Menu
Teguh Indonesia

Gerakan Mahasiswa & Jebakan Sejarah

Oleh: Teguh Estro


    Entahlah, dari mana istilah ‘aktivis’ muncul untuk kali pertamanya. Setidaknya kian hari yang kita terima tinggallah makna konotatifnya saja. Oleh karenanya saya pula mengikut arti konotatif dari aktivis sebagai segolongan orang yang memperjuangkan suatu cita-cita sakral   yang bergerak berdasarkan pada metode dan konsep gerakan dari para perintisnya. Jadi pertanyaannya adakah aktivis yang tanpa tujuan? maka jawabnya tidak ada.

    Dalam literatur sejarah, aktivis di Indonesia kerap disemat sesuai masa ia bergerak. Ada yang menamai aktivis angkatan ‘45, angkatan ’66 sampai pada angkatan ’98. Akan tetapi terlepas dari periodisasi tersebut, ada suatu entitas yang sangat mendominasi hidupnya ruh aktivis di Indonesia, yakni gerakan mahasiswa. Semasa masih ada Belanda, para mahasiswa menginduk pada pemikir-pemikir bangsa di masanya. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, ia mengilhami Soekarno hingga menjadi aktivis mahasiswa di Bandung (sekarang ITB). Berikutnya Haji Agus Salim yang juga menjadi ‘suhu’ para aktivis mahasiswa, menginspirasi ‘Hatta muda’. Jiwa pergerakan politik yang ada menjadikan para mahasiswa mengalami perpaduan ruang alam. Yakni ruang akademisi di satu sisi dan ruang pergolakan anti penjajah yang lebih mendominasi di sisi lain.

    Berangkatnya para pelajar berkuliah ke Belanda menjadi pemoles kematangan para aktivis mahasiswa menjadi aktivis pergerakan nasional. Berbelas-belas tahun menempa ilmu tentu memanfaatkan hidup di eropa untuk mempeajari bangsa-bangsa di Eropa. Bahkan tidak jarang Mohammad Hatta yang juga menjabat ketua Indistjhe Vereninging mengikuti banyak konferensi sosialis di negara-negara Eropa. Begitupun yang dilakukan Tan Malaka yang kenyang mengelilingi Moskow dan kota-kota besar lainnya. Mereka mengisi otak mereka agar berjiwa besar dan tidak canggung mendebatkan solusi kemerdekaan di hadapan Belanda saat kemudian hari.

    Sebagaimana yang diceritakan Dr. Deliar Noer terkait perjalanan Bung Hatta ke Belanda dalam bukunya Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa:

    “ Kematangan Hatta tambah bertumbuh ketika ia belajar di Belanda dari 1921 sampai 1932. Ia belajar dengan tekun di Handels Hogeschool (Sekolah Tinggi Dagang, kemudia economische Hogeschool, Sekolah Tinggi ekonomi) di Rotterdam, tetapi ia tidak semata-mata menjadi mahasiswa “kutu buku”. Ia juga aktif dalam organisasi Indische Vereniging (Perkumpulan Hindia, berdiri tahun 1908)…”

    Begitupun Bung Karno yang dirinya Mahasiswa tetapi jiwa kritis atas penjajahan selalu hidup dalam dirinya. Berikut kutipan percakapan Soekarno dan seorang professor yang dibukukan oleh Cindy Adams  dalam bukunya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat:

    Pada minggu wisuda aku mendiskusikan hal ini dengan rector magnificus dari Sekolah Teknik Tinggi ini, Profesor Ir. G. Klopper M.E.
    “Mengapa kami dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi koonialis terhadap kami?” tanyaku.
    “Sekolah Tenik Tinggi ini,” demikian ia menerangkan, “didirikan terutama untukmemajukan politik Den Haag di Hindia. Agar dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah kami merasa perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas berpengalaman”
    “Dengan kata lain, alasan kaum pribumi diijinkan memasuki perguruan tinggi ini pertama-tama untuk memungkinkan Belanda mengekalkan politik imperialism di sini?” tanyaku.
    “Ya, itu benar,” dia menjawab.

