Menu
Teguh Indonesia


Oleh: Teguh Estro*


    Dasar manusia, dulu bertanya-tanya kenapa tak pernah turun hujan. Sekarang hujan sudah turun malah marah-marah. Intinya anak-cucu Adam ini memang perlu introspeksi agar terus bersyukur. Dan saat ini kota Yogyakarta pun tengah disiram hujan seperti yang mereka minta sebelum-sebelumnya. Akan tetapi intensitas curah hujan di kota pelajar ini mulai disorot oleh warga. Pasalnya di beberapa lokasi sudah banyak jalan yang ambles setelah diguyur hujan.

    Banyak yang beralasan kerusakan jalan yang terjadi sebab tingginya curah hujan sejak 2 November lalu. Setidaknya sudah Sembilan jalan di kota gudeg ini yang ambles, termasuk beberapa jalan protokol. Salah satunya adalah Jalan Kusumanegara dan Jalan Adisucipto  yang termasuk jalur vital di Yogyakarta. Bahkan Jalan Kenari yang terletak persis di depan kantor walikota Yogyakarta juga terlihat parah. Gerusan air hujan yang deras sudah tidak bisa lagi ditahan oleh drainase jalan yang sudah tua. Apalagi dalam sepuluh tahun terakhir, rusaknya jalan tahun ini adalah yang terparah. Diprediksikan kerusakan bakal terus bertambah, mengingat musim hujan belum sampai pada kemuncaknya.

    Rusaknya drainase jalan, Meluapnya air sungai dan sederet peristiwa lain sejatinya hanyalah fenomena. Dan tampaknya melalui fenomena tersebut menjadi pertanda kota Yogyakarta ini hendak menyampaikan pesan kepada warganya. Bahwa ‘dia’ kepingin diperhatikan, bukan melului dikomersialkan. Sudahlah diakui saja, kota ini sudah tua dalam usianya yang ke 255 tahun. Kenapa gorong-gorong  yang sudah berumur, barulah diperhatikan ketika ia sudah rusak. Begitupun kali Code, Gajah Wong, Winongo dan lain-lainnya mereka kepingin ‘diasuh’ dengan kasih-sayang.

    Perhatian serius warga Yogyakarta terhadap lingkugan kudu digalakkan lagi. Termasuk pemerintah walikota yang memiliki perangkat untuk memoles beberapa kerusakan akhir-akhir ini. Salah satunya Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (KIMPRASWIL) sebagai Leading Sectornya. Bukankah pak Walikota Herry Zudianto sudah menetapkan kejadian belakangan ini dalam status tanggap darurat. Maksudnya kondisi yang harus dituntaskan segera lantaran sifatnya mendesak.
    Salah satu hal yang urgen adalah antisipasi kemungkinan adanya jalan yang ambles di jalur lainnya. Sehingga perlu dilakukan pemetaan usia jalan raya berdasarkan data-data lapangan. Termasuk drainase-drainase di semua kota kudu  dipetakan juga berdasarkan usianya. Terutama daerah-daerah yang bertalian dengan sektor pariwisata, pendidikan dan keramaian.

Kota Yogyakarta sebagian besar kehidupannya sudah bergantung pada jalan raya. Semisal sektor pariwisata yang tentu sangat bergantung pada mulusnya arus transportasi. Jangan sampai kejadian terulang seperti bus pariwisata yang terjeblos di jalan ambles seperti di Kota Gede kemarin. Sehingga bumi mataram ini bukan sekedar orang-orangnya saja yang dianggap  berhati nyaman, akan tetapi sarana dan prasarananya pun harus dibuat nyaman.

Sektor pendidikan juga demikian, tidak sedikit sekolah-sekolah atau kampus yang melewati jalan raya. Setidaknya lalu-lalang pelajar dan mahasiswa memang sudah kesehariannya berjumpa dengan jalur transportasi darat ini. Daerah yang tidak kalah pentingnya yakni di pusat-pusat keramaian. Semisal di sekitar pasar, pusat industri kerajinan dan lain-lain. Adapun terkait dana pembenahan, KIMPRASWIL bisa menggunakan dana sisa anggaran kebencanaan sebesar satu milyar di pemerintahan. Kalaupun masih terasa kurang, bisa mengajukan dana ke Provinsi. Karena kenyamanan lalu lintas menjadi prioritas untuk diwujudkan.

Akhirnya perhatian warga dan pemerintah terhadap lingkungan menjadi harus menjadi ‘amalan’ nomor wahid di kota Yogyakarta ini. Selanjutnya bukan hanya jalan, akan tetapi sampah-sampah yang bertumpuk di saluran irigasi segera dibersihkan. Jangan sampai menunggu bencana datang barulah warga sibuk bergotong-royong. Alangkah lebih baik jika jauh-jauh sebelum puncak musim hujan tiba, kita telah menyambutnya dengan saluran air yang baik. Sehingga kota Yogyakarta benar-benar layak disebut ‘Kota Berhati Nyaman’.

Oleh: Teguh Estro*     Dasar manusia, dulu bertanya-tanya kenapa tak pernah turun hujan. Sekarang hujan sudah turun malah marah-marah. In...
Teguh Estro Senin, 21 November 2011
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


    Orangutan diambang kepunahan. Menurut para ahli seperti dilansir dari BBC pada Jumat (28/10/2011), hewan ini terancam punah pada tahun 2023. Populasi kera besar ini terus berkurang 3000-5000 spesies pertahunnya. Padahal saat ini hanya tersisa 25.000 orang utan di seluruh dunia. selanjutnya hewan langka warisan hutan nusantara ini tinggal menghitung masa kepunahannya.

