Menu
Teguh Indonesia



1. Di zaman modern, kita butuh film horor yang mengubah imajinasi tentang hantu. Tak melulu pocong atau kuntilanak

2. Suster Ngesot adalah lompatan sejarah imajinasi. Ada pergeseran persepsi tentang wujud hantu nan cantik,modern & liar

3. Bila sutradara kreatif, banyak karakter menarik yang bisa dijadikan sosok hantu di dunia modern.

4. Karakter hantu bisa juga dibuat untuk kritik sosial. Semisal Hantu Lumpur LAPINDO atau Arwah Sang Koruptor  

5. Setan adalah musuh yang nyata, coba sekali2 setting film horror itu di Papua. Judulnya MISTERI FREEPORT BERDARAH

6. Paradigma tentang film horror harus diperbaharu. Dimulai dengan pembaharuan filosofi tentang Setan.  

7. Kemiskinan & kebodohan adalah musuh bangsa. Bisakah Film horor mengakomodir karakter itu dalam wujud hantu yang tepat

@teguh_estro 

1. Di zaman modern, kita butuh film horor yang mengubah imajinasi tentang hantu. Tak melulu pocong atau kuntilanak # ReformasiHantu ...
Teguh Estro Minggu, 26 April 2015
Teguh Indonesia


 
          Berikut ini bukanlah artikel atau opini. Namun hanyalah kutipan dari tulisan-tulisan Bung Hatta dalam bukunya Kedaulatan Rakyat, Otonomi & Demokrasi. Kutipan-kutipan itu sebagai berikut:

1.  Di masa yang lampau kita menganjurkan cita-cita kedaulatan rakyat. Sekarang, setelah kita melahirkan Indonesia merdeka, kita berhadapan dengan soal mempraktikannya.

2.    Di sini kita berhadapan dengan sifat manusia yang lamban, yang tidak begitu mudah menerima yang baru dan ingin berpegang kepada kebiasaan.

3.    Pertentangan antara cita-cita dan praktik daripada cita-cita itu tidak boleh mematahkan hati kita.

4.    Jadinya, kedaulatan rakyat adalah kekuasaan yang dijadikan oleh rakyat atau atas nama rakyat di atas dasar permusyawaratan.

5.    Akan tetapi, manakala daerah itu sudah agak besar, maka permusyawaratan selalu dilakukan dengan jalan perwakilan.

6.    Dasar pemerintahan yang adil ialah, siapa yang mendapat kekuasaan dia itulah yang bertanggung jawab.

7.    Yang berdaulat adalah rakyat, dan yang memikul tanggung jawab rakyat pula.

8.    Tolong-menolong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi.

9.    Kita hanya punya satu republik, Republik Indonesia. Di sebelah itu tidak ada tempat untuk berrepublik.

10. Kepala desa hendaklah dipilih kembali oleh rakyat desa, supaya timbul kembali perasaan, bahwa pemerintahan desa dikepalai oleh orang yang disukai rakyat.

11. Rakyat melakukan kedaulatannya dengan tidak disertai dengan rasa tanggung jawab. Dan kedaulatan rakyat dengan tidak adanya tanggung jawab bukanlah kedaulatan rakyat lagi.

12. Hanya dengan keinsafan politik dapat timbul rasa tanggung jawab, yang menjadi tiang dari pemerintahan rakyat. Oleh karena itu perlu diadakan didikan politik bagi rakyat.

13. Keinsafan politik tidak didapat dengan begitu saja pada rakyat. Mesti ada didikan dan latihan.

14.  Kewajiban partai politik yang terutama ialah mendidik rakyat untuk mendapatkan keinsafan politik.

15. Cita-cita persatuan jangan dilupakan. Dalam ideology kita boleh berbeda, tetapi sebagai bangsa kita satu.

16. Nasib Indonesia di masa datang bergantung kepada keinsafan politik rakyat.

17. Demokrasi tidak akan berjalan baik, apabila tidak ada rasa tanggung jawab. Demokrasi dan tanggung jawab adalah dua rangkai yang tidak dapat dipisah-pisah.

