Menu
Teguh Indonesia

Modal Sosial Dalam Pembangunan


Oleh: Teguh Estro
Direktur Riset Lembaga RESEI
(Research and Social Empowerment Institute)

Banyak daerah kabupaten/kota yang latah mengadopsi tren smart city. Seolah suatu wilayah otomatis menjadi cerdas hanya dengan aksesoris teknologi. Saat ini semua pembangunan serba sensor, aplikasi sampai perkakas robotik ditanam di sudut-sudut kota. Kita sibuk mencerdaskan perangkat-perangkat pelayanan namun lupa mencerdaskan masyarakatnya. Padahal kualitas sumber daya manusia kita masih jauh daripada cukup. Masyarakat kita masih miskin secara mental, gaptek, wawasan yang sempit, kebergantungan pada bantuan serta kurang partisipatif. Di sinilah terjadi kesenjangan antara pelaku pembangunan dan fasilitas pembangunan. Jelas ini tidak efisien, hanya menambah asset dengan biaya perawatan tinggi. Namun tak bisa digunkana sesuai tujuan.

Suatu pembangunan akan berhasil bukan semata didukung oleh infrastruktur dan komponen-komponen fisik saja. Namun ada yang tak kalah penting, yakni modal sosial dalam pembangunan. Dalam Buku EKONOMI PEMBANGUNAN DAERAH Karya Dr. Muammil Sun’an, SE, MP.,M.AP diterangkan bahwa “Modal Sosial memainkan peran penting dalam masyarakat sebagai aset sosial yang memungkinkan individu dan masyarakat berhasil menggalang kepercayaan yang kuat antar anggota, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengnan modal uang yang lebih sedikit.”. Masyarakat yang cerdas sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Mereka yang memiliki kemampuan menjalin komunikasi, mengorganisir tim, mampu menerjemahkan bahasa program pembangunan dalam strategi-strategi teknis. Masyarakat partisipatif seperti ini merupakan modal sosial dalam percepatan pembangunan. Program yang apik jika tidak ditunjang oleh partisipasi masyarakat maka akan memunculkan inefisiensi.

Menurut seorang pakar Robert Putnam, Modal Sosial itu ada tiga ; (1)Jaringan atau networking, (2) kepercayaan dan (3) norma-norma. Masyarakat yang memiliki jaringan maka ia mampu membuka akses terhadap macam keterbatasan. Baik itu jaringan horizontal maupun jaringan vertikal. Jaringan bisa didapatkan melalui komunitas, asosiasi, partai politik, relawan atau organisasi-organisasi kemasyarakatan. Robert Putnam pernah melakukan penelitian di Italia. Peneletian Putnam menunjukkan bahwa wilayah utara Italia lebih maju dari wilayah selatan karena lebih banyak orang di utara terlibat dalam berbagai asosiasi daripada di selatan Itali. Hal ini kemudian menyebabkan pertumbuhan ekonomi di wilayah utara lebih tinggi daripada di selatan. Asosiasi sukarela di wilayah utara menjalin hubungan kerja sama yang intens dengan pemerintah daerah setempat. Selanjutnya Robert Putnam berpendapat dalam artikelnya BOWLING ALONE : PENURUNAN MODAL SOSIAL AMERIKA “….Masyarakat dengan jaringan sosial yang kuat, upaya memajukan sebuah negara telah jauh lebih berhasil dalam berbagai bidang seperti peningkatan kualitas pendidikan, penurunan jumlah pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan Narkoba dan berbagai masalah lain di bidang kesehatan….”

Selanjutnya kepercayaan atau trust merupakan modal sosial yang didapatkan masyarakat karena kecakapan atau kapabilitas serta kejujuran dalam pengelolaan program. Oleh karenanya masyarakat yang sudah mengenal pendidikan dan pelatihan adalah modal sosial yang berharga. Mendorong masyarakat agar mampu memahami alur pembangunan, terlatih mengelola anggaran pembangunan serta memiliki hasrat untuk mengembangkan diri agar memiliki keahlian-keahlian baru. Modal sosial yang terakhir adalah kekuatan norma. Norma agama, norma sosial, norma adat merupakan potensi yang bisa mengontrol masyarakat agar memiliki integritas dalam mengelola pembangunan. Sebagai contoh di Brazil, pemerintah yang bersih (good government) ikut memperlancar semua program sosial ekonomi masyarakat lokal sehingga berjalan dengan baik.

