Menu
Teguh Indonesia


Sumber Foto: http://kfk.kompas.com


Ya Allah…

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (Amin)

dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan (Amin)


Ya Allah…

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia (Amin)

dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Amin)


Ya Rabb…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, (Amin)


maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. (Amin)


Ya Allah…

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (Amin)


dan untuk memajukan kesejahteraan umum, (Amin)


mencerdaskan kehidupan bangsa, (Amin)


dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, (Amin)


maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat  (Amin)


dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, (Amin)


kemanusiaan yang adil dan beradab, (Amin)


persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (Amin)


serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Amin)


Sumber Foto: http://kfk.kompas.com Ya Allah… Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa (Amin) dan ole...
Teguh Estro Sabtu, 17 Agustus 2013
Teguh Indonesia



http://yoogho.com/yoogho/media/170302.jpg

Oleh: Teguh Estro


            Bagi pembaca yang menjadi penggemar Stand Up Comedy Indonesia pasti mengenali sosok Fico. Pria tambun dengan kelucuan diatas rata-rata. Salah satu ciri khas nya dalam menyampaikan materi comedy dengan cara observasi hal-hal yang bersifat Absurd. Semisal ia pernah membuat geli pendengar saat menceritakan tentang robot. Selanjutnya ia juga memaparkan tentang botol kecap yang membuat penonton kembali terpingkal-pingkal. Sampai-sampai Raditya Dika menuduh Fico menggunakan ilmu hitam dalam melawak. Mungkin sih…


            Adakalanya sesuatu hal yang Absurd justru bisa dengan mudah dicerna oleh kita. Ada ragam pelajaran bernilai dari kejadian-kejadian Absurd di alam raya ini. Salah satunya adalah mengenai Santan. Cairan putih seperti susu yang berasal dari saripati kelapa. Coba kita renungkan ada filosofi luar biasa dari ‘perjalanan karier’ sesosok santan. Sebelum menjadi suskses menjadi sesosok santan, dahulunya ia hanyalah sebuah partikel yang berasal dari kampung ‘antah barantah’. Maklum, biasanya pohon kelapa adanya di kampung-kampung pinggir pantai.


            Seorang petani kelapa sejak pagi telah berniat membawa sebuah golok besar untuk memanjat pohon kelapa. Sesampainya di atas ia melihat gerombolan kelapa yang siap dijadikan mangsa. Mula-mula ia arahkan mata bilah golok tersebut memangkas dahan-dahan kelapa yang mengganggu. Barulah ia bisa menjamah dan mendekati buah kelapa dan memelintir dengan paksa agar buah tersebut putus dari tangkainya. Kelapa tersebut begitu tersiksa ia diputar-putar memusingkan kepala. Sampai akhirnya putus juga tangkai itu, akhirnya ia pasrah jatuh dari ketinggian yang membuat tulang-belulangnya remuk. Ternyata bukan hanya dia, tetapi rekan-rekan sepermainannya juga satu-per satu dijatuhkan dengan paksa.


            Penderitaan belum selesai sampai disitu. Ia dan beberapa temannya diseret oleh petani lainnya menuju tanah lapang untuk dijemur dari pagi hingga senja tiba. Penyiksaan ini membuat ia benar-benar keletihan tanpa tenaga. Barulah setelah lama, ia dibawa ke dalam dapur dan diletakkan begitu saja tanpa perasaan. Pada pagi harinya kelapa ini terbangunkan karena kembali ia diseret ke luar rumah. Dan mereka dibariskan berjejer. Ternyata ini adalah saat yang begitu tragis. Ia melihat teman-temannya dibelah dengan golok dan dikupas kulit-kulitnya juga serabutyang selama ini melindungi ditarik keluar hingga lepas dari lapisan batok kelapa. Hingga sampailah pada gilirannya sang kelapa hanya pasrah menitikkan air mata. Ia dikuliti dengan ganas lalu dilempar bertumpukkan dengan rekan-rekan lainnya. Namun penyiksaan belum usai.

   
         Satu demi satu golok yang menakutkan tersebut mengupas kulit batok kelapa yang keras itu hingga membuat daging-daging putih mereka keluar. Pembantaian ini sangat menyakitkan serasa hidup sudah tiada artinya. Kini mereka sudah tak berkulit lagi, hanya seonggok daging kelapa yang lemah dan tak bertenaga. Seolah belum puas dengan rentetan penyiksaan tersebut, para petani begitu tega membelah tubuh mereka menjadi kepingan-kepingan kecil. sampai akhirnya kepingan-kepingan daging tersebut dikumpulkan bagai benda tak berharga di dalam karung. Namun pesakitan belum berhenti begitu saja.

