muslimin yang terus mengalami luka di sepanjang sejarah oleh penguasa. Sejak masa ketokohan Hasan al-banna dan Sayyid Quthb, anggota-anggota Ikhwanul Muslimin layaknya hewan buruan yang harus dibunuh dan dipenjara. Begitupun dengan tokoh lainnya bahkan yang bersebrangan ideologi sekalipun. Seperti tokoh-tokoh dari partai sosialis yang sulit berbicara lantang mengkritik penguasa. Sehingga revolusi mesir di awal tahun 2011 ini seolah mendai momentum bagi oposisi pemerintahan untuk bersikap nyata. Apapun ideologinya, mereka bersama turun ke jalan meneriakkan “Mubarok Turun”. Sampai saat ini Husni Mubarok yang telah bertolak ke luar negeri tak kunjung berniat lengser dari kekuasaannya. Bahkan ia baru akan mengundurkan diri pasca PEMILU bulan September 2011. Kian sulit saja perjuangan Revolusi rakyat Mesir. Apalagi Militer Angkatan Udara sangatlah setia pada sang Tiran Mubarok.

Pergolakan konstelasi politik di timur tengah ini kian memicu kekhawatiran dunia. pasalnya selama ini Mesir di bawah kepemimpinan Husni Mubarok begitu dekat dengan negara-negara barat. Bahkan biaya militer di negeri seribu menara itu adalah bantuan dari Washington D.C. Hal ini tentu karena adanya kepentingan negara adidaya tersebut dalam perpolitikan Mesir. Apalah jadinya muka Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya jika semenanjung sungai Nil dikuasai oleh oposisi pemerintah. Akankah pasca mubarok akan muncul pemimpin yang berkiblat kepada Amerika ataukah justru menentang kebijakan militer gedung putih.

Israel sebagai salah satu sekutu Mesir betul-betul menjadi negara yang sangat tertekan. Menteri luar negeri Israel mencoba meyakinkan negara-negara Uni Eropa bahwa Mubarok harus tetap berkuasa. Pasalnya selama ini Husni Mubaroklah yang menjadi pendukung kedaulatan Israel saat berkonflik dengan Palestina. Sehingga boleh jadi Israel adalah negara yang paling berkepentingan terhadap misteri masa depan kepemimpinan Mesir. Ada beberapa nama yang muncul selain Gamal Mubarok ‘The Son’ yang telah disiapkan oleh Husni Mubarok. Sebut saja Omar Sulaiman yang selama ini menjadi tangan kanannya ataukah el-Baradai yang menjadi pemimpin gerakan oposisi saat ini. Semua teka-teki ini akan terjawab seiring perjuangan para demonstran yang telah mengeluarkan ultimatum agar Mubarok turun sampai 4 Februari 2011.

Oleh: Teguh Estro* Husni Mubarok harus turun sekarang juga. Itulah jeritan jutaan rakyat Mesir agar sang diktator hengkang dari tampuk...
Teguh Estro Sabtu, 05 November 2011
Teguh Indonesia

Menyoal Konflik Horizontal Antar Gerakan
Oleh: Teguh Estro

Nabiyullah Musa a.s salah satu sosok reformis yang menjadi aktor sentral penggulingan fir’aun. Namun setelah Fir’aun tenggelam problem justru muncul di tengah kaum (itu) sendiri, adalah konflik horizontal di kalangan Bani Israil. Reformasi yang diharapkan terjadi pada bani Israil sungguh jauh panggang daripada api. Ilustrasi ini seolah menjadi de javu bagi bangsa Indonesia.

Reformasi (taghyir) sebagai salah satu ajaran Islam yang belum terpahami secara kontekstual dalam upaya perbaikan umat. Sebelas tahun lalu bangsa Indonesia mencoba reformasi total pemerintah otoriter Soeharto. Namun hingga sang jenderal cendana itu ‘berpulang’, perjuangan reformasi tak kunjung menorehkan hasil. Tuntutan reformasi yang diperjuangkan oleh rakyat ’98 kini sekedar menjadi catatan sejarah. Persoalan supremasi hukum, pemberantasan KKN hingga reformasi di bidang ekonomi dan politik. Semua tuntutan itu kian terlupakan seiring surutnya ghiroh gerakan reformasi dalam satu dekade belakangan ini.

Fenomena aksi pemakzulan Soeharto itu telah menjadi fase sejarah yang begitu penting dan strategis. Namun sayang proses bergulirnya sejarah ‘98 itu tidak diiringi oleh cantiknya desain dalam mengisi kekosongan pasca gerakan reformasi. Parahnya justru berbagai elemen yang tergabung dalam barisan perjuangan sebelas tahun lalu terjebak dalam konflik horizontal. Keretakan ini bukan hanya membuat koruptor bertepuk tangan, namun lebih memberikan efek pada kelesuan gerakan reformasi. Di tengah vacuum moving gerakan –terutama- mahasiswa, beban berat bertambah seiring merebaknya kultur barat dan hedonisme pada kalangan pemuda.

