Menu
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*



Sejak panasnya krisis Libya, masyarakat dunia seolah asyik menyaksikan seteru militer antara sekutu dan pasukan Khadafi. Pakar militer hingga pengamat ekonomi mendadak didengar pendapatnya di berbagai media massa. Bahkan obrolan-obrolan di angkringan pun tak jauh-jauh dari ngomongin perang di Libya. Segala informasi mengenai prajurit jebolan Akademi Militer Benghazi itu pun ramai diperbincangkan. Mulai dari kekayaannya, isteri simpanan hingga sopir pribadinya pun menarik perhatian publik. Hingga akhirnya kini masyarakat Indonesia sudah berlagak lupa dengan kondisi baangsanya sendiri.

            Salah satu hal aneh di negeri ini adalah kegemaran menghanyutkan diri pada isu-isu populis saja. Padahal pembangunan nasional harus berbasis realitas di masyarakat. Bayangkan saja, belakangan ini Indonesia telah mengimpor ikan asin dari Cina. Gemblung, panganan yang harusnya melimpah di perairan nusantara justru harus membeli dari luar. Sungguh kasihan pedagang ikan asin lokal. Namun kini masyarakat tidak akan mau tahu perkara ikan asin. Karena hal tersebut tidak ada hubungannya dengan Libya.

            Masihkah bangsa ini mau bercerita mengenai korban lumpur Lapindo? Pada tahun 2011 ini perusahaan Lapindo Brantas Inc berencana akan melakukan pengeboran lagi di 7 titik wilayah Sidoharjo. Bukankah biaya ganti rugi terhadap perumahan warga yang terendam lumpur belumlah usai, eh sekarang mau ngebor lagi. Wajar saja jika pennduduk lokal yang masih trauma menjadi gerah. Khususnya warga Kalidawir kecamatan Tanggulangin menolak keras pengeboran itu. Lantaran mereka trauma atas banjir lumpur yang kini masih ierasa. namun apa boleh buat, lantaran masyarakat Sidoharjo bukanlah siapa-siapa nya Khadafi, jadi tak akan ada yang peduli .

            Pembantaian pemerintahan libya atas rakyatnya sendiri memang sungguh biadab. Siapapun akan merinding mendengarnya. Begitupun ketegangan saat terjadi perang antara pasukan Khadafi versus tentara sekutu. Yah, seperti main game online saja jika menontonnya. Namun simpati, empati dan kepedulian itu tiba-tiba hilang saat diajak melihat korban sekitar Gunung merapi. Khususnya daerah kecamatan Salam, Magelang yang selalu dilewati banjir lahar dingin. Sejenak lupakan dulu Khadafi dan melihat kondisi korban Merapi. Apakah mergo Magelang bukanlah salah satu kota di Libya, maka tidak ada pentingnya….

oleh: Teguh Estro* Sejak panasnya krisis Libya, masyarakat dunia seolah asyik menyaksikan seteru militer antara sekutu dan pasukan Khada...
Teguh Estro Sabtu, 05 November 2011
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Soekarno mungkin dulu sempat di sebut-sebut sebagai guru bangsa paling berpengaruh di Indonesia. Ketika beliau orasi, semua pendengar tertegun dan terkesima. Setiap ia berkata, maka mulai dari pejabat hingga wong cilik meng-iya-kan saja. Namun, kini Soekarno telah redup pengaruhnya sebagai guru bangsa. Pasalnya di era informasi ini, justru televisilah yang menjadi guru bangsa terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Lihat saja, sejak jam 6 pagi masyarakat Indonesia telah dicekoki dengan informasi-informasi dari siaran berita. Mulai dari penculikan, kebakaran, kerusuhan, pemerkosaan hingga sambutan-sambutan pejabat negara. Dan lucunya sang penonton hanya melongo saja sambil manggut-manggut mengiyakan isi beritanya. Begitupun pada siang harinya, sore, hingga malam hari, bangsa ini kembali disuguhi informasi-informasi dari chanel TV yang cuma itu-itu saja.
            Suguhan informasi yang ditayangkan tanpa jeda akan membuat penonton kehilangan daya analisisnya. Bayangkan saja belum sempat penonton menganalisis berita yang satu, telah muncul lagi berita lainnya. Padahal tidak sedikit berita-berita yang disampaiakan adalah tayangan kontroversial. Dan dikarenakan penayangannya terlalu cepat, maka terpaksa penonton mengambil kesimpulan yang telah diarahkan oleh redaksi berita. Sehingga wajar jika otak manusia yang terbiasa menonton berita TV cenderung lambat dalam menganalisis informasi. Tumpulnya sifat kritis ini menyebabkan para penggemar berita televisi terjebak pada sempitnya pandangan. Ia cenderung hanya memiliki cara pandangan persis seperti apa yang disampaikan sang pembawa berita. Apalagi kita ketahui bersama bahwa hampir setiap siaran berita merupakan ‘berita titipan’ dari para pemilik industri televisi. Mereka ‘nitip’ pemberitaan yang menguntungkan partainya, ormasnya dan  kepentingannya. Dan akhirnya lengkap sudah kejumudan orang-orang yang mengais informasi hanya dari televisi saja.
            Tradisi menonton berita dari televisi sebenarnya tidaklah sepenuhnya salah. Karena mau tidak mau di era globalisasi ini manusia haus akan informasi. Namun yang terpenting adalah jangan sampai kita mengambil kesimpulan akhir tepat satu detik setelah berita selesai. Apalagi jika menonton berita dari TV justru melupakan tradisi berdiskusi antar sesama. Karena berdialog dan berdiskusi bisa menambah referensi cara pandang terhadap suatu masalah. Sehingga masyarakat tidak jumud pada persoalan bangsa. Dan masyarakat tidak gampang terprovokasi pada berita-berita kontroversial seperti belakangan ini.
            Sudah saatnya masyarakat, apalagi mahasiswa bisa memfungsikan berita TV bukan sebagai sumber utama, namun sebagai referensi pembantu saja. Karena sangat berbeda dengan berita jika tersampaikan melalui media cetak. Pada media cetak, pembaca bisa berkesempatan menganalisis berita secara mendalam. Karena teks berita terpampang di hadapannya secara komplit dan bisa dibaca berulang-ulang sembari berdiskusi dengan teman. Dan alangkah lebih baiknya jika para pecandu berita TV bisa memiliki forum-forum diskusi baik di angkringan maupun di millis dunia maya. Harapannya agar penyakit ‘sempit pandangan’ masyarakat Indonesia bisa terobati perlahan-lahan.