18. Demokrasi terpimpin Soekarno menjadi suatu dictator yang didukung oleh golongan-golongan yang tertentu.

19. Ini juga adalah hukum besi dari dasar-dasar konstitusi adalah akibat daripada krisis demokrasi itu.

20. Berlainan daripada beberapa negeri lainnya di Asia, demokrasi di sini berurat-berakar di dalam pergaulan hidup. Sebab itu ia tidak dapat dilenyapkan untuk selama-lamanya.

21. Bagi beberapa golongan menjadi partai pemerintah berarti “membagi rezeki”. Golongan sendiri dikemukakan, amsyarakat dilupakan.

22. Sejarah dunia memberi petunjuk pula bahwa diktator yang bergantung kepada kewibawaan orang-seorang tidak lama umurnya. Sebab itu pula sistem yang dilahirkan Soekarno itu tidak akan lebih panjang umurnya dari Sokarno sendiri.

23. Bagi saya yang lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance dalam waktu yang layak pada Presiden Soekarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu yang sukses atau suatu kegagalan.

24. Kedaulatan rakyat ciptaan Indonesia harus berakar dalam pergaulan hidup sendiri yang bercorak kolektivisme.

25. Di sebelah demokrasi politik harus pula berlaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada.

            Berikut ini bukanlah artikel atau opini. Namun hanyalah kutipan dari tulisan-tulisan Bung Hatta dalam bukunya Kedaulata...
Teguh Estro Minggu, 19 April 2015
Teguh Indonesia

 
 
Oleh: Teguh Estro
                                                                                            
            Kaki tergesa menuju rumah, sepulang kerja. Sebelum keringat ini mengering diserap dingin malam. Jemari kekarku mengetuk pintu triplek rumah. Tanpa panjang usaha, senyum isteriku sudah menyambut senang. Lama kutatap wajah oval berjilbab ungu dihadapanku ini. Riana pun hanya diam namun tak dapat menutupi pipi merahnya. Hingga akhirnya azan Isya’ memecahkan suasana.

            “ Sudah, mandi sana terus sholat….” Isteriku.

            Malam ini begitu bising. Naluriku menangkap ada seganjil yang tak beres. Purnama datang namun tak kuasa menerangi bumi. Satu per satu cahaya tertutupi debu. Serta suara bising mesin bekerja mengiringi detak jantung. Disana, di ujung jalan desa terdapat keramaian mesin penggali. Sampai kuputuskan untuk tidak tertarik lagi pada dewi malam. Mungkin masuk ke bilik kamar saja.

            “Sayang, buka pintunya…”
            “Iya mas, sebentar…”
            “kamu belum tidur sayang…” Tanyaku manja.
            “Gimana mau tidur, dari tadi Cakra nangis terus…”
            “ya sudah, Cakra biar mas yang gendong dulu. Kamu istirahat dulu ya”
            “Mas kok tumben, pasti ada maunya. Ya udah itu Cakra di dalam kamar dibawa aja. Aku mau masak air dulu”

            Cakra anak pertama kami, baru satu tahun, baru belajar bicara dan baru mengenal dunia. Pangeran kecil ini memang jago sekali menangis. Dia terus berteriak tanpa rasa bersalah. Percuma rasanya aku pura-pura tersenyum di hadapannya. Kalau memang menangis adalah kebahagiaannya, maka biarlah buah hatiku ini berekspresi  sekencangnya. Aku pun tak tahu, apakah Cakra benar-benar menangis atau hanya akting belaka.

            Riana, isteriku melihat tapi lebih tepatnya meledekku. Ia menikmati kecanggunganku menggendong Cakra. Mungkin karena jarang aku mengasuh di rumah. Perlahan wanita setengah arab itu menghampiri dua lelaki yang sama-sama egois.

            “Sini mas, biar aku yang gendong Cakra” Isteriku…
            Dengan berat rela, berpindahlah bocah rewel ini pada timangan Riana. Akankah hanya menyerah pada rutinitas malam. Melamun, Minum kopi lalu terlelap. Tidak…! Aku harus keluar rumah, meski debu malam kian pekat. Kujalani perlahan kegelapan ini. Ternyata aku berjalan terlalu jauh. Mulai terlihat balai desa, tempat kenangan masa lalu. Sebuah balai  pertemuan pernikahan aku dan Riana, begitu luas dan gagah.