Kompleksitas problem ini menuntut mahasiswa untuk benar-benar teguh, pintar dan kreatif dalam menjaga idealisme gerakannya. Salah satu masalah terbesar bagi gerakan mahasiswa adalah ketika mereka kehilangan sensitivitas atas penyakit-penyakit bangsa. Dimanakah kepekaan mahasiswa ketika ada korupsi triliunan rupiah, namun di tempat lain warga sidoharjo terus menagih uang ganti rugi atas rumah mereka yang terendam lumpur. Anehnya justru gerakan mahasiswa masih terjebak dalam ‘pertarungan’ antar ideologi.

Salah satu jalan untuk mengembalikan darah juang reformasi adalah dengan mereform gerakan reformasi. Mahasiswa harus menjadi transformator spirit gerakan. Mengubah pola gerakan yang bukan hanya aksi jalanan secara kuantitas, namun lebih pada proses pemanjaan nalar sensitif mahasiswa. Mengubah alur reformasi dengan bermula dari arah transenden menuju perbaikan bangsa. Mengubah kultur hedonisme menuju massifitas ruang-ruang dialetika. Mengubah tindakan anarkis menjadi gerakan moderat dan elegan. Inilah mahasiswa yang akan berjuang melakukan reformasi mulai dari dirinya sendiri

Menyoal Konflik Horizontal Antar Gerakan Oleh: Teguh Estro Nabiyullah Musa a.s salah satu sosok reformis yang menjadi aktor sentral peng...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Tunisia telah mengawali, disusul rakyat Mesir berhasil gulingkan Husni Mubarok. Berikutnya Yaman, Iran, Maroko, Libya dan Oman siap menuntut hal serupa. Kini rakyat arab tengah mengalami kemuncak Euforianya. Tak ayal pemberitaan akan timur-tengah selalu diracik dalam bingkai Revolusi. Namun analisis kita jangan sampai berhenti sampai selugu itu. Bukankah selama ini yang begitu berkepentingan akan gejolak di negeri-negeri kilang minyak adalah Amerika. Mungkin sulit untuk membuktikan kalau Amerika menjadi dalang atas panasnya konstelasi politik di tanah arab. Namun boleh jadi kini Barrack Obama tengah menyiapkan negara boneka pasca termakzulkannya raja-raja arab.
            Media massa mencoba mengarahkan masyarakat dunia pada satu kesimpulan.  Bahwasannya semua kemelut penggulingan pemerintah di tanah arab sengaja dikesankan murni sebagai gerakan rakyat seperti halnya Mesir, padahal tidak....! Coba kita amati keganjilan pada kerusuhan yang terjadi di Iran dan Libya. Alangkah lucunya jika tudingan korupsi ditujukan pada Ahmadinejad. Pun demikian dengan Muammar Qaddafi di Libya aneh jika akan digulingkan lantaran menjadi antek-antek Amerika. Boleh jadi momentum kebangkitan rakyat di Arab tengah dimanfaatkan oleh ‘oposisi bayaran’ untuk menggulingkan Ahmadinejad dan Qaddafi. Pasalnya dua negara tersebut adalah negara yang paling sulit untuk ‘disetir’ oleh pemerintahan gedung putih.
            Salajengipun, masih ada lagi keganjilan dalam skenario revolusi negara-negara Arab. Pertanyaannya, kenapa di Saudi Arabia, Iraq dan Afghanistan adem ayem saja. Jawabannya sederhana, lantaran mereka sudah menjadi negara boneka Amerika. Dan negeri paman sam itu tak mau capek-capek membuat oposisi bayaran lagi. Sekarang Barrack Obama tinggal menambah koleksi negara bonekanya di timur-tengah. Dan saat ini adalah momentum yang tepat untuk menggoyang pemimpin-pemimpin arab, terutama Iran dan Libya.

oleh: Teguh Estro* Tunisia telah mengawali, disusul rakyat Mesir berhasil gulingkan Husni Mubarok. Berikutnya Yaman, Iran, Maroko, Li...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Akhirnya PSSI terbekukan juga oleh Menpora pada 28 Maret lalu. Pasalanya Andi Mallarangeng menilai kongres PSSI di Pekan Baru kurang profesional berbuntut kericuhan. Politisi partai Demokrat ini pun mengancam sanksi dengan memutus anggaran terhadap institusi sepak bola nasional itu. Dan posisi Nurdin Halid sebagai pucuk pimpinan PSSI kian terpojok saat ini. Namun bukan Nurdin Halid namanya jika hanya diam saja. Pria kelahiran Watampone itu mengatakan Andi mallarangeng tidak cakap sebagai menteri sehingga layak untuk dicopot. Kali ini benar-benar Nurdin Halid tengah menjajal kesaktiannya Karena berani menantang Menpora.
            Terseretnya Andi Mallarangeng ke dalam seteru PSSI menambah konflik baru di tubuh PSSI. kali bukan lagi sekedar seteru antar tim sepak bola saja, akan tetapi sudah membawa bendera partai politik. Mau tidak mau posisi Nurdin Halid sebagai mantan politisi Golkar akan berbenturan dengan massa ‘Biru’ yang mendukung Andi Mallarangeng. Hal tersebut menjadi tidak sehat lantaran sepak bola sebagai olahraga telah tersusupi kepentingan politik. Apalagi jelas-jelas telah muncul statemen saling ancam antara kedua belah pihak.
            Kontroversial Nurdin Halid bukan hanya saat ini saja. Sudah banyak pihak yang menginginkan mundurnya ketua PSSI sejak 2003 itu dari pucuk pimpinan. Pasalnya sudah satu dekade terakhir timnas merah putih belum juga memenangkan tropi juara. Sempat dielu-elukan bakal menjuarai piala AFF  akhir tahun 2010 lalu, namun justru harus kandas di final oleh Malaysia. Tentu saja masyarakat pecinta bola segera mengkambing-hitamkan Nurdin Halid sebagai biang keladi kekalahan. Namun pria berusia 52 tahun itu tetap tak mau juga turun dari jabatannya. Bahkan saat demonstrasi dari berbagai penjuru nusantara ramai membakar foto dirinya. Tetap Nurdin Halid bersikukuh tak akan mundur dari pimpinan PSSI.

