Menu
Teguh Indonesia

http://site.icanvasart.com/buy_paintings/Dorothy_Police_Search_Banksy_Painting.jpg
Oleh: Teguh Estro
(Cerpen Inspiratif)


            “ Ma, maafin papa ya. Tadi bukannya gak mau angkat telpon. Tapi bener-bener gak sempet…” ujarku memecah kesunyian pada Wina, Isteri tercinta.

            Hampir dua jam cemberut di wajah Wina buatku tak fokus menyetir mobil. Sesekali kusentuh mesra dagu Wina mengharap senyum manisnya barang sebentar. namun wanita kelahiran Bandung itu tak jua merubah rona mukanya seceria awan siang.

            “Mama kenapa sih, cerita dong biar papa nggak kayak orang bego’ gini….” Sapaanku mulai ketus. 

Wina memalingkan wajah manisnya abaikan ucapan suaminya ini. Dari kejauhan, matahari siang juga tak mau peduli menyemburat panasnya menembus kaca mobil silaukan bola mata. Bahkan AC mobil tak cukup mendinginkan kegerahan suasana. Pun demikian tingkah si kecil Lia di bangku belakang. Putri pertama kami itu hanya terdiam menyimak kelakuan aneh kedua orang tuanya ini. Lia asyik bermain seorang diri sembari menggoyangkan kipas cilik di sela-sela lehernya.

            “ Pa, sepenting apa sih kerjaan papa. Biasanya juga bisa jemput, kan mama jadinya ditinggal sama tiga pelanggan sekaligus….” Seketika Wina menyolot dengan pertanyaannya yang sinis.

            “Oke baik, Papa minta maaf ya….” Ujarku sembari menatap bola matanya yang bening. Serasa terhembus angin segar. Namun lagi-lagi Wina memalingkan muka, membuat batinku penasaran akan apa maunya. Beginilah kaum hawa, mereka begitu sulit lupakan khilaf bilamana sudah masuk ke relung hatinya. Berucap maaf saja tak cukup.

            Perjalanan nan membosankan kulalui. Suasana macet ibu kota kian menjalari alam kekesalan siang ini. Mengendarai mobil mulai tak terkendali sebab pikiran membuncah tersendat emosi batin. Rasa malu pada puteri kecilku yang masih bau kencur, kini menjadi penonton adegan tak mendidik. Di tengah kecamuk perasaan ini justru berimbas ketidaksabaranku dalam membawa mobil. Kulaju kencang menerabas lampu lalu lintas yang sedang bertanda merah.

            Gugup, panik, dan pilihanku malah menambah laju tancapan gas. Ternyata benar prediksiku, tindakan gila ini sudah terpantau dua orang polisi yang kini membuntuti. Jujur saja sejak mobil ini dibeli, baru kali ini berurusan dengan polisi. Paras Wina kian bersungut muram bercampur takut setelah menyadari kuda besi kami diikuti petugas. Sepertinya ia hendak marah, namun mobil segera kupercepat agar lolos dari intaian. Namun usaha ini gagal, lantaran teramat sulitnya melaju kencang di jalanan ibu kota. Pasrah sajalah, di tengah kemacetan, dua motor polisi merapatkan diri pada mobil kami dan meminta berjalan ke arah pinggir. Siang ini bak jatuh tertimpa tangga. 

Akhirnya kualami juga berurusan dengan polisi nan bertele-tele. STNK mobilku disita dan menunggu untuk sidang lima hari lagi. Sejak kecil diriku mengalami phobia bilamana menatap polisi. Namun itu belum seberapa. Sesampainya di rumah isteriku berkicau lagi atas masalah yang remeh-temeh. Bagiku lebih baik tertangkap polisi setiap hari daripada harus perang mulut dengan wanita yang masih kusayang ini. Sampai-sampai sore itu Wina pergi lagi dari rumah. Ia berkelana bersama rekan bisnis sampingannya, sahabat kuliahnya dulu. Seperti biasa menyambut datangnya dewi malam hanya ada aku dan Lia di dalam kediaman kami.

            Anugerah terbesar yang diberikkan Tuhan adalah hadirnya malaikat kecilku yang masih berusia 7 tahun. Hanya saja kini Lia kerap termenung seorang diri di sudut kamarnya. Bahkan pernah ia kepergok tengah berdialog sendiri melakonkan pertengkaran orang tuanya. Aku tahu apa yang ia rasa, yakni ketakutan dan merasa bersalah. Dengan malu-malu, Lia mendekatiku yang sedang sendiri di ruang tengah.

            “Pa, kok malem gini mama belum pulang ya….?” Ucap Lia terbata-bata.

            Pertanyaan selugu itu menggetarkan kerasnya hati nan membatu. Memang selama ini gadis kecil kelas 2 SD itu lebih akrab denganku. Maklum akhir-akhir ini mamanya sibuk dengan bisnis sampingannya. Aku tak pernah melarang pekerjaan itu, hanya saja dengan kurangnya komunikasi di antara kami, terkadang jadikan hal-hal sepele bak masalah puting-beliung. Ditambah lagi mulai kurangnya waktu kumpul keluarga antara kami berdua.

            “Papa!, kok ditanyain diem aja. Aku salah ya….?” Niatku hendak menjawab, namun suara pintu rumah menggedor segera membungkam bibir ini. Dengan tergesa kubuka pintu dari dalam. Prasangkaku ternyata benar, lagi-lagi Wina pulang larut malam. Dengan wajahnya yang hambar, ia bergegas masuk ke kamar. Sejak kukenal kuliah dulu, si pipi lesung ini memang orang yang jutek. Sampai pernikahan kami menginjak 8 tahun, sifat itu belum juga mampu kuredam.

            Wina kini tengah sendiri di kamarnya, kamar kami berdua. Ia menatap cermin rias dengan pandangan kosong. Perlahan langkahku mendekati wanita yang dulu kunikahi tepat di hari ulangtahunnya.

            “ Mama mabuk lagi ya?” tanyaku singkat.

            “ Sudahlah pa, mama capek” jawabnya singkat.

