Jumat, 27 April 2018

Social Filter atas Modernitas




Oleh : Teguh Estro

Bulan lalu penulis mengikuti sosialisasi tentang Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Acaranya diadakan di Kantor Bupati Penukal Abab Lematang ilir. Hadir di sana Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Kementerian Sosial RI, Bapak Dr. Harapan Lumban Gaol. 

Ada beberapa poin yang menarik dari penyampaian Bapak Dr. Harapan Lumban Gaol itu. Beliau melemparkan pertanyaan yang sangat menyentak di awal presentasinya. Apakah orang-orang terpencil atau suku dalam bisa dikategorikan sebagai orang miskin? Mereka yang tinggal di tengah hutan, justru tak pernah merasa miskin. Kebutuhan sehari-hari mereka tercukupi oleh alam. Bahkan tempat tinggal mereka luas di tengah hutan tanpa harus bayar uang sewa. Benar gak…? Ujar Bapak yang memiliki darah Medan itu bertanya pada Audience.

Selanjutnya pria yang pernah cukup lama belajar Social Protection di Jerman itu mengajak kita untuk memberdayakan para warga terpencil tanpa harus merusak identitasnya sebagai ‘Komunitas Adat”. Singkat kata beliau menyampaikan, tidak semua komponen  masyarakat terpencil harus disubtitusi dengan modernitas. 

Beliau menceritakan pengalaman ketika berdinas ke lapangan membersamai masyarakat suku Asmat di Papua. “kami pernah memberikan bantuan berupa pakaian, namun setelah dipakai keesokan harinya malah dikembalikan lagi. Dan para suku dalam kembali menggunakan pakaian semula yang terbuat dari dedaunan khas alam. Ternyata setelah diselidiki, justru pakaian yang mereka gunakan selama ini lebih memiliki nilai manfaat. Karena mampu mengusir nyamuk ketika malam hari. Sedangkan pakaian yang dibawa dari kota justru membuat tidur malam tak nyenyak."

Ayah dari dara cantik bernama Grace Trikana ini mengajak kita untuk mengambil pelajaran bahwa ada unsur kearifan lokal yang tak bisa begitu saja diganti dengan pernak-pernik modernitas. Itu baru pakaian, belum lagi terkait nilai-nilai lokal, hukum adat dan bahasa adat yang sangat melekat dengan kehidupan bermasyarakat. Lalu beliau menambahkan ada tiga hal yang mau tak mau harus kita perkenalkan pada masyarakat terpencil. Tiga hal itu yakni akses pendidikan, akses kesehatan dan akses administrasi sipil.

Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil tak boleh asal-asalan. Karena bila masyarakat terpencil sudah terbuka aksesnya pada modernitas, maka tak boleh setengah-setengah. Kita khawatir program pemberdayaan yang dilakukan terjebak hanya pada pendekatan kulit saja.

Bayangkan saja mereka selama ini sudah terbiasa dengan pola hidup yang sederhana. Akankah kita tega bila mereka 'dilepaskan' pada kejamnya kehidupan manusia modern. Mereka yang tadinya hidup di alam, makan berbiaya 'murah'. Intinya pemenuhan kebutuhan dasar yang nyaris gratis. Bisakah masyarakat seperti itu tiba-tiba disulap menjadi manusia modern yang harus belanja ke pasar, bayar listrik, bayar uang sekolah, belanja pulsa, biaya internet, ongkos rekreasi, tabungan buat rumah dan kebutuhan hidup lainnya.

Kita tak mau bila masyarakat terpencil yang sudah dipindahkan ke alam modern justru harus menabrak pakem hukum yang sudah berjalan. Misalkan mereka yang terbiasa berburu hewan liar di hutan kemudian harus berjuang hidup bertetangga dengan masyarakat yang menjadikan hewan sebagai peliharaan. 

Begitu juga bila masyarakat terpencil yang terbiasa hidup berpindah-pindah. Mereka dipaksa harus menetap agar memiliki identitas Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada regional pemerintah desa setempat. Tentu saja masih banyak perubahan paradigma yang akan mereka hadapi.