            Duduk seorang diri sambil menggaruk ketiak yang gatal. Sengaja lampu tak kunyalakan, karena malas mau menghidupkan tombolnya nan jauh di ujung ruangan. Balai desa ini memang tidak bertembok, hanya pilar-pilar kokoh yang menopangnya. Dari kejauhan ternyata ada sesosok lain yang bersandar di pilar belakang. Jantungku berdegub tak beraturan. Siapapun dia pasti orang jahat, jelek dan berniat memperkosa. Agak takut tatapan ini mulai fokus pada wajah itu.

            “Ngapain kamu lihat saya serius banget dul….” Tiba-tiba wajah itu menyebut namaku. Ternyata mang Zali penjaga balai yang juga asyik menyendiri bersama puntung rokok berbibir merah membara di ujungnya. 

Kian malam, satu per satu penduduk berdatangan ke balai untuk menyendiri. Mereka tanpa diundang berjalan menuju tempat yang sama dan tujuan yang sama, menyendiri. Ruangan ini kian ramai oleh manusia, ramai sekali. Sampai akhirnya terdengar suara tangisan yang sangat kukenal. Seorang ibu muda menggendong anak bayi yang meronta-ronta. Itu pasti Riana dan Cakra yang juga memasuki balai desa dan duduk jauh dari tempatku. Cakra berteriak dan menangis sangat kencang. Satu per satu orang yang tadinya menyepi sendiri, kini mereka berceloteh bak suara lebah yang dikomandoi oleh tangisan anakku. Tanpa disangka, tangisan Cakra mengundang tangisan anak-anak lainnya.

Balai desa kian gaduh oleh ragam suara. Tangis bayi, ocehan ibu-ibu, teriakan dan suara bising mesin penggali dari kejauhan. Ditambah lagi suara batuk para sesepuh yang menghirup udara malam yang sangat berdebu. Udara malam yang tadinya dingin kini bertambah panas dan gerah. Di tengah gelapnya ruangan balai desa, aku pun berteriak.

“Adoooouuuuuh sakit” Kakiku terinjak oleh sebuah tumit dengan sangat kuat.

Sepertinya orang di sebelahku benar-benar menyengaja. Ini bukan injakan biasa. Ada sensasi kebencian yang dalam. Lalu seketika lampu menyala menyilaukan mata. Kini tampaklah terang-benderang apa yang terjadi. Kulirik sekeliling ruangan balai sungguh menakjubkan. Penuh oleh warga desa yang berdesak-desakan. Dan di hadapan kami semua, tampaklah kepala desa yang tak lupa membawa wajah bingungnya. Dan yang membuat aku heran adalah ternyata orang yang menginjakku tadi adalah Riana isteriku dengan berpakaian batik merah bergaris hitam.

Semua yang hadir tidak ada yang mau memulai untuk bicara. kami asyik berbicara dengan diri sendiri. Mengumpat keadaan, mengumpat debu yang merusak kesehatan, mengumpat suara bising mesin penggalian. Selanjutnya tentu saja menunggu pak Jarko untuk bicara. Namun kepala desa itu jauh lebih diam dari kami. Hingga akhirnya ia terusik juga untuk bicara karena tak tahan mendengar tangisan Cakra.

“Tolong bayi itu disuruh diam, mengganggu saja” Namun Cakra seperti biasa pintar berpura-pura dan terus berteriak dan menangis.

“Bu Riana, bisakah anak anda ditenangkan dulu” minta pak Jarko lagi.

“Maksud pak Kades, anak saya. Emang kenapa…?” Jawab Isteriku yang terlihat cantik malam ini.

“Anak anda ribut dan mengganggu kepentingan umum…” Ucapan pak Jarko ini disambut oleh tangisan Cakra yang kian kencang.

