Menu
Teguh Indonesia


Penulis : Teguh Estro
(Direktur RESEI)

Sesekali kita belajar dari negeri Tiongkok. Terutama terkait muskilat yang sedang relevan saat ini. Pemerintah yang buruk, Koruptif, Proyek-proyek kepentingan pribadi dan Rakus pada salah satu DInasti di negeri Tirai Bambu.

Dinasti Shang (1600–1046 SM) adalah salah satu dinasti paling awal dalam sejarah Tiongkok yang meninggalkan jejak melalui tulisan pada tulang oracle dan artefak arkeologis. Ia adalah sebuah peradaban yang berkembang, dengan sistem tulisan, budaya, dan struktur politik yang kompleks. Tapi, seperti banyak kerajaan besar lainnya, ia akhirnya runtuh. Dan keruntuhannya, seperti yang sering terjadi, dimulai dari dalam.  

Di Xin, raja terakhir Shang, adalah sosok yang menarik. Ia digambarkan sebagai penguasa yang awalnya cakap, tapi kemudian berubah menjadi lalim dan kejam. Catatan sejarah seperti Bamboo Annals dan Records of the Grand Historian (Shiji) karya Sima Qian menyebutnya sebagai seorang yang boros, kejam, dan korup. Tapi, benarkah ia satu-satunya penyebab kehancuran? Atau, seperti yang sering terjadi, ia hanyalah puncak gunung es dari sistem yang sudah rapuh?

Raja Di Xin membangun istana ibu kota nan megah, menghabiskan kekayaan negara untuk proyek-proyek pribadi, dan mengabaikan nasihat bijak dari pejabat-pejabat yang setia. Ia lebih memilih untuk mendengarkan para penjilat, para pejabat korup yang hanya mencari keuntungan pribadi. Dalam Klasik Sejarah (Shujing), ada prinsip bahwa seorang penguasa harus memerintah dengan kebajikan (de) dan keadilan. Di Xin melanggar prinsip ini.  

Tapi, mari kita berhenti sejenak. Apakah kejatuhan Shang hanya tentang Di Xin? Atau, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, ia hanyalah simbol dari sistem yang sudah bobrok? Pejabat-pejabat korup, yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas rakyat dan mengumpulkan kekayaan, adalah bagian dari masalah yang lebih besar. Mereka adalah cermin dari tata negara yang gagal.  

Dalam sejarah hukum tata negara Tiongkok kuno, ada konsep "Mandat Langit" (Tianming). Seorang penguasa dianggap sah selama ia memerintah dengan kebajikan dan keadilan. Ketika ia gagal, rakyat berhak memberontak. Di Xin kehilangan mandat ini. Tapi, apakah mandat itu hilang hanya karena kejahatannya? Atau karena sistem yang membiarkan kejahatan itu tumbuh subur?  
Ilustrasi

Sejarah seringkali menyederhanakan cerita. Raja jahat, rakyat menderita, kerajaan runtuh. Tapi, seperti yang ditulis oleh Sima Qian, sejarah adalah cermin. Dan dalam cermin itu, kita melihat bukan hanya satu wajah, tapi banyak wajah. Wajah Di Xin, wajah para pejabat korup, dan wajah sistem yang membiarkan mereka berkuasa.  

Mari kita bandingkan dengan negara lain. Kekaisaran Romawi, misalnya, runtuh bukan hanya karena Nero yang kejam, tapi juga karena korupsi yang merajalela dan sistem politik yang tidak mampu beradaptasi. Nero membunuh para penentangnya, menghabiskan kekayaan negara untuk proyek-proyek pribadi, dan mengabaikan penderitaan rakyat. Tapi, apakah Nero sendirian? Tidak. Ia adalah produk dari sistem yang sudah sakit.  

Atau lihatlah Louis XVI dari Prancis. Ia bukan penguasa yang kejam seperti Di Xin atau Nero, tapi kepemimpinannya yang lemah dan ketidakmampuannya mengatasi korupsi di kalangan pejabat menyebabkan Revolusi Prancis. Di sini, kita melihat pola yang sama: pemimpin yang gagal, pejabat korup, dan sistem yang tidak mampu memperbaiki diri.  

