Menu
Teguh Indonesia

Dalih - Dalih Media

oleh : Teguh Estro


“…Dengan berdalih pada tugas media sebagai penyampai fakta, mereka telah berani melampaui batas etika (mengadu domba umat beragama)…”
Semisal ketika tragedi Monas berbuntut pada ‘cekcok’ antar dua ormas Islam. (FPI dan AKKBB). Pemberitaan yang berlebihan, bahkan videonya pun sengaja diputar berulang-ulang. Hal tersebutlah yang mengawali proses pembentukan persepsi. Tujuannya agar adegan cekcok tersebut di desain seolah meng-amin-i isu perpecahan Islam. Sebut saja tragedi Bom Bali yang menjadi momen tepat bagi media untuk menyudutkan umat Islam. Hingga wajar saja jika umat Islam di Indonesia begitu alergi terhadap syariat Islam. Karena selalu terpampang di layar televisi akan buruknya citra kaum muslimin. Namun mereka (pihak media) tentu memiliki logika-logika –yang sebenarnya tidak masuk logika- untuk menjadi alasan. Salah satunya alasannya untuk menyiarkan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“… Dengan berdalih pada kebebasan berekspresi mereka telah mengumbar aurat di depan mata jutaan kaum Muslim…”
Sudah tak terhitung jumlah kaum hawa yang numpang pamer aurat di televisi, majalah dan surat kabar. Bahkan parahnya tidak sedikit para remaja puteri yang ‘gandrung’ dalam kompetisi pamer-pameran aurat tersebut. perhatikan saja program acara seperti ‘miss Indonesia’, ‘tiara sunsilk’, ‘wanita rejoice, atau yang sejenisnya. Lebih dari sekedar eksplotasi, media (lagi-lagi) mencoba untuk mempengaruhi persepsi para pemuda yang sedang ‘linglung’ mencari jatidiri. Pun ketika chanel televisi menampilkan sinetron yang hedonis. Generasi muda Islam pasrah disodorkan model pemuda ala barat berikut kulturnya yang cenderung bebas. Ciri konkretnya adalah tatkala aurat bisa dibeli seharga ‘pisang goreng’ oleh media.
“…Dengan berdalih pada indahnya seni, mereka sengaja mendendangkan genderang jahiliyah di banyak telinga generasi muda….”
Sudah berapa banyak para pemuda lugu yang teracuni oleh indahnya soundtrack, video klip atau tayangan musik lainnya. Seolah remaja yang normal adalah remaja yang bertatto, punya pacar banyak, pakar bercinta, rajin ikut konser di barisan depan dan selalu up-date tentang hits teranyar. Hal tersebut perlahan tapi pasti membuat para generasi muda melupakan kewajibannya terhadap agama dan bangsa. Mereka lebih senang menghafal song lyric daripada sekedar juz ‘amma. Mereka lebih tahu tentang kisah perjalanan puluhan kelompok band daripada sirah nabawiyyah ataupun sejarah bangsa Indonesia. Mereka lebih sensitif ketika aliran musik idolanya diejek meski pada saat yang bersamaan ada kabar penghinaan kartun Nabi Saw.
“…Dengan berdalih pada hiburan mereka telah mensosialisasikan budaya ghibah (gossip)….”
Hal inilah yang nantinya kita sebut dengan rekayasa figure perception. Hampir di setiap pagi dan petang -jam tayang khusus ibu-ibu dan remaja puteri- tersuguhkan berbagai program entertaint. Gosip,…! tentu acara ini bukanlah mahluk asing bagi ibu-ibu dan remaja puteri. Hal ini sengaja dimanfaatkan untuk memberikan referensi gaya hidup bagi para remaja puteri. Yaitu gaya hidup para selebritis. Media telah merekayasa isu-siu yang terjadi pada para artis. Baik isu keretakan rumah tangga, punya pacar baru, mau menikah, perceraian dan lainnya. Hal tersebut supaya para penonton merekam dalam memorinya dan menganggap wajar tingkah laku para artis jika ditiru.
Awalnya Hanya Berdagang
Sejarah tanah Banten tak akan terlupa saat pertama kali VOC datang ke kampung mereka dengan maksud berdagang. ‘Ternyata bukan hanya udang yang ada di balik batu’. Eksploitasi besar-besaran baik tenaga maupun sumber daya alam pun dilakukan. Modus serupa dialami oleh serangan pengaruh media barat di Indonesia. Tujuan untamanya hanyalah berdagang (informasi). Namun tetap saja bukan hanya udang yang ada di balik batu. Tapi perang pemikiran umat Islam di Indonesia menjadi incaran utama. Bukanlah suatu hal yang salah jika slogan ‘Bang Napi’ kita gunakan. Waspadalah, waspadalah, waspadalah….!.

Tidak ada komentar