Modal Sosial yang berkualitas sangat dibutuhkan di negeri ini. Terutama melihat tren pembangunan di Indonesia yang bergeser pada penguatan desa melalui komitmen dana desa. Tantangan bagi kita adalah bagaimana mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan modal sosial di desa-desa. Dalam buku THE GREAT SHIFTING Karya Prof. Rhenald Kasali menyatakan “Kemendes (Kementerian Desa) melakukan pendekatan yang mendorong partisipasi aktif masyarakat dengan pendekatan 5K, yaitu Konsensus, Keterpaduan, Kelembagaan, Komunikasi dan Keberlanjutan”. Apabila modal sosial yang dimiliki masyarakat rendah, maka yang terjadi adalah program-program yang tidak efisien.


Rekayasa Sosial untuk Meningkatkan Modal Sosial


Dalam meningkatkan modal sosial sangat butuh campur tangan pemerintah. Caranya adalah dengan melakukan rekayasa sosial (Social Enginering). Paling tidak terdapat tiga hal yang harus dilakukan secara berkelanjutan dalam rekayasa sosial. Yakni, pertama tahap riset, kedua dengan penguatan sistem sosial, dan ketiga kampanye perubahan. Ketiga hal ini harus saling koordinatif satu sama lain. Hasil Riset harus aplikatif sehingga bisa digunakan dalam penguatan institusi sosial. Selanjutnya Institusi yang kuat harus mengkampanyekan perubahan melalui program-program yang berdampak pada peningkatan modal sosial. Dan yang terakhir output sebuah program harus dievaluasi sehingga bisa menjadi bahan assessment dalam melakukan riset kembali. Semua dilakukan secara terintegrasi. Dalam artikel Membangun Bangsa Dari Desa: Mewujudkan Pertumbuhan Berkualitas Karya Prof.Dr. Gunawan Sumodiningrat, M.Ec. Beliau berpendapat ; “Tujuan pembangunan dari desa adalah membangun keluarga-keluarga yang dilakukan secara terintegrasi yaitu ; membangun Jiwa, Membangun Raga, Membangun Keuangan, Membangun Wawasan dan Membangun Partisipasi Pembangunan”

Lantas peran pemerintah dimana? Pemerintah seharusnya melakukan pilot project sebuah desa yang sukses melakukan rekayasa sosial untuk meningkatkan modal sosial pembangunannya. Semisal dalam satu kecamatan terdapat satu desa percontohan yang memiliki alur rekayasa sosial yang mapan. Sehingga desa-desa lain bisa mencontoh secara aplikatif. Hal ini memang tidak mudah, namun harus dicoba agar pembangunan kita tidak jalan di tempat.



Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro Direktur Riset Lembaga RESEI (Research and Social Empowerment Institute) Banyak daerah kabupaten/kota yang l...
Teguh Estro Sabtu, 11 Mei 2019
Teguh Indonesia

Shifting Interaksi Sosial


Oleh: Teguh Estro
Direktur RISET Lembaga RESEI
(Research and Social Empowerment Institute)

Diskursus terkait perubahan sosial kian menarik untuk diamati. Gelombang inovasi teknologi kian merombak dan menabrak pakam interaksi sosial. Teknologi komunikasi sudah menuntun bahasa pergaulan menjadi serba digital. Pelan tapi pasti para generasi lama akan mengalami clash of habit dengan ulah millenials dalam berkehidupan. Mulai dari pola komunikasi, transaksi keuangan, sampai urusan mencari jodoh semua akan dioperasikan secara online.

Melalui Smartphone, ruang publik sudah berpindah ke dalam ruang-ruang Social media. Keintiman pertemanan telah bertransformasi menjadi obrolan dalam aplikasi group chat. Mengutip pernyataan Dr. Muhammad Faisal dalam buku GENERASI PHI π, MEMAHAMI MILENIAL PENGUBAH INDONESIA. “…Dari Hasil riset pada 2015-2016, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, kami menemukan bahwa rata-rata seorang generasi π (phi)  setidaknya memiliki lima group pertemanan di Chat-apps mereka. Jadi mereka mengatur begitu banyak informasi dalam setiap aktivitas harian mereka….” Direktur Youth Laboratory ini juga menambahkan dalam penelitiannya bahwa generasi milenial atau generasi Phi (π) memiliki hobi share informasi di sosial media karena mereka memiliki kultur untuk berbagi segala sesuatu kepada kelompoknya.