oleh: Teguh Estro* Soekarno mungkin dulu sempat di sebut-sebut sebagai guru bangsa paling berpengaruh di Indonesia. Ketika beliau orasi, ...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro*


Siapa sangka kini televisi telah menjadi ‘monster’ yang membahayakan. Sajian tontonan yang tersaji kian menyesatkan alam bawah sadar pemirsa. Ada banyak efek negatif televisi yang bisa membuat penonton ‘lumpuh’ otaknya. Mulai dari otak kanan, otak kiri hingga otak reptil manusia. Jika kelumpuhan tersebut telah akut maka bisa mempengaruhi perilaku yang menyimpang. Dan di sisi lain televisi juga telah menebar ancaman sebuah budaya baru bagi peradaban manusia. Maka dari itu bisa dikatakan hadirnya televisi adalah kejahatan yang bersifat laten. Hampir di semua program yang ada di televisi memiliki tehnik sendiri dalam mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Mulai dari pengaturan artis yang tampil, manajemen jam tayang hingga metode penyampaian pesan yang bersifat brain destroy. Pertanyaanya adakah konspirasi di balik penyetingan agenda media ini…?

            Baiklah, coba kita mulai dari yang paling mendesak untuk dijelaskan. Memang secara fisik televisi terlihat hanya menyajikan suara dan gambar yang bergerak saja. Dan kesemuanya tampak normal-normal saja tanpa ada sesuatu yang harus dicurigai. Namun hati-hatilah, ada satu hal yang terlupakan yang menjadi datangnya marabahaya. Bahwasannya suara dan gambar yang tersajikan tersebut tertangkap oleh indra manusia. antara lain indera penglihatan dan indera pendengaran yang memiliki hubungan kepada otak melalui jaringan saraf. Dan perlu diketahui bahwa otak manusia adalah perekam memori yang paling ‘lugu’. Sehingga seberapapun informasi yang masuk, akan tertampung tanpa filter.
            Jaringan saraf mampu menghantarkan pesan suara dan gambar dari televisi menuju otak dengan begitu cepat dibawah hitungan detik. Sehingga hampir mustahil otak manusia bisa memfilter pesan yang datang begitu cepat. Masalahnya bagaimana jika pesan yang diterima berupa tayangan buruk. Dan jujur saja, saat ini messages yang tertampilkan dari TV hampir kesemuanya dalam status ‘WASPADA’ lantaran berdampak negatif. Bayangkan saja jika tayangan buruk di televisi muncul dalam waktu yang lama dan terus-menerus. Sehingga wajar jika alam bawah sadar manusia menganggap ‘Lazim’ norma yang menyimpang.

            Begitu banyak program televisi yang bisa kita amati. Semisal program sinetron yang sangat memprihatinkan. Hampir semua sinema di Indonesia memiliki alur cerita yang mirip-mirip dan sangat kacangan alias ora mutu. Dan tampaknya sengaja memang diulang-ulang sampai penonton hafal ceritanya. Kesengajaan ini bukanlah tidak memiliki tujuan. Tidak lain kesemuanya bermaksud untuk penanaman nilai baru di kalangan masyarakat. Tidakkah kita sadar, kenapa sinetron-sinetron selalu menampilkan gadis seksi nan glamour. Entah dia berperan sebagai antagonis maupun protogonis. Begitu juga kenapa setting ceritanya kebanyakan di rumah mewah. Dan dalam alur ceritanya seolah disetting agar sering muncul percek-cokan mulut, perkataan kasar dalam keluarga. Bahkan seorang anak kecil yang membentak orang tua seolah biasa dalam sinetron. Nah, hal itulah yang dimaksudkan dengan penanaman nilai baru di masyarakat. Karena dilakukan secara perlahan dan terus-menerus, wajar saja bila banyak pemirsa yang tak sadar telah termakan racun TV. Seandainya gejala semacam ini hanya ada dalam satu sinetron saja maka itu bisa masih bisa diatasi. Namun anehnya hampir di semua channel Televisi menawarkan sinetron-sinetron ‘jahat’. Harapannya dengan  pengulangan sinetron-sinetron ‘jahat’ itu masyarkat bisa mentolerir penyimpangan. Lihat saja saat ini para wanita muda berpakaian minim bukan lagi hal yang tabu. Bahkan para orang tua zaman sekarang sudah hilang kepekaannya terhadap perilaku tersebut. Atau jangan-jangan para orang tua pun telah menjadi korban televisi.

            Sinetron-sinetron ‘jahat’ juga telah mengkampanyekan budaya syahwat secara perlahan. Berawal sejak menentukan tokoh protagonis (tokoh/peran sbg org baik). Tampaknya terdapat unsur kesengajaan dalam mengambil peran protogonis dari artis yang berlabel ‘artis panas’. Sebut saja Dewi persik, Julia perez, Cinta laura ataupun Luna maya. Tujuannya adalah agar mereka menjadi idola  baru yang layak dijadikan panutan. Sehingga sejelek apapun perilaku sang idola di luar layar bisa dijadikan gaya hidup baru untuk diikuti.
Bersambung……..

oleh : Teguh Estro* Siapa sangka kini televisi telah menjadi ‘monster’ yang membahayakan. Sajian tontonan yang tersaji kian menyesatkan a...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Betapa muaknya para siswa tatkala bel berbunyi dan memasuki pelajaran sejarah di kelas. Pasalnya mereka kudu mencatat dan menghapal kejadian di masa lalu yang tidak tahu apakah dulu benar-benar pernah terjadi. Belum lagi harus mengingat semua tanggal dan tahun setiap peristiwa yang membosankan tersebut. Bukan itu saja catatan buku sejarah yang tebal itu setiap tahunnya pasti akan bertambah jumlah peristiwanya. Dan lengkap sudah kejenuhan para siswa saat bertemu dengan guru sejarah yang selalu ‘ceramah’ dan mebosankan. Maka patutlah dipertanyakan untuk apa mata pelajaran sejarah tetap dipertahankan. Segera hapus saja, daripada menambah beban anak didik di dunia sekolah.

