Menu
Teguh Indonesia

Reformasi Gerakan Reformasi

Menyoal Konflik Horizontal Antar Gerakan
Oleh: Teguh Estro

Nabiyullah Musa a.s salah satu sosok reformis yang menjadi aktor sentral penggulingan fir’aun. Namun setelah Fir’aun tenggelam problem justru muncul di tengah kaum (itu) sendiri, adalah konflik horizontal di kalangan Bani Israil. Reformasi yang diharapkan terjadi pada bani Israil sungguh jauh panggang daripada api. Ilustrasi ini seolah menjadi de javu bagi bangsa Indonesia.

Reformasi (taghyir) sebagai salah satu ajaran Islam yang belum terpahami secara kontekstual dalam upaya perbaikan umat. Sebelas tahun lalu bangsa Indonesia mencoba reformasi total pemerintah otoriter Soeharto. Namun hingga sang jenderal cendana itu ‘berpulang’, perjuangan reformasi tak kunjung menorehkan hasil. Tuntutan reformasi yang diperjuangkan oleh rakyat ’98 kini sekedar menjadi catatan sejarah. Persoalan supremasi hukum, pemberantasan KKN hingga reformasi di bidang ekonomi dan politik. Semua tuntutan itu kian terlupakan seiring surutnya ghiroh gerakan reformasi dalam satu dekade belakangan ini.

Fenomena aksi pemakzulan Soeharto itu telah menjadi fase sejarah yang begitu penting dan strategis. Namun sayang proses bergulirnya sejarah ‘98 itu tidak diiringi oleh cantiknya desain dalam mengisi kekosongan pasca gerakan reformasi. Parahnya justru berbagai elemen yang tergabung dalam barisan perjuangan sebelas tahun lalu terjebak dalam konflik horizontal. Keretakan ini bukan hanya membuat koruptor bertepuk tangan, namun lebih memberikan efek pada kelesuan gerakan reformasi. Di tengah vacuum moving gerakan –terutama- mahasiswa, beban berat bertambah seiring merebaknya kultur barat dan hedonisme pada kalangan pemuda.

Kompleksitas problem ini menuntut mahasiswa untuk benar-benar teguh, pintar dan kreatif dalam menjaga idealisme gerakannya. Salah satu masalah terbesar bagi gerakan mahasiswa adalah ketika mereka kehilangan sensitivitas atas penyakit-penyakit bangsa. Dimanakah kepekaan mahasiswa ketika ada korupsi triliunan rupiah, namun di tempat lain warga sidoharjo terus menagih uang ganti rugi atas rumah mereka yang terendam lumpur. Anehnya justru gerakan mahasiswa masih terjebak dalam ‘pertarungan’ antar ideologi.

Salah satu jalan untuk mengembalikan darah juang reformasi adalah dengan mereform gerakan reformasi. Mahasiswa harus menjadi transformator spirit gerakan. Mengubah pola gerakan yang bukan hanya aksi jalanan secara kuantitas, namun lebih pada proses pemanjaan nalar sensitif mahasiswa. Mengubah alur reformasi dengan bermula dari arah transenden menuju perbaikan bangsa. Mengubah kultur hedonisme menuju massifitas ruang-ruang dialetika. Mengubah tindakan anarkis menjadi gerakan moderat dan elegan. Inilah mahasiswa yang akan berjuang melakukan reformasi mulai dari dirinya sendiri

Tidak ada komentar