“Oh, Jadi apapun yang ribut itu mengganggu kepentingan umum ya..!! kalau menurut anda cuma suara anak saya saja yang mengganggu. Berarti telinga anda yang rusak pak Jarko….” Jawab isteriku ketus, tapi bagiku itu aura kecantikan yang tiada tara.

Pak Jarko kian bingung di balik baju kotak-kotak nya. Sebenarnya dia tahu apa yang dimaksud Riana. Bukan suara Cakra yang mengganggu desa ini, tapi suara bising mesin penggali yang meresahkan. Bahkan debunya cukup mengganggu siapapun yang berkeliaran di luar rumah.

***

            Keesokan paginya tanganku dicium oleh Riana, tanda hendak berangkat kerja. Baru saja sampai di luar pintu, terlihat Pak Jarko di jalan depan rumahku. Ia tampak terburu-buru bersama isterinya yang menggendong seorang bayi. Setahuku mereka tak punya anak bayi. Dan sangat mencurigakan karena bayi yang dibawa itu terus menangis kencang, persis Cakra. Mau kemana mereka…

            “Woi Pak Jarko, Mau kemana…?” Tanyaku bersahabat.
            “Mau ke Kantor Camat mas Abdul…”

    Oleh: Teguh Estro                                                                                                          ...
Teguh Estro Sabtu, 18 April 2015
Teguh Indonesia




Saat ini kita hidup di zaman modern. Banyak yang terlena termasuk para da’I nya. Da’i-da’I kita menjadi manja. Mereka lupa bagaimana caranya berkorban. Mereka enggan membagi keringat dalam kesulitan. Profesionalisme mereka diukur dengan uang. Sungguh menyedihkan pendakwah kita saat ini.
Kita butuh da’I yang berkarakter dan memiliki mental saudagar. Bagaimana seorang saudara itu. Mereka pekerja keras dan penyabar yang tinggi. Mereka yang bermental saudagar pandai menyampaikan. Mereka juga terbiasa bepergian jauh dengan ongkos mahal. Mereka yang memiliki mental saudagar juga terbiasa hidup dalam himpitan kebangkrutan.
Oleh karenanya banyak dari da’i-da’I kita di masa lampau adalah seorang saudagar. Mereka berpindah-pindah dari Cina ke Eropa. Dari India ke Nusantara. Dari Afrika ke Timur tengah. Mereka cepat beradaptasi pada umat. Mereka juga cerdas dalam berdakwah.

Saat ini kita hidup di zaman modern. Banyak yang terlena termasuk para da’I nya. Da’i-da’I kita menjadi manja. Mereka lupa bagaiman...
Teguh Estro Jumat, 10 April 2015
Teguh Indonesia



www.patrioticpictures.us


Oleh: Teguh Estro
            Kariernya sebagai astronot telah di ujung tanduk. Maklum sudah tujuh kali ekspedisi tak satupun menghasilkan penemuan. Perjalanan yang menghabiskan budget selangit itu tak menuai sesuatupun, arang habis, besi binasa. Udin Van Armstrong seorang antariksawan yang pernah sukses di masa lalu. Konon dialah orang yang pertama kali nyruput kopi di bulan. Pria kelahiran Amrik, Desa Sukamaju ini hanya memiliki kesempatan terakhir untuk kembali blusukan ke luar angkasa. Bilamana tak berhasil juga jerihnya, maka ia akan dipecat dalam tempo sesingkat-singkatnya.

            “ Udin, kau sudahkah siapkan penerbangan esok?” Tanya Bedjoe Castello seorang jenderal berbintang tujuh kepada Udin Van Armstrong.
            “ Siap Jenderal, Kalau kaki lelaki sudah melangkah, pantang niat tersurut” Jawab Udin van Armstrong dengan nada tegas dibuat-buat.