    Habitat orangutan mulai terdesak oleh deforestasi yang dilakukan manusia. Kegiatan logging baik yang ilegal maupun legal, perluasan wilayah perkebunan, kebakaran hutan dan perburuan liar menjadi pasalnya. Bahkan beberapa waktu lalu begitu menyedihkan setelah terungkap pembantaian sekitar 1.200 orangutan di Kotawaringin, Kalimantan Timur. Terduga genocide ini terjadi berkisar tahun 2009-2010 yang dilakukan oknum-oknum di areal perkebunan kelapa sawit. Wajar saja karena pemerintah begitu mudah memberikan izin perkebunan atau penambangan yang sudah mencapai ratusan per kabupaten di pulau Borneo ini.

Dilematis Konservasi Orangutan

    Penanganan pemeliharaan orangutan sungguh dilematis di sana-sini. Di satu sisi jika mereka dipelihara oleh pihak konservator, tentu terkendala biaya pemeliharaan. Bahkan di daerah ragunan, beberapa spesies ‘dikandang’ ditempat yang tidak ‘berprikehewanan’. Untuk makan saja, mereka bergantung pada makanan yang dilemparkan oleh anak-anak saat berkunjung. Sehingga hewan yang sangat lambat bereproduksi ini mengalami ‘depresi’ berat jika harus ‘dikandang’. Dan memang selayaknya ia hidup bebas sebagai hewan sejati. Akan tetapi di sisi lain jika orangutan dilepas-liarkan maka akan berhadapan dengan predator berbahaya, Manusia…! bahkan saat ini hampir 70% dari satwa omnivora ini sudah hidup diluar kawasan konservasi. Dan bahayanya mereka harus berjuang menghadapi para pemburu yang tidak berbelaskasihan.

    Penuntasan problem ini memang harus disupport oleh berbagai pihak. Dan tentu saja pihak yang paling bertanggung jawab yakni mereka para perusak hutan. Selama 20 tahun terakhir, habitat orangutan telah berkurang 80%. Sehingga wajar jika fauna langka ini masuk ke areal perkebunan dan penambangan. Karena ‘dulu’nya areal tersebut merupakan ‘tanah air’ mereka. Selanjutnya dari pihak pemerintah harus menindak tegas para pembantai orangutan dengan hukuman yang berefek jera. Begitupun dengan izin perkebunan dan penambangan harus segera dikurangi bahkan diawasi secara ketat. Bagaimana mungkin di sebuah kabupaten terdapat 140 izin pertambangan yang diterbitkan pemerintah.

Selanjutnya bagi pihak pengasuh di taman hutan konservasi kudu memperhatikan kondisi kejiwaan orangutan. Konon, orangutan yang hidup bahagia lebih lama hidup tinimbang yang hidup stress di dalam kandang tak diurus. Begitu juga perhatian terhadap para ‘betina’. Pasalnya orangutan betina cenderung lebih pasrah bila bertemu bahaya. Jika terjadi kebakaran, pembantaian atau tertangkap predator, mereka hanya diam. Hal ini tidak lain karena mereka labih memilih mengorbankan diri agar anak-anak bisa berlari jauh dari predator. Padahal jika jumlah betina menurun maka kepunahan akan kian cepat terjadi. Pasalnya mereka hanya mampu melahirkan maksimal 3 sampai 4 anak seumur hidupnya.

    Menyedihkan, kelak anak-cucu bangsa ini hanya bisa mendengar kisah orangutan sebagai satwa yang pernah ada di Indonesia. Mereka bercerita tentang bagaimana ‘bapak-ibu’ nya yang menewaskan primata imut tersebut.

*Penulis menghayati tulisannya

Oleh: Teguh Estro*     Orangutan diambang kepunahan. Menurut para ahli seperti dilansir dari BBC pada Jumat (28/10/2011), hewan ini tera...
Teguh Estro Sabtu, 05 November 2011
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


            Nilai ekspor industri Indonesia sempat jeblok pada tahun 2009 yang hanya berkisar US $ 62 miliar. Lalu melonjak sampai US$ 82 miliar pada tahun 2010. Dan diprediksi di tahun 2011 ini akan terus meninggi hingga US$ 97 miliar. Meningkatnya nilai ekspor ini menjadi angin segar di dunia perdagangan dalam negeri. Dan harapannya para pegiat industri lokal terus menemukan kreatiftas baru. Terutama mengubah tradisi ekspor bahan mentah menuju ekspor bahan olahan bahkan berbentuk barang jadi.
            Sejak masa kerajaan-kerajaan nusantara bahkan, tradisi ekspor bahan mentah sudah terjadi. Sebut saja kerajaan Ternate dan Tidore yang menjadi lumbung Cengkih. Bahkan awalnya nenek moyang kita tidak mengetahui nilai mahal cengkih yang tumbuh liar di tanah surga ini. Barulah setelah bangsa Portugis datang, mereka terkejut ternyata cengkih menjadi dagangan mahal di Eropa. Begitupun kerajaan Sriwijaya yang sukses dengan komoditi Lada. Bahkan puncaknya pada tahun 1670 telah memproduksi Lada hingga 8000 ton.
            Di era sekarang ini, Indonesia ternyata masih mewarisi tradisi ekspor bahan mentah. Komoditi andalan negeri ini adalah minyak dan gas (migas). Selebihnya di dominasi oleh kelapa sawit, karet sampai komoditi dari hutan baik kayu maupun non kayu. Hampir sebagian besar barang jualan bangsa ini berupa bahan mentah. Dan tentu saja Indonesia menjadi incaran menggiurkan bagi negara-negara industri yang haus akan bahan baku.
            Hutan khatulistiwa ini telah menghasilkan karet yang melimpah. Akan tetapi ban mobil saja kita masih sering impor dengan harga berlipat-lipat. Begitupun dengan persenjataan militer, yang harus membeli dari luar negeri. Padahal jika mau, Indonesia bisa saja membuat sendiri senjata berbahan emas sekalipun.