Dan kemudian ada Moctezuma II dari Aztek. Ia adalah penguasa yang percaya bahwa penjajah Spanyol adalah dewa. Ketidakmampuannya memimpin dan ketergantungannya pada takhayul melemahkan perlawanan terhadap penjajah. Tapi, lagi-lagi, apakah ini hanya tentang Moctezuma? Atau tentang sistem yang tidak mampu menghadapi perubahan?  

Keruntuhan Dinasti Shang, seperti keruntuhan Romawi, Prancis, atau Aztek, adalah cerita tentang manusia dan sistem. Di Xin mungkin adalah raja yang jahat, tapi ia juga adalah produk dari sistem yang membiarkan kejahatan itu tumbuh. Pejabat-pejabat korup mungkin adalah pelaku, tapi mereka juga adalah korban dari sistem yang tidak memiliki mekanisme untuk mengoreksi diri.  

Refleksi: Indonesia dan Pelajaran dari Sejarah
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita bisa belajar dari keruntuhan Dinasti Shang dan negara-negara lain yang disebutkan di atas?  

Indonesia, seperti Shang, Romawi, atau Prancis, bukanlah negara yang kebal dari masalah korupsi, kepemimpinan yang lemah, dan sistem yang bobrok. Korupsi masih menjadi masalah serius di negeri ini. Pejabat-pejabat yang seharusnya melayani rakyat justru seringkali terlibat dalam praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka, seperti para pejabat korup di zaman Shang, memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.  

Tapi, seperti yang kita lihat dalam sejarah, masalahnya tidak hanya terletak pada individu. Sistem yang tidak transparan, lemahnya penegakan hukum, dan kurangnya partisipasi publik dalam pengawasan pemerintahan adalah akar masalah yang lebih dalam. Jika sistem ini tidak diperbaiki, maka Indonesia bisa saja mengulangi kesalahan yang sama seperti Dinasti Shang atau Romawi.  

Namun, ada harapan. Indonesia memiliki modal sosial yang kuat: masyarakat yang kritis, media yang aktif, dan generasi muda yang peduli. Jika kita bisa memperkuat sistem hukum, meningkatkan transparansi, dan mendorong partisipasi publik, maka kita bisa menghindari nasib yang sama seperti Dinasti Shang.  

Sejarah mengajarkan kita bahwa keruntuhan sebuah negara tidak pernah terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah hasil dari kombinasi kepemimpinan yang gagal, sistem yang korup, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi. Dan dalam cerita-cerita ini, kita menemukan pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini.
Teguh Indonesia

Penulis : Teguh Estro (Direktur RESEI) Sesekali kita belajar dari negeri Tiongkok. Terutama terkait muskilat yang sedang relevan saat ini. P...
Teguh Estro Selasa, 11 Maret 2025
Teguh Indonesia

Penulis : Teguh Estro
(Direktur RESEI) 

Relasi Kabupaten PALI dan Kelas Menengah

Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) tengah menghadapi tantangan ekonomi yang serius, terutama terkait ketidakstabilan ekonomi kelas menengah. Mereka yang berpenghasilan dua juta keatas ini mengalami dilema dalam pilihan sikap ekonomi.

Salah satu pemicunya adalah penundaan pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang semula direncanakan pada tahun 2025, namun dipindahkan ke tahun 2026. Padahal, pelantikan ini diharapkan menjadi nafas baru bagi perputaran ekonomi lokal, mengingat kelas menengah merupakan tulang punggung utama dalam menggerakkan roda perekonomian. 

Kelas menengah di Kabupaten PALI, seperti halnya di daerah lain, memegang peran krusial dalam konsumsi domestik. Mereka adalah kelompok yang paling aktif dalam belanja rumah tangga, investasi kecil-menengah, dan penggerak sektor riil. 

