Menu
Teguh Indonesia



(Sambutan Dalam Agenda Simposium KAMMI Daerah)
Oleh: Teguh Estro


Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh
            Rekan-rekan Aktivis dan Konseptor Gerakan KAMMI yang berbahagia.
            Kita semua di sini tanpa terkecuali laiknya sebuah motor serangan nan siap menggemparkan kesunyian intelektual selama ini. Kemudian masihkah kita mencari-cari alasan untuk diam, padahal lantangnya suara kita begitu diperlukan bangsa ini. Maka hari ini adalah hari dimana kita terbebas mengoyak langit dengan gugatan-gugatan kita sebagai kaum muda. Kendati masyarakat sekitar banyak yang gengsi mendengarnya, mencibir sepenuh hati gagasan-gagasan kita bahkan memusuhi ama-amal kita.

            Dalam simposium ini saya hendak mengajak segenap konseptor-konseptor KAMMI beserta keberanianya sekaligus. Mari kita melihat sedekat-dekatnya apa yang menjadi target atawa Goal perbincangan ini. Bukankah dalam visi KAMMI dicantumkan kalimat yang sangat dahsyat sekaligus menjadi tujuan dari gerakan ini. “Dalam Rangka Mewujudkan Bangsa dan Negara yang Islami”. Bangsa dan Negara yang kita lahir di atasnya, kita bersedih-suka bersamanya, semestinya hal ini selalu menjadi perhatian utama setiap kader-kader KAMMI.

            Sahabat-sahabat seperjuangan…..
            Setiap zaman memiliki caranya tersendiri dalam mencintai bangsa dan negaranya. Meski kita tidak hidup lagi dalam suasana perang fisik, tetapi justru pada saat sesudah kemerdekaan ini bermakna lebh pelik lagi. Sebagaimana Soekarno sudah mewanti-wanti “Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Dan bapak proklamtor ini tidak main-main berpesan pada generasi penerus. Hingga saat inipun masih dan akan terus terasa imperialisme dan kapitalisme gaya baru menggurita di nusantara. Seperti dalam bahasanya Prof Amien Rais dalam bukunya Selamatkan Indonesia, “Bangsa ini dikuasi oleh Korporat-korporat asing. Bangsa ini adalah negara Korporatokrasi”. Beliau menambahkan korporatokrasi sebagai sebuah sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan untuk mengontrol ekonomi dan politik global yang memiliki 7 unsur: yaitu, korporasi-korporasi besar, kekuatanpolitik pemerintahan tertentu terutama Amerika dan kaki tangannya, Perbankan Internasional, kekuatan militer, media massa, kaum intelektual yang dikooptasi, dan terakhir yang tidak kalah penting adalah elite nasional negara-negara berkembang yang bermental inlander, komprador atau pelayan. Begitula Prof Amien Rais membungkus unsur-unsur suatu negara korporatokarasi yang kesemuanya sudah terdeteksi di dalam negara ini.

Rekan-rekan aktivis dan konseptor gerakan yang saya banggakan….
Mungkin secara awam kita masih bereuforia atas digembar-gemborkannya kemeriahan demokrasi di Indonesia. Bahkan beberapa kala, Negara ini kerap disematkan sebagai negara demokrasi terbesar setelah Amerika dan India. Padahal itu hanyalah demokrasi secara tampak kulit atau dalam bahasa akademik dikatakan demokrasi prosedural. Terlihat suatu pemilihan umum yang Nampak demokratis di sana-sini. Seolah-olah tidak pernah terjadi deal-deal politik antara calon penguasa dengan korporat-korporat asing. Seakan-akan tidak pernah ada bagi-bagi jatah antar partai politik sebelum dan sesudah pemilihan umum. Masihkah kita menutup mata akan hilangnya subtansi demokrasi. Padahal kata kunci dari kata demokrasi adalah kata “rakyat”. suatu pemerintahan “Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.

Bukan sahaja di pentas politik nasional, wabah ini terus meng-endemik di daerah-daerah. Sudah jamak terlihat oleh para aktivis-aktivis akan kejadian di balik layar perpolitikan daerah di seluruh Indonesia. Kepala daerah memperdagangkan aset-aset daerah. Wilayah tambang menjadi komoditas kampanye kepada korporat-korporat kapitalis. Daerah hutan-hutan lindung kian gila dialihfungsikan menjadi kawasan perkebunan diperuntukkan bagi cukong-cukong tak berperasaan. Saudara-saudara! kenapa kita masih diam melihat kesemuanya. Di Kalimantan, para Orang Utan turun protes di perkebunan sawit. Dan nyawa mereka menjadi bulan-bulanan algojo-algojo para cukong. Di Sumatera harimau-harimau turun gunung menuntut hak-hak mereka. Harusnya kita yang hadir di sini yang masih bisa bicara lantang serta mampu bergerak cepat, seyogyanya menjadi pemecah kebuntuan masalah-masalah ini.


Kawan-kawanku para penerus pemimpin-pemimpin bangsa.
Pada awalnya kekhawatiran dari adanya sentralisasi kekuasaan pada masa Soeharto yakni akan mengokohnya kediktatoran pemerintah pusat. Sehingga dengan berbagai macam pertimbangan di sana-sini menjadilah pasca reformasi adanya otonomi daerah. Suatu daerah memiliki otonomi mengeola aset-aset daerahnya. Tentu saja ini akan berujung manis jika dieksekusi oleh manusi-manusia berwatak seperti nabi Yusuf a.s. Pemimpin yang memiliki kapabilitas, megutamakan rakyat serta takut pada Tuhan. Akan tetapi kini kondisi yang terjadi adalah muncul pemimpin-pemimpin daerah yang Gagap dalam memimpin. Sehingga aset daerah yang semsetinya diperuntukkan bagi masyarakat malah disimpangkan ke meja-meja yang lain.