oleh: Teguh Estro* Akhirnya PSSI terbekukan juga oleh Menpora pada 28 Maret lalu. Pasalanya Andi Mallarangeng menilai kongres PSSI di Peka...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Dalam bukunya Muqaddimah, Ibn Khaldun mengungkapkan mengenai tradisi hidup Wong Ndeso. Namun dalam redaksinya, bapak Sosiolog Islam ini menggunakan istilah ‘orang Badui’. Yakni, mereka yang bermukim jauh dari kemewahan kota-kota besar. Mereka yang hidup bergantung dan bergelut pada alam (di arab tentu saja hidup di gurun). Ibnu Khaldun menganalisis bahwa penduduk desa adalah basis dari penduduk kota. Artinya tradisi dan peradaban ala Wong Ndeso telah lebih dulu ada tinimbang penduduk kota.

Salah satu catatan dalam buku Muqaddimah mengatakan bahwasannya Wong Ndeso lebih memiliki keberanian alami daripada orang kota. Mereka terbiasa hidup di alam tanpa ada tembok tinggi mengelilingi ‘gubug’nya, tanpa ada body guard yang mengawalnya. Kebiasaan mempertahankan diri dengan kekuatan dan persenjataan sendiri itulah yang memupuk jiwa keberanian secara alami. Sehingga wajar jika ada Wong Ndeso yang terbiasa keluar masuk hutan di tengah malam hanya bermodalkan seonggok parang (pisau panjang) saja. Karena memang sejak kecil, mereka dituntut untuk memenuhi kebutuhan primer dari alam. Dan sebaliknya, Ibn Khaldun mewanti-wanti para penduduk kota agar jangan terlena dengan kemewahan. Pasalanya hidup serba instan yang dijalani masyarakat kota justru perlahan membunuh keteguhan jiwa mereka. Bayangkan saja mulai dari urusan perut, mereka telah menggunakan jasa cathering, langsung santap. Selanjutnya sandang yang dipakai sehari-hari di kerjakan oleh jasa laundry. Hingga dalam urusan keamanan, masyarakat kota khususnya penghuni komplek-komplek dan apartemen, menyerahkannya pada security bayaran untuk menjaga 24 jam. Pramilo tidak heran jika insan perkotaan lebih ‘lembek’ jiwanya dalam menghadapi keganasan hidup.

Ibnu Khaldun juga memaparkan mengenai tabiat alami wong Ndeso. Mereka lebih mudah dalam menerima nasihat kebaikan. Hal tersebut lantaran adanya tradisi ‘nggak neko-neko’ dalam melangkah. Kalau memang masyarakat menganggap baik mengenai suatu urusan, ya sudah jalankan saja. Namun hal yang berbeda jika kita lirik mengenai watak masyarakat perkotaan. Sejak kecil, penduduk kota telah mengenal banyak referensi penyimpangan-penyimpangan sosial. Dan alam bawah sadar mereka cenderung memberikan ‘label kelaziman’ akan banyaknya deviasi sosial. Sehingga mereka sudah tidak begitu menghormati lagi adanya nasihat-nasihat agar berlaku sesuai norma. Apalagi masyarakat kota pun tidak jarang nyambi sebagai pelaku kejahatan. Sebut saja kaum miskin kota, mereka dipaksa memilih jalan hidup antara pengemis, pengamen nyambi sebagai pencopet jalanan. Pun sama halnya orang ‘terlanjur kaya’ di perkotaan. Mereka lebih memiliki kesempatan dan lingkungan yang mendukung untuk mencicipi dunia kejahatan. Lantaran fasilitas untuk perjudian, korupsi hingga prostitusi mampu mereka jangkau dengan pembayaran yang cukup.