Seperti dikatakan oleh Joseph Stiglitz , peraih Nobel Ekonomi, "Ketika kelas menengah sekarat, ekonomi tidak bisa tumbuh. Mereka adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya." Pernyataan ini relevan dengan situasi di Kabupaten PALI, di mana ketiadaan tambahan kelas menengah baru dapat menghambat penyegaran ekonomi.

Penundaan tersebut tidak hanya berdampak pada para calon pegawai, tetapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Kelas menengah baru yang seharusnya terbentuk dari pelantikan ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap konsumsi domestik. Tanpa tambahan tenaga kerja baru, daya beli masyarakat cenderung stagnan atau bahkan menurun.  

Selain itu, kebijakn efisiensi belanja pemerintah yang sedang dilakukan saat ini turut menghimpit daya beli kelas menengah. Pengurangan anggaran belanja pemerintah berdampak pada menurunnya pendapatan masyarakat, terutama bagi kelas menengah yang bekerjasama sebagai rekanan pemerintah daerah. Hal ini semakin memperparah ketidakstabilan ekonomi kelas menengah di Kabupaten PALI.  

Ketidakstabilan kelas menengah bukanlah fenomena baru. Di berbagai negara, kelas menengah sering menjadi korban pertama dalam krisis ekonomi. Misalnya, di Amerika Serikat selama resesi 2008, kelas menengah mengalami penurunan pendapatan yang signifikan, yang berdampak pada melemahnya konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi (Pew Research Center, 2015).  

Di Indonesia sendiri, kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya juga pernah mengalami guncangan serupa selama pandemi Covid-19. Kelas menengah, yang sebagian besar bekerja di sektor formal, terkena dampak PHK dan pengurangan gaji. Akibatnya, konsumsi rumah tangga menurun, dan pertumbuhan ekonomi melambat (Sumber: Bank Indonesia, 2020).  

Di India, ketidakstabilan kelas menengah akibat pandemi juga memicu perlambatan ekonomi. Kelas menengah India, yang merupakan penggerak utama sektor ritel dan jasa, mengurangi pengeluaran secara signifikan. Hal ini berdampak pada penurunan pertumbuhan PDB India pada tahun 2020 (World Bank, 2021).  

Masih ada harapan

Untuk mengatasi ketidakstabilan ekonomi kelas menengah di Kabupaten PALI, diperlukan langkah-langkah strategis. Salah satunya upaya diversifikasi ekonomi lokal perlu digalakkan. Kabupaten PALI dapat memanfaatkan potensi sektor pertanian, perkebunan, ekraf dan UMKM untuk menciptakan lapangan kerja baru. Dengan demikian, ketergantungan pada belanja pemerintah dapat dikurangi, dan perekonomian menjadi lebih mandiri.  

----
Referensi:
1. Pew Research Center. (2015). The American Middle Class is Losing Ground.  
2. Bank Indonesia. (2020). Laporan Perekonomian Indonesia.  
3. World Bank. (2011). India Economic Report.  



Teguh Indonesia

Penulis : Teguh Estro (Direktur RESEI)  Relasi Kabupaten PALI dan Kelas Meneng ah Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) tengah menghad...
Teguh Estro Sabtu, 08 Maret 2025
Teguh Indonesia


Desa Tempirai, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Penukal Utara Kabupaten PALI. 

Menyimpan kekayaan budaya yang unik dan sarat makna. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Peturan, sebuah sistem tutur yang mengatur panggilan khas bagi setiap anggota keluarga. Tradisi ini bukan sekadar cara berkomunikasi, melainkan juga menjadi fondasi sosial yang menjaga harmoni dan kekeluargaan dalam masyarakat. 

Dalam konteks globalisasi yang kian menggerus nilai-nilai lokal, Peturan menjadi benteng budaya yang melindungi generasi muda dari dampak negatif perubahan sosial.