   
         Sore harinya kepingan-kepingan kelapa itu kembali disiksa secara mengenaskan. Mereka ditumpukkan dalam sebuah ember besar dan dihadapkan pada papan besi penuh dengan paku  tajam di salah satu penampangnya. Ternyata mereka satu per satu diparut hingga habislah daging kelapa itu menjadi serbuk-serbuk kecil. berjam-jam itu dilakukan dengan tak berperasaan. Petani-petani pembunuh itu sedikitpun tak mempedulikan keadaan sang kelapa. Menjadilah serbuk-serbuk putih tersebut dikumpulkan lalu dibagikan dalam beberapa ember-ember kecil. Mereka disiram dengan air panas membuat luka-luka menjadi perih terasa. Sangat pedih. Lama mereka direndam sampai air terasa dingin. 

      Ternyata penyiksaan berlanjut kembali. Serbuk kelapa yang telah bercampur air diperas dengan kedua tangan kekar. Sakit rasanya tercekik begitu kuat hingga pucat-pasi. Tidak begitu lama dari butiran serbuk tadi muncullah cairan putih yang dinamakan santan. Sang santan menggenang memenuhi seisi ember itu sudah dalam puncak keletihannya. Namun tak dinyangka setelah berwujud santan ini ia malah mendapat selembar senyum bahagia dari para petani. Sebuah pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


            Senyum petani itu begitu mencurigakan, membuat santan merasa tidak enak dibuatnya. Petani tersebut kemudian memasukkan sedikit demi sedikit santan ke dalam bungkus plastik yang terlihat eksotis dan eksklusif. Ternyata sang santan masih menaruh curiga, sampai akhirnya ternyata ia dibawa kepasar untuk diperjual-belikan. Apakah ini perdagangan illegal? Di dalam batin sang santan terus bertanya-tanya.

          
       Akhirnya dibalik senyum manis sang petani, barulah ia tahu kalau ia hendak dijual kepada manusia lainnya. Namun anehnya sang pembeli juga terlihat tersenyum melakukan tawar-menawar. Santan tetap seksama mengamati percakapan tersebut. Rupanya benar, ia akan segera dibawa oleh pemilik baru ke rumahnya. Di perjalanan ia hanya diam dan berpikir mau diapakan lagi setelah ini. Ia juga mengingat-ingat kembali penyiksaan demi penyiksaan yang ia alami beberapa hari terakhir dan sungguh perjalan yang melelahkan. *Cukup Ceritanya.


            Nah, pembaca tahukah betapa pentingya santan dalam racikan bumbu masakan. Kita sudah mengetahui betapa berat perjuangan santan. Bahkan perannya sangatlah vital dalam membuat masakan menjadi enak. Apa jadinya bila membuat rendang yang konon telah menjadi masakan terlezat sedunia bila tanpa disertai santan di dalamnya. Begitu pun masakan opor yang memanjakan lidah begitu enaknya, tdak lepas dari peran vital santan. Namun, apa yang terjadi setelah ia berjuang begitu keras seperti itu. Orang-orang sedikitpun tidak memperdulikan eksistensinya. Tidak ada satupun orang yang memuji enaknya makanan karena santan. Tapi untungnya santan yang sudah matang dalam mengarungi kesulitan hidup itu justru berjiwa besar. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang tidak mempedulikannya. Karena ia tidak mengejar popularitas. 


Biarlah daging, telur dan sayur mayor yang dikenal banyak orang. Ia cukup bekerja dan bekerja melakukan yang terbaik dalam hidupnya dan memberikan banyak manfaat. Santan akhirnya mulai belajar untuk ikhlas dalam bekerja. Ia harus terus berbuat semaksimal melalui penderitaan dan penyiksaan untuk berhasil, meskipun jauh dari popularitas.

http://yoogho.com/yoogho/media/170302.jpg Oleh: Teguh Estro             Bagi pembaca yang menjadi penggemar Stand Up...
Teguh Estro Kamis, 01 Agustus 2013
Teguh Indonesia




http://4.bp.blogspot.com
Oleh: Teguh Estro

            Jujur nih, saya jarang banget begadang. Paling-paling alasan tugas saja yang memaksa tidur sampai malam. Hanya saja banyak begadang bisa membuat kita semakin egois. Pasalnya, sewktu sendiri di malam hari membuat sanubari berbicara sendiri pula. Hati kecil ini bakal mengajak bincang-tentang diri sendiri. Karena watak dasar manusia adalah memikirkan diri sendiri. Semakin sering meluangkan waktu yang tidak terduga untuk menyendiri, maka akan semakin memanjakan ego. 