Mari kita pikirkan kembali. Kita harus sudah menyiapkan pentahapan juga kehati-hatian saat mencoba mengulurkan tangan lalu menarik mereka keluar dari alamnya. Bukan sekedar pemberdayaan secara fisik namun yang terpenting adalah membangun mental dan menancapkan pikiran nan luhur pada mereka.

Kamis, 05 April 2018

Menjembatani Realita Sosial


Menjembatani Realita Sosial
Oleh: Teguh Estro

Setiap kita pastinya mengharapkan terwujudnya masyarakat yang maju. Menurut saya, masyarakat yang maju harus memiliki empat karakter. Mau belajar, norma sosial yang mengakar, beradaptasi pada zaman dan menyiapkan generasi mendatang. Karakter masyarakat tersebut adalah modal sosial yang paling pokok.

Apabila masyarakat memiliki karakter yang baik, tentu lebih berpotensi untuk berkembang. Mereka terkadang cukup diberikan stimulan, arahan dan pendekatan kekeluargaan. Sehingga memudahkan program-program sosial dilaksanakan. 

Semisal sebuah masyarakat mendapatkan program bantuan modal kelompok usaha. Dan sebuah kelompok usaha membutuhkan orang-orang yang mau bermusyawarah, skill berorganisasi, manajerial pencatatan keuangan dan pengalaman berdagang. Tentu saja semuanya itu akan mudah dijalankan bila masyarakat memiliki karakter yang kuat.

Pertanyaannya. Apakah dalam Realitas Sosial, masyarakat seperti itu ada? Jawabannya sangat sedikit sekali ditemukan masyarakat yang berkarakter baik. Sedangkan program-program pembangunan  justru kerap ditujukan pada masyarakat yang terbelakang, terpencil dan miskin. Maka, bisa dipastikan terdapat gap atau kesenjangan antara orientasi sebuah program sosial dengan realita sosial. Jelas ini sebuah masalah.

Penulis sering menjumpai bantuan kelompok usaha yang hanya bertahan tak lebih dari tiga bulan saja. Setelah itu usaha tersebut tak ada kelanjutannya lagi. Hilang begitu saja. Bahkan ada pula yang sudah mengundurkan diri sebelum bantuan disalurkan. Jelas sekali ada persoalan mental dan karakter yang belum sehat.

Kesenjangan antara idealnya Sebuah program dengan Realita yang penuh keterbatasan tentu harus ada jembatan penyelesaiannya. Para pekerja sosial, pendamping program sosial atau relawan sosial lainnya kudu siap menjembatani itu. Kenapa harus dijembatani? Karena idealita dan realita adalah dua alam yang berbeda. Perlu ada penerjemah antara bahasa program menjadi kosakata teknis lapangan. 

Dalam dunia program pembangunan Sosial, kita sering mengenal istilah program yang 'terencana', 'terintegrasi', 'berkelanjutan', 'tepat sasaran' dan bahasa langit lainnya. Namun saat di lapangan kita justru bertemu dengan kosakata yang berbeda. Misalnya, 'Wani Piro', 'uang rokok', 'Aku ikut aja'' dan kosakata lucu lainnya.

Sebagai seorang relawan sosial ada beberapa kemampuan dasar yang harus diperhatikan. Pertama, kemampuan mendefinisikan program. Kita harus paham tujuan akhir dari sebuah program sosial. Selanjutnya untuk mencapai tujuan tersebut, bagaimana caranya? Bukan hanya satu cara saja. Namun seribu satu cara untuk menggapai tujuan yang dimaksud. Disinilah kita dituntut agar menjadi orang yang mau terus belajar.

Kedua, Kemampuan beradaptasi. Dalam hal ini kita harus cepat menyesuaikan diri terhadap kondisi sosial di masyarakat. Baik penyesuaian secara tingkah laku, bahasa, maupun gaya berpikir mereka. Pribadi yang mudah bergaul, ramah bahkan humoris biasanya lebih sering diterima masyarakat. Apabila masyarakat sudah merasa dekat, maka dari kedekatan itulah kita bisa mencoba berinteraksi dengan mereka.