            Mendengar itu kian menambah geram emosi yang menumpuk di kepala. Apa boleh buat, malam ini kucoba pisah ranjang lagi dengannya. Mengalah di saat yang tidak tepat memang butuh keberanian. Setidaknya dinginnya angin malam akan kuhabiskan dengan menemani Lia di kamarnya. Masih banyak cerita pengantar tidur yang tertunda untuk kuhabiskan bersamanya. Entahlah, saat memasuki kamar malaikat kecilku ini, terasa kedamaian yang menentramkan. Tetapi tak kudapati puteriku di ruangannya. Biasanya Lia sering tertidur di ruang tengah karena kelelahan tugas-tugas sekolahnya. Dorongan mataku mulai melirik ke luar kamar menuju ruang paling besar di rumah kami. Kali ini firasatku salah, tak jua pandanganku menemukan sosok yang dicari. Rumahku memang luas, namun dalam waktu singkat kudatangi satu-persatu untuk memastikan keberadaan Lia Fransiska. Jantungku berdegub tak beraturan memaksa keringat dingin keluar dari kulit yang mulai khwatir ini.

            Kemana Lia?

            “Lia…..! Kamu dimana nak?” Teriakku ke semua penjuru ruangan.

            “ Pa, Lia kenapa….?” Suara Wina dari lantai bawah terdengar tercekat-cekat panik.

         Malam yang menegangkan. Aku dan Wina tanpa ba-bi-bu berlarian keluar mengelilingi perumahan komplek satu per satu. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 00:45 kemuncak bulu kuduk menggigil. Saat langkah gontaiku memasuki pagar rumah bercorak timur tengah milik kami, kudapati Wina sudah  terduduk lesu memasang wajah pucatnya. Ia melihat kehadiran suaminya ini, lalu bangkit dan berjalan mendekat dengan pandangan berkaca-kaca. Anak perempuan salah satu dosen kuliahku itu lantas memelukku dengan erat mengagetkan insting lelaki yang sudah jarang tersentuh wanita. Walau agak ragu, kuusap bahunya untuk menenangkan suasana. Suasana kecemasan berirama jangkrik tanpa jeda.

            “ Pa, Mama takut. Lia kemana?” Suaranya agak parau terdengar.

            “ Besok kita urus semuanya, malam ini kita istirahat dulu ya ma….” Aku dan Wina akhirnya istirahat dalam satu kamar, namun dengan suasana yang tidak tepat.

***

Esok pagi,

            Sudah kuputuskan hari ini tidak akan masuk kerja. Saat terbangun dari pembaringan kutatap wanita berpakaian rapi dengan rambut masih basah mengepalkan kedua tangan pertanda cemas. Wina tak kunyangka menghadapi dunia lebih pagi dari biasanya. Ia menggerak-gerakkan jemari kaki ini meminta bergegas menjauhi ranjang yang pernah menyimpan memoar cinta. Sungguh heran seperti bukan Wina biasanya, apalagi kulihat kala melintasi dapur yang sudah terhidang sarapan. Sudahlah, kuselesaikan aktivitas pagi untuk menyelesaikan prahara puteri kecil kami.

            “Pa, sebaiknya kita pasang berita kehilangan anak di koran…” Wina memulai percakapan pagi ini. 

Sejak semalam saya hanya berpikir satu-satunya solusi yang teraman hanyalah melapor pada polisi. Namun phobia dalam otakku mencegah ide tersebut. Nampaknya Wina memahami ketakutanku ini sampai ia tak berani menawarkan usulan yang berkaitan dengan polisi.

            Seharian kami berputar kota Jakarta dari satu kantor berita ke gedung lainnya. Kemacetan di larut malam memaksa kami berdiam berdua saja di bangku depan mobil anyar ini. Salah tingkah, aku belum terbiasa dengan watak Wina yang tiba-tiba baik, senyum yang menyejukkan bahkan ia selalu mengalah dalam berdiskusi. Sesekali bola mata ini mencuri-curi pandangan yang sebenarnya sudah disadari oleh Istriku itu. Tapi yang kutahu, sembab merah kedua matanya terus teraliri buliran air mata. Kian mendekati rumah, semakin sering ia menghabiskan tissue.

            Rumah kami bak Istana namun tiada bernilai apapun tanpa tangsi tawa malaikat kecil. Wina berjalan melambat di belakangku seolah hendak memintaku membuka pintu rumah lebih dahulu.  Ia tak sanggup memasuki rumah yang tiada lagi berbekas kebahagiaan. Prasangkaku benar, ia berhenti di serambi melenturkan badannya di kursi asli buatan Jepara. Aku menemani sang Isteri di lantai depan rumah mengingatkan pada awal-awal pernikahan dulu. Dua insan bergurau malu disini bersama kursi-kursi bisu. Kini ia termangu, semacam ada penyesalan yang hendak diutarakan di setiap isakan tangis.

            “ Papa boleh kok ceraikan mama kalau mau….!”

            “ Mama ngomong apa sih? Jangan berpikir kelewatan ma!” Lontarku sangat terkejut. Tidak terpintas sedikitpun dalam otakku kalau Wina sampai menyuruh cerai.

            “ Pa, semuanya karena salah mama. Andai dulu lebih nurut sama omongan papa. Mungkin kejadiannya gak bakal begini. Sekarang pasti Lia sedang kecewa dengan mamanya yang tak tau diri ini. Lia pergi karena tak sanggup hidup dengan keluarga seperti ini. Mama janji pa, kalaupun nanti Lia kembali. Mama tak akan pernah berkata kasar di hadapannya pa. Maafin mama ya pa....!” Wina menutupi wajahnya dengan kedua telapak mungilnya sembari sesegukkan nafasnya. Ada ketakutan menyelimuti bidadari di hadapanku ini, sampai-sampai ia sealu menghindari kontak mata. Lama sekali kami berdua terdiam, menyudahi isak demi isak tetangis sang jelita. Berjam-jam kutemani satu per satu air mata mengering di pipinya. Aku tak akan mengusik keheningan ini kendati itu hanya sesaat.