Wajah Buram Industri Lokal
            Kegemaran ekspor bahan mentah, setidaknya memiliki ragam alasan yang kudu dikupas. Mulai dari persoalan hulu hingga ke hilirnya pasti ada celah masalah. Semisal matinya industri lokal karena minimnya mesin-mesin produksi pengolah bahan mentah. Selanjutnya lemahnya pemahaman terkait promosi produk kepada negara lain. Dan yang tidak kalah pentingnya yakni terganjalnya komunikasi efektif antar eksportir dengan negara pemesan. Harus ada posisi tawar yang kuat dari Indonesia kepada negara tujuan. Semisal sempat terjadi penolakan barang mebel Dari Jawa Tengah ke beberapa negara Eropa. Begitupun dengan tuduhan Indonesia melakukan dumping terhadap ekspor produk kaca ke Australia.
            Berkembangnya dunia ekspor Indonesia harus terus di dukung oleh semua pihak. Dari pemerintah sendiri bisa bekerjasama dengan KADIN untuk memuluskan industri-industri barang jadi. Begitupun dengan pengawalan sampai menembus kebijakan dalam negeri di negara lain. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah negara tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika yang tengah mengalami penurunan daya beli dikarenakan terpuruknya ekonomi global. Sehingga harus terus melakukan penetrasi ke kawasan-kawasan alternatif. Semisal Afrika, Timur Tengah, bahkan Amerika Selatan yang belum banyak terjamah eksportir-eksportir Indonesia.

*        Penulis Sedikit [-sedikit] menulis.

Oleh: Teguh Estro*             Nilai ekspor industri Indonesia sempat jeblok pada tahun 2009 yang hanya berkisar US $ 62 miliar. Lalu me...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


            Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 telah berlalu dengan sekian kontroversinya. Bagi rakyat papua pro-NKRI, hasil plebisit itu sudah sah sebagai tindak lanjut dari New York Agreement. Bahkan telah ditandatangani oleh pihak Indonesia, Belanda dan PBB. Sehingga hasil PEPERA yang memenangkan NKRI dianggap sudah final. Akan tetapi hal lain juga berhembus. Bahwasannya referendum tersebut hanya akal-akalan TNI saja yang sudah membungkam rakyat Papua dengan senjata. Sampai saat ini berbagai pihak masih saling mengklaim mengenai kebenaran sejarah PEPERA 1969.

            Hal yang sangat disayangkan, yakni tidak dimaksimalkannya peran Dewan Papua dalam New York Agreement tahun 1962 lalu. Sehingga pemaknaan kata Act of Free Choice (Tindakan Pilihan Bebas) dalam Agreement tersebut dimaknai sepihak. Dan akhirnya sekarang kita mengenalnya dengan istilah PEPERA. Celah-celah seperti inilah yang digunakan secara politis oleh pihak-pihak separatis untuk memprovokasi rakyat papua. Para separatis bersikukuh bahwa aneksasi yang dilakukan RI merupakan penjajahan terhadap negeri cenderawasih.

            Konflik di Indonesia paling timur ini cermin dari penanganan yang tak pernah tuntas. Jika hendak diruntut pasca diserahkan Papua dari pihak UNTEA ke NKRI selalu ditangani ‘setengah-setengah’. Dan tidak jarang selalu menggunakan pendekatan militer. malah kelihatannya pasukan keamanan justru tidak memunculkan rasa aman. Bahkan boleh jadi selama ini kelompok separatis sengaja memancing terjadinya baku tembak senjata. Lantaran mereka akan menggunakannya sebagai isu pelanggaran HAM oleh TNI dikemudian hari.

Sila ke-5 Segera Diterapkan
            Terkait ‘kue kesejahteraan’ di provinsi yang dulu bernama Irian Jaya ini memang terabaikan. Masih ingat saat dua tahun sebelum PEPERA, Indonesia telah tanda tangan kontrak karya pertama kalinya dengan Amerika Serikat atas PT.Freeport. Sehingga wajar saja jika banyak pihak yang menyangka proyek tambang tersebut merupakan ‘suap pelicin’ dari Jakarta untuk Amerika agar memuluskan referendum. Dan tentu saja, Freeport adalah hak kesejahteraan rakyat papua yang tidak mereka cicip.

            Pemerintah harus benar-benar melek agar tidak menjadikan Papua sebagai sapi perah. Karena salah-satu ‘janji’ yang diobral oleh OPM terhadap rakyat papua adalah diberikan rumah secara gratis bagi masyarakat. Sehingga benar-benar faktor kesenjangan sosial kudu diperhatikan. Dan Alhamdulillah syukur beberapa bulan yang lalu TNI sudah memulai itu dengan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD). Di sana para tentara tanpa banyak janji membangun rumah untuk warga. Dan sukses merebut hati rakyat di daerah-daerah basis pemberontak. Sehingga tidak jarang TNI yang tewas tertembak, karena separatis tidak menyukai program TMMD itu.

            Kendatipun telah diberlakukan otonomi khusus di Papua, tetap saja belum menuai hasil memuaskan. Hal itu tidak lain lantaran tidak menyentuh kebutuhan yang paling mendasar, yakni peningkatan kesejahteraan warga. Begitupun dengan peran pihak intelijen yang belum maksimal mengawasi gerak-gerik para separatis disana. Sehingga pemerintah tidak sempat mengantisipasi setiap kejadian berikutnya yang bisa menimbulkan korban. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah program pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan. Dengan demikian terintegrasinya papua kedalam NKRI bukan seperti Sapi perah yang dibeli tuannya.