Teguh Indonesia

Minggu, 11 Maret 2018

Ilmu Sosial Harus Berkembang



Oleh : Teguh Estro

Sodara-sodara  perubahan itu pasti. Terutama perubahan zaman. Dan saat ini kita sedang hidup di zaman teknologi. Begitu banyak perubahan signifikan yang terjadi. Diantaranya Perubahan tren ekonomi, gaya politik, komunikasi sosial sampai pada perubahan selera humor. Ditambah lagi perubahan itu sangat bersinggungan dengan pola hidup Manusia yang 'serba Internet'. Tentu saja dengan adanya internet membuat perubahan zaman kian cepat. Lalu pertanyaannya, bila perubahan zaman melaju cepat apa masalahnya?

Sebelum membahas terlalu jauh sebaiknya Perlu kita sadari, Sebuah perubahan biasanya datang beserta konsekuensinya. Sebagai contoh dalam bidang ekonomi sejak adanya revolusi industri membuat masyarakat berubah secara drastis terutama dalam perubahan proses produksi. Awalnya industri yang mengandalkan tenaga manusia lalu berpindah pada mesin.

Contoh lain, Revolusi Perancis yang menghancurkan kekuasaan raja Louis di Perancis. Kamudian kekuasaan diserahkan pada rakyat dengan pembagian kekuasaan menjadi tiga yakni Eksekutif, legislatif dan yudikatif. Revolusi Perancis berdampak besar pada berubahnya politik dunia. Karena revolusi Perancis memancing negara-negara lain untuk menggulingkan kerajaan dan mendirikan 'Nation State' (Negara Bangsa) seperti Perancis.

Sebuah perubahan hadir bersama 'efek samping' nya. Secara sosial, efek samping yang dimaksud adalah perubahan perilaku dan kebiasaan baru (New Attitude and New Behavior). Nah para peneliti selama ini terus mencoba menganalisis setiap gejala, problematika dan  fenomena  yang muncul untuk membuat pola panduan bagi masyarakat. Permasalahannya adalah bagaimana bila perubahan yang terjadi begitu cepat. Belum sempat para peneliti melakukan analisis yang tepat  sudah muncul perubahan baru. 

Para analis sosial berupaya menekan permasalahan sosial yang bisa berujung pada penyakit sosial. Imbas dari perubahan zaman adalah munculnya penyakit sosial yang baru juga. Selama ini kita kerap mengklasifikasikan masalah sosial dalam kategori kemiskinan, kecacatan, keterpencilan, keterlantaran, ketidakberdayaan dan korban bencana. Sedangkan di Zaman teknologi saat ini sudah terjadi sesedikitnya tiga Perubahan yakni ; Era industri, era globalisasi dan era Digital.

Pada era digital ini kita temukan penyakit-penyakit sosial baru. Mulai dari penyakit “Candu-Gadget”, Bullying Social Media, Prostitusi Online, Penculikan anak via Facebook, Cybercrime pelaku pembobolan rekening Bank, penjualan anak via online, lalu akhir-akhir ini muncul penyakit baru  yakni “berita Hoax” dan masih banyak lagi. Tentu saja untuk mengatasi penyakit-penyakit sosial ini dibutuhkan kejelian para analis sosial. Seorang analis sosial harus memahami bagaimana cara kerja teknologi digital-internet yang mampu menjadi katalisator munculnya penyakit sosial.

Sebagaimana kita saksikan, pemerintah masih terkesan konvensional dalam mengatasi gejala-gejala tersebut. Pemerintah hanya mampu melakukan blokir terhadap situs, laman atau akun sosial media yang dianggap sebagai sarang kejahatan. Namun yang tidak disadari adalah pemblokiran hanya menyebabkan “Gugur Satu Tumbuh Seribu”. 

