Menu
Teguh Indonesia

Syahadat Gerakan bagi Pendekar Tuhan


Oleh: Teguh Estro

Hakikat syahadat adalah proklamasi seorang muslim akan tujuan hebatnya. Ia (baca: muslim) sejatinya telah memproklamirkan sumpah bersejarah dalam kesempatan hidup yang hanya satu kali saja. Sehingga setiap desahan nafasnya selalu ditujukan pada ambisi besar, yakni ridho Allah Swt. Ungkapan syahadat kepada Allah tiada lain merupakan ‘Restu Tuhan’. Hal inilah yang menjadi modal besar bagi umat akhir zaman untuk berani melafadzkan kalimat ‘Allahu Ahad’. Keberanian bersejarah yang membuat Bilal r.a tersohor akan keteguhannya.

Pada masa post-prophetarian, umat Islam selalu diuji akan keteguhan syahadatnya. Puncaknya saat sejarah dunia tidak berpihak pada Islam, kejayaan pengikut umat Muhammad Saw ini terjun bebas pada titik nadir terendah. Kekhalifahan Islam runtuh seiring hijrah besar-besaran fikrah umat kepada Sekulerisme. Alhasil, ‘Ottoman Kingdom’ kini tinggal nama saja. Namun benarkah para pejuang tauhid pupus begitu saja? Tidak….! Buktinya tatkala kaum Sekuleris tengah asyik merayakan kemenangannya, mereka terhentakkan oleh kabar besar dari kota Ismailiyah, Mesir. Kekuatan umat Islam terpusatkan pada ikrar sekelompok pejuang Islam yang kekeuh pada syahadat mereka. Pada tahun 1926 Ikhwanul Muslimin memproklamasikan kesaksian pada Tuhan sebagai satu-satunya penguasa. Syahadat itu tertuju kepada Allah Swt sekaligus bagi kaum penjajah. Mereka menyatakan sumpah pembebasan bagi umat yang terjajah. Hingga perjuangan ‘Moslem Brotherhood’ ini mampu membakar semangat pemuda Islam pada level tertinggi, yakni syahid menjadi cita-cita hidupnya. Setiap detik perjalanan dakwah yang dipimpin Imam Syahid Hasan al-Banna ini terus menjadi referensi umat akhir zaman. Kesemuanya berawal dari satu hal penting, yakni Syahadat gerakan. Syahadat yang menggetarkan hati para pejuang seperti bergetarnya jiwa Umar al-Faruq saat mendengar kalimat Allah untuk pertama kalinya.

Terlepas dari romantisme sejarah yang penuh heroisme, tentunya pandangan umat Islam tetap menempatkan perjuangan dengan perspektif ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’. Dunia modern telah memposisikan perjuangan pada paradigma baru. Jangan sampai Jundullah mengalami ‘amnesia’ konsep-juang. Mengenai siapa yang menjadi pejuangnya? Bahkan siapa musuhnya?

Perhelatan anak manusia di era modern ini menampilkan wajah baru kaum kolonial. Ia tidak lagi hadir bersama meriam ataupun bedil pembunuh. Namun sang penjajah membawa senyum indah dibalik pemurtadan, tutur sopan dibalik kapitalisme, dan tangan lembut dibalik eksploitasi. Sungguh, umat Islam telah menemukan tantangan spesies baru yang begitu hebat namun tak terlihat. Boleh jadi akan banyak anak-anak keturunan muslim yang berkelakuan serba barat. Bisa saja akan bertebaran pemuda Islam yang menghamba pada hedonisme. Bahkan melalui penjajahan gaya baru ini akan banyak bermunculan umat Islam yang tak pernah berpikir sedikitpun untuk memperjuangkan Islam, Na’udzubillah...! Parahnya, kondisi ini ada di depan mata kita. Keadaan ini adalah ‘panganan’ sehari-hari umat Islam.

Rasulullah pernah berpesan yang diperuntukkan bagi umatnya hingga akhir Zaman. “Perbaharuilah Imanmu dengan Syahadat…”. Jika Iman adalah hal yang diperjuangkan. maka Perjuangan itu harus direfresh dengan sesuatu yang bias menggetarkan hati para ‘pendekar Tuhan‘. Itulah Syahadat Gerakan yang akan memperbaharui goal setting para aktivis dakwah. Totalitas dan militansi wajib ‘ain diperbaharui untuk menghadapi musuh baru di era globalisasi. Karena modal untuk menghadapi penjajah abad ke-21 tak sekedar butuh kekuatan otot. Namun kita menggunakan kecerdasan, kesabaran, keuletan dan mutlak membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Aktivis dakwah memiliki tujuan hidup yang sangat mulia. Bukan gubernur atau Presiden, akan tetapi tujuan itu adalah Tuhan Yang menjadi Raja Seluruh alam. Maka ucapkanlah syahadat atas nama Allah, berjanji untuk syahid di jalanNya, bersumpah untuk memperjuangkan agamaNya. “AsyhaduanLailahaillallah Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”

Tidak ada komentar