*Penulis sedang membaca lalu menulis lagi

Oleh: Teguh Estro*             Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 telah berlalu dengan sekian kontroversinya. Bagi rakyat pap...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


Indonesia memiliki 92 pulau yang berbatasan dengan negara-negara jiran. Sehingga tidak heran bila sengketa perbatasan kerap terjadi. Mulai dari persoalan nelayan sampai tarik-menarik kepemilikan pulau. Dan beberapa waktu lalu kejadian tragis di Pontianak, sampai-sampai warga perbatasan mengancam hendak angkat tiang untuk bendera Malaysia. Tidak lain karena melihat rumput tetangga lebih menarik tinimbang lumpur di negeri sendiri.

    Selama ini kita selalu bangga jika melihat luasnya wilayah Indonesia yang memiliki sekitar 17.500 pulau. Karena memang secara deliniasi seolah tidak ada keganjilan. Akan tetapi ketika ditilik secara real, Demarkasi di banyak pulau begitu parah. Miris sekali melihat batas patok negara tak ubahnya ‘makam leluhur’. Dan dengan mudah bisa digeser atau malah bisa saja dibawa pulang oleh para pesinggah alas. Bukan sekedar itu, kesenjangan kesejahteraan antara warga perbatasan dan negara tetangga masih terbilang njomplang.

Kejadian nyata di Desa Mungguk Gelombang, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang beberapa kilometer dari Pontianak. Mereka harus berbagi dan berjuang ekstra untuk mencari pasokan kebutuhan pokok dari kabupaten. Belum lagi jalan yang berupa kubangan lumpur dan tanpa penerangan membuat anak-anak sekolah kesulitan untuk mengakses pendidikan di kabupaten. Dan di malam hari mereka hanya menggunakan genset sekedarnya. Dan bila bensin genset habis, maka kondisi akan bertambah romantis dengan lilin-lilin kecil.

Terbengkalainya daerah perbatasan setidaknya menjadi cermin pembangunan yang hanya tersentral di wilayah-wilayah tertentu saja. Dan sejak berlakunya otonomi daerah, seolah menjadi dalih pemerintah pusat untuk melepas tanggung jawab kesejahteraan pada wilayah perbatasan. Padahal sejatinya setiap daerah yang selama ini tidak pernah tersorot pemerintah merupakan aset-aset yang tertidur. Sehingga bukan sekedar pembenahan patok negara, akan tetapi pasokan kebutuhan juga disuplai ke sana.


Membangun dengan Membangunkan Pulau Indonesia

Bumi pertiwi merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah laut 7.900.000 km, empat kali lebih luas daripada daratannya. Namun anehnya sampai saat ini pembangunan masih berkarakter darat. Sehingga tidak sedikit yang menganggap laut-laut di Indonesia hanyalah pemisah antar pulau. Padahal hakikatnya selat dan laut berperan sebagai penghubung antar pulau. Selanjutnya terkait wawasan kelautan seolah dipendam begitu saja. Bukankah sejarah kerajaan nusantara pada masa lalu adalah sejarah mengenai perdagangan laut dan armada laut. Kini Indonesia sudah tercerabut dari akar sejarahnya. Sehingga wajar saja jika perhatian untuk melakukan pemberdayaan pulau dan perairan masih asal-asalan.

Semisal pelabuhan di Indonesia yang terbengkalai dan tidak memenuhi standar internasional. Padahal banyak pantai di Indonesia yang memiiki pelabuhan dengan penghasilan ikan dalam partai besar. Akan tetapi karena pelabuhannya belum memnuhi standar internasional, mereka belum diperbolehkan melakukan ekspor langsung ke luar negeri. Sehingga tidak jarang para eksportir ikan dibuat jengkel lantaran biaya ekspor harus ditambah dana transit di pelabuhan Singapura. Dan dalam setahun saja, banyak ekspor laut Indonesia menghabiskan uang triliun rupiah hanya untuk membayar upah transit di pelabuhan negara lain.

Berbincang mengenai negara kepulauan, maka tidak pernah lepas dari persoalan pulau itu sendiri. Seperti dikatakan sebelumnya, sejatinya pulau-pulau di Indonesia ialah aset yang tertidur. Dari sekitar 17.500 pulau, tidak sampai 2000 pulau yang telah memiliki nama. Dan yang berpenghuni hanya beberapa ratus saja. Jika hendak memandang jauh ke depan, maka peluang besar ada pada pulau-pulau yang tidak tergarap itu. Sehingga penting dengan adanya pemetaan potensi pulau-pulau di Indonesia. Ada beberapa pulau yang memiliki potensi wisata, potensi perikanan bahkan sampai potensi energi.

*Penulis harus menulis

Oleh: Teguh Estro* Indonesia memiliki 92 pulau yang berbatasan dengan negara-negara jiran. Sehingga tidak heran bila sengketa perbatasan...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*


Kolonel Khadafi tewas mengenaskan. Setelah 42 tahun berkuasa, akhirnya penguasa tiran ini ‘keok’ juga di kota kelahiranya. Bukan persoalan ia telah mati atau masih hidup. Tuhan Maha Kuasa, bisa saja Khadafi dihidupkan lagi atas kehendakNya. Akan tetapi kematian ‘Raja Afrika’ itu harus dibayar terlalu mahal oleh sekutu. Ibarat perjudian, Amerika masih harus berspekulasi pasca pemerintahan transisi ini. Siapa yang benar-benar bisa dijadikan boneka ‘pinokio’ disana. Belum lagi konsekuensi dari penyerangan itu yang membuat banyak pihak mengecam.