Dengan kondisi ini, maka secara mutlak benar-benar dibutuhkan suatu kontrol terhadap pemimpin-peminpin daerah. Baik itu eksekutif berupa Bupati/walikota, legisatif yakni DPRD, Yudikatif berbentuk kejaksaan, Pimpinan keamanan dan pimpina daerah lainnya. Maka munculnya KAMMI di daerah bukan tanpa alasan. Kita memiliki dalil sekuat-kuatnya untuk berkontribusi pada bangsa ini. Maka dari itu dalam simposium daerah kali ini, harapannya mampu menghasilkan rumusan gagasan. Gagasan yang lama tersimpan dalam brankas-brankas jiwa mahasiswa. Rekan-rekan diharapkan mampu berbagi pemikiran terhebatnya untuk menambah laju dari gerak organisasi ini.
Selamat menyampaikan gagasan, Selamat mendengarkan dan Selamat Pagi.
Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

(Sambutan Dalam Agenda Simposium KAMMI Daerah) Oleh: Teguh Estro Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh             Rekan...
Teguh Estro Rabu, 13 Maret 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*

Keberadaan pers memiliki sejarah yang erat terhadap berlangsungnya kehidupan manusia. Khususnya sejak era Perang dunia hingga masa kejayaan bangsa-bangsa saat ini. Hal ini sebab media berperan sebagai pelipat ganda pesan nan efektif sampai saat ini. Di negara-negara otoritarian, pemerintah memanfaatkan kantor-kantor berita laksana “PR” yang siap memuja-muji kebijakan dan kinerja penguasa. Pada negara libertarian sebaliknya, pers kerap ditunggangi oposan-oposan yang getol mengkritik negara. Sehingga tepat sekali bila mati hidupnya pers atau lancar tidaknya kehidupan pers disuatu negara dipengaruhi bahkan ditentukan oleh sistem politik pemerintahan negara di mana pers situ beroperasi.

Relasi antara pers dan politik kian berkerabat seiring mulai populisnya sistem demokrasi di dunia. Setidaknya secara historis, media cukup signifikan dalam memainkan perannya sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Alhasil, Kondisi ini justru mengarahkan pers menghadapi persimpangan nan serius. Satu sisi secara internal meja redaksi kekeuh untuk menjajahkan berita secara professional dan idealis dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Pada sisi lain, secara eksternal lembaga pers mulai ditarik dalam pusaran kuasa dan politik untuk melanggengkan eksistensi lembaga.

Dalam praktiknya, kantor-kantor berita tetap ‘memaksakan’ untuk mengambil keduanya. Tim redaksi menjalankan proses jurnalistik sedangkan tim perusahaan juga terkadang menyantolkan sahamnya pada konglomerat elit politik. Pada dasarnya setiap media memiliki kebebasan memiih bahasa politik dan fakta yang akan dipakai dalam teks yang dibuatnya tergantung pada pertimbangan faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang dimaksud bisa merujuk pada kepentingan pangsa pasar, pemilik modal perusahaan dan pengiklan. Adapun faktor internal erat kaitannya dengan kecenderungan ideologis media serta profesionalisme jurnalistik.

Kedua faktor di atas berperan besar bagi media dalam upaya kontstruksi realitas. Karena membuat berita pada dasarnya adalah mengkonstruksi realitas. Dalam pandangan ‘konvensional-positivistik’ media hanya dilihat sebagai saluran. Media adalah sarana bagaimana pesan disebarkan dari komunikator kepada penerima (khalayak). Hal ini nampak berbeda jauh dalam pandangan konstruksionis yang memandang media sebagai subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Ituah alasan kenapa acapkali sebuah pemberitaan mengalami distorsi. Tentu saja lantaran ada pengaruh dominan, baik faktor eksternal ataupun eksternal. 

Dalam situasi transisi pasca reformasi tahun 1999, yang ditengarai dengan hidupnya kembali aliran-aliran politik serta menurunnya kontrol negara terhadap politik dan pers, perhubungan antara keduanya – partai politik dengan ragam aliran dan koran-koran yang memiliki latar belakang sejarah politik- mendorong dibuktikannya satu hipotesis bahwa liputan politik pasca reformasi akan bersifat partisan. Sehingga –setidaknya sampai saat ini- media yang terendus berlaku partisan ini cenderung berpihak saat mengkonstruksi realitas. Ditambah lagi era media partisan ternyata didalangi oleh pemain-pemain konglomerasi media.

Akhir-akhir ini sedang marak pendekatan analisis menggunakan pandangan konstruksionis. Karena dalam membingkai suatu realitas bukanlah sekedar memindahkan peristiwa menjadi berita. Begitupun seorang wartawan yang dipandang bukan sekedar ‘robot’ pemindah fakta di lapangan menjadi berita. Seorang reporter juga memiiki kecenderungan, keberpihakan dan referensi sendiri dalam mengkonstruksi suatu berita.

Pembingkaian Prahara NASDEM
Dalam berita kemunduran Hary Tanoe Sudibyo dari Partai Nasional Demokrat, Nampak jelas perbedaan media dalam membingkai informasi. Ada media yang menayangkannya seolah-olah terjadi perpecahan hebat antara Hary Tanoe dan Surya Paloh. Sampai pada titik paling ekstrem yakni mengarahkan ketidakbecusan partai yang masih seumur jagung ini mengelola internalnya. “Belumlah mengurus negara sudah saling berkelahi” begitulah kesimpulannya. Bahkan ditampilkan nara sumber yang mengarahkan pada kesimpulan tersebut. Mulai dari wawancara mantan ketua DPW Partai NASDEM provinsi Jakarta yang sangat keras dan akhirnya mengundurkan diri menyusul Hary Tanoe. Para awak media menyorot secara detail pengunduran diri ratusan anggota partai di sekretariat pusat. Bahkan angel foto nya diambil dari tengah kerumunan supaya terkesan ramai membludak.

    Perbedaan mencolok bila ditilik dari pers dengan keberpihakan yang berseberangan. Sebagian pers menampilkan seolah-olah perbedaan diantara kader hanyalah hal biasa. Bahkan ditayangkan gambar anggota kongres Partai Nasdem yang tengah tertawa santai, menandakan tidak ada suatu keguncangan internal yang berarti. Selanjutnya selang beberapa hari muncul liputan eksklusif kongres Partai Nasdem menampilkan kehebatan Surya Paloh berorasi. Sebagai penunjangnya diselipkan berita bergabungnya O.C Kaligis sebagai advokat senior ke dalam partai ini. Bahkan dituliskan pula bahwa terdapat ratusan mantan aktivis ’98 memilih satu barisan bersama Partai NASDEM.

    Kedua framing (pembingkaian) yang ditampilkan masing-masing media terlihat begitu terang ketidaksamaanya. Walaupun pada dasarnya informasi dan fakta lapangan yang diliput sama. Inilah kenapa begitu penting dirasa masyarakat memiliki dasar dalam menganalisis bagaimana frame sebuah surat kabar. Setidaknya di era media partisan ini, masyarakat jangan teralu cepat mengambil kesimpulan kebenaran terhadap penampakan muka sebuah surat kabar.