Peturan: Lebih dari Sekadar Panggilan

Peturan adalah sistem tutur yang menetapkan panggilan khusus bagi setiap anggota keluarga, mulai dari kakek (Puguk), nenek (Kajut), paman (Mamak), hingga kakak ayah (Mak Barap). Bahkan, keluarga besan dan ipar pun memiliki panggilan khusus. Hal ini menciptakan hierarki sosial yang jelas namun tidak kaku, karena setiap panggilan mengandung makna penghormatan dan kedekatan emosional.
Misalnya, panggilan Misat untuk paman bungsu tidak hanya menunjukkan urutan kelahiran, tetapi juga mencerminkan peran dan tanggung jawabnya dalam keluarga.

Tradisi ini tidak hanya berlaku dalam lingkup keluarga inti, tetapi juga meluas ke masyarakat luas. Setiap warga desa Tempirai, meskipun tidak memiliki hubungan darah, tetap menggunakan panggilan-panggilan ini sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap ikatan sosial yang telah terjalin. Dengan demikian, Peturan menjadi alat untuk mempertahankan suasana kekeluargaan yang dominan dalam setiap kegiatan masyarakat.

Peturan sebagai Resolusi Konflik
Salah satu aspek menarik dari Peturan adalah kemampuannya menjadi alat resolusi konflik. Dalam teori sosial, konflik sering kali muncul akibat ketidakseimbangan kekuasaan atau kesalahpahaman dalam komunikasi. Namun, di Desa Tempirai, Peturan berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang mencegah konflik sebelum terjadi. Istilah Pandangan menjadi kunci di sini. Setiap anggota keluarga memiliki "pandangan" terhadap anggota lainnya, yang berarti mereka harus menjaga sikap dan perilaku agar tidak merusak hubungan kekeluargaan.


Misalnya, ketika terjadi ketegangan antara dua keluarga, panggilan-panggilan dalam Peturan mengingatkan mereka akan ikatan sosial yang telah terjalin. Seorang Mamak (paman) tidak akan mudah marah kepada keponakannya karena ia "memandang" keponakannya sebagai bagian dari keluarganya. Dengan demikian, Peturan tidak hanya memudahkan silaturahmi, tetapi juga menjadi alat untuk meredam konflik dan memulihkan harmoni sosial.

Globalisasi dan Tantangan bagi Peturan
Di era globalisasi, nilai-nilai tradisional seperti Peturan menghadapi tantangan besar. Generasi muda di Desa Tempirai mulai terpengaruh oleh budaya luar yang lebih individualistik. Namun, justru di tengah arus globalisasi ini, Peturan menjadi senjata budaya yang ampuh. Tradisi ini mengajarkan generasi muda untuk tetap menghormati orang lain, menjaga ikatan sosial, dan memahami pentingnya nilai-nilai kekeluargaan.

Studi historis menunjukkan bahwa tradisi tutur serupa juga ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti tradisi Sapaan Adat di Minangkabau atau Tutur Pinompar di Batak. Di Minangkabau, misalnya, sistem tutur digunakan untuk menjaga hubungan harmonis antara mamak (paman) dan kemenakan (keponakan). Sementara di Batak, tutur pinompar menjadi alat untuk mempertahankan silsilah keluarga dan menghindari konflik internal. Persamaan ini menunjukkan bahwa tradisi tutur bukan hanya milik Desa Tempirai, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara yang lebih luas.

Catatan Pinggir: Peturan dalam Teori Sosial
Dalam perspektif teori sosial, Peturan dapat dilihat sebagai bentuk social capital (modal sosial) yang memperkuat kohesi masyarakat. Menurut Pierre Bourdieu, modal sosial adalah jaringan hubungan sosial yang memungkinkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. 

Peturan menciptakan jaringan ini melalui panggilan-panggilan yang sarat makna, sehingga setiap anggota masyarakat merasa terhubung dan bertanggung jawab satu sama lain.