            “ Dug Dug Dug….. ting tong….” Suara itu terdengar dari gerbang rumah kami. Aku dan Wina kembali tersadarkan atas masalah yang belum terpecahkan. Bergegas kuraih pengunci gerbang untuk menyawang siapa gerangan di luar sana. Pandanganku seketika mengalami kontraksi saat tahu bahwa sosok tersebut adalah polisi. Ya, persis sekali polisi yang dulu berurusan dengan mobilku di lampu lalu lintas. Coba kuurungkan niat melepas pengait kunci gerbang. Karena harus kusudahi dulu mengatasi wajahku yang mulai pucat. Seragam itu yang dulu pernah menginjak-injak rumah orang tuaku. Seragam itu yang mebuat ibuku berteriak seperti orang kesurupan mengharap dihentikannya penggusuran rumah.

            Belum sempat badanku berbalik, nampak Wina sudah membuka gerbang dengan gegas. Sembari mengusap hidung kemerahannya, ia sambut senyum petugas tersebut.

            “ Maaf, benar ini rumah bapak Dharma Tri Wicaksana….”

            “ Iya benar, saya isterinya” Jawab Wina singkat.

            “ Saya ke rumah ini hendak mengantar pulang puteri anda dan….” Belum selesai polisi itu melanjutkan basa-basinya. Dari pintu mobil itu muncul mahluk mungil yang seharian membuat semua khawatir. Aku dan Wina seketika mengabaikan kehadiran polisi itu dan menjemput Lia yang tengah sumringah. Kugendong dengan pelukan paling manja diiringi Wina yang melingkari bahuku.

            “ Maaf, mungkin sudah saatnya saya kembali ke pos polisi” Ujar petugas tanpa ada yang mendengarkan. Bukan aku tak mau menegurnya, namun aku tak sanggup menatap matanya. Apalagi saat ini memeluk Lia adalah karunia yang melegakan ditambah senyum cantik Wina kulihat lagi. Senyum yang membuatku tertarik padanya sepuluh tahun lalu. Kalaupun hari ini nyawaku dicabut, aku rela. Karena melihat senyum ceria anak dan isteri adalah akhir hidup yang terindah.

            “ Pak polisi sebentar….” Panggil Wina diikuti tolehan perlahan dari pria berseragam itu. 

            “ Pak polisi tahu rumah kami di sini dari siapa, bukannya Lia belum hafal jalan Jakarta?” Tanya Wina tanpa kumengerti maksudnya. Sepertinya ada suatu hal yang ia curigai dari polisi ini.

            “ Oh kalau itu, saya temukan alamat anda di STNK mobil suami anda yang masih tersita di kantor. Em, sekalian mengingatkan dua hari lagi sidang atas pelanggaran tiga hari lalu….” Ujar polisi tersebut agak panjang lebar.

            “ Pa, tadi om polisi itu yang menolong aku. Mereka baik sekali, kalau aku besar nanti mau jadi kayak mereka. Aku mau jadi polisi pa….” Celetukan Lia barusan membuatku kaget. Dan diiringi tawa kecil dari Wina di sampingku. Mungkin malaikat kecilku ini belum tahu, kalau papanya ini phobia terhadap polisi. Aku tak akan rela puteriku menjadi polisi, tak rela!

            Semakin lega pikiranku malam ini teriring kian menjauh penampakkan mobil polisi dari depan rumah. Lia tetap sumringah dalam dekapanku dan kuhantar dirinya menuju kamarnya. setelah kupastikan Lia nyaman di kamarnya, aku dan Wina lekas meninggalkan Lia bersama selimut kesayangannya. Lalu tanpa komando, aku dan Wina lekas menuju kamar kami berdua. Inilah malam yang kutunggu-tunggu kembali satu ranjang dengan Isteriku. Dengan suasana yang berbeda, lebih romantis, penuh kasih sayang, senyum indah itu memaksaku menarik pergelangan tangannya. Tepat didepan pintu kamar sengaja kudahului dengan membukakan pintu kamar bak pangeran memperlakukan puteri raja. Ia hanya tertawa kecil untuk kesekian kalinya, serasa bulan madu kembali.

            “ Papa, Mama, boleh nggak aku malam ini tidur bareng papa sama mama juga. Soalnya Lia takut nanti Papa sama mama bertengkar lagi….” Suara kecil itu kali ini menjengkelkanku. Belumlah dia menjadi polisi sudah membuatku phobia lagi.

http://site.icanvasart.com/buy_paintings/Dorothy_Police_Search_Banksy_Painting.jpg Oleh: Teguh Estro (Cerpen Inspiratif)   ...
Teguh Estro Rabu, 12 Juni 2013
Teguh Indonesia


Ilustrasi
Oleh: Teguh Estro
(Cerpen Inspiratif)

            “Saya tidak mencuri, lepaskan…! Tolong lepaskan!” Susah payah usahaku melepaskan cengkeraman kedua polisi ini.
            “ Jangan banyak bergerak, nanti jelaskan saja semuanya di kantor polisi. Sudah diam!”
             Sebuah malam yang mangagetkan. Seketika keluargaku menjadi shock. Anak-anak dan isteriku hanya menjerit-jerit melihat kepala keluarga mereka ditarik paksa. Entah apa yang terjadi mungkin isteriku sudah pingsan tak sadarkan diri. Apalagi tetangga di sebelah rumah secepat kilat bergerombol menyaksikan penggrebekkan di kediamanku.

            Ini kali pertama diri ini diseret secara tidak hormat ke institusi penegak hukum. Bahkan ruang interogasi sudah tersetting apik. Nyaliku kian ciut saja, seketika didorong untuk duduk di kursi panas. Ada sekitar lima petugas mengelilingi bagian belakang tempatku bersandar ini. Sedangkan dihadapanku seorang polisi yang terlihat lebih senior tengah serius menatap mangsa.

            “ Nama lengkapmu?” Tanya pria berperut buncit itu.
            “ Saya? Umar Salim…..” jawabku tegas.
            “ Hah, kamu Cina kan….?” Polisi itu seakan tak percaya
            “ Kenapa? Kalian heran ada Cina bernama Umar hah…?” Emosiku semakin naik.
         “ Begini mar, kesalahanmu sangat fatal. Mobil yang ada di garasi rumahmu tercatat sebagai mobil curian. Dan saya cuma ingin memberi tahu kalau kamu dan teman-temanmun para mafia curanmor tak perlu macam-macam di kota ini…” Ujar manusia menyebalkan itu. Aku yang telah terlanjur emosi akhirnya tak bisa menahan diri.