Ada gejala di bagian hulu yang tak terjamah oleh kita. Yakni persoalan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital. Sedangkan sebuah tanggung jawab adalah efek dari kepahaman terhadap Norma. Dan seharusnya ilmu sosial  memperkaya wawasan norma sosial dengan menjamah norma sosial di era digital. Menurut saya harus ada upaya meneliti habitus para peselancar dunia Maya, para blogger, para netizen, masyarakat IT, jual beli online, buzzer politik sampai pada paguyuban yang berinteraksi secara online. Dengan mempelajari habitus mereka, kita bisa menemukan pola interaksi sosialnya. 

Selanjutnya adalah memisahkan mana pola interaksi sosial yang positif dan mana pola interaksi yang terindikasi menyimpang. Selanjutnya para peneliti sosial dituntut untuk menemukan resolusi yang tepat selain penyelesaian secara pidana. Yakni dengan merubah pendidikan pengetahuan sosial yang sesuai dengan zamannya.

Selasa, 06 Maret 2018

Indonesia Serba Darurat


Oleh : Teguh Estro

Bagi kawan-kawan yang tengah menggeluti Indonesia's Studies pasti kerap mendengar istilah 'darurat' di negeri ini.  Misalnya  Indonesia Darurat Narkoba, Darurat Impor, Darurat korupsi, Darurat Kesenjangan ekonomi, kalau akhir-akhir ini muncul juga Darurat Pelakor (Perebut Laki orang) dan masih banyak lagi. 

Kita gak mau berasumsi yang aneh-aneh soal multi darurat di Republik ini. Namun setidaknya fenomena ini mengirim sinyal pada kita bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki.

Kawan-kawanku, sungguh aneh bila di tengah negeri yang multi darurat ini kita masih bingung untuk mengambil peran. Sesekali cobalah merenung tujuh hari tujuh malam, gunakan mata batin dan kejernihan pikiran. Perhatikan fenomena, gejala atau problem sosial di sekitar kita lalu kita belajar dan berusaha untuk menemukan satu saja solusi sederhana dan digerakkan secara konsisten. Contohnya, jika elu resah sama narkoba di sekitarmu yang sudah merusak anak-anak sekolah. So, hajar aja gaes. Bilang sama tu Narkoba, “jangan cari gara-gara di kampung gue”. Trus caranya gimana? 

Langkah pertama jadilah pendengar yang baik, temukan informasi dari berbagai pihak. Kita gak harus mendadak jadi detektif juga. Ya mungkin cukup dengan 'nguping' dan banyak ikut pengajian emak-emak jaman now. Langkah kedua adalah how to use data. Jadi gini, informasi yang kita dapat adalah senjata yang tak main-main. Sekarang tinggal bagaimana menggunakan data tersebut. Kita bisa sekedar menyebarkan informasi itu agar menjadi bola salju yang menggelinding suatu saat nanti. Bisa juga kita gabungkan informasi yang bervariasi agar menjadi cerita yang mampu menggerakkan orang lain. Misalkan, ada informasi jumlah pengedar narkoba ada sepuluh orang, lalu ada juga informasi jumlah bocah-bocah ingusan yang sudah jadi korban, ditambah juga ada orang yang tidak harmonis rumah tangganya sebab narkoba. Alhasil kita bisa bercerita begini gaes 

“Eh tahu gak, di ujung kampung sana ada pengedar Narkoba lho. Mereka jualannya sambil nawarin jajanan anak kecil.”

(“Ah yang bener”)

“ iya, dan parahnya lagi sekarang anak-anak sekolah yang jadi langganan mereka”

(“Anak sekolah? Siapa aja...?”)