            Sang Surya telah menyelesaikan tugasnya hari ini. Artinya Udin van Armstrong semakin dekat dengan keberangkatannya ke negeri antum-barantum. Sadarlah bujang lapuk ini, kalau kali ini adalah last time baginya untuk berpetualang ke planet jauh.
***
            5…., 4…., 3…., 2….., 1…… Luncurkan Roket sekarang…..!” itulah kalimat terakhir yang di dengar Udin sebelum ia merantau jauh. Besi terbang yang ditumpanginya sudah menuju atmosfer demi atmosfer. Diintipnya di luar sana, ternyata bulan tak secantik seperti yang dikatakan para pujangga di kampungnya. Menurut Jenderal Bedjoe Castello, ia akan menuju target sebuah planet anyar sekitar 100 juta kilometer dari Pluto. Entah planet apa namanya, kesanalah tujuan dari astronot  penggemar Real Madrid ini. Berhari-hari masa terlewatkan di dalam pesawat ulang-alik ini, puluhan puisi sudah ia karang mengisi waktu luang. Sesekali juga mengisi TTS yang dibawakan ibunya sebelum berangkat.

            “ Target tujuan akan sampai, bersiap-siap, bersiap-siap, bersiap-siap” suara komputer awak kapal mengagetkan seisi ruangan.
            Benar saja, kini ia sudah memasuki atmosfer dari sebuah tanah bulat raksasa. Berguncang tak karuan seisi awak kapal. Ternyata suara komputer itu berasal dari sesosok robot yang sangat cantik menyerupai Dian Sastrowardoyo. Lama ia terpaku menatap wajah robot yang ternyata satu tumpangan dengannya itu. Hingga pintu pesawat terbuka dari luar dengan sendirinya.

            “ Wush…. Suing, suing…” angin sepoi-sepoi dari luar sana mengelus pipi berjerawat milik Udin van Armstrong. Namun pria berambut brokoli ini tak jua bergeser matanya dari menatap si robot berpakaian serba merah nan aduhai di hadapannya.
            “ Segera keluar dan selesaikan misi…” ujar Cinta Aguilera yang tak lain adalah nama robot wanita tersebut.
            “ Cinta, aku janji akan segera kembali menemuimu selepas misi ini. Inilah rupanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu” sahut Udin van Armstrong.
            “ Hmm, mulut lelaki tak boleh dipegang. Dalamnya laut boleh diselami, dalam hati siapa yang tahu. Siapa tahu isi hatimu busuk, aku tak akan tertipu. Lihatlah dirimu, ular bukan, ikan pun bukan, tak jelas baik atau buruk perangaimu. Lagipula kita tidaklah sebangsa….” Cinta menjawab dengan tegas.
            “ Cinta, kita mungkin berbeda. Tapi bukankah garam yang jauh dari laut, asam yang tinggi dari gunung bisa juga bertemu di pemasakan. Artinya bagaimanapun perbedaan suku bangsa kita, bukanlah penghalang…” Kini Udin coba meyakinkan.

            Cinta Aguilera hanya terdiam lama. tapi lekas saja ia tepis menungnya dan meninggalkan pria yang sejatinya labuhan hatinya pula. tinggallah Udin van Armstrong berdiam diri di pintu kapal. Ia memikirkan bagaimana balasan kasih dari perasaan Cinta Aguilera. Serasa menggantung dibuatnya, ke langit tak sampai, ke bumi tak berpijak.
            Berangkatlah Udin menjelajahi dunia yang barusan ia datangi ini. Tak Nampak manusia satu batang hidungpun. Semuanya ditumbuhi rimba belantara dan hewan-hewan yang semuanya boleh bicara. Namun anehnya tak satupun makhluk yang terusik oleh kehadiran pria yang badannya setinggi Norman Kamaru itu. Berhari-hari Udin van Armstrong berjalan beroleh banyak kenalan dan akhirnya tempat menginap. Inilah planet demokrasi, ya namanya planet demokrasi sungguh unik. Pantas saja mereka tak sedikitpun menaruh curiga terhadap makhluk asing semacam Udin. Karena di tempat ini menjunjung tinggi kebebasan dan perbedaan antara rakyat sipil.