            Bung Karno pernah berpesan “JAS MERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pesan sang proklamator ini sangat layak untuk digali. Idealnya dengan mempelajari sejarah, seorang manusia mampu mengambil pelajaran yang melimpah dari kejayaan bangsa di masa lalu. Sekaligus bisa mengambil pelajaran agar tidak tergelincir dua kali dalam kekeliruan umat manusia di masa lalu. Namun jebule pelajaran sejarah hanya terjebak pada hafalan ansich. Semisal dalam pembahasan sejarah perang kemerdekaan. Siswa dipaksa menghafal nama-nama lokasi peperangan, tanggal, tahun, nama jenderal belanda, jumlah prajurit sampai jumlah korban perang. Lantas untuk apa menghafal itu semua? Contoh lain dalam pembahasan sejarah Perang Dunia. Mau tidak mau, siswa terpaksa menghafal lagi nama-nama perjanjian, lokasi peperangan, jumlah negara, hingga tokoh-tokoh peperangan beserta gelar-gelarnya. Dan bisa dijamin setelah ujian selesai, maka hafalan akan musnah begitu saja. Maka yang patut dipertanyakan apa manfaat belajar sejarah bagi anak bangsa?

            Sejarah hidup manusia bukanlah sekedar kumpulan tulisan yang hanya berguna menjelang ujian nasional saja. Jejak rekam seseorang, apalagi dia tokoh besar tentu bisa menjadi inspirasi bagi insan lainnya. Seumpama jenderal Sudirman yang menjadi inspirasi bagi banyak pahlawan lainnya. Maka yang harus dipelajari adalah motivasi dahsyat apa yang ada di dada seorang ‘Sudirman’ hingga ia berjuang begitu gigih. Seorang pemuda cengkring namun punya keberanian dan kecerdasan strategi perang yang hebat. walau hidup dalam pesakitan hingga akhir hayatnya, namun jiwa pengorbanannya tetap menggelora. Dan tahap selanjutnya mampukah pemuda di zaman sekarang meminjam semangat dari seorang ‘Dirman Muda’ di masa lalu. Toh, secara fisik, kita dan beliau tidaklah berbeda. Justru pemuda di zaman sekarang jauh lebih sehat dan bugar dibandingkan Jenderal Sudirman. Sudahkah kita ‘menyumbangkan’ keringat dan darah pengorbanan bagi bangsa ini seperti beliau dulu? Sudahkah kita berjuang untuk negara ini hingga tubuh kurus kering dan sakit-sakitan? Idealnya dengan membaca lembaran sejarah hidup seorang tokoh sehebat Sudirman mampu membakar semangat kebangsaan kita. Namun realitanya para anak didik justru muntah dengan bertumpuknya hafalan-hafalan tentang Sudirman. Siapa bapaknya, ibunya dimana lahirnya, siapa pacarnya, dan hafalan-hafalan konyol lainnya.

            Haruskah tradisi pelajaran sejarah terus identik dengan pelajaran membosankan. Jangan sampai generasi yang akan datang mengeluhkan hal yang serupa. Sudah saatnya meletakkan sejarah pada tempatnya di dalam dunia pendidikan. Penulis sangat merindukan adanya ekstrakulikuler di sekolah-sekolah yang konsen membedah hikmah di balik sejarah umat manusia. Bukan hanya itu hingga dilakukan penelitian tentang kebenaran teks-teks tertulis yang telah berbentuk buku pelajaran sejarah saat ini.

            Seorang penngajar sejarah juga begitu urgent untuk disoroti. Bagaimana mungkin seorang siswa bisa bersemangat belajar sejarah jika pengajarnya begitu konservatif. Terkadang tugas seorang guru sejarah hanyalah datang mengabsen kelas, lantas memberikan catatan berlembar-lembar, lalu mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan selesai pulang. para siswa tidak diberikan kesempatan untuk berpikir “kenapa kami harus mempelajari ini..?” dan tehnik yang disampaikanpun lagi-lagi hanya ‘parade ceramah’ di depan siswa. Sudah saatnya seorang guru mampu menjelaskan kenapa harus menengok sejarah sebagai mata pelajaran penting. Bagaimana seorang guru mampu mentransformasikan semangat pelaku sejarah di masa lalu dan ditularkan dalam konteks kekinian. Pun berkaitan metode pengajaran, sudah saatnya digunakan metode selain ‘ceramah’ dan Hafalan. Bisa dengan melakukan studi tokoh, study tour ke museum dan  masih banyak lagi. Setidaknya menampilkan kesan bahwa di balik lembaran kertas sejarah, terdapat pelajaran hidup yang beragam hikmahnya. Selamat mengajar sejarah…!

oleh: Teguh Estro* Betapa muaknya para siswa tatkala bel berbunyi dan memasuki pelajaran sejarah di kelas. Pasalnya mereka kudu mencatat...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Hampir setiap hari, jagad musik Indonesia terus bermunculan lagu-lagu baru. Bukan hanya itu band-band anyar pun kian ramai ‘nampang’ di televisi. Belum selesai menikmati lagu cinta, muncul lagu rindu kemudian disusul lagi lagu-lagu patah hati. Ada yang berteriak penuh semangat mengajak ‘bercinta’ lewat lagunya. Ada juga yang sedih mengajak ‘bunuh diri’ lewat musiknya. Bahkan kini popular hits yang “Baru Kenalan, Langsung Ngajak Tidur”. Begitu asyiknya sampai-sampai anak kecilpun dengan bangga melafadzkan istilah “Cinta Satu Malam”.