“itu tuh, si Ucup anak mang Benu udah bolak-balik rumah sakit. Trus si Bambang anaknya Bik Hamidah lebih parah, dia ngamuk-ngamuk gak karuan. Belum lagi kang Ratno juga sudah pecandu berat, makanya dia ribut terus sama istrinya”

(“Ih, ngeri. Kok pak RT gak bertindak sih”)

“ nah itu dia....”
Cerita bisa dilanjutkan sendiri hehehe............. (The end)

Gimana kawan-kawan tak sesulit yang dibayangkan bukan? Ya tentu saja tidak juga dianggap hal yang mudah. Cerita itu bisa kita ubah dengan informasi perjudian, lokasi minuman keras dan lain sebagainya. Meskipun kita bukanlah sosok yang mampu mengubah secara massif, namun setidaknya ada peran kita di dalamnya. 

Coba direnungkan, jangan-jangan kondisi multi darurat yang kita bahas ini adalah efek domino dari banyaknya orang-orang yang diam tak mau merubah keadaan. Seperti sebuah ungkapan. "Keburukan bisa eksis bukan karena hebatnya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik..."

Jumat, 16 Februari 2018

Miskin Harta vs Miskin Mental


Oke sob, sebelum kita jauh membahas terkait dunia sosial. Saya mau sharing tentang hal yang mendasar dulu. Apa itu? yah itu dia, problem kemiskinan. Saya yakin kalian pasti pada tertawa. Ya iya lah, sudah bérapa banyak seminar diadakan untuk membahas kemiskinan. Hehehe mungkin kita salah satunya yang sering koleksi kartu peserta Seminar Kemiskinan. Toh, penyakit kemiskinan tak kunjung menemukan penawarnya.

Banyak yang bilang kemiskinan inilah ‘biang kerok’. Atau bahasa kerennya, kemiskinan memunculkan efek domino bagi masalah-masalah sosial lainnya. Perhatikan saja, setiap ada masalah sosial ujung-ujungnya dikaitkan dengan ‘Faktor Ekonomi’. Tingginya angka kriminalitas, katanya faktor ekonomi. Maraknya aksi KDRT dalam keluarga, juga dikarenakan faktor ekonomi. Bahkan meningkatnya jumlah para jomblo bisa jadi lantaran Faktor Ekonomi sob he he he. So, tak heran bila pemerintah kerap menjadikan angka kemiskinan sebagai indikator maju mundurnya kinerja. Namun, kita tak akan bicara soal angka-angka itu, saya janji deh. Yah karena kemiskinan itu sebuah kondisi yang multi dimensi. Lebih dari sekedar angka, dalam kemiskinan itu ada bahasan tentang penyebab kemiskinan, pengaruh kemiskinan, lingkungan yang memiskinkan dan yang lebih ngeri lagi adalah kemiskinan mental.

Duh gaes, bahasannya sudah mulai serius nih. Okelah kita lanjut ya. Coba deh kita buat pertanyaan yang lebih kritis lagi. Seandainya orang-orang yang bermasalah dengan faktor ekonomi ini diberi sumbangan uang, anggap saja masing-masing 20 juta. So, apakah masalah akan selesai? (tolong tanda tanya-nya digedein dong), Jawab...! oke kalau kita mau sok bijak, mungkin akan muncul jawaban begini : “ya, tergantung orangnya dong” atau gini nih: “ya kalau dikasih uang 20 juta, ada yang bisa menyelesaikan masalah, ada juga yang tambah bingung”.

Kalau kita mau jujur, banyak masyarakat miskin yang bertambah rusak ketika mereka diberi bantuan cash money. Yah, ini bukan sekedar asal omong doang. Setidaknya penulis pernah melihat sendiri. Ada yang diberi bantuan modal, malah ribut dengan keluarganya. Ada lagi mereka yang mendapat bantuan, tapi uangnya dibagi-bagikan pada orang lain. Ada juga yang sampai terjerat hutang dan masih banyak lagi masalah lainnya. Bukan menjadi solusi, justru menjadi penyebab masalah baru.