            Sebuah alun-alun megah menghiasi tengah hutan belantara nan luas ini. Di bawah pohon beringin besar, terdapatlah singgasana pemimpin baru mereka. Ternyata seluruh hewan di sini baru saja mempunyai pemimpin yang baru. Dari pemerintahan si Macan kepada pemerintahan si Banteng Muda sang pemimpin baru. Sampai akhirnya Udin van Armstrong berkesempatan hadir menemui kedua pemuka itu di alun-alun persis di bawah pohon beringin.

            “ Kemarilah duhai tamu dari jauh. Tak kenal, maka tak sayang” ujar si Banteng Muda kepada Udin. Diiringi senyum dari si Macan yang duduk tak jauh dari si Banteng Muda.
            “ Hamba hanyalah perantau yang singgah di negeri hijau ini. Patutlah bagi hamba untuk memaklumi bahwa dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Terimalah salam hormat dari hamba, tuan-tuan, tabik….” Ucap Udin van Armstrong.
            “ Tabik, Justru perantaulah yang sudah jauh berjalan, lebih banyak melihat dunia. Tentu kakanda sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Sudilah berbagi cerita, menyumbang nasihat pada kami. Kalau boleh tahu siapa pula nama kakanda ini. Dan dari binatang bangsa manakah kiranya” sahut si Macan kepada Udin.
            “ Oh, nama hamba Udin van Armstrong, panggil saja Udin. Kami dari bangsa manusia. Kalau tuan-tuan sekalian sudikah memperkenalkan siapa sebait nama di balik badan…” jawab Udin singkat.
            “ Saya sendiri Subowo dari bangsa macan. Dan ini pemimpin kami Jacko dari Bangsa Banteng. Kalau sudah saling kenal, maka terikatlah kita bak saudara. Se-iya sekata, senasib sepenanggungan.”

            “ Benar yang dikatakan kakanda Subowo, beruntung sekali kami kedatangan kakanda Udin. Mungkin bisa menemani menghabiskan kopi, merasai hidangan bersama. Karena ada banyak soal negeri kami yang butuh masukan agar lekas dipecahkan” sambung Jacko, sang pemimpin Planet Demokrasi.

            “ Pasal apa kiranya yang tuan-tuan perbincangkan..? Tak kan mungkin hamba menggurui tuan-tuan. Itu tak ubahnya mengajar itik berenang, melatih burung terbang. Tentulah sekalian lebih paham soal beserta jawaban masalah negeri tuan sendiri”

            “ persoalan kami cukup sulit. Bila memikirkannya membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak, Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Kami memikirkan masalah ini siang dan malam karena begitu besar mudharatnya bila tak segera ditutup lubang yag menganga ini…” cemas Subowo mengernyitkan dahinya.

            “ persoalan apa kiranya yang tuan khawatirkan. Bolehlah hamba menyumbang saran. Karena tak ada soal yang tak berjawab. Kalau tiada angin berhembus, tak akan mungkin pohon bergoyang. Apapun yang berkejadian pastilah ada asal-usulnya…” lugas Udin van Armstrong kepada tuan rumahnya.

            “ Begini, di negeri kami sudah kehabisan muara penghidupan. Rakyat kian berkeluh kesah karena pekerjaan kian sulit didapat. Alam kami yang ada ini, tidak subur seperti dahulu lagi. Sedangkan  kekayaan yang tersisa tinggal gunung emas di ujung hutan ini. Itupun adalah harta pusaka warisan leluhur kami yang tak boleh dijamah selain untuk diwariskan kembali.” Cerita Jacko pada tamunya itu.

            “ Tuan-tuan sungguh berhati mulia, duka rakyat selalu didahulukan. Pemimpin adil, ia disembah. Pemimpin zhalim, ia ditinggalkan. Itulah pepatah mengatakan. Apalagi ini untuk kepentingan rakyat. Maka perlu dipikir masak-masak, ditimbang baik dan buruknya. Karena berpikir adalah pelita. Namun dalam pikir sehat hamba, kepentingan rakyatlah harus diutamakan. Kalau untuk keperluan yang lebih besar, maka segala pantangan boleh ditepikan. Kalaulah leluhur tuan, masih hidup dan paham akan masalah ini. Tentu mereka memikirkan rakyatnya sama seperti kita. Gunung emas takkan berfaedah bila hanya mematung tanpa dinikmati rakyat jelata.  Maaf kiranya kalau hamba salah berucap atas saran ini” Jurus Silat lidah Udin van Armstrong cukup memukau.

