Menu
Teguh Indonesia

Lupakan Khadafi, Back to Indonesia

oleh: Teguh Estro*



Sejak panasnya krisis Libya, masyarakat dunia seolah asyik menyaksikan seteru militer antara sekutu dan pasukan Khadafi. Pakar militer hingga pengamat ekonomi mendadak didengar pendapatnya di berbagai media massa. Bahkan obrolan-obrolan di angkringan pun tak jauh-jauh dari ngomongin perang di Libya. Segala informasi mengenai prajurit jebolan Akademi Militer Benghazi itu pun ramai diperbincangkan. Mulai dari kekayaannya, isteri simpanan hingga sopir pribadinya pun menarik perhatian publik. Hingga akhirnya kini masyarakat Indonesia sudah berlagak lupa dengan kondisi baangsanya sendiri.

            Salah satu hal aneh di negeri ini adalah kegemaran menghanyutkan diri pada isu-isu populis saja. Padahal pembangunan nasional harus berbasis realitas di masyarakat. Bayangkan saja, belakangan ini Indonesia telah mengimpor ikan asin dari Cina. Gemblung, panganan yang harusnya melimpah di perairan nusantara justru harus membeli dari luar. Sungguh kasihan pedagang ikan asin lokal. Namun kini masyarakat tidak akan mau tahu perkara ikan asin. Karena hal tersebut tidak ada hubungannya dengan Libya.

            Masihkah bangsa ini mau bercerita mengenai korban lumpur Lapindo? Pada tahun 2011 ini perusahaan Lapindo Brantas Inc berencana akan melakukan pengeboran lagi di 7 titik wilayah Sidoharjo. Bukankah biaya ganti rugi terhadap perumahan warga yang terendam lumpur belumlah usai, eh sekarang mau ngebor lagi. Wajar saja jika pennduduk lokal yang masih trauma menjadi gerah. Khususnya warga Kalidawir kecamatan Tanggulangin menolak keras pengeboran itu. Lantaran mereka trauma atas banjir lumpur yang kini masih ierasa. namun apa boleh buat, lantaran masyarakat Sidoharjo bukanlah siapa-siapa nya Khadafi, jadi tak akan ada yang peduli .

            Pembantaian pemerintahan libya atas rakyatnya sendiri memang sungguh biadab. Siapapun akan merinding mendengarnya. Begitupun ketegangan saat terjadi perang antara pasukan Khadafi versus tentara sekutu. Yah, seperti main game online saja jika menontonnya. Namun simpati, empati dan kepedulian itu tiba-tiba hilang saat diajak melihat korban sekitar Gunung merapi. Khususnya daerah kecamatan Salam, Magelang yang selalu dilewati banjir lahar dingin. Sejenak lupakan dulu Khadafi dan melihat kondisi korban Merapi. Apakah mergo Magelang bukanlah salah satu kota di Libya, maka tidak ada pentingnya….

Tidak ada komentar