            “ Maaf, saudara polisi yang saya hormati. Saya tidak mencuri, dan saya tidak memiliki teman dari komplotan mafia. Mobil itu hasil kerja keras dengan membeli pada teman kuliah dulu.” ujarku berbicara bernada tinggi.

            “ ya, namanya maling mana mungkin ngaku. Ya nggak? Tapi tenang aja yang bakal interogasi kamu bukan saya. Tapi atasan saya. Pak Leo namanya…” Polisi kurang ajar itu menyebut nama Leo. Serasa ada yang aneh dengan nama itu. Selama setengah jam lebih penantian membosankan di ruang tanpa AC itu. Pak Leo, atasan dari para polisi ini tak kunjung datang ke dalam. Hingga semua yang ada saling menatap satu sama lain lalu hening.

            “ krek, Selamat malam” Itu suara pintu terbuka. Itu suara orang masuk.
            “ Leo ? Kamu atasan mereka? Kurang ajar kamu….!” Melihat wajah lelaki yang masuk itu membuatku emosi. Dengan tangkas aku melompat mendekatinya. Genggam ini mengepal siap melesatkan pukulan terhebat yang aku punya. Belum sampai lengan ini menyentuh tubuh Leo, segerombolan polisi di barisan belakang melumpuhkan dengan cekatan. Serasa tak mau kalah, tubuhku kian memberontak sejadi-jadinya. Hingga kepalaku dibenturkan pada benda keras, dua kali. Pandanganku kini berbayang-bayang menatap sekitar, sangat memusingkan. Langkahku kian sempoyongan menuju tempat duduk lalu penglihatanku berubah gelap, tak tahu apa yang terjadi.
***

            Masa-masa SMA itu sangat indah. Teman-teman banyak yang bertanya, bagaimana bisa aku menjadi siswa paling pintar ? Entahlah, aku merasa melakukan hal yang sama seperti siswa lainnya. Kendatipun demikian jangan salah sangka. Sepintar apapun saya di sekolah ini, tetap tak akan bisa kuraih Juara umum. Apa mungkin karena saya Cina ya? Dialah juara umum 4 semester berturut-turut, Leo Batubara. Sedangkan prestasiku sudah tertebak menjadi juara 2 umum selama 4 semester pula. Leo itu anak guru, anak kepala sekolah malah. Dimana-mana juara satu itu hanya boleh dinikmati anak guru, sudah lumrah!

            Mobil paling mewah di sekolah ini baru saja melintas. Ayah dan anak bak selebritis tumben datang pagi-pagi. Dua orang itu keluar dari mobil dengan sombong, eh sebentar, ada satu lagi cewek yang keluar dari mobil. Wah, memang Leo itu cowok paling beruntung. Itu kan si Fitri yang baru saja juara model se provinsi. Mereka bertiga membuat iri siapapun yang menyaksikan. Bapaknya kepala sekolah, anaknya juara umum dan satu lagi si cantik, aduh parah…!

            Fitri itu dulu sangat akrab denganku. Rumah kami berdekatan selisih dua gang di komplek yang sama. Sekali lagi kami berdua cukup dekat, bahkan bisa dibilang spesial, lebih tepatnya pernah spesial. Tapi itu dulu sebelum ia secantik ini. Sampai akhirnya kutahu, perempuan berhidung mancung itu hanya berpura-pura. Aku saja yang terlalu berharap. Buktinya dia kian lengket dengan Leo.

            Menjelang ujian kelulusan banyak rekan-rekan yang mengajakku belajar kelompok, sangat banyak. Dari kesemua permintaan hanya satu orang yang kupilih, itulah Leo. Hampir tiga tahun, baru kali ini ia mengundangku ke istananya. Walau Cuma via SMS sih. Ada rasa kaget, ragu-ragu, takut dan kesal saat mendatangi rumah Leo, sekaligus kediaman kepala sekolahku itu. Sesampainya di gerbang coklat dan lebar, aku disambut oleh anjing dan gonggongannya.

            “ Cari siapa ya…?” Ujar satpam buru-buru menyapa.
            “ Leo ada? Saya Umar teman sekolahnya….”
            “ Maaf, dik Umar sudah janjian sebelumnya?” tanya lagi Satpam kerempeng itu.
            “ oh, sudah kok. Leo SMS saya pak…” Busyet, ribet sekali birokrasinya.

            Masuk rumahnya seperti hendak mendatangi presiden. Leo akhirnya menjemputku masuk ke dalam. Dan setelah memasuki ruang tamu, jantung ini serasa mau lepas. Di sana sudah ada Fitri duduk manis dengan pakaiannya seperti model. Kami berdua sama-sama melempar senyum, sama-sama senyum terpaksa. Aku tahu itu. Dan di ruangan ini tak ubahnya neraka sebelum neraka sebenarnya. Bingung, nggak konsentrasi pastinya, salah tingkah, malu-malu, dan semua bergumul di dadaku karena melihat Fitri.

            “ Mar, kita hari ini ngebahas soal-soal ya. Kamu kan jago he he” Akhirnya Leo memecahkan suasana. Syukurlah kurasakan kelegaan sesaat, selebihnya tersiksa. Memaksakan untuk fokus pada soal-soal yang harus dipecahkan. Sampai akhirnya dua jam lebih kami belajar, tepatnya saya yang mengajari. Mereka hanyalah pendengar setia diantara soal-soal yang dibawa Leo. Dan kuputuskan untuk menyudahi saja untuk pulang, tak tahan aku berlama-lama. Segera ku melangkah menuju rumah sendirian, tanpa Leo dan juga tanpa Fitri.