            “ Bagaimana kakanda Subowo, pendapat dari Udin ini ada benarnya juga. Kepentingan wong cilik lebih didahulukan. Kita berpeluh siang dan malam tidak lain untuk rakyat juga. Jika sampai rakyat tercekik derita, kita juga menanggung dosanya.” Tanya Jacko kepada Subowo pelan.

            “ Adinda pemimpin kami, apapun keputusan adinda tentu sangat dihormati. Pilihan kita ini bak buah simalakama. Lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Kedua-duanya pilihan yang sulit. Namun saya masih meyakini kalau leluhur kita membuat pantangan atas gunung emas itu tentu ada maksud dan tujuannya. Inilah pusaka satu-satunya yang tersisa, tentu perlu dipikir masak-masak….” Subowo mulai sedikit cemas. 

            “ Kakanda Subowo macam tak sehatkah, sampai pucat wajah.. Khawatir adinda batin pun ikut menderita. Pemikiran kakanda pun ada benarnya. Kekayaan alam kita tak boleh sembarang diatur-atur. Namun bukankah bila niat hendak mengail ikan, hendaklah pula rela membuang umpan. Artinya untuk kepentingan yang lebih besar mestilah ada yang dikorbankan…” Jacko menatap mata Subowo tanda meminta persetujuan.

            “ Adinda Jacko, saya belum bisa memberikan masukan. Karena berat hati, kalau-kalau kita salah langkah. Apatah yang hendak dikunyah, bila gigi sebatang pun belum bertumbuh. Artinya apa yang akan kita buat dengan gunung emas itu, padahal kecakapan mengelolanya kita belum beroleh. Ibarat kera beroleh permata, hanya sia-sia karena tak paham berharganya batu mulia. Rakyat kita belumlah cukup pandai bergaul dengan benda logam. Selama ini rakyat kita hanya tahu adat bertani saja.…” Tercekat-cekat Subowo berbicara.

            “ Tuan-tuan tak perlu khawatir, dimana ada kemauan pasti ada jalan. Asalkan kita bersungguh-sungguh, kesulitan mudah dilalui. Bukankah tak ada laut yang tak bergelombang. Semua upaya mesti ada kesulitannya masing-masing. Di sinilah faedahnya hamba berada disamping tuan-tuan sekalian. Sebagai saudara tentulah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kalau rakyat di negeri ini belum boleh berkepandaian mengelola gunung emas, maka hamba bisa datangkan bantuan dari negeri hamba. Kami cukup berpengalaman bergaul dengan logam emas, cakap dalam mengatur hulu dan hilirnya. Tapi tetaplah hamba tak boleh lancang tanpa perizinan dari tuan pemimpin…” Udin van Armstrong tertawa di dalam hati. Rupanya kedua mangsa hampir masuk perangkapnya.

            “ wah, kalaulah yang kakanda Udin sampaikan benar. Sungguh negeri kami bak mendapatkan durian runtuh. Saya yakin rakyat kita pun boleh mendapat ajaran bagaimana pasal mengolah logam. Lama-kelamaan mereka akan pandai dengan sendirinya. Tajam pisau karena diasah, ala bisa karena biasa. Namun serasa ada yang ganjil bila saya sebagai pemimpin memutuskan tanpa ada pertimbangan dari kakanda Subowo…”

            “ Adinda tak perlu sungkan, saya ini hanya rakyat biasa. Cukuplah menjadi berlebihan bila adinda selalu menggunungkan hal yang sedikit dari nasehat-nasehat saya ini. Kalaulah Sudah hendak bermufakat atas keputusan ini, turut berbahagia juga mendengarnya. Karena sebaik-baik ucapan adalah yang keluar dari mufakat. Pesan saya, janganlah dihabiskan kesemuanya gunung emas itu. Sisakan sebahagian untuk diwariskan ke anak-cucu kelak. Dan kita semua sudah seperti saudara dalam hal tolong menolong, sifat kekeluargaanlah yang didahulukan. Jauhkan sejauh-jauhnya sifat musuh dalam selimut, mengail dalam belanga, menggunting dalam lipatan…” Dengan hati-hati Subowo melempar senyumnya.