Bahan bacaan:
1.    Analisis Framing karya Eriyanto
2.    Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa karya Ibnu Hammad

3.    Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi karya Onong Uchjana

Oleh: Teguh Estro* Keberadaan pers memiliki sejarah yang erat terhadap berlangsungnya kehidupan manusia. Khususnya sejak era Perang d...
Teguh Estro Selasa, 29 Januari 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*



Krisis Timur Tengah memang tak kunjung berujung. Akhir-akhir ini bergulirnya Arab Spring masih membawa pengaruh psikologis-politis terhadap negara-negara arab. Berawal dari revolusi Tunisia, menjalar ke Libya sampai kepada Mesir yang bergejolak memakzulkan Husni Mubarok. Kondisi perubahan tampuk kepemimpinan itulah yang merubah peta politik kawasan padang pasir ini.

Jatuhnya rezim di negara-negara arab membuat peta geopolitik dan geostrategi sulit tertebak. Termasuk salah satunya di negara Suriah. Belakangan ini perhatian publik terarah pada memanasnya seteru loyalis Bashar al-Assad dan pasukan oposisi. Secara internasional, perang saudara ini tidak terlepas dari perebutan pengaruh Amerika Serikat dan Rusia. Pihak pemerintah yang mendapat pengaruh Rusia, China dan akhir-akhir ini ditambah Iran. Sedangkan pihak oposisi didukung oleh Amerika Serikat dan Perancis.

Konstelasi politik timur-tengah memiliki dampak terhadap dunia internasional. Sebut saja prahara minyak yang masih menjadi barang panglaris di pasar dunia. Perebutan sumur-sumur minyak kerap memicu kegagapan sikap negara-negara besar. Sedangkan ketegangan antar negara merupakan unsur paling dominan yang mempengaruhi harga pasar. Tentu saja pihak yang paling merasa dirugikan yakni mereka dengan konsumsi energi terbesar di muka bumi. Amerika Serikat pada urutan pertama disusul Republik Rakyat China (RRC) yang baru saja awal tahun 2004 mengalami penaikan konsumsi drastis. Sehingga tidak aneh kiranya negara-negara besar terpaksa masuk dalam pusaran konflik timur-tengah.

Semua negara besar memiliki kepentingan masing-masing di setiap konflik negara timur tengah, termasuk krisis Suriah. Sehingga wajar saja bila pelbagai manuver dilakukan baik itu secara politik, militer bahkan strategi media. Dan perang antar media sudah bukan hal baru di kawasan arab. Ada empat media Internasional yang mendominasi pemberitaan selama ini. Yakni, 1) BBC (British Broadcasting Corporation) dari Inggris. 2) Reuters dari London, Inggris.  3) CNN (Cable News Network) dari Amerika Serikat dan 4) Al-Jazeerah dari Qatar. Sudah jamak kiranya kantor berita satu dan lainnya terjadi praktik back campaign. Al-Jazeera misalnya yang kerap tersematkan sebagai corongnya al-Qaeda. Puncaknya tatkala terjadi pengeboman kantor berita mereka di Iraq saat Invasi Amerika terhadap pasukan almarhum Saddam Husein.

Keempat kantor jurnalistik tersebut bukan sekedar meliput berita, tetapi menjadi rujukan dunia sebagai sumber berita. Termasuk dalam hal ini pemberitaan terkait krisis Suriah. Tentu saja terdapat dua kutub mainstream cara media tersebut mebingkai berita. Pertama, bagi media yang berpihak kepada pemerintah akan mengambil sudut pandang adanya pemberontak yang menjadi musabab chaos di negeri yang dulunya bernama Syam itu. Kedua, bagi pers yang menjadi corong oposisi, tentu akan mengambil case pembantaian sipil oleh militer sebagai angelnya.

Penyaduran Berita a la Indonesia.
Sudah jamak diketahui bahwa kabar timur tengah selalu ‘seksi’ untuk dijadikan pendongkrak oplah para awak media. Termasuk media di Indonesia yang tidak mau alpa dalam memberikan asupan info pada warganya. Sebut saja Surat Kabar Harian Republika yang begitu serius memberikan space lebih terhadap pemberitaan timur tengah. Bahkan bidang redaksi menyediakan satu tempat khusus, yakni rubrik ‘Internasional’.

Media yang pendiriannya digawangi oleh Zaim Uchrowi ini selalu menampakkan ketegasannya berpihak pada kepentingan umat Islam. Begitupun kala mengawal fenomena Arab Spring akhir-akhir ini. Sedari revolusi di Tunisia, Libya, Mesir hingga Suriah saat ini, Republika terlihat lebih dominan tinimbang lainnya.

Pangsa pasar Republika di Indonesia terdiri atas varian klasifikasi. Bukan semata para intelektual muslim yang mengkonsumsinya, kalangan masyarakat menengah ke bawah juga menjadi pembaca. Sehingga bisa saja mengalami random dalam penyebaran informasi. Kondisi ini memungkinkan terjadi misperception dalam menerjemahkan maksud berita terutama bagi kalangan yang belum memahami konteks realitasnya. Apalagi bila erat kaitannya dengan berita luar negeri, bahkan bukan bersumber dari liputan primer. Maka warga lokal yang buta kondisi internasional tentu tidak memiliki filter dalam membaca berita.

Selama ini sebagian besar pers di Indonesia dalam memburu berita timur tengah kerap membelinya dari kantor berita Reuters, termasuk Republika. Bahkan dalam peliputan info Suriah, media yang berdiri pada 4 Januari 1993 ini bersumber 100% dari kantor berita Reuters. Maka yang menjadi pertanyaan, bagaimana warga lokal mampu menginterpretasi maksud dari sebuah berita yang sulit mereka konfirmasi kebenarannya. Dengan tegas peneliti menawarkan pentingnya suatu analisis sebagai alat bantu bagi pembaca terhadap berita internasional. Terutama kabar timur tengah nan sarat tarik-menarik kepentingan politik.