            Satu minggu berhasil kulewati kegalauan menuju sekolah untuk Ujian Akhir Nasional. Aneh, soal-soal yang disodorkan begitu mudahnya terselesaikan. Sesekali kuingat, bentu-bentuk pertanyaan di kertas yang katanya rahasia negara itu. Astaga, ini kan soal-soal yang sama persis dengan materi belajar di rumah Leo kemarin. Dengan sigap tentunya kulahap semua soal dengan gampang. Tidak sampai 15 Menit kulalui waktu ujian dengan cepat. Lalu pulang dengan riang.

            Pada hari kedua tanpa kecurigaan kuulangi hal yang sama. Sepertinya 10 menit akan terasa sangat lama di dalam ruangan. Sampai akhirnya terjadi malapetaka yang tak akan pernah terlupakan. Datanglah seorang dewan pengawas yang berpakaian dinas rapi memasuki kelas.

            “ Maaf bagi yang bernama Umar Salim bisa ikut saya ke kantor sebentar….!” Kutepok jidat sampai benar-benar pucat pasi wajahku. Sampai mengangkat pensilpun tak sanggup lagi jemari ini. Batin berkecamuk diantara ribuan tanya yang tak sanggup kujawab. Apa salahku, apa salahku dan Apa salahku begitulah pertanyaan di dalam hati hingga ribuan kali. 

Ruang kantor kali ini begitu horror. Dengan culun pura-pura kubenahi tali sepatu sampai gugup. Di hadapanku sudah berdiri pak Felix Batubara, kepala sekolah terkejam dalam seumur hidupku. Tiga orang di sebelahnya adalah wali kelasku, dan dua orang pengawas ujian di kelasku kemarin. Mereka menatap sinis, kasihan, kejam dan rasa tak percaya atas apa yang terjadi.

“ Umar, tolong jawab dengan jujur, mata pelajaran Matematika kemarin kamu menyontek atau tidak….” Tanya bu Linda wali kelasku.
“ tidak bu” jawabku singkat kepada guru teladan di sekolahku ini.
“ kenapa jawabanmu sama persis dengan Leo…” tanya bu Linda dengan berkaca-kaca. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Sesaat pikiranku kosong, jantung serasa berhenti.

“ Kalau kamu ingin jadi juara umum mengalahkan Leo, jangan berlaku curang seperti ini dong Umar….!” Tiba-tiba pak Felix membentak meja mengagetkanku. Tetap saja aku kehabisan kata-kata, bibir keluh dan lidah sejenak kaku. Aku ingin mati saja. Sampai hari itu entah berapa kali mereka membentakku untuk menanyakan pertanyaan yang serupa. Hingga adrenalinku memuncak tak sanggup terkuasai, dalam waktu singkat tubuh ini lunglai, gelap, pingsan.
***

            “ Byur…. Byur…”
Kepala ini basah tersiram air berkali-kali dan akhirnya kembali sadar. Tapi tubuhku sudah terikat kencang pada kursi besi dengan tali melilit. Lampu penerangan hanya ada satu di ruangan ini. Pandanganku kabur, dengan tubuh tak bisa bergerak. Sekumpulan polisi masih setia mengelilingi ruangan ini. Sedikit mereka-reka sosok yang kini duduk berseberangan meja denganku.

            “ Umar, kita bertemu lagi….!” Itu suara Leo, Sombong dan sok berwibawa.
        “ Mau ngapain lagi kamu. Tidak cukupkah kamu merusak masa laluku. Gara-gara ulahmu aku didropout dari sekolah. Sampai akhirnya terpaksa sekolah memutasikan ke sekolah swasta. Kamu tahu leo, aku harus mengulang umur studi selama satu tahun di sekolah yang baru….” Lirihku dengan suara yang tersisa.

            “ Satu lagi yang harus kamu ketahui. Keluargaku shock menahan malu hingga seperti orang gila, terutama ayahku. Dan sekarang saya ucapkan selamat untuk kamu yang berhasil menjadi polisi di kota ini” Tambahku lagi dengan menatap wajah Leo, sangat tajam.
            “ oke aku ngerti itu, aku Cuma mau minta maaf. Dan sebagai ganti kejadian itu, kasusmu akan saya tutup mar….” ucap Leo sembari memberi kode kepada bawahanya untuk membebaskan aku. 

Dua orang polisi mengawalku dan mengantarku pulang dengan mobil polisi di depan kantor. Kutatap cuaca di luar kantor polisi sudah menyengat terik siang hari. Kali ini kunikmati langkah keluar dan inilah kemenangan dari sebuah kejujuran. Di dekat parkir mobil aku berdiri menunggu mobil yang hendak mengantarku pulang.

“ Mar, kamu Umar kan….?” Dari belakang pundakku ditepuk oleh sesosok wanita cantik. Dan lagi-lagi aku bertemu dia, Fitri Naysila. Kali ini aku tidak terkejut kenapa Fitri ada di sini. Tentu saja karena di tempat ini ada Leo. Tapi kali ini aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kutinggalkan begitu saja sang primadona di sekolah dulu. Kaki ini melangkah memasuki pintu mobil yang sudah berhenti tepat didepanku. Senyum kecil pada diri sendiri meihat kejadian ini, dan tanpa kusangka Fitri mengejar menghampiri mobil yang hampir berangkat ini.

“ Mar, ini kartu namaku. Mungkin suatu saat ada yang bisa saya bantu….” Ujar Fitri tergopoh-gopoh memasukkan tangannya ke jendela mobil. Dengan santai kuambil kartu nama itu lalu kurobek-robek dihadapan mukanya.

“ Maaf bu Fitri, Saya sudah punya Istri” Jawabku bangga.

Ilustrasi Oleh: Teguh Estro (Cerpen Inspiratif)             “Saya tidak mencuri, lepaskan…! Tolong lepaskan!” Susah payah ...
Teguh Estro Minggu, 26 Mei 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro
(Cerpen inspiratif)
   

“Pokoknya kita putus, titik…..”

    Hening menyesak penuhi dadaku mendengar ucapan Hanung barusan. Serasa diriku ini gadis paling sial di dunia. Semakin jauh langkah pria paling romantis yang pernah kukenal itu. Adakah dia berbalik badan padaku. Sudahlah, kupaksakan diri ini menapaki jalan lain. Jalan tanpa awan keceriaan seperti biasa. Gelanyut kehinaan menemani langkah gontaiku pulang sekolah sore ini.