Begadang itu tidak baik bila hanya sendiri dan waktunya tidak terduga. Saran saya, apabila hendak begadang, ajaklah teman-teman dan dibuat schedulenya. Toh, kalaupun mau tetap begadang sendirian, maka sempatkanlah untuk berpikir tentang hal-hal yang bersifat filosofis, kepentingan rakyat atau tentang sains makrokosmos. Intinya hindari banyak berpikir tentang ego dan kepentingan pribadi. Kalaupun masih ngotot mau memikirkan diri sendiri, maka pikirkanlah tentang asal penciptaan diri, kesalahan-kesalahan diri dan tujuan hidup di dunia.

Bagi pembaca yang sering begadang, saya yakin pasti memiliki kemampuan lain. Yakni, kemampuan berpandangan dari sisi lain. Manusia sebagian besar beraktivitas di siang hari. Dan pada siang hari itulah mereka menampakkan performance terbaiknya. Namun saat malam tiba, manusia akan menunjukkan sisi lain hidupnya. Bahkan boleh jadi itulah sisi hidup yang sebenarnya. Orang yang masih atau menyengaja beraktivitas pada malam hari tentu akan melihat sisi lain performance manusia.

Seorang Rektor gagah berani saat siang hari. Entah, pada saat gelap ia hanya memakai sarung dan ngopi bersama ayam jago kesayangannya. Seorang mahasiswa berdandan modis di siang hari, entah malam harinya mereka malah menjual diri di pasar remang-remang. Itulah keuntungan bagi siapapun yang masih membuka mata saat malam. mereka akan mendapatkan sisi lain kehidupan.

http://4.bp.blogspot.com Oleh: Teguh Estro             Jujur nih, saya jarang banget begadang. Paling-paling alasan tugas saja...
Teguh Estro Minggu, 28 Juli 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro

           Kasih Tak Sampai, sebuah novel legendaris karya Marah Rusli pada 9 dekade silam. Mohon maaf karena kali ini penulis tidak mengupas tentang kisah cinta Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang begitu tragis. Akan tetapi ada suatu plot yang menarik tentang hutang. Diceritakan Ayahanda Siti Nur Baya yang bernama Sulaeman terlilit hutang pada Datuk Maringgih ‘Sang Rentenir’. Hutang bisa terlunasi asalkan baginda Sulaeman berkenan menyerahkan puterinya menjadi isteri Datuk maringgih. 


Cerita tersebut memang sudah lama sekali akan tetapi bisa saja berulang-ulang. Hal serupa terjadi di belahan bumi lainnya, yakni negeri Suriah. Kini bumi Syam tersebut tengah berkecamuk perang saudara yang menimbulkan ribuan jiwa meninggal dunia. Dan selebihnya penduduk mengungsi ke negara-negara tetangga. Ada yang ke Turki, Yordania serta Lebanon. Sebuah kejadian memprihatinkan dialami oleh para pengungsi. Mereka tentu saja mengalami kekurangan harta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 


Bayangkan orang-orang kaya yang tinggal di Aleppo, Homs atau Damaskus tiba-tiba secara drastis menjadi pengungsi miskin yang hanya mengandalkan bantuan dari UNHCR perwakilan PBB. Tentu saja mereka tidak siap baik secara fisik maupun psikologis. Mereka tidak siap mengatakan kepada anak-anaknya bahwa kondisi keluarga sedang miskin total. Hal ini menyebabkan ribuan pengungsi tersebut mencari pinjaman hutang ke mana-mana. Bahkan sampai-sampai mereka tega menjual (menikahkan) anak-anak gadis mereka kepada pria-pria arab hanya demi fulus.


Di Yordania terdapat sebuah tempat pengungsian kamp Zaatari. Disanalah para lelaki Arab itu berdatangan ke kamp Zaatari untuk mencari gadis Suriah yang terkenal cantik dan berbicara dalam dialek Arab yang sangat lembut, terbaik di seluruh Arab. Ini sebenarnya perdagangan perempuan terselubung. Dalam sebuah berita disebutkan Federasi Perempuan Mesir telah melaporkan bahwa dalam kurun satu tahun terakhir telah terjadi 12.000 kasus pernikahan dengan ‘harga’ 500 pound, antara gadis Suriah yang menjadi pengungsi di Mesir dengan pemuda Mesir. What….!