Perubahan platform komunikasi tentu akan mengubah kejiwaan para individu yang bertukar pesan. Dimana sebelumnya manusia berbicara dengan menambahkan bahasa tubuh, intonasi dan emosi mimik muka. Namun saat ini para pengguna akun hanya bertemu foto profil, kalimat langsung saat chat-messages serta sedikit tambaha gambar emoji. Kita kehilangan keintiman, emosi dan respek dalam berkomunikasi. Dampaknya kita akan menemukan percakapan online yang agresif, kurang memiliki tanggung jawab dalam beropini bahkan cenderung berani membully pendapat akun lainnya. Oleh karenanya pada akhir-akhir ini mudah ditemukan cyberbullying di dunia maya. Sebagaimana pendapat Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya THE GREAT SHIFTING, “…UNICEF (2016) menemukan, sebanyak 41-50 persen remaja berusia 13-15 tahun pernah mengalami cyberbullying”

Dunia kriminal juga mengalami kemunculan fenomena-fenomena baru. Kita kerap mengenalnya dengan istilah cybercrime. Pada masa lalu, kita mengenal seorang penjahat bisa dari fisiknya. Misalkan berwajah seram, memiliki tattoo dan membawa senjata tajam. Namun Pelaku kriminal dalam dunia virtual sangat berbeda kondisinya. Mereka tidak tampak secara fisik bahkan biasanya hanya anonymous account. Bisa jadi pelaku kriminal adalah seorang pemuda tampan yang tak pernah keluar kamar dengan akses internet melalui smartphone nya. Atau seorang lelaki berpakaian rapi lengkap dengan jas nya, namun dalam dunia maya ia mampu meretas dan menguras rekening Bank. Kegelisahan ini sempat dilontarkan oleh ALEC ROSS dalam bukunya THE INDUSTRIES OF THE FUTURE. “… Pertanyaan yang diajukan di dalam Situation Room Gedung Putih sekarang ini adalah apakah pemerintah seharusnya memperlakukan serangan cyber yang menguras rekening BANK AMERIKA di territorial Amerika sebagai serangan terhadap bangsa Amerika, sebagai perampokan, atau sesuatu yang berbeda?”

Dampak dari tindakan kriminal ini sangat kasat mata dan kita tak bisa mengetahui siapa pelaku kriminal di dunia maya tersebut? Oleh karenanya sangat wajar bila saat ini hampir semua pihak kepolisian di seluruh dunia memiliki divisi khusus yang menangani cybercrime. Mereka memiliki spesialisasi melakukan Digital Forensik terhadap kasus-kasus cybercrime. Hal senada juga diutarakan oleh Dr. Paisol Burlian dalam bukunya PATOLOGI SOSIAL terkait pesatnya konten pornografi melalui situs-situs internet. “Mengenai bentuk dan wujud transaksi pornografi melalui media internet yang lebih modern. Karena sifat media dalam transaksi pornografi yang modern ini, aparat penegak hukum menjadi kesulitan dalam menindak pihak-pihak yang bertransaksi…”

Pelbagai fenomena kian mengindikasikan betapa eratnya irisan interaksi social antara dunia nyata dan dunia maya. Bahkan beberapa perusahaan besar melakukan pencarian jejak digital kepada para calon karyawan saat melakukan interview masuk kerja. Hal ini seharusnya memberikan sinyal kepada para Pekerja Sosial agar perlahan memutar haluan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat. Melakukan pendekatan secara digital tentu bisa menjadi kiblat baru bagi para Pekerja Sosial dalam menyusun program-program sosial.

Para aktivis sosial kudu mengupgride kapasitas mereka agar bisa lebih akrab dengan bahasa-bahasa digital. Termasuk tidak asing dengan aplikasi-aplikasi yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Sudah saatnya kita berpikir jauh ke masa depan. Karena penyakit sosial yang akan dihadapi generasi mendatang akan lebih rumit sebab ditunjang oleh teknologi yang maju. Para pekerja sosial harus mampu melakukan analisis sosial atas gejala-gejala sosial di dunia maya. Melakukan assesmen secara online terhadap ragam penyimpangan di sosial media. Sampai pada kegiatan advokasi terhadap  problematika sosial di dunia virtual.


Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro Direktur RISET Lembaga RESEI (Research and Social Empowerment Institute) Diskursus terkait perubahan sosial ki...
Teguh Estro Selasa, 30 April 2019
Teguh Indonesia

Mengurai Akar Masalah


oleh : Teguh Estro


Melalui gadget, anak-anak telah mengunyah ragam informasi menyimpang lebih dini. Seharusnya kita pun imbangi dengan konten-konten edukasi positif pada mereka. Ya, setidaknya agar perang moral ini fair

Pelan-pelan kita ajak para belia tersebut mengenal ilmu parenting. Tentu saja dengan kemasan yang sederhana. Selanjutnya membiasakan pola berpikir kritis melalui pendekatan ala milenial. Misalkan lewat Stand-up Comedy, kita bedah problematika sosial secara fun

Kemudian dalam konteks kasus Bullying. Secara psikososial, hal tersebut terjadi karena para remaja ingin terlihat hebat dengan menjatuhkan atau melecehkan temannya. Egonya tinggi, agar dipandang superior.

Solusinya Bagaimana?

Kita bisa menyuntikkan sifat empati sosial pada remaja-remaja tersebut. Contohnya kita coba masuk lewat hobi anak-anak milenial sekarang, yakni Travelling Mereka kan suka traveling. Kenapa tak mengajak mereka melakukan "Social Expedition". Mendekatkan mereka pada potret kemiskinan dan ketidakberdayaan di lingkungan masyarakat terpencil. Dengan mengasah sikap empati harapannya bisa mengontrol ego supaya stabil.

Secara sederhana bisa disimpulkan. Pertama, Ilmu Parenting bermanfaat untuk benahi habit di keluarga. Kemudian Kedua, pola pikir kritis, sebagai pondasi mereka dalam menyerap informasi. Dan yang terakhir kegiatan Social Expedition untuk melatih sikap empati. Sebagaimana pemaparan Dr. Paisol Burlian, S.Ag, M.Hum dalam buku PATOLOGI SOSIAL. " Pada dasarnya permasalahan penyakit masyarakat dipengaruhi oleh tiga faktor; Faktor keluarga, faktor lingkungan serta faktor Pendidikan"

Teguh Indonesia

oleh : Teguh Estro Melalui gadget, anak-anak telah mengunyah ragam informasi menyimpang lebih dini. Seharusnya kita pun imbangi de...
Teguh Estro Senin, 22 April 2019
Teguh Indonesia

Dahsyatnya Buku Creator.Inc


Oleh : Teguh Estro

Kata K-R-E-A-T-I-F seolah menjadi ‘mantra’ yang selalu diucapkan di dunia kerja saat ini. Kreatifitas selalu bersahabat dengan orang-orang yang bekerja keras. Kreatifitas merupakan saudara kandung daripada kecerdasan. Tugas kita adalah menggabungkan sikap kreatif, cerdas dan bekerja keras dalam satu karya. Bagaimana caranya? Nah, buku CREATOR.INC ini mengupas detail untuk menjawab pertanyaan itu.

Buku yang penuh dengan ‘daging’ pengalaman ini cukup sukses menggeser mindset kita dalam berkarya. Tidak ada tempat bagi orang yang berpikir feodal di masa mendatang. Karena dunia karier saat ini semakin ramping dalam hal sumber daya manusia. Bahkan beberapa jenis pekerjaan sudah bisa dilakukan secara independen. Kang ARif Rahman sebagai penulis buku ini menyajikan ragam jenis pekerjaan yang biasanya digemari para Kreator. Semisal Animator, Designer, Potographer, Content Creator, Digital Marketer, Standup Comedian dan Independent Worker Lainnya. “Para Kreator yang punya banyak persamaan, muda, adaptif, komunikatif, suka bekerja,, ngotot, gigih, cerdik, lincah, dan banyak mau.”

Pada halaman awal saja, penulis sudah menghentak pembaca. Ia mengomentari kebanyakan kreator yang terlalu fokus pada produk semata. Atau banyak juga kreator yang terjebak karena hanya mengandalkan skill mereka. Padahal untuk mengepakkan sayap di dunia persaingan, mereka harus handal dalam kemampuan bisnis. Para Kreator kudu memahami dunia promosi, strategi marketing, membangun tim, membuat laporan keuangan dan menjalin network secara apik.

Secara sederhana, buku ini membagi proses berkarya menjadi dalam tiga kerangka. Pertama tahap merintis yang penuh dengan batu terjal, kedua tahap mempublikasikan karya-karya terbaik yang dieksekusi dengan tepat. Ketiga tahap perubahan dari kretor menjadi perusahaan yang memiliki dampak luas. Jadi sebuah enterprise yang mapan tidaklah muncul secara tiba-tiba. Sebuah gagasan harus melalui tahapan ujian yang mengasahnya menjadi perusahaan yang menghasilkan.