            Akhirnya mereka bertiga di bawah pohon beringin besar bermufakat untuk mengelola gunung emas milik leluhur itu. Ambisi Udin van Armstrong tercapai juga untuk mengeruk gunung emas itu. Inilah kabar hebat yang akan ia laporkan pada Jenderal Bedjoe Castello nantinya. Sebelum astronot berkumis tebal itu berpamitan diri, dimintanyalah satu contoh batu kecil emas untuk dibawa pulang. Sebagai buah tangan pengingat persahabatan.
***
            “ Cinta, buka pintunya…. Misiku sudah selesai…” Teriak Udin van Armstrong. Dan lekaslah Cinta Aguilera membukakan pintu.
            “ Masuklah dan kita bergegas untuk pulang. Siapkan, siapkan siapkan….!” Suara Cinta meski aneh seperti umumnya robot, namun tetap membuat Udin jatuh hati. Dan setelah semua beres, kapalpun berangkat untuk kembali ke bumi.
            “ Cinta, apa yang kau lihat di luar sana. Pemandangan angkasa menjadi tak menarik. Sadarkah engkau mereka cemburu melihat wajahmu yang cantik” Udin van Armstrong memang pandai bersilat lidah.

            “ ucapanmu sedikitpun tiada berfaedah. Lebih baik kau sampaikan Apa yang kau dapatkan dari misimu…” Cinta tak kunjung tersenyum rupanya.
            “ Tengoklah benda yang kubawa. Inilah batu emas sebagai tanda mata untukmu Cinta. Boleh kudapatkan dari planet demokrasi yang dihuni penduduk dan pemimpin dungu itu ha ha ha…” Tertawa puas Udin sambil menikmati kopi.
            “ Maksudmu tak jelas, ceritakan pangkal dan ujungnya…!”
            “ Aku berhasil beroleh kesepakatan mengolah gunung emas besar di planet itu. Dan kita akan datang lagi untuk mengeruk emasnya dengan harga rendah, biaya pekerja murah, tanpa pajak sedikitpun lalu bagi hasil upetinya hanya 1 persen saja…” jawab Udin van Armstrong sembari mengedipkan mata pada Cinta Aguilera.
            “ Baguslah, kali ini kau cukup pandai. Aku suka. Maksudnya aku suka kerjamu” Sepertinya Cinta Aguilera mulai terperngkap rayuan Udin van Armstrong.

            Akhirnya mereka pulang dengan selamat. Tidak lama kedua sejoli pun menikah dan bahagia selama-lamanya.
***
“ Kakanda Subowo, tampaknya ada yang hendak disampaikan. Tak baik gundah disimpan, lama-lama menjadi sakit di badan.”
“ Adinda, kau pemimpin di negeri ini. Usia saya tingal sepenggalah. Saya semacam ada firasat tak enak dengan orang asing itu. Janganlah kita seperti kerbau dicocok hidung. Saya hanya khawatir kita ditelikung jua. Boleh saja orang asing itu hanya berniat mengeruk pusaka leluhur kita. Akhirnya Nyamuk tak mati, gatal tak hilang. Gunung emas habis, tapi rakyat tak kunjung sejahtera. Inilah yang saya khawatirkan adinda…” Berat sekali Subowo melafalkan kata demi kata kepada Jacko.
“ Kakanda Subowo, Nasehat itu akan saya jadikan panutan. Selama hayat dikandung badan, nasehat kakanda akan saya junjung. Bolehlah dipegang janji saya akan hal ini…” Ucap Jacko si Banteng Muda.
 

www.patrioticpictures.us Oleh: Teguh Estro             Kariernya sebagai astronot telah di ujung tanduk. Maklum sudah tujuh ka...
Teguh Estro Rabu, 03 Desember 2014