Oleh: Teguh Estro* Krisis Timur Tengah memang tak kunjung berujung. Akhir-akhir ini bergulirnya Arab Spring masih membawa pengaruh...
Teguh Estro Kamis, 24 Januari 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro


16 Agustus, Rengasdengklok
Soekarno bapak kalian diculik atau dipaksa
Tanyakan saja kenapa harus terjadi…
Kasihan mas Guntur kecil ikut mondar-mandir jadinya
Gelap malam Karno menggoreskan coret-coretan
Kemudian hari coretan acak-acakan itu disebut teks proklamasi

Tiada kehebatan waktu 16 Agustus rupanya
Kecuali ada dan kenapa di dalamnya
Madonna penyanyi kesohor terlahir di hari yang sama
Kiranya mereka manusia barat rasa spesial jua

Kebesaran hari 16 Agustus itu karena hidupnya pemuda
Ia pula lahir pada hari itu, tanggal istimewa
Tersebutlah nama Cokro di dunia
Dunia yang kita hidup juga disana
Kota Madiun saksi, desa Bukur saksi pula

Sungguh manusia sanjungan
Tak butuh gelar raden atribut segala bangsawan
Biar bapaknya raden, kakeknya raden, buyutnya sekalian
Bahkan ucapan sok suci ia abaikan
Tiada bahasa kromo, ngoko dan kejawa-jawaan
Manusia bumiputera sama kedudukan

Hidupnya kembang kempis bersama sarekat.
Orasi nada bariton besar, kharismatik serta memikat.
Berkali-kali ia pukau lautan manusia dengan ide-ide nekat
Zelf bestuur, zelf bestuur and zelf bestuur…

Belanda tak nyenyak tidur karena cokro
Pasalnya jejak kakinya menyatukan nusantara seantero
Dari ketegarannya lahir murid hebat Nasionalis Sukarno
Dari pengorbanan muncul juga Semaoen dan Darsono
Ketundukannya menjadilah pengikut macam Kartosuwiryo

Guru bangsaku ini bela tanah rakyat
Di banyak tempat pemogokan bersama buruh dengan hebat
Cita-citanya Indonesia jangan seperti sapi perah tak berdaulat
Bila tiada dikepalai oleh Cokro, tidak bernyawa pergerakan rakyat

Oleh: Teguh Estro 16 Agustus, Rengasdengklok Soekarno bapak kalian diculik atau dipaksa Tanyakan saja kenapa harus terjadi… K...
Teguh Estro Rabu, 16 Januari 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro


             Banyak dari kita memaksakan diri. Bahkan menjadi rakyat jelata miskin saja masih mekso. Tapi kalau pucuk pimpinan, tampaknya sudah biasa bertingkah main paksa. Punya harta lebih, ibarat Jenderal Soeharto akhirnya. Ada juga pemimpin dengan lagak John Kei yang menerapkan hukum rimba di tengah kota. Makanya bila merasa dituakan oleh anak buah, kita kudu banyak pengetahun dan rajin membaca. Supaya bisa meng-akal-akali bawahan dengan cara bijak. Tapi tetap hati-hati juga terlalu pintar akhirnya bisa kelewatan. Contohnya seperti kejadian gaya ‘pemimpin’ yang bakal penulis ceritakan.

            Pemimpin daerah, bukan itu! Pemimpin organisasi, juga bukan. Tapi pemimpin sholat di masjid yang hendak dituliskan. Imam masjid yang disamarkan namanya menjadi ustad Paijo. Ini kisah nyata yang terekam dalam sebuah surat kecil, huruf-hurufnya kecil, juga kertasnya tak kalah kecil. Surat ini dibuat oleh teman satu kos saya sebut saja namanya saudara MS. Ia sungguh berbulan-bulan merasa geram dengan ulah ustad Paijo kala menjadi Imam Sholat. “Sholat di Masjid malah bikin saya nggak khusyuk, karena saat sholat hati ini berasa tidak akur dengan imamnya” begitu seloroh saudara MS.

            Ustad Paijo baru saja dua tahun menjadi takmir masjid. Ia juga mahasiswa, sama seperti MS, bahkan mereka dari satu provinsi yang sama di Sumatera hijrah ke Yogyakarta. Dengan bekal ilmu di pondok pesantren, ustad Paijo dipercaya menjadi imam sholat. Begitupun kuliahnya di jurusan Tafsir Hadits menasbihkan dirinya sebagai orang yang faqih. Hanya saja yang membuat MS kurang nyaman adalah bacaan sholat dari sang ustad yang terlalu panjang. Bukan sekedar itu, perkara lain pun masih banyak yang dijadikan pasal kegeraman teman penulis ini. Dan kesemuanya tertuang dalam sebuah surat.

            Lebih lengkapnya penulis akan memindahkan ulang isinya ke dalam blog ini:
            Assalamu’alaikum
            Teruntuk : Ust. Paijo
            Dlm rangka saling menasehati dlm kebenaran.
            (Suara hati Jamaah)

            Seorang imam haruslah yang disenangi oleh makmum begitu kaedah fiqh mengatakannya. Terkait dgn ust Paijo. Banyak hal yg ingin dikoreksi utk bisa segera diperbaiki :

1.      Bacaan al-fatiha dan surat lainnya yg ustad baca, telah melebihi dari batas sebenarnya. Terutama di akhir2 ayat (mad thabi’i)

2.      Ayat yang sdr baca teralu panjang, padahal jamaah di belakang mayoritas org2 tua, terutama jama’ah ibu2. Banyak hadits yg mencela ttg hal ini.

3.      Ketika saudara shalat sunnat, sangat cepat, dan tidak sinkron dgn ketika saudara menjadi imam.

4.      Salam di saat tahiyyat akhir terlalu lama, dan memberatkan jama’ah sehingga ada jama’ah yang mendahulukan tahiyyat akhir dari pada imam, pdhal banyak hadits yg mencela hal ini.

5.      Ketika anda menjadi khatib, bahasa yg digunakan agak vulgar dan kurang syar’I, terutama ketika menceritakan sosok Lady Gaga.

     Sama2 kita berlindung kpd ALLAH, atas segala kekhilafan kita 
    Semoga hati anda terbuka menerima nasehat ini

TTD
Salah satu yg mewakili
Perasaan jamaah


Hamba Allah

Sampai saat ini sayangnya saudara MS tak kunjung menyampaikan surat ini.