Saat kita merintis sebuah karya, maka utamakan mencari ribuan pengalaman. Dan sebaiknya  berupayalah untuk mengasah semua passion, minat dan bakat yang dimiliki. Teruslah mencoba, mencari bentuk, mengenali pola, mencari jaringan sebanyak-banyaknya. Penulis buku ini sangat menyayangkan banyak anak muda yang ingin melewatkan tahapan ini. Pinginnya langsung besar, langsung jadi dan langsung kaya. “…Mulailah karier sebagai seorang amatir dan mulailah dari tahap belajar. Jika bercita-cita menjadi fotografer andal, mulailah dengan bekerja di sebuah perusahaan fotografi. Apalagi jika kita bisa bekerja dengan fotografer yang telah memiliki nama dan reputasi besar, kita punya kesempatan untuk mencuri segudang ilmu darinya….” (Hal. 22)

Lakukan Testing The Water untuk melangkah ke tahap berikutnya. Cobalah proyek kecil-kecilan, eksekusi event-event yang sederhana, pimpinlah tim kepanitiaan yang sedikit dulu. Pola ini harus terus diulang sesering mungkin. Karena hal ini akan mengasah jam terbang seorang creator. Selain itu buatlah persiapan matang untuk membuat karya yang bombastis sekali saja namun berdampak pada personal branding. “…Proyek sampingan adalah peluru. Kalaupun meleset, kita tidak kalah banyak. Namun jangan berhenti menembak, ketika sasarannya tepat, kita tembakkan messiu, ubah usaha yang tadinya sampingan menjadi usaha utama…” (hal. 46)

Suatu saat akan ada waktunya para kreator berada dalam pilihan penting. Passion mana yang akan menjadi jalan hidupnya. Mengubah hobi menjadi usaha yang menghasilkan. Penulis memberikan banyak strategi mengenai system bisnis yang based on experience. Bagaimana mendesain karya, strategi customer experience, membuat dan membesarkan sebuah brand dan termasuk pentingnya mengeksekusi sebuah ide. Saya sarankan iqra…! Bacalah karya kang Arif Rahman ini agar mindset kita segera berubah.



Teguh Indonesia

Oleh : Teguh Estro Kata K-R-E-A-T-I-F seolah menjadi ‘mantra’ yang selalu diucapkan di dunia kerja saat ini. Kreatifitas selalu bersa...
Teguh Estro Jumat, 12 April 2019
Teguh Indonesia

Mindset Baru Kesejahteraan Sosial



Oleh : Teguh Estro
Direktur Riset Lembaga RESEI
(Research and Social Empowerment Institute)

Salah satu kegiatan sentral dalam program Kesejahteraan Sosial adalah kegiatan Penanganan Kemiskinan. Namun upaya tersebut sampai saat ini masih jalan di tempat. Padahal upaya pemerintah sudah maksimal. Akan tetapi belum cukup menjadi obat atas kemiskinan ini. Dalam buku Menuju Ketangguhan Ekonomi, Dr. Bambang Widianto menuliskan bahwa walaupun tingkat kemiskinan terus menurun mencapai 10,86 persen (Maret 2016, BPS), Jumlahnya masih sangat besar, yaitu sekitar 28 juta orang. Selain itu, selama lima tahun terakhir penurunannya semakin melambat walaupun pertumbuhan ekonomi tetap terjadi. Lantas dimana titik masalahnya.

Kebuntuan penanganan kemiskinan ini karena telah terjadi banyak perubahan pola kemiskinan di lapangan. Namun sayang dalam penanganannya masih menggunakan 'senjata lama'. Padahal kita telah memasuki zaman Disruption. Dimana pemain-pemain dagang kian mengejar efisiensi memanfaatkan teknologi. Para inovator menggunakan internet untuk memangkas biaya distribusi. Maka alamat pedagang-pedagang yang masih kekeuh dengan lapak tradisionalnya mengalami penurunan daya beli konsumen. Musababnya telah terjadi shifting pola konsumsi pada masyarakat kita menuju belanja online. Prof Rhenald Kasali dalam bukunya Disruption menggambarkan “...dengan perkembangan itu, tradisi membangun superstore, bahkan superbranch (kantor cabang yang luas) menjadi kurang relevan karena konsumen telah beralih menjadi pelanggan yang mobile dan dikunjungi secara online.”