Selain itu, Peturan juga mencerminkan konsep collective consciousness (kesadaran kolektif) yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Kesadaran kolektif ini terbentuk melalui nilai-nilai dan norma yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks Desa Tempirai, Peturan menjadi bagian dari kesadaran kolektif yang mengikat masyarakat dalam satu ikatan sosial yang kuat.

Kesimpulan
Tradisi Peturan di Desa Tempirai adalah contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat menjadi solusi bagi permasalahan sosial. Melalui sistem tutur yang khas, tradisi ini tidak hanya mempertahankan harmoni keluarga, tetapi juga menjadi alat resolusi konflik dan benteng budaya di era globalisasi. Studi historis menunjukkan bahwa tradisi serupa juga ditemukan di wilayah lain di Indonesia, yang menegaskan pentingnya nilai-nilai tutur dalam menjaga kohesi sosial.

Dalam catatan pinggir ini, Peturan tidak hanya dipandang sebagai tradisi lokal, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki relevansi universal. Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Peturan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial yang harmonis.
Teguh Indonesia

Desa Tempirai, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Penukal Utara Kabupaten PALI.  Menyimpan kekayaan budaya yang unik dan sarat makna. Sa...
Teguh Estro Kamis, 30 Januari 2025
Teguh Indonesia


Pencerahan penting mengenai hasil temuan Lapangan benda diduga Cagar budaya di desa Panta Dewa. Sampel batu dan serpihan besi dibawa ke Balai Pelestarian Kebudayaan [BPK] Wilayah VI. Tim Ahli Cagar Budaya [TACB] Kabupaten PALI berdialog bersama rekan-rekan arkeolog si BPK Wilayah VI tersebut. 

Sebuah objek masa lalu dibahas dari dimensi material kandungan logam dan mineral lainnya. membedah timeline historis, kajian budaya masyarakat agraris dan tidak lupa cerita peradaban sungai sebagai transportasi primer di waktu lampau.


Diduga terdapat lokasi pandai besi yang memproduksi alat pertanian dahulu kala. #PeradabanTanahMerah

Dugaan berawal pada hari Kamis, 09 Januari 2025 seorang warga bernama ibu Lidia menemukan bongkahan batu merah dan besi di tanah seluas 30 x 50 m. Lahan tersebut milik bapak efendi di dusun II Desa Panta Dewa Kabupaten PALI.


Sempat Viral di sosial media, beberapa hari kemudian warga dan awak media melaporkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten PALI.

Tanggal 16 Januari Tim Ahli Cagar Budaya [TACB] Kabupaten PALI turun ke lokasi melihat dari dekat lokasi galian. Diketuai oleh kepala Disbudpar ibu Novi Pebrianti, ST., MT. Rombongan TACB mengambil beberapa sampel batuan untuk dibawa uji laboratorium.

Beberapa sebaran benda tersebut antara lain batu merah, lelehan besi, keramik lama dan campuran tanah dan karat besi. 


Beberapa fakta menarik lainnya adalah lokasi temuan berada sekitar 100 meter dari sungai Sebagut. Dengan mata pencaharian petani karet, warga desa Panta Dewa hidup kesehariannya. Beberapa rumah bari masih mudah ditemukan disana. Meskipun sudah direnovasi bagian-bagianya. Dengan ukiran unik di sudut-sudut papan rumah. #PeradabanTanahMerah


Sayangnya tidak didapatkan catatan yang tertulis dari benda-benda yang ditemukan. Satu-satunya tulisan yang bisa dijadikan petunjuk di desa Panta Dewa adalah catatan makam leluhur puyang "Mpu Rawi Dewo" tercatat wafat pada tahun 1813


Bila melihat timeline sejarah, tahun 1813 masih terbilang muda. Era Majapahit telah mengalami keruntuhan diganti dengan Kerajaan-kerajaan kecil nusantara. Di tahun tersebut diperkirakan satu zaman dengan kesultanan Palembang.

Sempat warga sekitar bertutur bahwa mereka sering diceritakan oleh para orang tua bahwa puyang Mpu Rawi datang dari negeri Tiongkok. Mpu Rawi diperkirakan pada abad ke-18 bermukim dan berkeluarga di daerah yang sekarang dinamakan Desa Panta Dewa.