oleh: Teguh Estro* Dalam bukunya Muqaddimah , Ibn Khaldun mengungkapkan mengenai tradisi hidup Wong Ndeso . Namun dalam redaksinya, bapak ...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Paska runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani (ottoman kingdom), seolah pasukan salib dan kaum yahudi tak bosan-bosannya bertepuk tangan. Belum puas dengan itu semua, kini mereka mulai menjajah alam pemikiran umat Islam (ghazwul fikr). Para penegak al-Quran mulai dari tanah Maroko hingga ujung Merauke perlahan mulai terkendalikan oleh barat. Bukan roket atau nuklir, tapi media (massa) telah menjadi senjata tunggangan terhebat mereka. Dengan media, tentu saja mereka bisa begitu lihai mengotak-atik informasi dunia Islam.
Sadar atau tidak…! Sudah berapa banyak pesawat televisi di dunia yang menjelek-jelekkan Islam. Dalam satu kali terbit, berapa surat kabar yang telah melecehkan Nabi Saw. Dalam satu jam sudah berapa content yang termasukkan (upload) di situs internet dengan berbagai penghinaan terhadap al-Quran. Hal tersebut belum termasuk media-media lainnya dengan teknologi tercanggih mereka. Apakah cukup sampai disini…? Ternyata tidak, mereka tidak akan ridho hingga umat Islam mengikuti millah mereka.
Salah satu target utama dari serbuan media barat adalah mencoba mengendalikan persepsi umat Islam terhadap agamanya sendiri. Persepsi adalah cara pandang seseorang terhadap objek berdasarkan informasi kognisi dan sensori sehingga menghasilkan interpretasi. Berita adalah informasi kognisinya, video dan gambar adalah info sensorinya sedangkan umat Islam adalah objeknya. Dan mungkin teroris adalah salah satu tafsirannya (baca: menurut Yahudi).
Dengan banyaknya pemberitaan buruk terhadap Islam harapan mereka (yahudi dan nashrani) tentu adanya kebencian umat Islam terhadap agamanya sendiri. Itulah yang disebut persepsi, namun sayangnya itu adalah persepsi yang buruk atas Islam. Semisal mereka yang giat mempropaganda Islam sebagai teroris paska tragedi 11 september.
Secara umum mereka telah berhasil mempengaruhi alam bawah sadar kaum muslimin bahwasannya Islam memang benar-benar teroris. Walaupun sebenarnya merekalah yang berhak disebut nenek moyangnya terorisme. Pasalnya kaum salibis ini tak segan-segan memusuhi umat Islam melalu bom, peperangan (mis: Irak, Moro dan Afganistan), pembunuhan massal dan lainnya.
Sejarah telah mengajarkan bahwasannya umat Islam tidak pernah diam atas pengrusakan identitas ad-Dien. Bagaimana hebatnya pertempuran badar, sengitnya lemparan tombak para sahabat dalam perang Hunain. Memang secara normal sejarah tidak bisa terulang, namun semangat mereka adalah hak waris terbesar bagi kita yang hidup di akhir zaman. Saatnya kita menyusun agenda besar untuk memperbaiki citra umat Islam. Salah satunya dengan memanfaatkan media barat secara selektif untuk melakukan serangan balik (counter attack).
Mohon maaf jika terasa kasar dan berlebihan. Namun paling tidak kita mampu memahami bahwasannya perlawanan melalui pengelolaan media bukanlah perjuangan yang lebih ringan dari pada perang khondaq. Karena dengan berani menggagas perang media melawan kaum salibis berarti kita menantang nuklirnya barat untuk diadu dengan ketapelnya umat Islam.
Bayangkan saja saat NBC, CNN, CBS, Washington Post, Time ataupun Newyork Times hingga pusat berita Reuters bergerak dengan fokus pada penghancuran mental kaum muslimin. Maka wajib bagi kita untuk waspada. Apakah cukup dilawan dengan beberapa lembar makalah, bulletin dan pamflet…? Jawabannya silahkan saja bagi umat Islam untuk berjuang semampunya. Jika memang hanya bisa dimulai dengan makalah, bulletin ataupun sekedar pamflet, maka pasti Allah akan membantu. Bila perlu diadakan gerakan sadar media melalui 1000 tulisan Islami, video Islami, ataupun blog dan website Islami.