Oleh: Teguh Estro                Banyak dari kita memaksakan diri. Bahkan menjadi rakyat jelata miskin saja masih mekso . Tapi kala...
Teguh Estro
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro

            Dulu, tahun 2006 tiba di Jogjakarta banyak kakak senior kampus berseloroh terkait kian padatnya kendaraan. Dan saat ini 7 tahun sudah hidup di kota pelajar tentu saja limpah-ruah kendaraan pribadi makin menggila. Parkiran kampus yang dulu masih terlihat rata perbandingan antara motor dan sepeda, kini drastis sekali bedanya. Kendaraan motor telah parkir membanjiri setiap lahan kosong di kampus. Tentu saja wajar agaknya, bila security terus bertambah di pos – pos penjagaan.

            Kampus UGM tahun 2010 pernah coba-coba menertibkan kendaraan dengan kebijakan Kartu Identitas Kendaraan (KIK). Siapapun yang masuk lintasan dalam kampus kudu setor rupiah. Bukan mahasiswa sahaja, raider pelancong yang sekedar lewat ditarik uang juga. Untungya, kebijakan itu sekarang sudah dihapus.

            Kian lama fenomena padatnya kendaraan di kota gudeg ini justru menjadi-jadi. Sudah tiga tahun terakhir penulis memperhatikan beberapa titik khususnya di Depok dan Seturan nampak memusingkan pengendara. Jumlah kendaraan bermotor membludak, khususnya motor second yang laris permintaan dari kalangan mahasiswa. Sehingga jangan heran bila tahun 2011 lalu kabupaten Sleman mendapat predikat kota paling tinggi tingkat pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

            Contoh ringan, belakangan ini jalan solo (adisucipto) bisa dipastikan padat merayap saat malam minggu. Pasalnya, ada magnet hiburan yakni Ambarukmo Plaza manggone para lajang di sana. Tentu saja andai musim libur tiba, jalan di sekitar jogja banjir dengan iring-iringan mobil serta motor. Sudah dua kali penulis liburan tahun baru, selalu terkendala macet. Bahkan awal tahun baru 2013 lalu rombongan sudah berjalan menuju pantai Indrayanti terpaksa putar balik lantaran macet. Selama 8 jam perjalanan dari 07.00 sampai 15.00, hampir setengahnya habis oleh waktu perjalanan.

            Juru Parkir kong-kali-kong DISHUB
            Baru saja siang tadi, penulis menyempat baca koran harian jogja. Ada info yang mencengangkan, yakni terdapat 600 titik parkir resmi di semua penjuru DIY. Coba kita kalkulasikan sebentar. Anggaplah dalam satu hari ada 50 kendaraan bermotor dengan patokan Rp.1000,- per kendaraan. Maka hasilnya untuk satu tahun, 50 x Rp.1000 x 365 hari x 600 titik parkir. Wow 10,95 Milyar per tahun itu adalah minimal-minimal sekali. Dan jatah setoran ke pemerintah adalah 25% dari itu yakni berkisar 2,74 Milyar. Maka aneh sekali jika pendapatan di tahun 2012 hanya sekitar 1,48 Milyar saja. Dan sisanya 1,3 Milyar diambil siapa?

            Trans Jogja Dirundung Dugaan Korupsi
            “……Kepala Kejaksaan Tinggi Kajati DIJ Suyadi SH menegaskan penyidikan kasus dugaan korupsi [ada PT Jogja Tugu Trans (JTT) terus berlanjut. Kini penyidik masih menunggu hasil audit investigasi yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) DIJ terhadap Biaya Operasional Kendaraan (BOK) Transjogja pada 2008 senilai Rp 11 miliar….” (Radar jogja, 7 Januari 2013).


            Kalau perihal bus hijau ini penulis tidak berminat komentar banyak. Hanya saja sangat disayangkan bila transpotasi masal ini malah ditinggalkan warganya. Justru biaya operasional yang dipersoalkan tersebut apik-nya dialokasikan untuk re-promosi. Pasalnya kendaraan prbadi kian digandrungi saja belakangan ini tinimbang transportasi masal seperti trans jogja.

Oleh: Teguh Estro             Dulu, tahun 2006 tiba di Jogjakarta banyak kakak senior kampus berseloroh terkait kian padatnya kendara...
Teguh Estro Rabu, 09 Januari 2013
Teguh Indonesia


[Tolong Baca Hingga Usai, Agar Tidak Salah Persepsi]
Oleh: Teguh Estro


            Andai menyebut andai mencoba berumpama. Jikalau dihadapkan pada problem yang sama dengan Nabi Adam a.s tentulah sudah lama tubuh ini sakit-sakitan. Hidup menyendiri bertahun-tahun di dunia ‘terkatung-katung’ terpisah dari sang Isteri. Apakah sang suami dari bunda Hawa ini juga pernah mengalami titik nadirnya. Maksud lebih dalam kembali mempertanyakan. Apakah para nabi juga pernah menatap persimpangan keputus-asa-an? Pernahkah utusan langit ini sempat memikirkan berhenti dari tugasnya? Sebuah jawaban yang mungkin ‘kontroversi’, bahwasannya Adam, Idris, Nuh dkk itu sedikit sekali kemungkinan berputus asa, kata kuncinya ada pada ‘fasilitas’ spiritual yang didapat sebagai paket kenabian.

Berangkat dari perasaan ketidak-adil-an, hanya perasaan. Serasa tidak adil manakala para Nabiyullah a.s diberi banyak keistimewaan. Mereka memiliki ‘fasilitas’ spiritual yang berbeda sekali dengan manusia biasa. Menerima wahyu, diberi mukjizat bahkan bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Pun seumpama para nabi ini sedikit tergelincir, telah siap malaikat Jibril yang mengingatkan. Melihat sepintasnya saja sungguh terbesit iri hati dengan kemudahan-kemudahan itu.

Ke-iri-dengki hati ini lekas hilang setelah menemukan pertanyaan berikutnya dalam pemaknaan sejarah para Nabi. Sebenarnya penulis ‘agak-agak’ takut juga bila mengkritik para nabi. Tapi bila mengkritik ahli syurga ini justru membuat sadar diri, maka itu lebih baik. Akhirnya terpikirkan sebuah keganjilan yang kedua tentang perjuangan anbiya’ wal mursalin. Yakni, bagaimana metode mereka sehingga bisa menjaga kesabarannya hingga ajal menjemput.