Saya coba beri gambaran sederhananya. Ada sesuatu yang menyebabkan kemiskinan dan kemiskinan pula yang menyebabkan sesuatu itu. Nah pertanyaannya, apa sesuatu yang dimaksud itu? Ini pertanyaanya ngajak berantem ya. Oke deh, jadi gini gaes. Ada beberapa karakter/mental buruk yang membuat orang menjadi miskin. Dan Kondisi miskin pula yang terkadang menyebabkan orang memiliki mental buruk. Penulis sendiri sering berdiskusi dengan kawan-kawan yang menjadi pendamping program PKH, Pendamping PNPM, pendamping Bantuan Kelompok Usaha Bersama. Intinya ada sebuah benang merah dari faktor ekonomi yang melilit masyarakat kita. Yakni, faktor mental masyarakat.

Mental masyarakat ini bisa divisualisasikan dengan kondisi ibu-ibu yang antri bantuan bagi masyarakat miskin sambil membawa kalung emas dan bercincin permata. Nggak malu tuh sama kalung dan cincin. Atau seorang pemuda tampan gagah perkasa yang berebut bantuan raskin bersama kakek tua. Haduh, pusing kan. Padahal kejadian itu adalah kondisi nyata di sekitar kita.

Nah, sekarang bagi siapapun dari kita yang mau ambil bagian menjadi solusi maka berpikirlah untuk memperbaiki mental masyarakat kita. Mungkin di antara kita ada yang berperan sebagai relawan sosial, aktivis sosial, pendamping program sosial, pekerja sosial atau apalah yang ujungnya sial, sial sial.... ups. Ayolah, kalau tidak ada yang mengambil peran ini, gawat sob. Bukan melulu membantu dengan membagi-bagi fulus. Tapi buatlah program yang membuat masyarakat kita memiliki skill dan kompetensi untuk berubah. Sederhana saja, semacam skill manajemen administrasi, kemampuan berorganisasi, tidak gaptek, akrab dengan bacaan yang membangun, atau membuat lingkaran diskusi entrepreneur.

“Terus caranya gimana...?” (tiba-tiba ada yang bertanya dengan berteriak)
“Saya di kampung ini bukan siapa-siapa, masih dianggap anak ingusan” ujarnya.
“Mereka tak akan mau mendengar” tambahnya sambil tercekat-cekat.
“Tidak, tidak Roma. Oh Ani” loh loh kok?

Alamak, kok jadi ribet gini ya urusannya. Okelah kalau kalian menjadi pejabat mungkin agak berbeda ceritanya. Dimana seorang pejabat jika minta dibuatkan kopi, masyarakat malah menyuguhkan kopi tambah gorengan dan sebungkus rokok mungkin. Intinya bila posisi sebagai pejabat ya pasti dipandang masyarakat lah. Sukur-sukur, kalau ada pejabat yang mau mengambil peran mengajak rakyatnya berubah. Dengan membuat program-program yang mendidik mental dan membuka akses peluang kemajuan bagi masyarakatnya. Tapi yang jadi persoalan, pejabat yang begini gak banyak bro.


Perubahan mental masyarakat tak harus menunggu ente jadi pejabat dulu. Bahkan bisa dimulai dari perkara-perkara yang sederhana. Misalnya sambil nunggu peserta arisan kumpul di kantor desa. Daripada ngobrol gak jelas tentang rumah tangga orang, mendingan diajak ngobrol tentang kampung sebelah yang punya program “Kampung berbasis IT” atau kalian yang habis baca di Internet tentang “Desa wisata sungai”. Berarti kita kudu banyak baca gaes. Emang mereka mau dengar? Entar dicuekin gimana? Setidaknya kita sudah mencoba. Kalau itu tak berhasil, pake senjata lain. Seorang pelopor perubahan masyarakat tak boleh kehabisan ide.