oleh: Teguh Estro* Paska runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani ( ottoman kingdom ), seolah pasukan salib dan kaum yahudi tak bosan-bosanny...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Perjuangan Yang Terlupakan
Oleh: Teguh ‘Estro’
Sejak Adam menggenggam butiran pasir di bumi berarti sejak itu pula kata perjuangan dikenal. Terpisahnya Adam dan Hawa telah membuat sejarah romantis tersendiri. Kisah perjuangan yang lebih dari kisah Romeo dan Juliet. Perjuangan lelaki menapaki bumi hanya untuk menemukan dimana sang isteri maneteskan air matanya. Perjuangan hamba memohon ampunan dosa kepada Tuhannya. Bahkan perjuangan dalam memahami bagaimana hidup di bumi untuk pertama kalinya. Walau banyak orang yang menghiraukan tapi inilah perjuangan besar. Meskipun sekarang manusia mengagung-agungkan cinta syahwat, tapi Adam dan Hawa menunjukkan perjuangan cinta sebenarnya.
Belajar dari Ibrahim. Berbeda dengan Adam berbeda pula dengan Ibrahim. Beliau mati-matian memperjuangkan tauhid sebagai agama yang hanif. Sebuah perjuangan yang saat ini dirasa sangat berat. Berjuang dari kecaman orang tua, dibakar tubuhnya. Bergerilya menghancurkan kemusyrikan Raja Namruz. Bahkan penuh kesabaran mencintai Isterinya, walau Siti Sarah belum juga berketurunan. Lagi-lagi seorang tokoh menunjukkan perjuangan hakiki itu seperti apa.
Hai manusia, masihkah engkau malu untuk berjuang. Kisah Adam dan Ibrahim menunjukkan pelajaran berharga yang kini tidak dihargai. Begitupun ketika Yusuf berjuang menjaga auratnya. Berjuang menghindari zina yang tinggal di depan mata. perjuangan terberat bagi seorang pemuda kapanpun hingga zaman sekarang. Yusuf rela dipenjara daripada menjadi bahan fitnah. Mencintai Zulaikha bukan karena syahwat dan nafsu, tapi lebih karena Allah. Karena Allah. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari keteguhan Yusuf menjauhi zina.
Akankah dengan meraba perjuangan Muhammad kita akan tersadarkan. Muhammad telah memberikan suri tauladan terbaik, The best nomination awards for the best man. Setiap kata, ucapan dan perilakunya sudah cukup menularkan gema dan aura perjuangan. Berjuang merintis Islam menjadi keyakinan yang benar-benar diyakini. Berjuang menjadi seorang Rosul, pemimpin Negara, panglima perang, ayah dari anak-anaknya bahkan menjadi Suami dari Isteri(-isteri) nya.
Perjuangan itu muncul terlepas dari mereka seorang Nabi, tapi lebih karena mereka juga manusia. Sama seperti kita, bahkan beruntungnya kita karena mendapatkan ujian yang jaa….uh lebih ringan daripada mereka.
Mana perjuanganmu wahai orang yang hidup di Akhir Zaman…?
Berjuang untuk mencari Ilmu dan mengamalkannya, berjuang memperbaiki kualitas ibadah. Sholat di awal waktu, berjamaah di masjid. Bertahajud pada sepertiga malam. Berjuang menjemput ma’isyah untuk berbagi walau itu sedikit. Berjuang mengumpulkan bekal untuk pulang ke negeri akhirat. Hidup di akhir zaman memang penuh perjuangan. Bisakah mata tidak bermaksiat di sepanjang jalan umum. Bisakah hati berbaik sangka terhadap manusia apapun bentuknya, mengingat banyak kemunkaran di akhir zaman.
Mungkinkah seperti manusia kebanyakan. Ketika kecil diasuh dalam kemanjaan dan hiburan dunia dengan melupakan pendidikan agama. Begitupun dalam menapaki keremajaan, bergelimang nikmatnya dunia dan hiburan-hiburan syaithon. Hingga dewasa tetap saja mengagung-agungkan dunia yang diraihnya, menumpuk-numpuk harta. Barulah saat usia mulai senja ingat akan ibadah. Tulang keropos sungguh sulit diajak bersujud dan menapaki jalan malam berjamaah maghrib dan Isya’.
Selagi ingat berjuanglah……..!!!

Perjuangan Yang Terlupakan Oleh: Teguh ‘Estro’ Sejak Adam menggenggam butiran pasir di bumi berarti sejak itu pula kata perjuangan dike...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