    “Wulan, kok pulangnya agak sore” Sapa ibuku terheran karena sedari pagar rumah tadi,  muka anak pertamanya ini nampak padam. Tiada terpancar aura kegenitan seperti biasanya. Aku masuk rumah begitu saja tanpa sepatah kata. Lalu diikuti lirikan mata ibu sampai masuk ke kamar. Kaki yang lunglai sergap menghampiri ranjang kesayangan untuk melampiaskan gelisah romansa hari ini. Mungkin ini bukan yang pertama kegagalanku dalam dunia percintaan. Tapi ini adalah yang tersakit. Sangat sakit, terutama melupakan Hanung. Getar jantung tambah kencang setelah dari saku SMA ku bergetar juga HP mungil. Astaga! New message from Sayang Han.

From Sayang Han: “…Lan, mg kamu baik-baik saja. Dan mghdapi hari2 stelah ini dg tenang. Mmbiasakan hdupmu yg makin ceria meski tanpa aku. Mf kan aku yg pasti menyakitimu. Dari Hanung, ‘Kekasih yg hilang’ :)….”

    “Wulan, buruan sholat ashar dulu….” Itu suara bapak dari luar kamar. Dia manusia yang paling kutakuti sepanjang hidupku. Sepertinya begitu juga dengan ibu dan adik-adik, mereka takut pada bapak. Apalagi sejak memenangi pemilihan kepala desa, ia kian semena-mena.

    “Kamu punya telinga nggak….?” Suara itu lagi. Tetapi mulut ini tak juga mau bicara. Sampai lama tak ada bunyi keras lagi dari pintu kamar. Dan kembali mataku memperhatikan HP di tangan yang rasanya menjadi benda paling berat saat ini. SMS Hanung harus kujawab.

Reply to Sayang Han: “ Aq yg salah Han, kuakui itu. Minta maaf atas khilaf yg trjadi kmrn. Trserah ap pun sikap mu stlah ini, aq sllu terima saja. Yg pnting sdh kuakui atas kesalahan itu. Dari Wulan, ‘Mantan Kekasih’ :(…”

    Belum lama setelah SMS jawaban terkirim, hatiku sedikit lega. Ya sedikit saja. Namun kali ini malah Hanung yang Calling ke HP di tanganku. Aduh, gimana ya angkat atau tidak, bingung. Berkali-kali Hanung menghubungi, kian membuat salah tingkah.

    “Wulaaaaaaan, buka pintunya. Atau bapak dobrak dari luar….” Begitu kencang teriakan dari luar menambah panik saja. Begitupun nada dering tak henti-hentinya menjadi suara yang tak kalah membuatku panik. Akhirnya ku pilih untuk mengangkat panggilan Hanung terlebih dahulu.

    “ Halo Wulan, kamu gak ap2 kan….?” Suara yang khas membuat jantung tambah gemetar. Lagi-lagi bibir ini tak sanggup bicara untuk menjawab. Biarlah ia terus bicara dan telinga ini cukup mendengar. Aku tak mau bicara pada pria berkacamata ini lagi. Hanung terus memanggil namaku dan semakin kencang terdengar.

    “GedubBBbrrRRaaaa….KKkk!!!!” Suara pintu kamarku didobrak dari luar. Sosok lelaki tinggi besar dan wajah merah perlahan mendekati.

    “ Kamu itu ya, anak perempuan gak tau sopan santun. Kalau punya mulut itu dipake buat ngomong. Jangan diem aja! Mau jadi orang bisu hah…?” Belum selesai bapak marah-marah langsung aku pergi ke kamar mandi dan kumatikan HP. Aku tak mau bicara.

***

    Sungguh sulit bagi gadis sepertiku menyembuhkan luka perasaan. Hubungan kami sudah dua tahun terjalin tak mungkin terlupakan. Selama ini memang tidak jarang ada pertengkaran mulut, tapi biasanya mudah terselesaikan. Untuk ‘percekcokan’ yang terakhir ini sangat ganjil rasanya. Suatu alasan yang tidak berperasaan menjadi penyebab usai sudah masa indah ini. Alasan itu yakni ketidakcocokan. Pria kelahiran Bekasi itu seenaknya memutuskan tidak adanya kecocokan lagi. Jelas sudah siapa yang menjadi korban. Selalu aku yang berkorban. Padahal Hanung sudah begitu akrab dengan keluargaku. Tepatnya ia sangat dekat dengan bapak. Karena bapakku dan bapaknya Hanung adalah teman dekat sejak mereka masih di Madrasah Tsanawiyyah.

    Pagi ini kupaksakan berjalan ke sekolah sembari menahan wajah muram agar tak nampak oleh teman-teman. Tetapi, usahaku untuk tersenyum menjadi sia-sia saat di pintu gerbang sekolah terlihat Hanung di sana. Dia siswa terpintar di kelas IPA, jadi wajar banyak teman-teman yang mengerumuninya. Sempat kulihat matanya bertemu dengan pandanganku dari kejauhan. Belumlah aku sampai di gerbang sekolah, lelaki dengan nama lengkap Hanung Abrori itu sudah berjalan menghindari kedatangan ‘sang mantan’.

    Selama di sekolah aku terus berada dalam bayang-bayang kenangan. Siang hari biasanya aku sudah berduaan di kantin, tapi kali ini sendiri. Kemanakah sosok yang selama ini mengajakku bercanda? Tak tahan lagi sampai nekad langkahku berlari menjumpai kelas IPA yang tak jauh dari kantin.

    “…Cari siapa lan? Hanung gak ada di kelas. Dia lagi sakit di UKS” Ujar Bruno ketua kelas dengan tubuh gemuknya.

    “Siapa di UKS….?” Tanyaku memastikan

    “ H-A-N-U-N-G…! tadi sehabis pelajaran olahraga ia pingsan….” Bentak Bruno.