Selain dugaan arkeologis dan historis, terdapat kajian menarik dari sudut pandang geografis. Sebagaimana dikatakan bapak Iwan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI bahwa lokasi temuan di area sekitar sungai bisa menjadi petunjuk. 

Bisa saja dahulu sungai Sebagut tersebut merupakan jalur transportasi primer di masa itu. Sehingga diduga terdapat kegiatan yang memobilisasi benda semacam gerabah, alat pertanian atau keramik. 

Mungkin kegiatan dagang atau kerajinan pandai besi semua masih terbuka untuk dikaji. Termasuk pendapat pak Iwan dari BPK Wilayah VI bahwa batu tersebut merupakan hasil sedimentasi sungai yang mengendap bertahun-tahun.
#PeradabanTanahMerah



Teguh Indonesia

Pencerahan penting mengenai hasil temuan Lapangan benda diduga Cagar budaya di desa Panta Dewa. Sampel batu dan serpihan besi dibawa ke Bala...
Teguh Estro Sabtu, 18 Januari 2025
Teguh Indonesia



Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [PALI] melakukan peninjauan langsung ke lokasi penemuan benda dan logam yang diduga sebagai objek diduga Cagar budaya [ODCB]... 


Teguh Indonesia

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [PALI] melakukan peninjauan langsung ke lokasi penemuan benda dan logam...
Teguh Estro Kamis, 16 Januari 2025
Teguh Indonesia


"Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan pelita"

Ungkapan ini cocok untuk melukiskan pikiran maestro seniman Kabupaten PALI, Kyai Hasan Muslim. Beliau kerap menjadi kanal curhat masyarakat mengenai anak-anak yang berbakat melukis namun tak punya wadah aktualisasi. 

Beliau mendirikan Bengkel Seni Rupa "Pondok 23" di Desa Betung, Kecamatan Abab, Kabupaten PALI. Filosofi Pondok 23 yang dipakai bermakna tempat mengasah kemampuan perupa 2 dimensi dan 3 Dimensi.

Dengan gamblang beliau menyadari hal ini tak akan mudah. Karena ragam keterbatasan sarana dan prasarana. Namun ada satu senjata simpanan beliau, yakni pemandian paye di belakang sanggar Seni tersebut.


Perpaduan seni dan alam mengaduk imajinasi para murid.


Teguh Indonesia

"Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan pelita" Ungkapan ini cocok untuk melukiskan pikiran maestro seniman Kabupaten ...
Teguh Estro Sabtu, 21 Desember 2024
Teguh Indonesia


Kedatangan Pak Taufik Wijaya, penggiat budaya penerima dana indonesiana Tahun 2024. Kami kerap menyapanya dengan om TEWE. Beliau punya concern terhadap kajian lingkungan.

Terpilihnya desa Tempirai menjadi rumah diskusi khususnya tema lahan basah. Malam itu diawali dengan pemutaran film dokumenter yang penuh kritik sosial terhadap keberlanjutan lingkungan.

Obrolan dialogis dengan sentuhan seni sastra cukup ampuh men delivery pesan penyadaran kerusakan lingkungan. Pemilihan sub tema nan unik, seperti "Baung Tak pernah Pulang" memanjakan imajinasi penonton di pelataran gedung Kampung Inggris Tempirai.

Beberapa akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang memperdalam narasi tiap liputan dokumenter tersebut. Pendekatan budaya menjadi pisau analisa. Bahkan anak-anak pelajar Kampung Inggris Tempirai dibuat antusias. 

Beberapa retoris yang dilontarkan terkait masihkah anak-anak desa Tempirai hafal nama-nam Ikan di sungai? Apa saja alat penangkapan ikan yang diketahui? Adakah cerita-cerita dari orang tua mengenai kehidupan sungai?. 