(tulisan lama)
Oleh: Teguh Estro
Belum sembuh luka korban bom di kawasan Legian, Kuta Bali 2002 silam. Pun belum kering air mata keluarga korban bom Marriott enam tahun lalu. Begitu juga sejumlah ledakan di depan Kedubes Australia beberapa waktu lalu. Juga ledakan-ledakan di Poso, Aceh, Jakarta dan di wilayah Indonesia lainnya. Lebih dari 190 kasus teror peledakan Bom dari berbagai penjuru tanah air telah terjadi. Pelaku teroris pun tak mau ketinggalan zaman. Mereka kian professional saja membuat ‘kejutan’ yang meresahkan warga. Walhasil, daar..! pukul 07.45 pagi terjadi ledakan untuk kedua kalinya di depan hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli Jumat lalu. Tentu saja publik bertanya-tanya ada apa gerangan.? Apakah hanya karena ‘mbah Fergusson’ Cs hendak menginap di Indonesia? Ataukah disebabkan ketidakpuasan terhadap hasil PILPRES 2009…? Ataukah ini ulah iseng para teroris yang terus menebar ancaman?
Para penggemar Manchester United (MU) di tanah air tentu begitu geram. Mimpi ingin bertemu Ronney dkk secara langsung pupus sudah. The Dream Team yang telah disusun PSSI pun pulang kampung. Tiket Stadion Gelora Bung Karno yang habis terjual terpaksa dikembalikan lagi. Kesemuanya ini tentu saja erat kaitannya dengan ledakan bom di Mega Kuningan tersebut. Mungkinkah kedatangan juara Premier League itu cukup berpengaruh bagi Indonesia sehingga harus dihadang dengan bom. Ya, mungkin saja jika nalar yang digunakan adalah MU sebagai klub yang berbau kapitalis. Kedatangan mereka yang dinilai sebagai simbol mulai merapatnya Indonesia pada kepentingan kapitalis. Lantas kenapa sejak dulu Freeport, Exxon, dan Simbol kapitalis lainnya masih aman-aman saja? Padahal perusahaan-perusahaan multinasional tersebut jelas-jelas berbau barat. Anehnya kenapa warga pribumi yang menjadi tumbalnya?
Skenario lain berpendapat bahwa bom mega kuningan ini sebuah ekspresi kekecewaan terhadap hasil Pilpres. Pasalnya seluruh kontestan Pilpres yang masih berbau militer itu bukanlah tokoh yang saling ‘bersahabat’. Dan tentunya mereka bukanlah orang yang asing akan dunia rakit-merakit bom. Apalagi PEMILU kali ini diikuti oleh para mantan jenderal. Lokasi bom yang ada di ibukota pun mengindikasikan setidaknya ada unsur politik di dalamnya. Hal ini mengingat bahwa Jakarta merupakan pusat pemerintahan NKRI dimana segala sesuatunya diukur dengan kacamata politik. Akan tetapi analisis ini dengan mudah dibantah oleh semua kontestan Pilpres. Bahkan tidak ada saling tuduh antar mereka.
Pendapat yang paling masyhur atas tragedi ini adalah adanya pemain lama yang –lagi-lagi- dihubungkan kepada kelompok Jama’ah Islamiyah (JI). Mereka adalah pelaku atas sejumlah aksi teror di tanah air. Sebut saja Nurdin M Top kini kembali populer di kalangan POLRI. Buronan nomor wahid itu tak bosan-bosannya mengusik tidur banyak orang. Dengan berdalih jihad, M. Top berhasil melakukan “Brain Wash” terhadap kader-kader militan untuk melakukan bom bunuh diri. Uniknya, para gembong teroris ini merasa benar sekaligus bangga atas kelakuannya.
Hal yang menyakitkan adalah kian terpojoknya wajah Islam dengan tuduhan sebagai produsen kekacauan umat. tragedi bom ini seolah menutupi bagaimana umat Islam Indonesia baru saja menyelenggarakan hajatan PEMILU damai. Ledakan bom ini sekaligus ledekan bagi bangsa Indonesia yang dulu sempat tersohor sebagai bangsa yang ramah-tamah.
Ceritera yang menggelikan lagi ketika pemerintah Indonesia harus menuntaskan terorisme ini sendirian. Lihat saja bagaimana Amerika Serikat sempat kecolongan pada 11 Sepember 2001 silam. Negeri yang selalu pamer kekuatan militer itu harus bersusah payah menyelesaikan kasus terorisme yang tak kunjung selesai. Apalagi Indonesia yang punya reputasi buruk di bidang pertahanan dalam negeri. Namun akankah bangsa Indonesia hanya pasrah menunggu bom-bom berikutnya. Setidaknya harus ada upaya pencegahan yang serius dan berelanjutan dari POLRI.
Tahap pertama adalah pemulihan Traumatic Shyndrome rakyat Indonesia terhadap lokasi-lokasi keramaian yang selalu menjadi sasaran ledakan. Hal tersebut harus diiringi dengan jaminan keamanan yang betul-betul safe. Tujuannya bukan sekedar terapi psikologi pasca bom semata. Namun lebih pada adanya jaminan keamanan yang bisa menunjang sektor lainnya. Sebut saja sektor pariwisata dan ekonomi yang langsung terkena imbasnya.
Tahap kedua, mulai saat ini POLRI jangan sedikitpun merasa sungkan untuk menggandeng masyarakat menuntaskan tragedi bom Marriot ini. Kini POLRI dan rakyat memiliki musuh bersama. Adalah mereka para pelaku bom apapun motifnya merupakan buronan polisi sekaligus buronan rakyat. Jika masyarakat dan aparat telah satu frame maka nyaris tak ada lubang persembunyian bagi pelaku peledakan untuk melarikan diri. Mungkin masih ingat bagaimana peristiwa G-30S/PKI yang binasa oleh kekuatan TNI (ABRI pada saat itu) yang saling berjibaku bersama rakyat.
Tahap ketiga, eksekusi operasi penuntasan kasus teroris secara total. Mulai dari aspek kognitif, hukum dan keagamaan hingga pada aspek praksis-militeris. Aspek kognitif dengan pembelajaran anti terorisme dalam pelajaran tambahan bagi pelajar. Pun dengan digagasnya UU anti terorisme secara baku. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memainkan kembali peran agama sebagai sumber ajaran perdamaian. Tahap selanjutnya adalah dengan penindaklanjutan secara kontinu terhadap tragedi bom di Indonesia, terutama JW Marriott dan Ritz Carlton.

(tulisan lama) Oleh: Teguh Estro Belum sembuh luka korban bom di kawasan Legian, Kuta Bali 2002 silam. Pun belum kering air ma...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