            Ada nabi yang hidup (menjadi hinaan umatnya), derita psikologis bukan satu atau dua tahun, tapi 950 tahun. Juga terceritakan Ibrahim a.s dibakar hidup-hidup, dimusuhi keluarga, terusir dari kampungnya. Ada pula dari mereka mendapat ujian yang tampaknya mustahil bisa dilewati oleh penulis. Adalah Yusuf a.s dihadapkan pada seorang permaisuri cantik yang minta ‘dizinahi’ di dalam ruangan yang tidak ada manusia lain. Pun tidak sedikit Nabi yang dikejar-kejar sampai dbunuh oleh umatnya.

            Barulah terjawab, sungguh terlepas dari keistimewaan yang didapat. Para Nabi telah membayarnya dengan perjuangan yang sulit ditiru. Menurut pendapat subyektif penulis, kesabaran yang mereka lakukan tidak lain juga mukjizat yang tak kalah ‘gila’. Padahal kala itu belum ada profesi motivator bayaran dengan seminar-seminarnya.

            Awalnya penulis bermaksud dengan tulisan ini hendak menceritakan kesedihan-kesedihan yang belakangan ini menumpuk. Namun serasa malu menuliskannya jika disandingkan dengan kisah lara para nabi. dan entah kenapa, selepas pulang dari masjid subuh tadi, begitu pas sekali membaca alQur’an surah Yusuf ayat 87. “Wa la tay asu……” dalam hati kerap bergumam kok bisa pas banget bacaan tilawah pagi ini dengan keresahan hidup setiap harinya.

[Tolong Baca Hingga Usai, Agar Tidak Salah Persepsi] Oleh: Teguh Estro             Andai menyebut andai mencoba berumpama. Jikal...
Teguh Estro Selasa, 08 Januari 2013
Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro*

    Dua hari terakhir penulis sibuk mengasyikkan diri ber’safari’. Dari satu kampus ke kampus lainnya sekedar bertukar ide (tepatnya mendengar ide) dari ‘adik-adik’ organisasi.
Sabtu pagi sampai sore terjebak dalam dialektika hebat dengan para aktivis UIN Sunan Kalijaga. Tidak ada kesimpulan dalam forum yg berbungkus Sarasehan itu. Dalam pertemuan tersebut saya sebutkan beberapa nama semisal bang M. Syafa’at, Sekjend KAMDA Riau yg berkuliah di UIN Jogja. Disana pula hadir oleh agitator forum Rifadli Kadir (intelektual muda KAMMI UIN Jogja). Kalaupun hendak disebut juga, telah sempat ikut dalam forum tersebut Jamhari (ketua FSLDK Jogjakarta).

Tentu saja telah diprediksi sedari awal atmosfer ruangan bakal panas. Ternyata benar, kali pertama ketua FSLDK Jogjakarta memberikan sambutan pagi-pagi sudah menyambar kegelisahan peserta lainnya. Kesempatan sambutan kedua penulis diminta angkat bicara. Untuk mencari aman, penulis mengawali dan mengakhiri dengan nada bicara rendah (mendinginkan suasana).

    Satu hal yang penulis sampaikan dalam sambutan tersebut yakni terkait niat diri untuk mengundurkan-diri dari ‘dunia persilatan’ (dunia aktivis kampus). Tentu saja beberapa rekan yang asyik mendengarkan sontak menyambutnya dengan senyum yang tak biasa dari meja nya masing-masing. Dalam forum tersebut lahirlah gagasan dari masing-masing peserta. Jamhari memulai dengan selalu menegaskan urgensi sinergitas aktivis kampus di tiap bidangnya masing-masing. Ada hal yang aneh, berkali-kali ia mengucapkan “saya ini sangat buta dengan politik”, tetapi dari argumen-argumennya terdengar sungguh politis.

    Sarasehan melanjut dalam tempo cepat hingga matahari bergulir ke waktu Ashar. Ada benang merah yang saya ambil, setiap kita sejatinya melakukan fungsi penyadaran kepada sesama dalam kapasitasnya masing-masing.

    Belum tuntas merenungi diskusi hingga sore hari. Pada saat hujan lepas maghrib penulis menyambangi kediaman sekretariat rekan-rekan aktivis di kaliurang (kampus UII). Disana terdapat Mahrus ketua KAMMI UII yang menyambut. Kami berdiskusi terkait desain aktivis KAMMI UII kedepan. Salah satu harapan dalam diskusi malam itu adalah agar kita semua bisa menjadi orang yang memiliki integritas sebagai insan publik. Kapasitas public speaking, Negosiasi, dialektika forum dll. Semoga hasil diskusi malam itu bisa berwujud konkret.

    Keesokan paginya, penulis terburu waktu menghadiri up-gride beberapa rekan aktivis di kampus Universitas Mercubuana Yogyakarta (UMBY). Disana hadir ketua komsatnya Rohmat sahid beserta jajarannya, Nampak pula dalam ruangan Zulfikhar (kaderisasi KAMMI Bantul), di bangku peserta ternyata diisi oleh seorang rekan yang menjabat ketua BEM Psikologi kampus UMBY dan ketua Resimen Mahasiswa (MENWA). Selama 3 jam lebih penulis menangkap alur diskusi terkait kepemimpinan. Mulai dari pemimpin organisasi kampus, Jokowi di Jakarta sampai Presiden Mursi di Mesir.

    Terdapat celetukan menarik dari salah satu peserta. Dia melempar kegelisahan (termasuk sampai kepada penulis). “Dulu Indonesia pernah dipimpin oleh Kiyai besar pernah menjadi ketua PBNU (maksudnya gusdur), dan ketua MPR nya juga intelektual Muslim ternama yang pernah menjabat ketua Muhammaddiyah (Amien Rais), dan ketua DPR nya juga merupakan pernah menjadi ketua PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Tapi kenapa Indonesia tidak juga terlihat Islami di masa itu…?”

    Pada akhir sesi diskusi, penulis dipersilahkan menyampaikan closing statement. Semua yang keluar dari mulut, hanya ada satu statemen rasanya didengar dengan sungguh-sungguh oleh forum. Yakni, sebuah pertanyaan unik yang penulis sampaikan. “kenapa banyak mahasiswa seringkali dimunculkan semangatnya dan kebanggan dengan cerita-cerita tahun ’98. Seolah-olah mahasiswa yang hebat Cuma pada masa itu saja…!” Seharusnya setiap kita bisa memunculkan sejarahnya sendiri. Jangan sampai ketika sebuah perbaikan dalam skala kecil justru tidak dianggap sebuah kebanggaan. Alangkah indahnya dan baiknya bila kita berpikir besar melakukan perubahan-perubahan kecil secara konsisten. Ini begitu Mahal…!