            Dunia tarik suara memang menjanjikan ketersohoran yang menggiurkan. Siapa saja asal cantik, seksi dan bisa mengeluarkan suara maka bisa saja melejit menjadi penyanyi papan atas. Karena belakangan ini kualitas suara bisa dikatakan telah ternomorduakan. Bagaimana tidak terkenal, jika penyanyi sudah mulai berani tampil ‘buka-bukaan’ ditambah goyangan pinggul nan asoy dan suara sedikit mendesah-basah. Dan parahnya lagu yang dibawakan pun tidak jauh-jauh dari penampilannya. Terkadang lagu ‘Belah Duren’, ‘Keong Racun’ hingga ‘Mahluk Tuhan Paling Seksi’. Dan para balita hingga tetua hanya asyik menikmati di layar kaca tanpa merasa berdosa.

            Adakalanya saat bulan ramadhan datang, lagu-lagu religius berjubel di mana-mana. Dan stempel lagu religi begitu mudahnya didapatkan. Asalkan sudah disisipi kata ‘Tuhan’, ‘Tobat’ atau ‘Doa’ maka dengan gampangnya disejajarkan dengan sebutan musik religi. Entah penyanyinya siapa, liriknya seperti apa dan videonya berbentuk apa, yang penting religi dan laris di pasaran. Dan ketika bulan suci selesai, maka kembali lagi pada tradisi lama. Ya, kalau tidak lagu cinta mungkin lagu rindu, patah hati, sakit hati hingga sakit gigi.

            fenomena ini berawal dari satu ideologi, yakni ideologi kapitalis para musisi. Mereka hanya mencari untung semata, popularitas dan kesenangan. Para pencipta lagu tak sedikitpun terbesit, bahwasannya lagu tersebut ditujukan untuk membentuk karakter pribadi bangsa. Maka yang dijadikan taruhannya adalah watak pribadi masyarakat Indonesia sendiri. Jika seharian pelajar  dijejali dengan lagu-lagu ‘cengeng’ putus cinta, maka rusaklah generasi bangsa. Belum lagi para balita yang kian mahir menyanyi dan berjoget ala trio macan. Suram sudah harapan bangsa ini karena para penyair sudah ikut meracuni anak negeri. Prinsipnya adalah lagu bisa laris dan digemari banyak fans. Ujung-ujungnya biaya sponsor untuk manggung meningkat.

            Kata berikutnya adalah ideologi hedonisme yang ditularkan para musisi. Gaya hidup penuh pernak-pernik mewah. Pun demikian dengan pergaulan yang bebas. Begitu juga dengan dunia gemerlap sudah menjadi jajanan harian para penyanyi. Sebuah grup band tentu akan menjadi panutan ratusan bahkan jutaan fans nya. Gaya rambut baru, model pakaian, hingga gaya bicaranya pun diikuti semua. Ternyata selain melantunkan syair nan indah, musisi juga mengajarkan gaya hidup kepada bangsa ini.

            Ideologi berikutnya yakni pesimisme yang disuntikkan melalui lagu-lagu ‘cengeng’nya. Hampir semua lagu yang dibawakan membawa kisah yang sama. Seorang yang jatuh cinta hingga tergila-gila setiap harinya. Adalagi cerita seorang yang cemburu buta dengan kekasihnya yang kawin tiga. Bahkan mengisahkan seorang yang hidupnya hancur lantaran patah hati dikhianati bla bla bla. Walaupun dibungkus dengan lirik yang berbeda-beda tetap saja isinya itu-itu juga.
            Dunia musik idealnya bukanlah sekedar hiburan semata. Semisal lirik lagu yang disampaikan olah bang haji Roma Irama. Hampir sebagian besar lirik lagunya adalah karya hebat untuk membentuk pribadi yang baik. Sebut saja lagu ‘Judi’, ‘MIRASANTIKA’ dan masih banyak lagi. Panggung dangdut pun dijadikan lahan menebar kebaikan. Dengan gayanya yang khas, sang raja dangdut ini pun tidak kalah soal penampilannya yang sopan di layar kaca. Pun demikian dengan kritik sosialnya Iwan Fals. Di setiap tembangnya, ia menyadarkan sang penguasa untuk tidak bertindak semena-mena.
            Akhirnya, melalui petikan gitar, lantunan piano, ‘betot’an bass dan merdunya vokal, kita sebenarnya bisa membangun karakter bangsa. Sudah saatnya lagu-lagu bernada ‘cengeng’ yang tengah merebak sekarang bisa segera berubah. Semisal heroisme Nasionalisme yang kian menurun saat ini bisa digugah kembali melalui musik.

oleh: Teguh Estro* Hampir setiap hari, jagad musik Indonesia terus bermunculan lagu-lagu baru. Bukan hanya itu band-band anyar pun kian ...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro*



Penampilan Tegap, berwibawa dan sedikit ganteng membuat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi figur yang perfect dipandang mata. Sang Arjuna, ya SBY bisa dijuluki sang Arjuna tatkala ‘nampang’ di media. Anggukan kepala teriringi ayunan tangan yang khas menjadi citra tersendiri bagi Presiden RI ini. Mungkin anak-anak muda suka menggunakan istilah kata ‘lebay’ jika mengomentari perform ketua dewan pembina partai Demokrat ini. Tutur bahasanya juga tersusun rapi dengan grammer yang apik.