Kamis, 27 April 2017

Belajar Menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)

Belajar Menangani Penderita Gangguan Jiwa Desa Suka Damai, Kecamatan Talang Ubi

Selasa, 28 Maret 2017

Belajar Tumbuh dari Tumbuh-Tumbuhan

oleh : Teguh Estro

"Kalau ingin belajar bagaimana bisa tumbuh, maka pelajarilah tumbuh-tumbuhan"
(Quote By: Teguh Estro)

Tahap 1 : Tahap Penyemaian dan Pembuatan Media Tanam
Hai Everybody kali ini saya mau cerita tentang hasil penelitian kecil-kecilan kami. Akhir-akhir ini saya dan kawan-kawan di tempat kerja kerap menyediakan waktu luang untuk bertanam cabe lokasinya di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI. ada beberapa pelajaran yang bisa kami ambil. yaitu, Kalau ingin belajar bagaimana bisa tumbuh, maka pelajarilah tumbuh-tumbuhan. Dan kebetulah kali ini kami berekspreimen pada satu spesies tumbuhan, yakni Cabe.

Ada empat tahap pertumbuhan tanaman Cabe mulai dari penyemaian sampai ia menghasilkan buah. Baiklah mari kita kupas satu per satu.

1. Tahap Penyemaian dan Pembuatan Media Tanam. 
Dalam Tahap ini, kita harus menyiapkan media tanam yang cocok sesuai dengan kondisi alam di lokasi yang akan dijadikan tempat bertanam. Misalnya kemarin kami kebetulan memilih media polybag dan Tanah merah sebagai media tanamnya. Sekaligus penyediaan pupuk kandang sebagai nutrisi awal bagi tanah. Pada saat penyemaian bibit, kita siapkan lokasi penyemaian yang sudah dicampur antara tanah, tanah bakar, Pupuk kandang, Pupuk NPK secukupnya dan Disiram Air Secukupnya sampai terlihat basah. Baru kemudian bibit cabe ditanam pada media penyemaian tersebut, lalu ditunggu selama satu minggu kira-kira sampai Cabe tumbuh dan memiliki daun minimal 3 helai.

Tahap 2: Tahap Munculnya Tunas
Pelajaran yang bisa kita ambil: "...Pilihlah lokasi untuk bertumbuh yang cocok untuk bakat, bibit keahlian/Passion dan cita-cita besar kita. Kalaupun tempat kita bertumbuh belum cocok maka siapkanlan pupuk, air dan nutrisi yang lebih agar kita bisa tumbuh secara baik...."

2. Tahap Munculnya Tunas

Ini adalah tahap dimana tumbuhan cabe baru terlihat 3-5 lembar daun. Batangnya masih kecil dan sudah mulai terlihat tanda-tanda kehidupan. Maka pisahkanlah tunas tersebut ke dalam polybag terpisah. Agar dalam perawatannya bisa maksimal. Hal ini dimaksudkan supaya nutrisi di dalam tanah bisa maksimal untuk menghidupi satu pohon cabe saja. Terus awasi hama berupa rumut liar atau tanaman pengganggu lainnya. 

Pelajaran yang bisa kita ambil :
"....Pada saat tunas dari bakat kita sudah mulai terlihat. Maka jangan ragu untuk berinvestasi agar Passion  kita terebut bisa tumbuh sempurna. Misalnya, bila Passion kita memang di dunia Teknologi, maka jangan ragu untuk berinvetasi misalnya menabung buat membeli laptop. Atau misalkan kita sudah mulai merasa bakat kita di bidang seni, maka berinvestasilah untuk mendalami lagi mengani ilmu seni tersebut. Intinya rawatlah Tunas dari Passsion-mu agar tidak layu dan hilang sia-sia...."
Tahap 3: Tahap Pertumbuhan Cabang Pohon

3. Tahap Pertumbuhan Cabang Pohon
Semakin banyak cabang pohonnya, maka akan semakin banyak menghasilkan bunga. Dan selanjutnya bunga itulah yang nantinya akan tumbuh menjadi buah Cabe. Dalam Tahap ini sangat diperlukan kedisiplinan dalam menyirami tanaman. Karena daun cabe yang mulai banyak ini akan membutuhkan banyak air dan nutrisi untuk bertumbuh-kembang. Akan banyak serangga yang mulai berdatangan, gulma dan penyakit-penyakit lainnya.