“Dunia Kampus tak Sekedar Peralihan Pendidikan”
Oleh: Teguh Estro*

Bergerak adalah keniscayaan bagi dinamisnya keadaan. Pun bagaimana perjalanan hidup manusia sebagai insan pendidikan yang selalu bergerak. Setidaknya anak-cucu Adam ini harus terus melakukan move-move untuk menjaga dinamisasi dirinya. Pun naik jenjang menuju kampus tiada lain sebagai pernyataan diri sebagai insan yang dinamis. Hal ini salah satu alasan banyak pelajar yang tertarik untuk mencicipi status mahasiswa. Karena status itu bukan sekedar peralihan dari Sekolah menengah/madrasah menuju pendidikan tinggi saja. Ada aura peralihan, perubahan dan perbaikan yang dahsyat di sana.
Sejarah mencatat tidak sedikit perubahan besar dimulai dari peralihan-peralihan keadaan. Sebut saja perjuangan Rasulullah Saw baru terasa ‘nendang’ ketika beliau beralih (baca: hijrah) dari Makkah menuju Madinah. Hal yang luar biasa juga terjadi pada Albert Einstein ketika ia melakukan peralihan dari tanah Europe menuju United States of America, ia menjadi ilmuwan yang tak akan pernah dihapus sejarah. Hal yang mencengangkan juga terjadi pada Jenderal Ahmad Yani saat ia mengikuti akademi militer angkatan darat di negeri Paman Sam. Ahmad Yani muda berhasil menjadi sosok jenderal yang luar biasa setelah peralihan pendidikan tersebut. Singkat kata, hampir tidak ada perubahan besar tanpa didahului peralihan-peralihan yang menentukan.
Dunia kampus, dunianya kaum pendidikan yang terus bergerak, dinamis dan beralih. Peradaban dunia mulai mengalami keemasan tidak lain karena faktor pendidikan menjadi penunjang. Semisal kampus al-Azhar di Mesir, kampus oxford di Eropa, kampus Nizamiyah di Baghdad dan lainnya merupakan kampus bersejarah yang menjadi penentu jalannya peradaban dunia pada masanya. Sulit untuk dibantah bahwa pasang surut kemajuan pendidikan berimbas dengan kualitas peradaban manusia. Itulah pendidikan dan itulah kampus. Namun kita jangan sampai melupakan siapa aktor terpenting di dalam sebuah universitas. Merekalah para mahasiswa yang konsisten bergerak.
Kepada mahasiswa yang dinamis jangan terkejut jika suatu saat menjadi orang besar dalam sejarah. Hal ini karena para mahasiswa telah memasuki zona peralihan yang sangat menentukan bernama kampus. Hal ini pernah terjadi pada guru bangsa kita yang mengalami perubahan besar saat berkenalan dengan dunia kampus. Bukankah Soekarno pernah hijrah dari Surabaya menuju kampus di Bandung, Technische Hoge School (sekarang ITB). Di sana beliau banyak berdialektika dalam dunia idealisme kebangsaan bersama mahasiswa lainnya. Bung Hatta pun belajar hingga ke negeri bule, kampus Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda.
Sukarno, Hatta dan Sutan Syahrir adalah manusia biasa, nyaris tak ada beda dengan kita. Dan penting untuk diingat, salah satu langkah hidup mereka adalah berhijrah menuju kampus. Namun sayang mahasiswa kini seolah melupakan proses transisi ini. Tidak sedikit pegiat akademik yang melangkahkan kakinya menuju kampus hanya karena tuntutan trend. Padahal telah dimaklumi akan posisi mahasiswa sebagai agent of change (Agen perubahan). Sebuah sematan yang lebih daripada prestise semata. Agen perubahan adalah amanah mahasiswa terhadap bangsa ini. Hingga tidak heran jika keberadaan mahasiswa sebagai aktor intelektual senantiasa ditunggu-tunggu kontribusinya.
B. Amr bin Luhay Berhijrah Untuk Kesesatan
Pemimpin Bani Khuza’ah yang suka berbuat bajik, rajin bershadaqah, singkat kata dia adalah kiayi nya bangsa arab pada masanya (masa sebelum nabi). Ketika Amr bin Luhay mengadakan perjalanan ke Syam, ia melihat penduduk Syam menyembah berhala sebagai kebiasaan di negeri para Rasul itu. Kesimpulannya ia memutuskan menyembah berhala adalah kebaikan. Parahnya kultur tersebut ditransfer juga ke tanah Mekah. Hingga muncul berhala Hubal, Latta dan Uzza di sekeliling Ka’bah. Masyarakat Mekah pun hanya ‘manut’ saja pada sang kiayi. Sungguh keluguan Amr bin Luhay saat melakukan perjalanan menjadi penyebab malapetaka di Mekkah.
Amr bin Luhay mungkin telah lama tiada, namun keluguannya masih terwarisis di zaman sekarang. Tidak sedikit pelajar dari daerah yang datang ke Yogyakarta membawa keluguannya. Pelajar lugu ini pun melihat hal baru yang berbau modern (baca:pemikiran liberal) sebagai hal yang biasa. Hingga akhirnya kultur tersebut mereka bawa ke kampungnya dan menghipnotis masyarakat menjadi liberal. Tidak sedikit lulusan mahasiswa yang berdebat usil dengan ustadz dan kiayi di kampung hanya karena guru-gurunya tersebut dianggap kolot dan tidak modern. Na’udzubillah…

*Penulis adalah Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pemuda Rohis asal SUMSEL ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Partai PAS wilayah Fakultas Dakwah.

“Dunia Kampus tak Sekedar Peralihan Pendidikan” Oleh: Teguh Estro* Bergerak adalah keniscayaan bagi dinamisnya keadaan. Pun ba...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro


Indonesia negeri sejuta mitos. Masyarakat nusantara sudah lama terdoktrin dengan legenda-legenda manusia sakti. Seolah-olah problem di dunia ini akan selesai dengan sendirinya seiring munculnya sang pahlawan. Sebut saja legenda Arjuna, sang ‘ratu adil’, bahkan sampai kesaktian ‘si pitung’ yang kebal peluru. Masih banyak lagi sosok ‘manusia langit’ yang dipercaya akan turun menuntaskan kegalauan bangsa ini. Mau bagaimana lagi, inilah watak masyarakat kita. Mereka begitu mudah mendewa-dewakan sosok yang dianggap penyelamat bangsa ini. Dan celakanya hal demikian dilakukan secara membabi-buta dengan ‘pemujaan’ seratus persen. seolah siapapun yang mampu menyelesaikan polemik bangsa, maka ia layak dipuja.