Model pencitraan ala ‘pak BY’ ini mulai pamor di tengah-tengah menggeliatnya era media. Seorang kepala negara harus menjaga ketenarannya dengan tampil sempurna di depan kamera. Pasalnya pasca bergulirnya era kebebasan pers membuat pena para jurnalis bisa bebas menyiarkan apapun, termasuk gerak-gerik presiden. Jika sedikit saja SBY berbuat ulah tentu saja akan menjadi makanan empuk para redaktur dari berbagai institusi pers. Lihat saja bagaimana sang pimpinan republik ini tatkala menyampaikan pidato-pidatonya. Selalu mengutarakan berhasilnya kinerja kabinet pemerintahan. Majunya program-program para menterinya. Pun dalam beberapa kasus, sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak mengutarakan keberpihakannya. Semisal dalam kasus Bibit-Chandra, Skandal Century hingga ulah si Gayus. Entah disengaja atau tidak, ia kerap kali menyampaikan “Biarlah hukum yang menyelesaikannya”. Padahal pada masa itu ketegasan seorang pucuk pimpinan pemerintahan sangatlah dibutuhkan. Namun SBY tak jua bertindak, hingga akhirnya rakyat muak dengan sendirinya terhadap ‘Sinema’ kasus yang ada di media. Dan perkara tersebut kian terbengkalai tak jelas endingnya dalam hukum. Mengutip ucapan Bondan Prakoso “ Ya sudahlah…”

Ketampanan Presiden ke enam RI ini sungguh mampu menghipnotis rakyatnya. Berhasil atau tidaknya kinerja pemerintah selalu bisa dibungkus dengan manis oleh tutur kata. Bahkan mantan petinggi TNI tersebut kerapkali mengungkapkan posisinya sebagai pihak yang tertindas. Semisal pada masa presiden Megawati, SBY ‘sengaja’ keluar dari kabinet gotong royong. Dan publik dengan mudahnya mengasihani mantan Menkopolkam tersebut sebagai petinggi yang tertindas oleh Megawati. Akhirnya dengan modal citra sebagai orang yang tertindas, ia mampu meroket hingga menjadi pimpinan lembaga eksekutif Republik Indonesia. Jurus yang serupa juga digunakannya tatkala booming kasus terorisme bom kuningan dan bom hotel Marriot. SBY kembali memasang mimik muka melaske sembari menunjukkan foto wajah tampannya. Terpampang dalam foto tersebut wajahnya yang menjadi sasaran latih tembak para teroris. Dan lagi-lagi masyarakat bersimpati kepada orang nomor wahid di negara kesatuan ini. Karena telah muncul brand baru lagi, dirinya sebagai pihak yang harus dibela dan dilindungi dari para teroris.

Persoalannya apakah pola komunikasi publik yang dipertontonkan oleh SBY tersebut pantas dipertahankan. Semisal saat di daerah-daerah tengah bergiliran mendapatkan bencana alam. Para petinggi Istana negara hanya mengucapkan “Kami turut berduka cita”, Setelah itu selesai. Bantuan bencana barulah datang setelah setelah para korban mati kelaparan karena berhari-hari di tenda pengungsian tanpa makanan. Sedangkan pejabat pusat sibuk dalam rapat kabinet membahas berapa jumlah bantuan yang harus disumbangkan. Pun hal yang menyedihkan saat terjadi kerusuhan, cekcok antar warga, perang antar suku. Dengan santainya muncul kalimat “Kami menghimbau warga untuk menjaga perdamaian bla bla bla” setelah itu selesai. Seolah tugas duduk di kursi kepresidenan itu hanya asyik memberikan himbauan agar rakyatnya baik-baik saja. Sedangkan perselisihan antar suku, ras dan agama tetap memanas di daerah-daerah. Dan masih segar di telinga rakyat saat SBY ‘curhat’ soal gajinya yang tak kunjung naik selama tujuh tahun terakhir.

Hal sepele yang kadang terlupakan adalah adanya instruksi yang tegas dari pemimpin untuk menyelesaikan masalah. Berani mengambil resiko atas setiap keputusan yang diambil. Termasuk berani untuk tidak tersohor dengan mengutamakan hal-hal yang prioritas. Karena seringkali SBY lebih memilih bersikap terhadap isu-isu yang populis dan strategis saja. Sedangkan permasalahan rakyat yang butuh solusi cepat entah kemana. Ya itulah politik citra, politik ‘narsisme’ yang harus dikoreksi ulang.

Namun terlepas dari itu semua, SBY bukanlah sosok yang tanpa prestasi. Keberaniannya memberantas korupsi di kalangan elit pemerintahan pantas untuk diacungi jempol. Tentu saja di masa kabinet Indonesia bersatu inilah ada para menteri yang berskandal lantaran korupsi. Apalagi anggota dewan, tentu banyak yang terseret ke meja hijau. Dan akhirnya putra daerah kelahiran Pacitan Jawa Timur ini tetap kita harapkan. Semoga dalam kepemimpinannya di KIB jilid II ini bisa lebih baik. Salah satunya dengan lebih memikirkan solusi cepat untuk masalah bangsa. Bukan sekedar memikirkan citra pribadi di mata media.

oleh : Teguh Estro* Penampilan Tegap, berwibawa dan sedikit ganteng membuat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi figur yang perfect dipandang...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro
(diterbitkan di Harian Jogja selasa, 09 maret 2010)


Setiap anak bangsa memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran. Tidak peduli anak kota maupun yang tinggal di pelosok desa. Semua berhak menjadi orang hebat, cerdas dan berdaya guna. Karena untuk memuluskan pembangunan adalah dengan mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu. Sedangkan jalan yang paling logis adalah melalui optimalisasi akses pendidikan.

Salah satu penghambat akses pendidikan adalah mahalnya ongkos bangku sekolah. Mengingat sebagian besar negara Indonesia dihuni oleh warga miskin, baik di kota apalagi di pedesaan. Jangankan mengurusi biaya sekolah, untuk memenuhi urusan dapur saja harus berjuang siang dan malam. Alhasil, bocah-bocah sekolahan banyak yang minder lantaran belum melunasi biaya gedung yang selangit. Belum lagi beban uang SPP, duit ekstrakulikuler sampai mahalnya dana kursus yang mencekik, memang kejam. Hidup menjadi anak miskin sungguh mesakno jika harus dipaksa sekolah. Kisah si miskin ini sebenarnya sudah ada sejak masa londo dulu di nusantara. Hanya anak priyayi, keturunan ningrat dan orang-orang belanda saja yang bisa menikmati sentuhan pendidikan. Selebihnya, mereka ikut mencari nafkah bersama orang tua untuk mencari sesuap sego jagung.