Pasca diputuskannya operasi penangkapan Khadafi oleh Dewan Keamanan PBB, tanpa berlama-lama NATO segera beraksi. Walaupun kenyataannya tidak semua anggota organisasi militer sekutu ini sepakat menyerang. Dari 28 negara anggota NATO hanya 7 negara saja yang ambil bagian. Setidaknya telah sedari lama, konflik internal NATO kian tampak pasca ribut-ribut kepemilikan senjata nuklir beberapa tahun lalu. Akan tetapi keputusan ngotot Menhan Perancis Gerard Longuet untuk memimpin operasi membuat negara lain tak bisa berkata banyak. kendati ada beberapa negara besar yang menolak adanya campur tangan NATO pada urusan dalam negeri Libya. Tercatat semisal Rusia, Jerman, Iran dan China sampai detik ini tetap mengutuk serangan NATO tersebut.

Jauh sebelum penyerangan terhadap Moammar Khadafi, Amerika telah lama melalui keputusan-keputusan dilematis. Ketakutan-ketakutan pemerintah gedung putih bisa terlihat dengan mudah. Masih ingat, bagaimana Amerika begitu bersuara keras terhadap negara yang pemilik senjata pemusnah massal. Lalu United States kembali terpojok dengan guncangan ekonomi hingga ia harus bersitegang dengan negara China. Dan kini gelombang penolakan dari pihak-pihak anti wall street turut membuat gugup Obama. Sejumlah demonstran di beberapa belahan dunia menolak dominasi perbankan karena telah menjadi kepanjangan tangan para kapitalis. Akan tetapi Amerika tetaplah Amerika. Negara yang dipimpin oleh anak menteng itu selalu memiliki senjata terakhir jika terdesak. Apalagi jika bukan atas nama demokrasi, kebebasan HAM dan ancaman militernya.

Sejenak kita kembali kepada Libya yang kini menghadapi transisi kepemimpinan. Meskipun NATO didesak untuk segera keluar dari negerinya Omar Mochtar itu, tetap saja mereka kekeuh menetap sampai kondisi benar-benar ‘aman’. Tentu saja maksudnya aman untuk menanamkan pengaruh mereka pada pemimpin anyar di sana. Hal ini karena negeri paman sam itu tidak akan pernah lupa pada tujuan utamanya, yakni minyak.

Libya negeri yang kaya akan minyak. Bahkan kualitas minyak di sana merupakan kualitas unggul. Sehingga tidak heran hanya bermodalkan ‘emas hitam’ tersebut, Libya mampu memiliki pendapatan perkapita hingga 12.000 US. Dollar. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma memiliki pendapatan perkapita seperempatnya saja. Sehingga jelas sumber daya energi Libya tersebut begitu menggiurkan bagi Obama yang sangat butuh cadangan bahan bakar.

Kerakusan Amerika inilah yang bisa menyebabkan banyak spekulasi. Jika United States bertindak gegabah, maka mereka akan menjadi musuh bersama rakyat Libya dalam waktu yang tidak lama. Sehingga dengan adanya demokratisasi paska transisi ini, akan menjadi upaya yang panjang dan melelahkan bagi Amerika untuk menjalankan misi oil powering.


*Penulis sedang menulis

Oleh: Teguh Estro* Kolonel Khadafi tewas mengenaskan. Setelah 42 tahun berkuasa, akhirnya penguasa tiran ini ‘keok’ juga di kota kelahir...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro


“…Dengan berdalih pada tugas media sebagai penyampai fakta, mereka telah berani melampaui batas etika (mengadu domba umat beragama)…”
Semisal ketika tragedi Monas berbuntut pada ‘cekcok’ antar dua ormas Islam. (FPI dan AKKBB). Pemberitaan yang berlebihan, bahkan videonya pun sengaja diputar berulang-ulang. Hal tersebutlah yang mengawali proses pembentukan persepsi. Tujuannya agar adegan cekcok tersebut di desain seolah meng-amin-i isu perpecahan Islam. Sebut saja tragedi Bom Bali yang menjadi momen tepat bagi media untuk menyudutkan umat Islam. Hingga wajar saja jika umat Islam di Indonesia begitu alergi terhadap syariat Islam. Karena selalu terpampang di layar televisi akan buruknya citra kaum muslimin. Namun mereka (pihak media) tentu memiliki logika-logika –yang sebenarnya tidak masuk logika- untuk menjadi alasan. Salah satunya alasannya untuk menyiarkan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“… Dengan berdalih pada kebebasan berekspresi mereka telah mengumbar aurat di depan mata jutaan kaum Muslim…”
Sudah tak terhitung jumlah kaum hawa yang numpang pamer aurat di televisi, majalah dan surat kabar. Bahkan parahnya tidak sedikit para remaja puteri yang ‘gandrung’ dalam kompetisi pamer-pameran aurat tersebut. perhatikan saja program acara seperti ‘miss Indonesia’, ‘tiara sunsilk’, ‘wanita rejoice, atau yang sejenisnya. Lebih dari sekedar eksplotasi, media (lagi-lagi) mencoba untuk mempengaruhi persepsi para pemuda yang sedang ‘linglung’ mencari jatidiri. Pun ketika chanel televisi menampilkan sinetron yang hedonis. Generasi muda Islam pasrah disodorkan model pemuda ala barat berikut kulturnya yang cenderung bebas. Ciri konkretnya adalah tatkala aurat bisa dibeli seharga ‘pisang goreng’ oleh media.
“…Dengan berdalih pada indahnya seni, mereka sengaja mendendangkan genderang jahiliyah di banyak telinga generasi muda….”
Sudah berapa banyak para pemuda lugu yang teracuni oleh indahnya soundtrack, video klip atau tayangan musik lainnya. Seolah remaja yang normal adalah remaja yang bertatto, punya pacar banyak, pakar bercinta, rajin ikut konser di barisan depan dan selalu up-date tentang hits teranyar. Hal tersebut perlahan tapi pasti membuat para generasi muda melupakan kewajibannya terhadap agama dan bangsa. Mereka lebih senang menghafal song lyric daripada sekedar juz ‘amma. Mereka lebih tahu tentang kisah perjalanan puluhan kelompok band daripada sirah nabawiyyah ataupun sejarah bangsa Indonesia. Mereka lebih sensitif ketika aliran musik idolanya diejek meski pada saat yang bersamaan ada kabar penghinaan kartun Nabi Saw.
“…Dengan berdalih pada hiburan mereka telah mensosialisasikan budaya ghibah (gossip)….”
Hal inilah yang nantinya kita sebut dengan rekayasa figure perception. Hampir di setiap pagi dan petang -jam tayang khusus ibu-ibu dan remaja puteri- tersuguhkan berbagai program entertaint. Gosip,…! tentu acara ini bukanlah mahluk asing bagi ibu-ibu dan remaja puteri. Hal ini sengaja dimanfaatkan untuk memberikan referensi gaya hidup bagi para remaja puteri. Yaitu gaya hidup para selebritis. Media telah merekayasa isu-siu yang terjadi pada para artis. Baik isu keretakan rumah tangga, punya pacar baru, mau menikah, perceraian dan lainnya. Hal tersebut supaya para penonton merekam dalam memorinya dan menganggap wajar tingkah laku para artis jika ditiru.
Awalnya Hanya Berdagang
Sejarah tanah Banten tak akan terlupa saat pertama kali VOC datang ke kampung mereka dengan maksud berdagang. ‘Ternyata bukan hanya udang yang ada di balik batu’. Eksploitasi besar-besaran baik tenaga maupun sumber daya alam pun dilakukan. Modus serupa dialami oleh serangan pengaruh media barat di Indonesia. Tujuan untamanya hanyalah berdagang (informasi). Namun tetap saja bukan hanya udang yang ada di balik batu. Tapi perang pemikiran umat Islam di Indonesia menjadi incaran utama. Bukanlah suatu hal yang salah jika slogan ‘Bang Napi’ kita gunakan. Waspadalah, waspadalah, waspadalah….!.

