Menu
Teguh Indonesia

Anak Bangsa Di Jalanan

oleh : Teguh Estro*


Kehadiran anak jalanan beserta hiruk-pikuk masalahnya kian menyita simpati publik. Fenomena ini merupakan penyakit kehidupan kota yang memang terkenal akan keganasannya. Nasib anak jalanan seolah sudah bergantung pada takdir. Karena mereka bukan sekedar miskin harta tapi juga miskin ilmu dan mental. Sehingga tidak ada lagi hal yang bisa mereka banggakan kecuali gitar mungil penambah pendapatan.

Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa “...anak-anak terlantar dipelihara oleh negara...” Termasuk juga di dalamnya anak-anak yang berprofesi sebagai pengemis ataupun musisi jalanan. Sudahkah negara memelihara ‘anak-anaknya’ tanpa pandang bulu. Jika anak-anak yang belajar di sekolah unggulan mendapat banyak beasiswa, maka perlakuan yang sama seharusnya dirasakan juga oleh anak jalanan. Namun kenyataannya, kehadiran si mungil nan kumuh di trotoar tampaknya hanya menjadi beban bagi pemerintah. Alasannya sederhana, karena anak jalanan merusak pemandangan, mengganggu ketertiban dan melanggar peraturan.

Kasus demi kasus kini mengintai hidup penghuni jalanan. Sebut saja kasus pembunuhan, Penculikan, Pelecehan Seksual, hingga kasus mutilasi belakangan ini. Penyiksaan tersebut mereka dapatkan tidak lain karena ketidakberdayaan hidup di alam ‘liar’. Padahal mereka juga memiliki hak untuk hidup terpelihara. Tentu saja amanah konstitusi kepada pemerintah untuk memelihara anak-anak terlantar kini mulai dipertanyakan. Selama ini justru yang terjadi bukanlah pemeliharaan, akan tetapi jelas-jelas pembuangan. Sungguh, orang tua tak punya hati yang tega membuang anak-anaknya.

Permasalahan bukan pada kalalaian negara saja. Namun persoalan anak jalanan yang telah terjangkit ‘candu’ jalanan, tentu akan susah tersembuhkan. Pembinaan terhadap mereka yang telah lama hidup di lampu merah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan tidak jarang mereka justru lebih memilih menjadi pengemis jalanan daripada diberi bantuan modal untuk berwira usaha. Hal tersebut karena mental mereka yang tidak bisa menjangkau mental untuk hidup layak. Kaum musisi jalanan ini hanya tahu menyanyi lagu dari bis kota ke bis kota lainnya. Para pengemis cilik mungkin hanya bisa menyodorkan mangkuk belas kasihan pada tuan-tuan di trotoar. Selebihnya para ‘tuna-asa’ ini tak punya mental keberanian untuk berkarya apalagi menjadi pengusaha. Parahnya lagi jika anak jalanan sudah hobi berbuat kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan tidak jarang mereka yang direkrut oleh sindikat mafia untuk berbuat kriminal. Dari segi kesehatan, mungkin kaum jalanan sudah tidak mempedulikan lagi hidup higienis, makanan bergizi dan minum susu. Hidup sehat layaknya anak pejabat hanya mimpi di siang bolong. Berjalan diantara asap CO, CO2 dan timbal di mana-mana siap menggerogoti fisik yang kian lemah. Dan lengkap sudah penderitaan mereka ketika setiap hari harus kucing-kucingan bersama satpol-PP.

Anak-anak jalanan juga memiliki hak untuk hidup layak seperti anak bangsa lainnya. Mereka tak kalah imut dengan ‘Baim’ sang artis cilik. Namun tetap saja nasib penghuni jalanan penuh dengan kemalangan. Kehadiran fenomena ini sudah layak untuk diselesaikan oleh negara. Keseriusan pemerintah untuk memberikan penampungan sekaligus wadah pelatihan mental harus segera direalisasikan. Karena persoalan utamanya adalah permasalahan mental jalanan yang harus diubah. Mereka juga berhak memiliki mental pengusaha, jiwa kepemimpinan dan semangat kepahlawanan. Terlebih lagi pembinaan soft skill mestinya dilakukan dengan intensif.

Salah satu penyebab munculnya peri-peri kecil di jalanan adalah karena mereka termarjinalkan dari dunia sekolah. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan SPP yang terlalu mahal menjadi penyebabnya. Sehingga sudah saatnya diberlakukan pendidikan gratis yang sebenar-benarnya. Hentikan semua pungli-pungli yang tak bertanggung jawab. Dengan biaya sekolah gratis tentunya akan mengurangi rakyat miskin yang nekat kabur dari sekolah menuju jalanan. Begitu juga keseriusan guru-guru di sekolah untuk tidak pandang bulu mendidik anatar si kaya dan si miskin. Karena sikap membeda-bedakan inilah yang membuat anak-anak miskin merasa dinomor-duakan. Akhirnya muncul sifat minder, malu dan enggan berprestasi. Ujung-ujungnya mereka justru lebih merasa nyaman untuk hidup di jalanan saja.

Tidak ada komentar