Dalam menjalani kerasnya hidup memang tidak ada makan siang yang gratis. Bagaimana tidak sejak ekonomi dunia diwarnai oleh ideologi kapitalisme, membuat orang miskin menjadi lebih miskin. Setiap manusia berlomba-lomba menjadikan uang sebagai tujuan ekonomi. Pada fungsi asal uang adalah sebagai alat ekonomi, bukan tujuan ekonomi.


Alangkah bahagianya jika tokoh imajiner ‘Santa claus’ benar-benar ada dalam kehidupan. Setidaknya mencicipi bagaimana rasanya mendapat benda berharga secara free. Oleh karenanya manusia begitu menggemari kata-kata free bila melekat pada sesuatu yang disangka bernilai tinggi. Begitupun saat seorang manusia yang memiliki hutang bertumpuk, namun seketika tanpa alasan, orang yang dihutangi membebaskan begitu saja secara free. Sangat bahagia, Hutang 10 juta dianggap lunas seketika, itu lebih dari sekedar kabar bahagia. Tapi hal tersebut langka terjadi, bahkan sebagian besar hanya berwujud bunga tidur semata.


Kalau urusan hutang misalnya, apakah ada seorang rentenir yang tiba-tiba membebaskan segala hutang-hutang kita tanpa sebab. Padahal hutangnya bernilai puluhan jutaan rupiah yang mustahil kita sanggup membayarnya. Tentu itu kejadian yang teramat langka bila benar-benar pernah terjadi. Tidak akan mungkin muncul setiap hari. Juga mustahil dirasakan semua orang, secara bersamaan.


Seumpama seorang rentenir mau membebaskan hutang kita yang bernilai 10 juta dengan syarat kudu dihukum berdiri selama 3 jam di tengah malam sampai kakinya bengkak. Apakah pembaca sudi? Tentu itu syarat yang teramat mudah dan pasti setiap orang mau menjalaninya. Bukan Cuma itu kita pasti akan mengucapkan terima kasih setiap bertemu dengan rentenir tersebut sebagai balas budi karena kebaikannya. Masih ingat cerita One Piece ketika Roronoa Zoro terikat dan hendak dieksekusi, ia diselamatkan oleh Monkey D Luffy. Dan sebagai balas budi ia bersedia menjadi pengikut bajak laut topi jerami.


Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita telah mengalami kejadian tersebut setiap hari. Salah satu harta dalam diri kita yang bernilai sangat mahal adalah kemampuan untuk bernafas setiap hari. Sekali lagi nafas adalah harta yang sangat berharga kalau hendak dinominalkan. Dalam sehari manusia membutuhkan oksigen sebanyak 2880 Liter. Sedangkan harga oksigen per liter nya adalah Rp.25.000,-. Maka sebenarnya kebutuhan untuk bernafas yang kita lakukan sehari sama harganya dengan uang senilai 2880 x 25.000. Dan nilainya adalah Rp. 72.000.000 tiap harinya. 


Bayangkan uang 72 juta bukanlah nilai yang sedikit dan itu kita miliki hanya untuk satu hari saja. Atau sama dengan 2,16 Milyar selama satu bulan. Dan untungnya semua itu kita peroleh secara free. Sekali lagi kita sebenarnya sudah menerima uang 2,16 Milyar free setiap bulannya. Itulah kemurahan dari Sang Pencipta. Bayangkan saja kalau hal tersebut harus dilunasi tiap bulannya. Duit dari mana? Sebagian besar manusia mustahil memiliki gaji sebesar 2,16 Milyar untuk melunasinya. Sekali lagi untungnya karunia tersebut diberikan secara gratis.


Apakah Tuhan pernah meminta kita imbalan sebagai balas budi atas hutang-hutang tersebut. Apalagi dengan berdiri 3 jam di tengah malam setiap harinya sebagai ganti untuk melunasinya. Andaikata Tuhan benar-benar menjadikan Nafas sebagai sesuatu yang harus dibayar, dan cara untuk melunasinya dengan berdiri selama 3 jam di tengah malam. Maka manusia dengan rela hati dan suka ria melakukannya. Akan tetapi untungnya tidak demikian. Kita dibebaskan untuk bernafas semaunya tanpa harus takut membayarnya. Oleh karenanya jangan heran apabila di masa lalu orang-orang Sholeh selalu berdoa, bersyukur pada Tuhan selama 3 jam di tengah malam sampai kakinya bengkak.

Oleh: Teguh Estro            Kasih Tak Sampai, sebuah novel legendaris karya Marah Rusli pada 9 dekade silam. Mohon maaf karena k...
Teguh Estro Kamis, 25 Juli 2013