    Telingaku ternyata masih kangen mendengar nama itu, walau ada perih di dada mengenangnya. Tanpa berpikir lama, kaki ringan ini sudah berlari menuju ruang UKS. Dan sesampainya kutemukan seorang pria berbaring tak sadarkan diri. Tak berani langkah ini  mendekat, namun ia diam saja. akhirnya setapak demi setapak tak sadar bahwa keberadaanku sudah didepan pembaringan. Hanung tetap diam saja, aku pun sama. selagi ia tak sadar ingin sekali menegurnya seperti dulu pernah ia lakukan.

    " Hanung, semoga kau tak mendengar ini. Hanya satu yang kuingin tahu. kenapa kita kini tak seperti dulu. Mulutmu jangan diam saja Han, apa alasannya.Aku hanya butuh alasan darimu. katakan saja, jika memang aku tak menarik bagimu, aku terima alasan itu. atau karena sikap seorang Wulan yang kekanak-kanakan, juga tak masalah. jika kau sampaikan alasannya, setidaknya membuat perasaan ini tenang Han..." Rengekan air mata membanjiri pipi di depan pria yang tak berdaya ini. Sampai kering air mata. sesekali kulihat pintu luar yang masih terbuka. mungkin saatnya kembali ke kelas. Tatkala badan ini berbalik menuju pintu UKS. terdengar suara yang sudah lama kukenal.

    "Wulan, sebenarnya aku ingin sampaikan itu. Tapi kekhawatiranku jauh lebih kuat. Aku sangat khawatir pada dirimu dan keluargamu. keadaan ini bukanlah kehendak pribadi yang memang direncanakan. Tetapi aku terpaksa lan. Bapakmu yang memaksaku untuk menjauhi anak gadisnya yang paling disayangnya. tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak merubah sikapmu pada pak Mur. Ia bapakmu yang hebat, aku menghormatinya seperti bapakkku sendiri...." 


     sendu sekali suara Hanung. Telinga ini sangat manja dengan suara itu. tetapi aku tak sanggup untuk berbalik menghadap Hanung yang sudah sadarkan diri. niat untuk kembali ke kelas menghantarkan kekesalanku pada Bapak sampai terbawa di dalam ruangan. Apa peduli janji pada Hanung, tetap geramku pada bapak kian menjadi. Selama di sekolah satu hari ini aku hanya membisu, bertarung di dalam batin antara hormat pada Bapak atau sesekali memberi pelajaran pada orang tua. Ini sudah kelewatan, ada hak pribadi yang terlalu jauh terganggu oleh ulah Bapak.

***

    Seperti biasa selepas Isya', sesosok lelaki tua sedang menyendiri di luar rumah. Dirinya dan sebatang rokok asyik berdua diusik sesepoi angin malam. seorang anak gadis yang katanya tak punya sopan santun malam ini mengadu nasib berusaha menemuinya. Aku adalah anak pertama. Kalau aku tak berani padanya, maka adik-adikku juga akan menghadapi hal yang sama di kemudian hari. Kuawali dengan mengajaknya berbicara lembut. Walaupun dia tak akan peduli itu semua.

    " Pak, sendirian di luar ya..." kubuka percakapan. Namun sang kepala desa ini hanya memandangku lalu mengerutkan dahinya. setelah itu ia tak berkata apa-apa sembari dihisapnya rokok batangan di tangannya yang tampak keriput.

    " Pak, Aku mau..." Belum selesai bicara bibir ini, ia sudah memotong dengan segera.

    " husssss, dah kamu masuk sana. dah malem. anak gadis malem-malem kelayapan di luar rumah aja. dah masuk sana" itulah Bapakku, otoriter, mau menang sendiri, tak pernah peduli, hanya berbuat kasar pada keluarga. kekesalanku terbungkam mendengar ucapan bapak tadi. Ku balikkan badan untuk masuk ke rumah. Belum sampai di depan pintu, kembali ku dengar Bapak memanggil.

    " Wulan, kamu sekarang fokus saja pada Ujian Akhir Nasional mu. Jangan kegatelan main sama cowok terus. Jangan nyusahin si Hanung terus. Biarin dia juga fokus pada sekolahnya...!" Pedas kudengar ucapan yang terakhir. kali ini tak bisa aku diam saja. ku balikkan badan serta tangan ini begitu keras mengepal di sebalik rok panjangku.

    "Maksud Bapak sulit aku ngerti. Wulan merasa justru bapaklah yang menyusahkan kami berdua. Hanung tadi siang cerita kalo' bapak yang meminta dia untuk menjauhi aku. Selama ini aku hormat pada orang tua, tapi untuk yang satu ini tidak bisa Wulan ngerti pak..." Seumur-umur baru kali ini aku bicara selantang ini pada Orang yang paling kutakuti. entah apa yang akan dikatakan Bapak aku tak peduli. Semua resiko harus ditanggung, dan aku merasa yang kulakukan sudah benar.

    Bapak juga terkejut mendengar ucapanku yang sangat tidak sopan. Ia membalikkan badannya lalu mematikan rokok butut itu. Perlahan ia mendekatiku. Kali ini ia tersenyum sinis melihat anak gadisnya yang mungkin dirasa kurang ajar.
   
 " Kamu nggak tahu apa-apa lan, Si Hanung itu selama dekat dengan anak gadis bapak ini malah menderita. Semua kelakuan manjamu itu membuat ia repot membagi waktunya. Ia harus menuruti segala maumu. sedangkan ia adalah anak pertama yang harus membantu Bapaknya berjualan di pasar. Dia sudah tak punya ibu lagi. Dan pak Tris sudah terlalu tua untuk menghidupi kelima anak-anaknya. Berkali-kali sahabat bapak itu masuk rumah sakit. Dan Hanung yang mengurusnya. kamu pernah ngerti kondisi itu....? Ia bekerja menghidupi dagangan di pasar sejak subuh sebelum berangkat sekolah. kamu pernah tahu itu....? Untungnya ia masih bisa menjadi juara umum di kelas. Dan akhir-akhir ini pak Tris kerap mengeluh ke Bapakmu ini kalau Hanung mulai kerepotan dan sering sakit-sakitan sepulang sekolah bahkan pingsan. Kamu yang ngakunya dekat dengan Hanung pernah tahu itu....? Kamu itu gadis genit yang cuma tahunya menuntut dan menuntut. Hanung itu anak baik-baik, dan Bapak tak mau ia terus-terusan tersiksa, karena dekat dengan kamu. Walaupun kamu anak yang paling Bapak sayang......" Aku diam tak berkutik. Dan Bapak terlihat berkaca-kaca wajahnya. Dan ia malah lebih dahulu masuk ke rumah. Astaghfirullah, kenapa Hanung tak pernah cerita tentang ini. Bodoh sekali aku ini. sangat bodoh. Kalau memang benar seperti itu. Aku justru yang Zhalim terhadap kedua lelaki ini. Hanung Maafkan aku, Bapak Maafkan aku.
 