oleh : Teguh Estro “…Dengan berdalih pada tugas media sebagai penyampai fakta, mereka telah berani melampaui batas etika (mengadu domba u...
Teguh Estro
Teguh Indonesia


Oleh: Teguh Estro*

“...Mereka bangga kalau kelompok geng nya adu jotos, menganiaya sampai ‘membakar’ atribut kelompok lain. Na’udzubillahi min dzalik…!”

Manusia berasal dari bangsa kera ! Kesimpulan yang kejam itu tertuang dalam pemikiran kaum Darwinisme ribuan tahun lalu. Mereka berpendapat antara kera dan manusia sama-sama berasal dari jenis phrymata. Manusia merupakan bagian dari proses Evolusi bangsa phrymatha. Hal tersebut ditandai dengan perubahan volume otak, bentuk rahang, tinggi kerangka, hingga perubahan pola hidup. Tentu saja hal tersebut menyulut amarah banyak umat manusia. Siapa sih yang mau disamakan dengan mahluk berekor panjang nan berbulu lebat tersebut. Lihat saja betapa ‘cakep’nya Karim Benzema (bintang Real Madrid FC) tentu saja tidak akan mau disamakan dengan seekor kera.

Salah satu dari sekian banyak kelebihan manusia dibandingkan kera adalah kemampuan Nalar kritis manusia. Masih ingatkah bagaimana ‘cerewet’nya Ibrahim a.s ketika masih kecil. ia bertanya kenapa harus menyembah patung yang dibuat oleh bapaknya sendiri. Ia bertanya-tanya dimana Tuhannya. Dan sampai saat ini belum ada kera semodern apapun yang pernah mempertanyakan siapa Tuhannya. Atau setidaknya mempertanyakan kenapa kera selalu makan pisang. Kalaupun ada mungkin itu hanya ada di Film ataupun Sinetron.

Kaum Filosof sering mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir. Mungkin secara sederhana bisa saja seperti itu. Maksudnya secara fisik manusia dan hewan memiliki beberapa kesamaan. Karena manusia juga memiliki dimensi ke-binatang-an. Yakni hasrat untuk bertahan hidup, mencari makan, sakit, reproduksi dll. Dan sekali lagi hal mendasar yang membedakan antara manusia dan hewan adalah Nalar kritis mereka, kemampuan berpikir brilian. Jadi kemungkinan yang disebut oleh mas Darwin sebagai keturunan kera itu adalah mereka yang kehilangan nalar kritisnya. Karena terkadang manusia justru terjebak dalam rutinitas yang juga merupakan rutinitas yang dilakukan kera. Semisal hidup hanya diisi dengan makan, tidur, berkembang biak dan berkelahi cakar-cakaran. Kera tidak akan pernah mendapat gelar pemikir apalagi cinta akan ilmu pengetahuan.

Mahasiswa, nah sekarang kita membicarakan mahasiswa. Dalam tradisi mahasiswa ada yang disebut dengan mimbar diskusi. Dimana mahasiswa dipersilahkan untuk mengemukakan aspirasinya. Biasanya di dalam kelas mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi ilmiah sebebas-bebasnya. Walaupun masih ada juga beberapa dosen yang masih memaksakan pendapat mereka, menjejali mahasiswa dengan hafalan-hafalan dan teori-teori yang tidak implementatif. Sehingga wajar jika beberapa mahasiswa ada yang ‘gelisah’ (baca: tidak puas) dengan apa yang mereka dapat di kelas. Itulah mahasiswa, ia tidak pernah puas dengan ilmu pengetahuan, selalu ingin tahu dan resah jika ada sesuatu yang mengganjal dari ilmu yang ia pelajari. Inilah yang membedakan Mahasiswa dan kera. Beda banget…!