    Salah satu persoalan bangsa yang tak pernah berujung yakni korupsi. Wabah penyakit korupsi kian mengakar di negeri ini. Tak perlu menyalahkan pemerintah, praktek korup kecil-kecilan saja sudah menjadi habit di masyarakat grashroot. Sehingga jangan heran jika munculnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat masyarakat heran. Seolah ada hal baru yang diluar kebiasaan sehari-hari. Apalagi saat pimpinan KPK dicekel oleh Antasari Azhar, ia meringkus pejabat-pejabat besar tanpa takut. Kejadian tersebut membuat masyarakat kian percaya bahwa institusi yang kini dipimpin pak Busyro adalah harapan. Dan lagi-lagi dukungan yang berlebihan langsung diarahkan pada KPK ‘sang penyelamat’.

Apakah benar KPK adalah sang ratu adil seperti yang dikatakan mitos. Atau jangan-jangan hanyalah institusi yang dirancang untuk menjatuhkan saingan politik para elit. Telah menjadi jumhur aktivis, bahwa oknum yang mengisi tubuh KPK juga tak lain ‘penyamun’. Layakkah institusi ini dipercaya untuk menggebuk maling-maling kelas kakap. Maka dari itu perlu kiranya menggunakan timbangan maslahat dan Mafsadat. Bukanlah dengan pertimbangan manusia sakti atau tidak.

   Dalam kaidah fiqh disebutkan daf’ul mafasidu muqaddamu ‘ala jalbu almashalih. Artinya menolak mafsadat jauh lebih diutamakan tinimbang melakukan maslahat. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan fungsi KPK sebagai pemberantas korupsi. Maka ia bisa dikategorikan sebagai daafi’ul mafasid. Apalagi lembaga yang berusia Sembilan tahun ini berani mengungkapkan kasus-kasus besar yang tidak pernah dilakukan oleh institusi lain.

Sedangkan di sisi lain, institusi kepolisian dan kejaksaan yang dianggap gagal kian terkerdilkan. Sehingga sistem ketata-negaraan di negeri ini kian tidak sehat jika kedua institusi tersebut lumpuh. Maka, dengan pembubaran KPK juga memberikan maslahat pada sistem demokrasi bangsa ini. Bukankah sistem demokrasi akan lebih sehat jika pemberantasan korupsi diemban ‘lagi’ oleh institusi kepolisian dan kejaksaan. Apalagi mereka memiliki cabang hingga ke kabupaten-kota. Tentu akan lebih efektif dalam penuntasan korupsi hingga ke akar-akarnya.

Ada dua hal yang harus dipilh dalam hal ini. Antara mendesaknya agenda pemberantasan korupsi di negeri ini. Ataukah mengutamakan kesehatan ketata-negaraan dengan pembubaran KPK. Tentu saja jika kita melihat dua pilihan tersebut, ia sama-sama memiliki kemaslahatan. Sehingga kita bisa melakukan ikhtiyar al-ashlah min al ashlah. Artinya kita mengambil yang lebih bermaslahat besar.

Penulis dalam hal ini lebih memilih mendukung KPK untuk terus memberantas korupsi. Karena perannya yang urgen dalam menegakkan salah satu maqashidu asy-Syari’ah yakni hifzhul mal. Saat ini memang lembaga pimpinan pak busyro ini tengah menjalani hambatan yang rumit. Mulai dari masalah SDM hingga persoalan koordinasi antar institusi penegak hukum yang pelik. Dalam hal ini terdapat kaidah fiqh yang bisa kita ambil. “Ma laa yudroku kulluhu laa yutroku kulluhu.” Artinya apa yang tidak bisa dilaksanakan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.

Akan tetapi bukan berarti kepolisian dan kejaksaan dikerdilkan begitu saja. KPK justru harus berbagi peran terhadap kasus-kasus yang ada. Semisal kasus-kasus kecil diserahkan pada kejaksaan dan kepolisian sedangkan kasus-kasus besar dituntaskan oleh KPK. Skandal Bank Century, wisma atlet atau kasus MENAKERTRANS, tentu saja menjadi tugas utama KPK. Sedangkan kasus-kasus di eselon rendah hingga ke daerah kabupaten-kota diselesaikan oleh kepolisian dan kejaksaan.

KPK, Kepolisian dan Kejaksaan bukanlah saling hantam. Akan tetapi mereka saling bersinergi. Bahkan ketiga lembaga ini kudu disupport oleh APBN. Sebagaimana Umar bin Khatab mengatakan bahwa salah satu orang yang berhak menerima harta adalah ar-rajulu wa ghina’uhu. Yakni siapapun yang karena kegunaannya, ia berhak mendapatkan harta.

*Penulis bukan penulis

oleh : Teguh Estro Indonesia negeri sejuta mitos. Masyarakat nusantara sudah lama terdoktrin dengan legenda-legenda manusia sakti. Seolah...
Teguh Estro