Teringat film laskar pelangi, sebuah sekolah di pedalaman yang harus berjuang mempertahankan sepuluh murid hebat dengan biaya semurah-murahnya. Pasalnya, bu Mus percaya akan kemampuan hebat laskar pelangi kendatipun mereka anak miskin. Lintang anak nelayan yang jauh dari berkecukupan memiliki semangat belajar yang hebat. Setidaknya kisah tersebut membuktikan bahwa, bocah-bocah miskin juga bernyali profesor. Sangatlah disayangkan jika nafsu belajar mereka harus terbenturkan oleh persoalan rupiah. Penulis begitu yakin tidak mungkin ada pihak yang dengan sengaja menelantarkan anak bangsa di jalanan sebab tak mampu sekolah. Bukankah amanah konstitusi republik ini menuturkan bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak. Atau jangan-jangan undang-undang tersebut sudah diamandemen ? Mungkin sekarang bunyinya sudah berubah menjadi “…. Setiap warga negara yang kaya saja berhak mendapatkan pendidikan yang layak….”

Jalan panjang menjadi manusia pintar di negeri ini memang berliku-liku. Setelah berhenti sejenak menarik nafas dari cekikan biaya sekolah, ternyata biaya kuliah sudah menunggu untuk ganti mencekik. Kampus-kampus favorit sebenarnya terkenal bukan karena hebatnya, tapi mahalnya. Anak seorang petani mungkinkah bisa berstatus mahasiswa? Atau anak nelayan menjadi ketua BEM kampus, mimpi! Silahkan menangis menanti sekolah yang tak kunjung murah. Sepertinya sudah bosan menuntut kepada pemerintah. Sekarang yang ada hanya kepasarahan si fakir menatap gerbang sekolah. Lagi-lagi mereka harus berpuasa dari nikmatya ilmu pengetahuan.

Indonesia adalah negara yang pernah hebat di masa lalu. Sudah saatnya sejarah gemilang sejak kerajaan Majapahit sampai heroiknya angkatan 45 menjadi semangat untuk bangkit. Salah satunya membangkitkan dunia pendidikan yang selalu di ujung tanduk. Kalau dulu nenek moyang nusantara berjuang mengusir penjajah, kini anak-cucu mereka siap untuk berjuang menuntaskan persoalan sekolah mahal. Perjuangan itu bukan sekedar melalui iklan-iklan sekolah gratis di televisi yang tak tahu bagaimana implementasinya, namanya juga iklan.

Terkait 20 persen anggaran pendidikan sebenarnya sudah usang untuk menagihnya kepada bapak-bapak pejabat. Langsung saja, sebenarnya anggaran untuk pendidikan itu ada atau tidak sih? Pasalnya tidak sedikit sekolah atau kampus yang ‘nakal’ mengomersilkan institusinya. Mungkin ini karena kucuran dana dari pusat yang tak kunjung turun. Kalaupun ada, pasti sudah disunat di sana-sini. Kolektifitas peran pemerintah dan para guru sebenarnya sangat vital dalam menuntaskan problem ini. Semisal pemerintah memberikan layanan infrastruktur pendidikan yang murah, sedangkan guru harus berani membentuk anak didik layaknya manusia hebat.

Sekolah swasta menjamin tingginya kualitas sekaligus tingginya ongkos belajar. Jika dana masuk sekolah saja menghabiskan rupiah sampai lima juta. Bagaimana mungkin bisa menampung anak-anak miskin, secerdas apapun mereka. Sepakat, bila biaya sekolah wajib untuk digratiskan. Dan tentu saja apresiasi positif terhadap beberapa provinsi di Indonesia untuk memasang tarif nol rupiah terhadap biaya sekolah.

Oleh: Teguh Estro (diterbitkan di Harian Jogja selasa, 09 maret 2010) Setiap anak bangsa memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidi...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro


Hal yang luar biasa terjadi saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Menjelang hadirnya beliau ke dunia ini, simbol-simbol kebatilan seolah tertundukkan. Seperti padamnya api yang menjadi sesembahan orang-orang Majusi. Padahal sebelumnya dikenal sebagai api abadi yang tak pernah padam. Pun kejadian hebat terjadi pada pasukan gajah yang hendak menggempur kakbah. Prajuri-parjurit Abrahah luluh lantak diserbu gerombolan pasukan burung Ababil dari langit. Padahal dengan perencanaan yang matang semestinya pasukan dari Yaman itu bisa dengan mudah melindas kakbah. Namun Allah berkehendak lain, tentu saja hal ini untuk menghormati kelahiran kekasihNya Saw.

12 Rabiul awal pada masa lalu setidaknya menjadi refleksi bagi umat Islam saat ini. Masa modern ini kebatilan kian merajalela di kalangan umat Muhammad Saw. Sebut saja, memuncaknya korupsi, bandar narkoba, sindikat pembunuhan, yang kesemuanya ada di sekitar kita. Dengan peringatan-peringatan Maulid Nabi di masyarakat saat ini, seharusnya membawa spirit anti kebatilan. Karena saat kelahiran Nabi Saw seolah alam raya bersatu dalam spirit yang sama untuk meluluhlantakkan simbol-simbol kebatilan.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Rasul Saw memang terlahir istimewa. Namun bukan itu saja, setiap jejak hidupnya adalah pelajaran bagi umat manusia. Termasuk bagi bangsa Indonesia yang tengah membutuhkan sosok tauladan. Bangsa yang dulu pernah hebat ini benar-benar tengah mencari model kepribadian yang terbukti ketangguhannya. Model kepribadian yang dicontohkan beliau sangatlah cocok diterapkan menjadi kurikulum hidup masyarakat Indonesia. Sejak masa penjajahan sebenarnya nilai-nilai perjuangan nabi Muhammad Saw telah mendarah daging dalam jiwa anak bangsa. Kegigihan Rasulullah tercermin saat perjuangan pahlawan Indonesia mengusir penjajah dengan mempertaruhkan nyawa. Spirit juang Muhammad SAW muda seolah ‘hadir’ membersamai peperangan bocah-bocah nusantara dalam merebut kemerdekaan. Ayunan pedang Rasul saw menjadi inspirasi setiap bambu runcing yang menancap ke tubuh penjajah nusantara. Maka bolehlah jika kita sebut perang 10 November sebagai ‘perang badar’ bagi umat Islam Indonesia.