Malam itu menjadi meriah dihadiri ibu Siska Akhira, SH Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar PALI. Tokoh-tokoh Pemuda Derry dan Abri sebagai Juara Pemuda Pelopor Provinsi Sumatera Selatan. 





Teguh Indonesia

Kedatangan Pak Taufik Wijaya, penggiat budaya penerima dana indonesiana Tahun 2024. Kami kerap menyapanya dengan om TEWE . Beliau punya conc...
Teguh Estro Minggu, 08 Desember 2024
Teguh Indonesia

Oleh : Teguh Estro


Pemajuan kebudayaan bertujuan untuk apa? bisa kita ambil beberapa studi kasus di daerah lain. 

1. Budaya Sintowo Maroso di daerah POSO digunakan untuk resolusi Konflik Sosial di sana. 
2. Tradisi Sasi di daerah Maluku digunakan untuk tujuan pelestarian Lingkungan. 
3. Tradisi syari'at islam di Aceh digunakan untuk penguatan Norma di masyarakat. 
4. Budaya Tri Hita Karana di Bali digunakan untuk Pelestarian Ekologis
5. Budaya wayang di Jawa digunakan oleh kaum agamawan walisongo untuk sarana pendidikan agama. 
6. Dsb... 

Kedalaman Makna mengenai goal setting mempengaruhi arah dari Narasi yang akan dibuat untuk masing-masing OPK (Objek Pemajuan Kebudayaan).

Untuk gambaran seperti masyarakat Aceh, seluruh jenis seni Tari, seni Sastra, tradisi lisan dll hampir merata bernafaskan tujuan mengangkat Norma Agama Islam.

Masyarakat BALI juga banyak seni Tari, Arca, ritual tradisional sangat terasa nilai-nilai pemeliharaan alam bernafaskan hinduism.

Masyarakat Ngada di Nusa Tenggara, Tarian, Ritual dan hukum adat menggunakan corak ajaran gereja. 

Dan masih banyak lagi, kapan-kapan kita ngobrol nian, ini soalnya sambil ngasuh anak, jadi dak fokus lagi ngetik... 🤭

Teguh Indonesia

Oleh : Teguh Estro Pemajuan kebudayaan bertujuan untuk apa? bisa kita ambil beberapa studi kasus di daerah lain.  1. Budaya Sintowo Maroso ...
Teguh Estro Kamis, 28 November 2024
Teguh Indonesia


Oleh : Teguh Estro 
(Tim Ahli Cagar Budaya/TACB PALI) 


Ditemukannya arca kepala Sri Bhairawa pada Candi 3 di komplek percandian Bumiayu menambah cerita baru terhadap narasi sejarah. Acapkali diceritakan oleh senior kami Dr. Sondang Martini Siregar bahwa corak pada situs Candi 3 di komplek percandian ini merupakan ciri aliran Tantrayana.

Secara ikonografi arca kepala Bhairawa ini tentu kian memperkuat dugaan aliran Tantrayana. Karena salah satu ajaran paham Bhairawa pada beberapa abad silam ini adalah ritual "Panca Makara Puja". Dari sekian ritual tersebut terdapat dua ritual unik yang bisa diteliti relevansinya terhadap kondisi saat ini. Yakni Ritual Matsya (Makan Ikan) dan Ritual Mudra (Menari).

Dua ritual tersebut bila ditarik esensinya, maka masih relevan dalam ingatan kolektif masyarakat PALI. Sekali lagi ini pembahasan dari sudut pandang esensinya. Karena secara fisik, ajaran Bhairawa ini sudah tak ditemukan pada masyarakat PALI.

MATSYA, bermakna ritual makan ikan bisa direlevansikan dengan semangat menengahkan program pangan bergizi. Apalagi masyarakat PALI memiliki sejarah kuat pada peradaban sungai. Konsumsi ikan sebagai penyumbang gizi adalah pemaknaan yang tepat ritual Matsya di era kekinian. Ditambah satu lagi masyarakat PALI bahkan memiliki makanan khas yakni Ikan Sagarurung yang telah tersohor. 