Oleh: Teguh Estro*     Dua hari terakhir penulis sibuk mengasyikkan diri ber’safari’. Dari satu kampus ke kampus lainnya sekedar bertuk...
Teguh Estro Senin, 07 Januari 2013
Teguh Indonesia




Oleh: Teguh Estro

            27 Juni 2012, di ruang Cholid Mahmud Center, Warung Boto Yogyakarta. Akh Arip Dwi Iskandar S.S (Ketua Umum PD KAMMI Kota Yogyakarta 2011/12) menggelar MUSDALUB (Musyawarah Daerah Luar Biasa). Sore itu beliau mengutarakan permohonan maafnya hendak menyudahi kepengurusan beliau. Pasca rampungnya amanah akademik, mantan Presiden Partai PAS itu sudah lama berniat hengkang dari Kota Yogyakarta. Hingga akhirnya saat itu dirasa waktu yang tepat untuk mengalihkan kepemimpinan KAMMI Kota Yogyakarta. Dan suasana musyawarah pun mengarahkan untuk melakukan Votting. Ada 3 orang AB III kandidat yang dicalonkan oleh beliau. 1. Akh Faturrahman S.EI (Kadep Kaderisasi), Akh Teguh Eko Sutrisno (Kadep Kebijakan Publik) dan Akh Mizan Abrory S.Pd. Hingga menjelang gelapnya langit terpilihlah Akh Teguh Eko Sutrisno sebagai ketua KAMMI Kota Yogyakarta yang baru.

            Dalam kepengurusan yang baru, Pengurus daerah memiliki komposisi pengurus sebagai berikut. Ketua; Teguh Eko Sutrisno, Sekjend; Taufik Septianto S.Far, Apt, Bendahara; Desi Norita Pratiwi, Kestari; Mizan Abrory S.Pd (AB III), Kaderisasi; Suri Akrmaini S.T (kadep), Diah Arum Muzayyanah, Titis Sumunaringtyas, Nasrullah. Kebijakan Publik; Agus Purnomo (kadep), Meki Pranata S.Far, Apt, Maulana, Robert Edy Sudarwan S.Pd, Dharma Setyawan S.Ei. Sosmas; Ellya Noor Farida (Kadep), Febri Nugroho Muji Raharjo S.T. Humas; Rizki Amanah (kadep), Susanti, Pengkom; Yunis Arifah (kadep), Catur Wahyuningsih, Rian.

            Visi yang diusung kepengurusan baru ini melanjutkan visi sebelumnya, yakni “Mewujudkan Radikalisasi Gerakan”. Dalam kondisi lapangannya Akh Teguh dkk mencoba untuk mematangkan internal pada semester pertama dan melejitkan eksternal di paruh kedua. Sehingga ada dua departemen yang digenjot berjalan sedari bulan Juli – desember, yakni Pengkom dan Kaderisasi. Berjalan sih, awalnya. Dan semoga istiqomah di paruh kedua.

Kaderisasi mencoba menyukseskan adanya MK II teruntuk AB II komisariat. Dan Alhamdulillah terbentuk 3 kelompok dipandu oleh 3 AB III. Yakni Akh Teguh Sendiri, AKh Mizan dan Ukh Endang Aguna Dewi. Sudah berjalan 3 kali pertemuan sampai bulan desember. Kendatipun di lapangan terseok-seok oleh kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya terjadi dua kali MK II Gabungan. Perama mengundang pak Yusuf Maulana di angringan timoho. Kali keduanya silaturahim di kediaman ust Tulus Mustofa Lc, MA. Departemen yang dinahkodai akh Suri Akramaini S.T juga mengagendakan beberapa kali bedah buku MANTUBA AB-II. Kesempatan pertama dibersamai oleh bang Syafaat S.HI membedah buku Siyasah syar’iyah, kesempatan kedua membedah buku Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin oleh Ukh Endang Aguna Dewi.

Pengkom, Pengembangan Komisariat termasuk salah satu andalan di semester awal kepengurusan. Ukh Yunis Arifah dalam kepengurusan ini harus keluar dari pakem yang biasanya. Beliau cukup fokus melakukan ekspansi di kampus-kampus biduk (UST, AKPRIND, APMD, SSG). Beberapa kali pertemuan yang diawali perjumpaan di gedung Cholid Mahmud Center antara Pengkom, Kaderisasi dan beberapa kader di kampus biduk. Akhirnya menghasilkan keputusan pengadaan ragam pertemua di kampus-kampus biduk. Awalnya diadakan di kampus Stikes Surya Global, cukup ramai pesertanya. Sore itu akh Teguh menjadi pembicara terkait Sejarah Gerakan KAMMI. Berikutnya diadakan di kampus AKPRID dengan pembicara ukh Tities Sumunaringtyas tentang Ghazwul Fikri. Ketiga kalinya digelar di kampus UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa) dengan pembicara akh Taufik Septianto S.Far, Apt. Pertemuan keempat ukh Yunis dkk berkunjung ke kampus UST lagi di fakultas pendidikan. Berikutnya menyambangi Akh Wedi dkk di kampus APMD serta yang terakhir di kampus AKPRIND. Target besar departemen pengkom yakni menginisiasi komisariat baru. insyaAllah Januari esok sudah bisa terealisasi.

Kestari, di awal ke pengurusan memiliki program yang tidak muluk-muluk. Yakni pengadaan sekretariat serta perpustakaan buku MANTUBA AB-II. Akh Mizan Abrory S.Pd sebagai pengampunya pada bulan November akhir mendapatkan lokasi di perumahan masjid Sultan Agung. Dan sementara sampai saat ini disanalah tempat syuro pengurus harian. Dan yang belum terlaksana yakni terkait perpustakaan MANTUBA AB-II.

 Konsolidasi Eksternal Persiapann Semester II

Perjalanan departemen-departemen eksternal telah tampak sedari awal. Pada awal-awal kepengurusan kita menggelar aksi besar di tengah kota Yogyakarta. Aksi solidaritas Rohingnya, ratusan pesertanya lintas organ (KAMMI, HMI, IMM, LDK, ROHIS, BKPRMI, MMI dll). Dan akh Agus Purnomo mendapat amanah sebagai koordinator lapangannya. Perjalanan berikutnya sempat hendak menggagas daurah siyasi. Hanya saja kendala waktu yang menjadi penghalang sampai saat ini.