Mengamati penjelasan di atas, setidaknya kita mengetahui bahwa masyarakat kita tak semudah dahulu dalam memperoleh pendapatan. Bila dulu orang bisa mencukupi segala kebutuhan hanya mengandalkan sektor perkebunan/ pertanian. Namun saat ini hasil berkebun hanya mampu mengobati perut yang lapar. Masyarakat harus gali lubang tutup lubang untuk membiayai pendidikan anak, ongkos kesehatan sampai uang sewa rumah.

Masyarakat kita dituntut memiliki double income untuk keluar dari jerat kemiskinan. Maka dari itu, tugas kita adalah mengupayakan masyarakat agar memiliki kemampuan melakukan double income. Bahkan bila memungkinkan terjadi lompatan cash flow.

Dalam literatur bisnis, pendapatan masyarakat bisa menjadi double income apabila telah dalam dua kondisi berikut ini. Pertama, orang yang memiliki skill sudah dalam tahap ahli, tentu akan dibayar dengan harga yang lebih tinggi. Kedua, orang yang memiliki bisnis atau usaha yang sudah tersistemasi dengan kebutuhan pasar.

Tahap pertama, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka dibutuhkan wadah bagi mereka untuk mengembangkan keahliannya. Mulai dari keahlian dalam menggunakan teknologi, keahlian akademik atau keahlian pengembangan karier. 

Kita harus menyediakan program magang, program kursus gratis, beasiswa diploma dan semua program keahlian lainnya. Kesemuanya diberikan secara gratis dan diselenggarakan sebesar-besarnya bagi masyarakat. Tujuan akhirnya adalah peningkatan daya saing tenaga kerja kita. 

Sebagaimana mengutip tulisan Dr. Asep Suryahadi dalam artikelnya Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, “...Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah. Lebih dari setengah angkatan kerja Indonesia hanya berpendidikan sekolah dasar atau kurang...”. Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Australian National University ini menambahkan bahwa dalam jangka panjang, hanya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, laki-laki dan perempuan Indonesia akan dapat mengatasi masalah kemiskinan.

Tahap Kedua, menyediakan ekosistem untuk masyarakat agar memiliki mental enterpreneur. Memberikan akses sebesar-besarnya bagi masyarakat untuk berani melakukan terobosan dalam membuka usaha. Dalam buku Kesenjangan Ekonomi yang ditulis oleh Eka Sastra,SE.,M.Si mengatakan bahwa orang yang terlahir dari keluarga miskin dan hidup di kawasan kumuh, yang notabene memiliki keterbatasan atas akses terhadap fasilitas publik, justru terpinggirkan pada masa depan, baik secara kompetensi maupun kepercayaan dirinya (Eka Sastra ; 2017).

Oleh karenanya kita harus memperbanyak circle bagi masyarakat untuk memudahkan mereka mengakses fasilitas publik dan menambah jaringan bisnis. Termasuk diantaranya penanaman skill manajemen organisasi. Selanjutnya untuk mengubah mindset masyarakat menjadi mental enterpreneur dibutuhkan pelatihan yang dibimbing langsung oleh mentor-mentor bisnis. Sasaran jangka panjangnya adalah perubahan mindset agar menjadi masyarakat dengan tangan di atas.


Teguh Indonesia

Oleh : Teguh Estro Direktur Riset Lembaga RESEI (Research and Social Empowerment Institute) Salah satu kegiatan sentral dalam ...
Teguh Estro Senin, 01 April 2019
Teguh Indonesia

Menggagas Inovasi Pendapatan Daerah


Oleh: Teguh Estro

Beberapa pekan lalu, saya menghadiri kegiatan “Sosialisasi Percepatan Penyaluran Tahapan Dana Transfer” yang diadakan oleh Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Dalam kesempatan tersebut juga berkesempatan mendengarkan pencerahan dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumsel-Babel, Bapak Dr. Imam Arifin,MA. Putra kelahiran Grobogan Jawa Tengah ini menceritakan secara gamblang betapa pentingnya menjadi Warga Negara yang taat pajak. Termasuk juga perusahaan-perusahaan di daerah yang selama ini turut menikmati pembangunan, lebih diwajibkan untuk menjadi perusahaan yang taat pajak.

Dr. Imam Arifin, MA juga menyampaikan bahwa pada tahun 2019 ini pemerintah pusat telah menganggarkan dana transfer ke daerah sebesar 826 Triliun rupiah. Dengan uraian transfer APBD sebesar 756,8 Triliun dan Transfer dana desa sebesar 70 Triliun Rupiah. Akan tetapi di hadapan masyarakat Kabupaten PALI, beliau menekankan agar Pemerintah Daerah harus terus berinovasi agar bisa mengeksplorasi potensi-potensi pungutan pendapatan daerah. Termasuk salah satunya mengajak perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten PALI agar memiliki “NPWP-Lokasi” dan membayar pajak di kabupaten tempat mereka beroperasi. Dengan demikian potensi pendapatan daerah bisa meningkat.