Adakah mahasiswa yang sekaligus ‘kera jadi-jadian’ ? maksudnya, adakah Mahasiswa tetapi tetap saja melakukan rutinitas yang persis seperti kera. Semisal hidup hanya diisi dengan makan-makan. Mereka hanya asyik hunting jenis makanan dari satu warung ke warung yang lainnya. Atau ada juga mahasiswa yang hobi tawuran keroyokan persis sekali seperti kera kalau berkelahi cakar-cakaran. Mereka bangga kalau kelompok geng nya adu jotos, menganiaya sampai ‘membakar’ atribut kelompok lain. Na’udzubillahi min dzalik…!

Siapapun diantara kita tidak ada satupun yang mau disamakan dengan kera. Siapapun pembaca yang budiman pasti sangat bangga disebut sebagai insan pecinta ilmu pengetahuan. Terutama di dunia kampus yang menjadi gudangnya teori-teori keilmuan. Maka carilah, ikatlah dan ajarkanlah ilmu yang ada. Maka berkoarlah sekencang mungkin di dalam kelas, maka jadilah aktivis handal di Organisasi. Maka berdiskusialah tentang apa saja, maka tanyakanlah tentang kenapa. Maka pintalah kepada Rabb agar bisa menjadi mahasiswa ‘tulen’ yang gila akan ilmu pengetahuan bukan menjadi kera jadi-jadian.

Oleh: Teguh Estro* “...Mereka bangga kalau kelompok geng nya adu jotos, menganiaya sampai ‘membakar’ atribut kelompok lain. Na’udzubil...
Teguh Estro
Teguh Indonesia


Oleh: Teguh Estro
            Salah satu ciri simbolik dari negara demokrasi adalah adanya Pemilihan Umum (PEMILU) dalam penentuan kepala pemerintahan. Begitupun Indonesia yang memang rutin mengagendakan PEMILU sejak tahun 1955 untuk memilih Presiden, baik secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun pesta demokrasi ini masih harus banyak berbenah, setidaknya Indonesia telah belajar dalam banyak kesalahan.
Sejak tahun 2004, negara dengan jumlah etnis terbanyak ini mulai mengenal istilah Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). Beberapa bulan ke depan PILKADA inilah yang akan menghiasi layar-layar publik. Hajatan demokrasi ini juga kian menggeliat di berbagai kabupaten  provinsi D.I Yogyakarta. Calon-calon pemimpin ada yang terang-terangan tampil, ada juga yang ‘malu-malu kucing’ memproklamirkan dirinya. Baik itu melalui baliho-baliho di jalan umum, via media cetak ataupun kampanye di televisi. Mudah-mudahan visi kinerja mereka secantik dan seganteng parasnya saat di iklan.
Pelajaran terpenting dari berbagai PILKADA di tanah air adalah maraknya berbagai anarkisme, kecurangan suara dan money politic. Sebagai kota pelajar, selayaknya bumi mataram ini ‘berpesta’ dengan cara terpelajar juga. Jangan sampai PILKADA justru lebih mengerikan daripada pertandingan sepakbola derby jogja yang penuh kekerasan. Seharusnya ajang demokrasi ini menjadi pertarungan program kerja yang betul-betul fair. Sehingga singgungan antara simpatisan yang berujung premanisme tidak terjadi lagi. Pun demikian dengan maraknya kecurangan suara. Calo-calo suara seolah menjadi profesi musiman saat agenda pesta rakyat berlangsung. Sungguh budaya tersebut tidak layak terjadi di kota budaya, Yogyakarta.
Lima kabupaten di DIY tengah siap siaga menyambut pesta demokrasi. Terutama daerah Mbantul dan Kota Yogyakarta yang tampak poster-poster calon kuatnya. Sebenarnya perkara menang atau kalah tidaklah begitu penting, hal yang perlu diperhatikan adalah proses demokrasinya. Dengan berjalannya proses PILKADA secara demokratis tentu saja bisa menjadikan masyarakat perlahan melek politik. Siapa calonnya, apa visi besarnya dan bagaimana track recordnya adalah perkara wajib untuk dikonsumsi warga Yogyakarta. Sehingga jargon-jargon ‘aneh’ tak lagi muncul, seperti “…seng penting duite endi…” atau“….nek arep dipiih, aku entuk piro….” Dll.
Komunikasi politik harus sejak dini dilakukan calon-calon pemimpin daerah. Pasalnya selama ini komunikasi politik seolah hanya milik kalangat elit saja. Sedangkan masyarakat bawah sekedar melakukan komunikasi politik pasif, itupun saat PEMILU tiba. Lancarnya pendidikan politik hanya terjadi jika pemimpin dan elit politik mau ‘turun’ langsung dan membaur bersama masyarakat bawah. Tentu saja, bukan hanya saat mendekati PILKADA saja. Tetapi setiap rakyat memiliki masalah, sebenarnya di sanalah peluang para elit politik untuk melakukan pendidikan politik. Bukan sekedar manis di iklan saja, tapi ujung-ujungnya korupsi juga.
Kontinuitas peran partai politik membersamai rakyat akan berdampak pada meningkatnya kesadaran politik. Sehingga pemilih benar-benar melakukan pemilihan, bukan sekedar dipaksa untuk memilih. Setidaknya  rakyat tahu siapa yang dipilih, ibarat anak yang tahu persis siapa bapaknya. Bukankah setelah terpilih nanti, para calon akan bertugas menjadi pelayan bagi masyarakat. Bagaimana mungkin terjadi pelayanan jika pemimpin tidak berbaur dengan rakyat, atau sebaliknya rakyat yang cuek terhadap pemimpinnya. Padahal nantinya pemimpin daerah sangatlah membutuhkan pasrtisipasi masyarakat dalam menyukseskan program-programnya. Jika selama ini paradigma rakyat yang selalu butuh uluran pemerintah, maka hal tersebut harus dibalik. Hubungan antara rakyat dan pemerintah adalah partner dalam membangun daerah. Konsep kesetaraan dalam relasi publik inilah yang mempercepat proses pemahaman masyarakat. Dan tentu saja kian mendidik rakyat dalam rangka pembangunan daerah.
Pendidikan politik bukan saja harus diajarkan kepada rakyat. Akan tetapi para aktivis partai politik pun kudu belajar bersama rakyat. Belajar dewasa menerima kekalahan, belajar tertib administrasi, belajar kampanye damai dan belajar memenangkan PILKADA dengan jujur. Haruskah kecurangan yang sama terjadi lagi dan lagi? Akankah ‘cakar-mencakar’ antar partai politik terus dibudayakan? Sebenarnya rakyat pun sudah bosan menonton tingkah elit politik di panggung demokrasi yang acak-acakan. Contoh ringan saja keributan saat konvoi kampanye, pembakarann bendera, penyobekan baliho bahkan tawur antar simpatisan. Kebebasan dalam demokrasi bukan berarti bebas menindas kontestan lainnya.
Yogyakarta bukanlah kota yang baru mengenal demokrasi. Bahkan pakar-pakar demokrasi banyak lahir di sini. Sehingga pemimpin yang akan maju ke pentas demokrasi pun seharusnya para intelektual-intelektual bermoral jebolan kota pelajar. Dan harapannya rakyat tidak begitu sulit menentukan pilihan untuk mencari pemimpin daerah berkualitas. Apapun partainya dan siapapun calonnya tentu harus mengutamakan karepe rakyat. Pasalnya rakyat selalu menjadi korban ulah ‘nakal’ para penguasa. Sudah saatnya wong cilik di Yogyakarta ini  merasakan kesejahteraan dari kepala daerah yang adil.
Partisipasi masyarakat tentu menjadi faktor yang paling penting. Saat ini pilihan untuk masyarakat bukan lagi memilih atau tidak. Akan tetapi benar-benar serius memilih antar Calon Pemimpin satu atau yang lainnya. Jika selama ini masyarakat banyak mengeluh dengan kinerja pejabat atas, ya salahnya sendiri. Kenapa pada saat ajang PILKADA tidak serius memilih pemimpinyang paling bagus. Semisal dengan melakukan kontrak politik ataupun sharing program. Bahkan masih ada saja person-person yang justru mengkampanyekan anti PILKADA. Entah karena kekecewaan yang berlebihan terhadap pemimpin yang lalu. Ataupun karena memang niatnya yang busuk untuk menolak demokrasi hingga ke daerah-daerah. Warga Yogyakarta sangat membutuhkan pemerintah yang demokratis. Salah satunya adalah dengan menggalakkan tingkat pastisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah.