Pada pertengahan bulan November akh Teguh menginisiasi syuro khusus komisi eksternal. Antara lain Sosmas, Humas dan KP. Dalam pertemuan di CMC ini bermunculan varian gagasan. Sampai pada akhirnya muncul ide pengadaan Pelatihan entrepreneur berbasis masyarakat kota. Dan sebagai leading sectornya adalah departemen Sosmas. Ukh Ellya Noor Farida dengan lekas membentuk tim GEMPAR (Gerakan Masyarakat dan Pemuda Berkarya). Sedangkan presiden tim nya adalah akh Febri Nugroho Muji Raharjo S.T. Sudah 4 – 5 kali mengadakan konsolidasi tim. Mulai pembahasan konsep hingga prakarsa teknis di lapangan.

Pada semester pertama ini pula atas nama KAMMI Daerah telah mengupayakan kunjungan ke ranah eksternal. Awal bulan Desember rekan-rekan siaturahim ke kediaman pak Chang S.H Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta. Kemudian dua pekan berikutnya berkunjung ke meja redaksi harian TRIBUN Jogja.

Oleh: Teguh Estro             27 Juni 2012, di ruang Cholid Mahmud Center, Warung Boto Yogyakarta. Akh Arip Dwi Iskandar S.S (Ket...
Teguh Estro Senin, 31 Desember 2012
Teguh Indonesia



Oleh: Teguh Estro*



            Baiklah, mengaku sajalah. Ini kali pertama penulis membuat tulisan melankolik. Terpaksa, ‘genre’ perlawanan yang biasanya menjadi pakem beropini, menyisih sudah. Hanya saja, ada semacam keganjilan menilik kaum muda akhir-akhir ini. Kehadiran mereka sungguh menyedihkan laiknya kembang api di pasaran. Mengudara dengan ledakan ringan, setelah itu terlupakan dan merana. Sungguh esensinya hanyalah sejenis benda peledak, serupa (walau beda kelas) dengan bom atom. Kendati tidak adil juga andaikan mengambil peledak yang sudah merobek kota lumbung pangan (Hiroshima & Nagasaki) sebagai pembanding.

            Dalam hal ini mari kita mengarahkan fokus pada pembahasan kaum muda yang bernaung di kampus. Langsung saja, mahasiswa sebenarnya tidak ada perubahan pada ‘wajah lamanya’ seperti  dahulu. Dengan varian kelasnya, mereka tetap melakukan aktualisasi dengan caranya masing-masing. Lihatlah aktivis pergerakan, tetap eksis dengan aksi demonstratsinya. Begitupun rekan-rekan akademisi, lebih berpacu mencari terobosan-terobosan. Sama halnya mahasiswa yang menyalurkan potensi dan bakat baik di bidang olah-raga, olah-vokal ataupun olah-rupiah. Akan tetapi dalam pandangan subyektif penulis, serasa ada yang kian ditinggalkan oleh kaum muda dan Mahasiswa. Yakni kemampuan ‘menalar sejenak’. Semoga tulisan ini membantu kita untuk menalar sejenak.

            Mahasiswa terlalu mudah meledak-ledak, kendatipun mudah pula dilupakan sejarah. Secara nalar, petasan dengan berbahan ledak ringan, murah-meriah dan asal-asalan memang begitulah. Kontras dengan bom atom (a-tomic bomb) yang berdaya ledak jutaan ton TNT. Jenis ini diramu dari zat uranium dalam kurun yang tidak (boleh) sebentar, biaya super mahal serta melalui banyak uji coba. Dan hasilnya spektakuler, sebuah ledakan yang berimbas jauh sampai ke masa depan. Lantas mahasiswa? Mereka sangat mungkin berdentum hebat melalui gagasannya. Sebut saja Mohammad Hatta, ‘bapak koperasi’ kita. Ia salah satu pendiri bangsa yang berciri khas ide-idenya begitu melampaui zaman. Koperasi, KMB dan demokrasi parlementer adalah hasil gagasannya yang terlihat saja. Silahkan mengagumi itu, tapi seyogyanya kita lebih angkat topi terhadap proses tempa-diri seorang Hatta. Tentu saja penempaan dalam kurun yang tidak (boleh) sebentar, biaya super mahal serta melalui banyak uji coba. Wakil presiden pertama Indonesia ini memiliki sikap tenang dan sangat hati-hati. Ia mungkin pemikir paling logis dan paling luas bacaannya di antara para tokoh nasionalis sebelum perang kmerdekaan.

            Mohammad Hatta, Muda, Mahasiswa Paling Lama.
            Sejak berusia 16 tahun, sosok kelahiran kota Bukit Tinggi ini telah dipercaya sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimba pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. Pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke RotterdamBelanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus).

            Selama 11 tahun menetap di negeri kincir, ia mempergunakan kesempatan untuk memperluas pengetahuannya, membaca masalah-masalah politik dan sosial mutakhir, serta menguasai teori marxis yang saat itu menarik seluruh cendekiawan Eropa. Ia juga terlibat dalam perdebatan politik dengan tokoh sosialis (dan komunis) Eropa. Sehingga turut membentuk nalar-ideologisnya. “…Hatta merupakan pembaca yang ulung. Sampai ada anekdot, bahwa istri utamanya adalah buku, keduanya, juga demikian, sedangkan yang ketiga, adalah Siti Rahmi. Kecintaannya pada buku tertanam begitu kuat. Sepanjang hidupnya Hatta  akhirnya mampu mengoleksi puluhan ribu buku dan menjadi salah satu sumber informasi paling berharga untuk memotret perjalanan bangsa ini…” (Agung Baskoro : 2011)[1]
           


[1] Agung Baskoro (Pemenang The Next Leader Indonesia versi Metro TV-Lead Institute Paramadina tahun 2009)

Bacaan:
Artikel John Ingleson dengan Judul Mohammad hatta Cendekiawan, Aktivis, dan Politikus
Artikel Agung Baskoro dengan judul "Bacalah!"



Oleh: Teguh Estro*             Baiklah, mengaku sajalah. Ini kali pertama penulis membuat tulisan melankolik. Terpaksa, ‘...
Teguh Estro Minggu, 30 Desember 2012