MUDRA, ritual tarian. Pada masa lampau pada era Hindu-Budha raja-raja Nusantara menganggap ritual ini untuk menambah kharisma. Esensi yang kita tangkap bahwa seni tari merupakan konsumsi kelas bangsawan di masa lalu. 

Sehingga relevansi di masa sekarang dirasa agak tepat bila tren mengangkat Tarian Lokal menjadi perwujudan Mudra saat ini. Bahkan masyarakat PALI telah memiliki tarian lokal yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari KEMENKUMHAM RI. Yakni, Tari Dundang dari Tanah Abang serta Tari Lading dari Penukal Utara.

Tentu saja tulisan ini hanya opini dan obrolan di warung kopi. Sehingga pasti didapati banyak kekeliruan di dalamnya. Semoga menjadi diskusi menarik terutama khazanah budaya bagi masyarakat PALI. Tabik.

Teguh Indonesia

Oleh : Teguh Estro  (Tim Ahli Cagar Budaya/TACB PALI)  Ditemukannya arca kepala Sri Bhairawa pada Candi 3 di komplek percandian Bumiayu mena...
Teguh Estro Selasa, 19 November 2024
Teguh Indonesia


PALI, CS - Kampung Digital Air Itam berkolaborasi dengan para pendidik di Kabupaten PALI, menggelar Gerakan Guru Go Digital di Bumi Serepat Serasan.

Gerakan yang diinisiasi oleh Kampung Digital Air Itam itu memberikan inspirasi kepada para guru untuk bisa menggunakan tools Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, seperti Chatgpt dan Google Gemini.

Pembina Kampung Digital Air Itam, Teguh Eko Sutrisno, S.Kom.I menerangkan bahwa digelarnya kegiatan tersebut tidak lain untuk merangkul para pendidik agar bisa menjadikan tools AI (chat GPT dan Google Gemini) sebagai penunjang pembelajaran.

"Beberapa waktu lalu, kegiatan tersebut dilaksanakan di SMA Negeri 1 Penukal. Selanjutnya sekolah lainnya akan kita datangi untuk memberikan inspirasi untuk bisa memanfaatkan teknologi tersebut," jelas Teguh.


Pada kesempatan kemarin, Kampung Digital Air Itam berkolaborasi bersama Komunitas Pandu Digital SMA N 1 Penukal. Didampingi oleh dua pemateri Irpansyah yang merupakan founder Kampung Digital Air Itam dan Agus Munir, S.Pd yang merupakan Guru Penggerak sekaligus Member Google Gemini Academy.

"Peserta yang mengikuti kegiatan Gerakan Guru Go Digital di SMAN 1 Penukal itu dihadiri oleh guru-guru di desa yang ada di kecamatan Penukal baik tingkat SMP maupun SMA," imbuhnya.

"Tujuan yang ingin dicapai, tentunya agar guru melek (mengetahui dan cakap, red) terhadap tools AI (Chat GPT dan Google Gemini) yang kerap disalahgunakan sebagai jalan pintas materi pembelajaran. Kemudian dalam kesempatan itu juga memberikan cara untuk menyikapinya secara bijak," tuturnya.

Ke depan, Gerakan Guru Go Digital ini akan menyasar ke guru-guru yang ada di kabupaten PALI. "Tentunya Gerakan Guru Go Digital ini diharapkan bisa secara masif dilaksanakan dan bisa menginspirasi seluruh guru yang ada di kabupaten PALI, sehingga menjadi melek digital," pungkasnya. (Red)

source : https://www.citrasumsel.com/pendidikan/60486068/kampung-digital-air-itam-inspirasi-guru-di-pali-melek-digital-gunakan-tools-ai-untuk-pembelajaran

Teguh Indonesia

PALI , CS -   Kampung Digital Air Itam   berkolaborasi dengan para pendidik di Kabupaten PALI, menggelar Gerakan Guru   Go Digital   di Bumi...
Teguh Estro Rabu, 31 Juli 2024