Mendengarar penjelasan tersebut diatas, penulis mencoba menganalisis. Bahwasannya betapa besarnya ketergantungan daerah terhadap dana transfer yang disalurkan pusat melalui APBN. Dalam buku “Menuju Ketangguhan Ekonomi” terdapat data-data menarik yang disampaikan penulisnya Prof. Dr. Candra Fajri Ananda terkait stagnannya kemampuan fiskal daerah karena tingginya kebergantungan pada Dana transfer pusat.

“…..Fenomena kapasitas fiskal daerah berada dalam posisi yang lebih mengkhawatirkan jika diakumulasikan antara fiskal provinsi denga kabupaten/kota. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digadang-gadang sebagai sumber pendorong kemandirian utama dalam kurun waktu 2011-2015 rata-rata pertumbuhannya memang mencapai 22,99 persen. Namun, kontribusinya terhadap total pendapatan daerah masih tergolong rendah, karena rata-rata dalam lima tahun terakhir hanya mencapai 21,35 persen.

Tingkat ketergantungan terhadap dana transfer pemerintah pusat pun tergolong sangat tinggi, dengan rata-rata mencapai 60,49 persen. Apalagi dana transfer pada setiap tahun selalu mengalami peningkatan, kenaikannya mencapai 10,48 persen (BPS 2016). Fenomena ini kalau tidak segera ditanggulangi akan terus membebani belanja pemerintah pusat.

Jika PAD meningkat, ada manfaat lain yang diterima oleh pemda, yakni keleluasaan dalam menentukan struktur belanja jika dibandingkan dengan dana transfer dari pemerintah pusat. Andai saja pajak daerah dan PAD betul-betul bisa ditingkatkan, pendanaan untuk layanan dan tujuan pembangunan daerah sangat dimungkinkan akan ikut semakin besar…” (Candra Fajri Ananda ; 2017)

Kreativitas pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam mengeksplorasi potensi pungutan pajak daerah. Sebagaimana kita ketahui, terdapat ragam kegiatan yang dapat dikenakan pungutan daerah antara lain : Pajak Reklame, Pajak Restoran, Pajak Hotel, Pajak Rokok, Pajak Hiburan, Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Lampu Jalan, Retribusi parkir, retribusi pasar, retribusi daerah wisata dan lain-lain.

Pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur mekanisme pungutan daerah. Termasuk salah satunya membuat regulasi kegiatan mana yang lebih prioritas untuk dikenakan pajak. Sebaiknya pemerintah daerah mengenakan pajak daerah yang tinggi terhadap kegiatan yang memiliki dampak rendah dalam pembangunan. Dan sebaliknya terhadap kegiatan prioritas yang memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi masyarakat dikenakan pajak yang sangat rendah. Lalu inovasi apa yang bisa dilakukan oleh Kabupaten PALI?

Penulis kembali teringat dengan salah satu hiburan yang sangat digemari oleh masyarakat lokal, yakni hiburan Organ Tunggal semalam suntuk. Secara faedah, kegiatan tersebut tidak begitu memiliki manfaat secara spesifik terhadap pembangunan di bumi serepat serasan ini. Oleh karenanya, sudah selayaknya dilakukan pembahasan lebih lanjut agar hiburan organ tunggal dikenakan pajak hiburan yang tinggi. Toh, pada kenyataannya pihak yang menjadi penyelenggara hiburan organ tunggal biasanya penduduk yang memiliki kelebihan ekonomi.

Teguh Indonesia

Oleh: Teguh Estro Beberapa pekan lalu, saya menghadiri kegiatan “Sosialisasi Percepatan Penyaluran Tahapan Dana Transfer” yang diadak...
Teguh Estro Rabu, 20 Februari 2019
Teguh Indonesia

Membaca Buku SELF DRIVING

"Anak Gadis Saya Hobi Baca"

Oleh: Teguh Estro

Sungguh beruntung bisa membaca buku SELF DRIVING. Karangan Profesor Rhenald Khasali ini mengajak kita untuk memberontak pada kemapanan, atau dalam istilah yang beliau ulang-ulang, be a good driver. Kita dituntut mampu menjadi pengemudi yang solutif pada perjalanan hidup masing-masing. No Complain, Never Give up and always learning.