Pelajaran yang bisa diambil :
".... ini adalah fase dimana kedisiplinan kita diuji. Semakin banyak tantangan yang akan mencoba menjatuhkan kita. Namun mampukah kita untuk terus berdiri lagi bila terjatuh. Karena pada tahap ini sayap-sayap kita sudah mulai berkibar, cabang-cabang dari usaha kita mulai berdiri. Butuh banyak kesabaran, keuletan dan kedisiplinan..."

4. Tahap Memetik Buah/Hasil
Tahap 4 : Tahap Memetik Buah/Hasil
Pada tahap ini buah cabe sudah bisa dipetik hasilnya. Tangkainya sudah mulai lemas siap dipetik dan buahnya kemerah-merahan. Beberapa buah ada yang belum begitu merah, masih sangat hijau. Biarkanlah, tunggu sampai buah tersebut benar-benar siap dipetik hasilnya. Setelah memetik hasil Cabe, Jangan lupa untuk dibagi ke kawan-kawan hasilnya. Selanjutnya media tanam juga harus tetap diperhatikan agar proses pertumbuhan bunga dan buah di musim selanjutnya bisa tetap berlanjut.

Pelajaran yang bisa diambil:
"...Jangan tergesa-gesa untuk memetik hasil. Bila memang belum matang maka jangan malu untuk berproses lagi. Dan Jangan pelit untuk berbagi kepada kawan-kawan kita lainnya..."

Sabtu, 25 Maret 2017

Fenomena Masyarakat Dengan Gangguan Jiwa

Oleh: Teguh Estro


Mendatangi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), akhir-akhir ini penulis seringkali melakukannya. Ada yang sekedar Depresi ringan, Stress berat, Kaki dipasung, tubuh dirantai bahkan sampai dikurung dalam satu kamar tertentu. Beberapa diantara mereka tinggal di dusun-dusun namun tak jarang justru orang yang tinggal di tengah-tengah kota.

Dahulu, saat kuliah di Jawa. Kerap terdengar ada daerah yang memang warganya sebagian besar terjangkit gangguan jiwa. Yup, itu dia suatu desa di daerah Ponorogo Jawa Timur. Cukup menyedihkan bila menyaksikan reportasenya. Adapun saat ini, fenomena tersebut ada di depan mata. Saban hari laporan adanya Orang Dengan Gangguan Jiwa berdatangan. Ini menjadi sebuah gejala yang menandakan ada yang kurang beres dalam pembangunan manusia.

Gangguan jiwa bisa jadi hanya hasil akhir yang berupa perpaduan dari gejala hulu. Bisa berasal dari kekurangan gizi saat masa pertumbuhan, atau faktor pendidikan seperti putus sekolah sejak pendidikan dasar, ditambah lagi himpitan kondisi ekonomi. Dan bahayanya justru kerap terjadi gabungan dari ketiga-tiganya. Sehingga lengkaplah prasyarat seseorang mengalami tekanan jiwa.

Bila Gizi kurang terpenuhi, maka asupan nutrisi otak tak akan sempurna. Kekurangan protein di masyarakat bawah memicu perkembangan otak depan yang tidak maksimal. Padahal otak depan adalah pusatnya emosi kedewasaaan seseorang seperti rasa tanggung jawab, mengambil keputusan, merancang masa depan, kemampuan menunda kenikmatan sesaat dan membedakan baik dan buruk. Oleh karenanya Protein sangat diperlukan di masa pertumbuhan anak, agar masa depan mentalnya juga bisa tumbuh mengimbangi usia fisiknya.


Begitu juga pendidikan, diperlukan agar manusia mengetahui norma. Sehingga tidak asal berbuat tanpa memikirkan dampaknya. Dengan pendidikan manusia belajar dampak dari sebuah perbuatan, juga mempelajari referensi sebab akibat. Sehingga bisa mengatur emosinya dengan baik. Oleh karenanya bagi mereka yang tak mendapatkan pendidikan utuh, dikhawatirkan mengalami gangguan emosional.