“Maju tak gentar membela yang benar…” seringkali anak-anak SD menyanyikan lagu nasional ini di setiap upacara bendera. Sebenarnya Nabi Saw telah mengajarkan ini jauh 14 abad sebelumnya. Bagaimana keberaniannya beliau saat memimpin perang Hunain. Muhammad agung maju ke barisan terdepan saat pasukan muslim terpukul mundur. Dan hanya menyisakan beliau di depan pasukan musuh bersama 6 orang sahabat lainnya. Tidak ada rasa gentar menghadapi ribuan musuh dengan tombak, panah dan pedang yang siap menghujam dirinya. Karena Muhammad Saw hanya takut pada Allah Swt. Seperti halnya bangsa Indonesia ‘tempo dulu’ yang sudah terbiasa hidup dalam perjuangan tangguh. Ingat, ketika Spanyol dan Portugis datang ke Nusantara. Mereka kesulitan melunturkan kultur berjuang masyarakat Nusantara. Pun saat Inggris dan Belanda menjajah dari Sabang sampai Merauke, sontak bangsa Indonesia melawan penuh semangat. Itulah spirit yang diajarkan kanjeng Nabi Saw untuk selalu tegar dan berani membela kebenaran. Karena tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini keculi gusti Allah Swt.

Pasca kemerdekaan ini setidaknya masyarakat Indonesia bisa belajar bahwa sejak dulu memang bangsa Indonesia terbiasa mentauladani semangat juang Muhammad Saw. Namun ketika penjajahan fisik berlalu, seolah spirit untuk mengamalkan ajaran Nabi Saw kian surut. Banyaknya kasus korupsi menghinggapi para pejabat sangatlah bertentangan dengan ‘motto’ hidup Muhamad Saw. “ Sesungguhnya Kejujuran itu mendekatkan pada kebaikan. Dan kebaikan itu mendekatkan pada Syurga”. Bukan sekadar omong kosong, tetapi beliau betul-betul mengamalkan ucapannya itu. Bahkan beliau tak segan-segan hendak memotong tangan Fatimah R.ah, jika anaknya tersebut terbukti melakukan pencurian. Itulah Muhammad Saw yang tak pernah gentar membela yang benar.

Keteguhan dan keseriusan Nabi dalam melawan ketidakjujuran seharusnya bisa mengilhami para penegak hukum Indonesia. Perjuangan mengusut kasus korupsi adalah sunah nabi yang tentunya bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Siapapun itu, DPR, KPK, POLRI, Kejaksaan bahkan Presiden sekalipun harus berjibaku mengamalkan sunnah nabi ini dengan menghadirkan kembali semangat beliau untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran. Wujud meneladani nabi Muhammad Saw adalah dengan memperbaiki akhlaq diri. Karena diutusnya beliau tidak lain adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia, termasuk manusia Indonesia.

Bangsa ini tidak akan pernah kehabisan contoh jika membincangkan degradasi moral. Hampir setiap hari peristiwa pembunuhan dan perkosaan menghiasi layar televisi. Belum lagi narkoba yang kini menjadi ‘jajanan’ sehari-hari pelajar Indonesia. Pun demikian dengan kasus korupsi yang kian menjengkelkan masyarakat. Betul-betul bangsa ini patut malu kepada junjungan Nabi saw, karena ngaku-ngaku sebagai umatnya namun tetap berprilaku jahili. Setidaknya jika tidak bisa memperbaiki akhlaq orang lain, maka mulailah dari diri sendiri untuk bersikap mulia. Akhlaq seorang pemimpin adalah setia pada kebenaran dan mengayomi rakyatnya. Dan Akhlaq seorang rakyat adalah menaati pemimpinnya, selama tetap dalam kebenaran.

oleh : Teguh Estro Hal yang luar biasa terjadi saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Menjelang hadirnya beliau ke dunia ini, simbol-simbol ke...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


PANSUS Century DPR RI telah menyatakan sikapnya kepada publik. Rentetan nama yang disinyalir bertanggung jawab atas kasus 6,7 Triliun bailout Bank Century pun telah disampaikan. Setidaknya 7 Fraksi DPR RI selain PKB dan Demokrat bersikukuh untuk melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Dalam hal ini tentu saja KPK, Kepolisian dan kejaksaan yang mengambil peran tersebut. Dengan demikian, Boediono dan Sri Mulyani kini berada di ujuk tanduk. Hal tersebut lantaran, mantan pejabat KSSK itu sebagai pihak yang paling menentukan dalam penentuan bailout Bank Century.

Selama ini kasus Bank yang telah berubah nama menjadi Bank Mutiara ini terus mengambang. Ketidakjelasan siapa aktor dibalik ini semua kian membuat resah masyarakat. KPK sebagai salah satu institusi yang memiliki track record dalam penuntasan kasus korupsi harus betul-betul responsif. Kasus Bank Century ini tidak perlu berlama-lama dieksekusi secara politik oleh Pansus. Saatnya lembaga yang dipimpin Tumpak Hatorangan ini beraksi mengambil alih kasus tersebut secara hukum. Pasalnya, jika KPK terus ‘membisu’, khawatirnya nuansa-nuansa politik akan muncul kembali. Pihak-pihak yang merasa tersudutkan dalam kasus ini tentu akan gencar ‘mendekati’ KPK, Kepolisian dan kejaksaan. Dan drama kasus Bank Century tentunya akan bertambah panjang hingga beberapa episode lagi.

Kelambanan KPK saat ini patut untuk dipertanyakan oleh publik. Pasalnya, lembaga yang memiliki reputasi gemilang ini tiba-tiba seperti macan ompong. Dimana keganasannya tatkala mengungkap kasus al-Amin Nasution, Abdul Hadi Djamal dll. Apakah lantaran kasus ini menyeret nama-nama pejabat istana, sehingga KPK terkesan malu-malu untuk mengungkapkannya. Ataukah karena Tumpak Hatorangan dkk trauma bertindak setelah kasus cicak-buaya lalu. Padahal moment kasus century ini adalah momen yang tepat bagi KPK untuk kembali mendapatkan kepercayaan rakyat lagi.