“Dan Anak-anak yang bisa melakukan perubahan di dunia baru itu, adalah anak-anak yang terlatih mengelola ketidakpastian......” (Rhanald Khasali, 2014). Ini salah satu kutipan pada Bab-Bab awal. Orang-orang yang berjiwa Driver harus dilatih sejak kanan-kanak. Mereka tak hadir secara instan. Bahkan para sarjana yang sudah mengenyam pendidikan pun tak lantas memiliki mental nan tangguh.

Kenapa harus dilatih sejak kecil? Jawabannya agar menjadi karakter yang tertanam kuat. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa para Good driver akan melawan tradisi-tradisi feodal sebelum mereka menjadi pemimpin. “ Feodal, Takut menghadapi perubahan, bicaranya satu arah, meeting-nya lama dan tak ada keputusan, semua serba uang, lamban, berubahnya pelan-pelan, itu artinya tidak ada perubahan sama sekali. Feodal” 
( Halaman 19)

Para calon pemimpin di masa kini memiliki pekerjaan rumah yang amat berat, yakni mengobrak-abrik zona nyaman yang saat ini menjadi sandaran empuk para generasi tua. “Seperti kata Albert Enstein, persoalan perubahan yang dihadapi manusia bukanlah menghadapi hal-hal baru, melainkan sulitnya membuang kebiasaan-kebiasaan lama” (halaman 22)

Apa yang dibutuhkan untuk melawan zona nyaman. Salah satu senjata yang ampuh adalah memiliki wawasan yang luas. Karena saat kita keluar dari zona nyaman maka badai ketidakpastian akan muncul menantang. Maka dibutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan. Dan keputusan yang berkualitas muncul dari kumpulan wawasan yang berkolaborasi dalam pikiran. “Untuk menjadi seorang Driver yang hebat, kecepatan mengambil keputusan perlu di dukung dengan wawasan yang luas” (Halaman 26)

     Perubahan tak bisa dilakukan oleh orang-orang yang hanya terjebak pada kebiasaan rutin saja. Nahkoda harus diserahkan pada ia yang terbiasa berpikir. Tidak mudah terkejut pada keadaan yang baru. Good Driver harus terbiasa berpikir solusi atas masalah-masalah yang dihadapi. Tak mungkin ada kemajuan bila hanya berjalan di-situ-situ saja. Kemajuan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mau bergerak maju. Dan setiap ada pergerakan maju artinya akan muncul masalah baru. Nah siapa yang bisa menghadapi itu? Tentu saja orang-orang yang terbiasa berpikir mencari solusi. Orang-orang yang kerap mengeluh akan terbuang. Para anak-anak manja akan tertinggal. “Prinsip orang bekerja adalah berpikir, namun kalau setiap hari melakukan hal yang familier/rutin atau dibimbing orang lain, maka manusia punya kecenderungan menjadi penumpang bagi orang lain dan tidak perlu berpikir lagi” (halaman 33)

      Guru besar FEUI ini juga mengkritik pola pendidikan di Negara kita. Beliau megatakan bangku sekolah di Indonesia sudah “over cognitive”. Tak kita jumpai keseimbangan antara asupan pengetahuan dan asupan mental. Mereka dijejali pada hafalan-hafalan yang membuat stress siang dan malam. “Tidak Mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, Stressfull, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya” (halaman 51). Selanjutnya beliau membongkar dari pengalamannya sebagai pengajar. Bahwasannya anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat. Dan kegagalan terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalm persekolahan menghafal. Padahal memorizing is not a good thinking. Menghafal bukanlah cara berpikri yang baik. “Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dakan system pendidikan nasional kita” (halaman 61)

       Bukan sekedar teori-teori yang disajikan dalam buku ini, namun juga beberapa latihan-latihan baik dilakukan perorangan ataupun kelompok. Seperti latihan Assertiveness. “Di sini anda dilatih berbicara secara terbuka, menyampaikan unek-unek dan hak anda yang diambil orang lain agar dikembalikan, namun dengan seni yang tinggi tidak akan merendahkan martabat anda maupun orang lain. Malah mereka dapat menerima dengan respek karena anda menegurnya dengan cara yang halus, santun, dan tidak menyakiti perasaannya” (halaman 99)


Teguh Indonesia

"Anak Gadis Saya Hobi Baca" Oleh: Teguh Estro Sungguh beruntung bisa membaca buku SELF DRIVING. Karangan Profesor Rhenal...
Teguh Estro Selasa, 05 Februari 2019