Oleh: Teguh Estro             Salah satu ciri simbolik dari negara demokrasi adalah adanya Pemilihan Umum (PEMILU) dalam penent...
Teguh Estro
Teguh Indonesia


oleh: Teguh Estro

Tentu kita masih ingat kiprah Qarun berikut kekayaannya nan melimpah. Harta yang dimilikinya justru menjadi bomerang bagi datangnya kepongahan. Sungguh tidaklah berlebihan jika ia menjadi ikon bersejarah kaum hedonis. Sosok yang hidup pada masa nabi Musa a.s ini berhasil memperkenalkan eksistensi kaum hedonis di masanya.
Hal serupa dilakukan kaum Munafiqin yang ikut perang uhud dalam barisan kaum muslimin. Sebagian pasukan pemanah terpesona dengan kilauan ghanimah (harta rampasan perang) sehingga meninggalkan pos-pos mereka di atas bukit. Terlepas dari menang atau tidaknya perang uhud, yang pasti perjuangan telah ternodai oleh ruh-ruh hedonisme.

Pada era pertengahan gelombang hedonisme justru datang dari negeri barat. Mulai dari gaya hidup, adat-istiadat, hingga pola pikir tidak terlepas dari sudut pandang keduniaan. Tatanan perilaku barat tersebut cepat atau lambat sampai juga ke dunia timur dan negeri kaum muslimin khususnya. Dan Orang –gila- pertama yang menyebarkan virus hedonis ini adalah para penjajah. Pasca perang dunia, umat Islam benar-benar habis diobok-obok oleh imperium barat. Mulai dari penjajahan fisik, pengerukan alam hingga pemaksaan budaya hedonis di daerah jajahan. Sebut saja di Indonesia

kebanggaan berlebihan terhadap ‘kompeni’ sebenarnya sudah ada seja masa penjajahan. Bukan hanya meniru gaya hedonisnya, akan tetapi sampai rela menjadi penghianat bangsa dan berpihak pada penjajah. Mereka itulah yang rela menjadi mata-mata penjajah hanya karena imbalan satu atau dua keping harta. Sungguh Hedonis….!

Pada masa post-modern ini kaum hedonis mengalami masa keemasannya. Dimana justru bibit pecinta dunia berkembang hebat di kalangan umat Islam sendiri. Anehnya lagi antar satu muslim dengan lainnya kian asyik menumpuk harta. Hingga kemuncaknya adalah keberadaan pengaruh hedonis ini telah diangap wajar dan diterima dengan baik tak ubahnya seorang raja di raja yang sakti mandraguna pengaruhnya.

oleh: Teguh Estro Tentu kita masih ingat kiprah Qarun berikut kekayaannya nan melimpah. Harta yang dimilikinya justru menjadi bomerang...
Teguh Estro