***
   
 Hari minggu ku terbangun paling siang. Kucoba menuju dapur melihat apa yang dilakukan ibu. Wanita terhebat itu sedang memandika adik bungsuku. Sebelum diperintah, langsung kudekati tumpukkan piring dipojok dapur. Bilasan demi bilasan piring mengingatkanku pada ucapan bapak semalam. Sangat menusuk, untunglah aku tersadarkan. Bahwa selama ini justru akulah yang tidak pernah peduli. Terutama pada Hanung, Mantanku itu. Lagi-lagi kuingat-ingat, dan memang benar akulah yang selama ini egois.
 
" Astaghfirullah..." ibuku tiba-tiba berteriak dan langsung menuju kamar. Ia keluar lagi dengan berpakaian rapi. wajahnya panik seperti ada masalah serius.
  
  " Buk, kenapa sih, kok teriak-teriak"
 
   " Ini rantang bapakmu ketinggalan, nanti di sana dia nggak sarapan. gawat...!"
   
 " ya sudah, biar Wulan yang nganter ke kantor" jawabku ringan.
   
 " beneran kamu, ini untuk bapak lho. kamu kan sama bapak....."
    
" ya nggak masalah kan bu, aku kan anaknya Bapak juga. Anak gadisnya pak Mursidi, Kepala desa he he" Sambil kulepas senyum ke wanita terhebat dihadapanku ini. sebenarnya ibuku setengah tidak percaya, kalau aku mau melakukannya. Semua anggota keluarga tahu, jangankan menemui bapak ke kantor. Kalau ada Bapak di rumah ini, aku selalu menghindar kalau diajak bicara. Kalau saya ada di ruang tengah nonton Tv dan tiba-tiba bapak mendekati, aku lebih memilih menghindar pindah ke kamar. Tapi itu kan dulu, sekarang aku agaknya harus merubah sikapku pada bapak.
   
 Setelah berdandan rapi, Aku berangkat dengan motor matic di garasi menuju Kantor kepala desa. Beginilah Bapak walaupun hari minggu ia tetap bernagkat ke kantor. Sesampainya di serambi kantor, kumelihat ramai orang menunggu di luar. Kuurungkan niatku untuk masuk ke dalam karena nampaknya sangat mengganggu. Kubawa rantang menuju kursi di serambi kantor, bersebelahan duduk dengan ibu-ibu muda. Ia terlihat berwajah serius. Sepertinya ia hendak mengadukan masalah pelik kepada kepala desa.

  
  " Maaf bu, lagi ngantri ya..." tanyaku tipis.
    
" iya mbak, ini masih masalah yang kemarin"
   
 " Soal apa tuh?"
   
 " ini, saya mau mengadukan suami saya yang menikah lagi. Dan ketua RT di tempat saya tak mau melayani. ya jadinya saya urus ke KADES deh. walaupun belum tuntas juga sampai sekarang. Ternyata KADESnya sama aja nggak becus...." jawab wanita itu dengan ketus. aku pun geram mendengarnya. seenaknya dia bilang Bpakku tidak becus.
   
 " Maaf bu, Nggak becusnya gimana ya... setahu saya KADES kita selama ini profesional aja kok..." usahaku membela bapak.

    " Begini mbak, suamiku itu setelah bercerai langsung menghilang. Ternyata lelaki bejat itu membawa semua perhiasan saya, buku tabungan dan sertifikat tanah keluarga saya. nah, urusan bgini siapa yang mau bertanggung jawab. Pokoknya saya minta ke pak KADES untuk menyelesaikan urusan ini. Enak aja dia jadi KADES korupsi duit rakyat, urusan kita yang kaum jelata ini nggak diurus." jawabnya panjang lebar. akupun tak mau kalah dibuat emosi oleh wanita nggak tahu diri ini.

    " Maaf ya bu, Anda jangan ngomong sembarangan. Pak KADES kita itu tidak pernah korupsi ya. Kalau urusan anda dan mantan suami anda itu ya diurus ke pengadilan dong. itu kan urusan pribadi. kok malah orang lain yang diminta menyelesaikannya..." kali ini aku berteriak dan berdiri mengumpat wanita sialan ini. Ternyata janda genit itu malah bertambah galak akhirnya terjadilah kegaduhan diluar kantor. Sampai akhirnya semua orang keluar menyaksikan.

    " Wulan, kenapa kamu ada di sini...." Suara itu sudah ku kenal, Bapak. Kuberbalik badan mendekati bapakku tercinta dan memeluknya. Sungguh aku gadis tak tahu sopan santun. Ternyata begini pekerjaan sehari-hari seorang kepala desa. Barulah ku mengerti kenapa Bapak selama ini sangat kaku dan terlihat kasar di rumah. Karena setiap harinya banyak urusan rakyat yang harus diselesaikan. Sungguh aku yang egois tak mau peduli.


    " Pak Maafin Wulan ya..."
    " Kamu pulang dulu ya, biar bapak yang selesaikan..." Kali ini ia bertutur sangat lembut. Seperti berbisik di telinga sambil memeluk anak gadisnya yang kurang ajar ini.

***

Beginilah cinta, ia butuh saling mengenal, Memahami dan saling menanggung beban. Bapakku adalah KADES terhebat. Aku yakin ia sangat mencintai aku, juga keluarga kami dan mencintai warganya. ya, Beginilah cinta....

Oleh: Teguh Estro (Cerpen inspiratif)     “Pokoknya kita putus, titik…..”     Hening menyesak penuhi dadaku mendengar ucapan Hanu...
Teguh Estro Kamis, 23 Mei 2013