    Mereka para guru bangsa juga pelajar mahasiswa yang disiplin terhadap akademiknya. Tetapi siapa yang meragukan kecintaan bahkan pengorbanannya pada bangsa ini sejak masih di bangku kuliah. Hanya saja kemudian sejarah menampilkan tawaran model aktivis tidak hanya satu atau dua wajah saja. 


    Kita melihat aktivis tahun 60-an yang memiliki jargon anti PKI beserta derivasi komunisme di Indonesia. Bahkan tak jarang aktivis di masa itu di-cap sebagai perongrong orde lama sekaligus memuluskan jalan Soeharto menjadi pengganti Soekarno. Setidaknya aktivis-aktivis Islam yang berseberangan dengan komunisme mendapatkan tempat lapang dari pemerintah Soeharto.

    Pada cerita yang lain aktivis tahun 70-an yang megalami momentum MALARI. Merupakan masa naiknya popularitas aktivis merah yang menjadikan Ibnu Sutowo sebagai sosok kambing hitam. Dialah sang ‘raja minyak’ yang menikmati perselingkuhan BUMN dengan negara Jepang. Akhirnya di kemudian hari mereka menghadapi reepresivitas pada kemuncaknya saat menolak kunjungan Kaisar Jepang ke Indonesia. Gerakan anti Jepang di mana-mana mengingat berduyun-duyunnya produk otomotif Jepang menyerbu pasaran Indonesia. Akhirnya aktivis MALARI banyak yang menjadi korban pihak militer.

    Lain lagi jika membincangkan aktivis ’98 dengan setting peristiwa besar krisis global yang menhancurkan ekonomi di Asia. Kegelisahan terhadap represivitas Soharto kian memuncak bagi banyak kalangan. Dan pada detik-detik yang menentukan, Soeharto memutuskan mengundurkan diri sebagai presiden. Maka kerja-kerja gerakan mahasiswa seolah memiliki tema besar yakni Reformasi, What’s The Next?.

    Benang Merah Gerakan Mahasiswa
    Pada tanggal 22 Februari 2012 saya pada saat itu masih sebagai Kadep Kebijakan Publik KAMMI Daerah Kota Yogyakarta. Berkunjung ke LBH Yogyakarta yang disambut oleh ketuanya langsung Bang Irsyad Thamrin. Awalnya hendak membincangkan advokasi terhadap PKL di jalan Malioboro yang hendak terkena penertiban oleh pemerintah. Akan tetapi beliau justru memberikan wejangan yang masih terngiang hingga saat ini. Bahwasannya suatu Gerakan Mahasiswa jangan sampai terjebak pada rutinitas aktivisme saja. Mereka harus memiliki komitmen. Dan gerakan mahasiswa harus memiliki ‘konstituen’ gerakan yang jelas. Dan seharusnya rakyatah yang menjadi konstituen dari gerakan mahasiswa.

    Kita harus menemukan jati diri seorang aktivis tanpa harus terjebak pada wajah para aktivis masa lalu dari tahun ke tahun. Pertama aktivis harus meyakini kebenaran dari cita-cita luhurnya. Semisal aktivis Islam yang harus memiliki pandangan yang jelas terkait bagaimana Islam mampu menjadi solusi bagi semesta alam. Aktivis kiri yang kekeuh dengan masyarakat sosialis kendatipun itu utopis dan juga gerakan-gerakan lainnya.
     

   Kedua, Suatu gerakan mahasiswa harus memiliki konsep dan metode dalam melakukan pergerakannya. Atau dalam istilah dakwah Islam sering dinamakan manhaj. Dan dengan mengikuti tahap-demi tahap metode itu merupakan bentuk loyalitasnya pada gerakan dan cita-cita luhur yang hendak dibangunnya.
     

   Ketiga, Idealisme akan tetap ada biamana mewujud dalam diri pelakunya.

Tidak ada komentar