Kemuakan rakyat terhadap ‘opera van parlemen’ yang terus ditayangkan publik kian memuncak. Pasalnya masyarakat hanya disuguhkan retorika-retorika yang penuh dengan bualan dan tanpa etika. Sebut saja kepongahan ‘Poltak’ yang menjengkelkan. Itu semua hanya guyonan politik saja yang membuat Pansus kian jauh dari harapan masyarakat. Oleh karenanya, hentikan saja tugas pansus DPR agar kemudian diteruskan oleh KPK ke ranah hukum.

Oleh: Teguh Estro* PANSUS Century DPR RI telah menyatakan sikapnya kepada publik. Rentetan nama yang disinyalir bertanggung jawab atas k...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh: Teguh Estro*


Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, fabel adalah karya sastra berupa cerita dengan hewan sebagai tokohnya. Ada peran baik, jahat, licik, cerdik dan ada juga peran menggemaskan di sana. Tampaknya gambaran itu pula yang terjadi dalam opera perpolitikan Indonesia. Wajah media kini dihiasi oleh binatang-binatang lucu sebagai simbol geliat politik nasional. Sebut saja seteru cicak versus buaya pada waktu lalu. Cicak melambangkan KPK sebagai institusi yang gemar mengintai kebusukan di tubuh pejabat negara. Sedangkan buaya adalah simbol dari lembaga kepolisian yang mengeksekusi kasus. Cicak dan buaya awalnya adalah tokoh yang berteman baik. Setiap ada kejanggalan hukum di tubuh pemerintahan mereka saling mengisi satu sama lain dalam penyelesaiannya. Namun di tengah cerita, mereka seolah termakan badai fitnah yang datangnya dari kakek tua ‘Aggodo Wijoyo’. Dan akhirnya terjadi aksi saling sikut di lembaga peradilan.

Beberapa pekan berlalu muncul jenis hewan baru, kali ini gurita dari Cikeas. Isu gurita begitu memancing perhatian istana negara. Pasalnya, RI-1 dituduh oleh George Aditjondro sebagai ‘penikmat’ aliran dana Century. Karakter gurita adalah hewan yang memiliki banyak tentakel untuk mempermudah geraknya. Wajar saja jika presiden kebakaran jenggot jika dirinya dikabarkan memiliki jejaring ‘kotor’ layaknya tentakel gurita.

Keberlangsungan peran ‘hewan’ dalam kancah politik tak cukup hanya sampai disana. Kalau dulu koruptor diidentikkan dengan tikus, kini peran tersebut mulai dimainkan oleh aktor yang lebih beragam lagi. Ada kerbau ‘Si BuYa’ yang sempat popular saat aksi massal 28 Januari lalu. Dengan tubuhnya yang khas, kerbau ditafsirkan sebagai sosok yang gemuk, malas dan bodoh. Atau mungkin maksudnya sebagai tokoh yang ramah dan suka menolong. Karena di negeri agraris ini, kerbau adalah sahabat para petani dalam menyelesaikan pekerjaannya. Parahnya saat ini muncul lagi peran kambing, monyet, ayam dan hewan-hewan lainnya. Sungguh republik ini tak ubahnya dunia fabel di suaka margasatwa.

Dalam konteks komunikasi antar budaya, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki budaya simbol. Sejak dulu nenek moyang bumi nusantara ini hobi bermain wayang sebagai simbol-simbol kehidupan. Ada wayang kulit, wayang golek ataupun wayang orang. Sehinga wajar sekiranya kultur tersebut kembali diperankan di dunia politik saat ini. Mungkin bisa saja akan muncul tokoh kancil ‘si pencuri timun’, gajah, kuda nil atau apapun.

Dunia simbol di Indonesia memang unik. Karena selain dipublishkan dengan cara yang ‘nyentrik’, simbolisasi ini juga merupakan akumulasi jeritan-jeritan rakyat. Ternyata saat ini rakyat lebih percaya menyampaikan aspirasinya melalui simbol-simbol ‘hewan’ tatkala aksi demonstrasi ketimbang lewat anggota dewan. Sekiranya hal ini menjadi kritik bagi wakil rakyat yang mulai kehilangan kredibilitas di mata rakyat.

Simbolisasi politik di Indonesia semakin marak saja lantaran adanya media yang terus ‘mengompori’. Bahkan berita yang termunculkan saat ini seolah asyik menampilkan hal kontroversi dari hewan-hewan tersebut. Semisal konflik Cicak versus buaya yang jelas-jelas ‘direkayasa’ media. Pun kehadiran kerbau ‘Si BuYa’ yang dibuat pro-kontra dengan pernyataan presiden saat di Cipanas. Kondisi semacam ini kian menguatkan Indonesia sebagai negeri seribu simbol. Dan saat ini adalah musimnya simbol-simbol hewan naik panggung politik.

Sebenarnya Indonesia memiliki simbol yang luhur, itulah burung garuda. Sebagai ‘penguasa cakrawala’, garuda memiliki filosofi sosok yang berwawasan luas. Sorotan matanya yang awas memiliki sudut pandang jauh ke depan terhadap apa yang dilihat. Seharusnya filosofi garuda tersebut bisa menjadi jati diri masyarakat Indonesia. Dalam pendekatan psikologi masyarakat, simbolisasi positif tentu akan menanamkan kepribadian masyarakat yang baik. Demikian simbolisasi yang buruk justru kian memanjakan degradasi kepribadian bangsa Indonesia. Kini saatnya filosofi burung garuda tersebut diimplementasikan olah kader-kader bangsa. Pun demikian dengan ribuan simbol positif lainnya di tanah air agar menjadi aset berharga sebagai simbol implementatif.

oleh: Teguh Estro* Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, fabel adalah karya sastra berupa cerita dengan hewan sebagai tokohnya. Ada per...
Teguh Estro